Bad Feeling

Bad Feeling
I Love You


__ADS_3

__________________*****________________


Tak mampu hati ini menjauh darimu, namun otak kenormalanku terlalu berkuasa. Aku tak mungkin egois lagi. Kita tak boleh egois masalah cinta. Demi kebahagiaan yang kita inginkan, harus mengorbankan kebahagiaan orang lain. Tidak, aku tidak bisa melakukannya, walau di dalam hati terdalamku menginginkan hal itu. Tetap saja aku tak mampu bersikap egois, apalagi menyangkut orang yang selama ini kuhormati. Ini salah, jadi kumohon jangan memaksaku untuk menyakitimu lebih lagi atau membuatku untuk jadi lebih egois.


$$$$$$$


"Ayo kita kawin lari kak" ajak Jonathan padaku. Mataku membulat tak percaya. Apa otak bocah ini baik-baik saja? Apa saja yang dilakukan beberapa hari terakhir sampai dia mengucapkan kata-kata seperti itu. Dia bukan tipe orang yang bisa berkata seperti ini dengan mudahnya. Tetapi matanya begitu serius saat mengucapkannya barusan.


Kusunggingkan senyuman padanya, menyingkirkan segala pikiran tentang apapun yang kini ada diotakku. "Kurasa kamu pasti pusing dengan laporan Nick. Tinggalkan saja, akan kuselesaikan sisanya. Akan kukatakan kalau kamu sudah menyelesaikan" ucapku mengalihkan topik pembicaraan darinya.


Matanya masih memandangku dengan tatapan serius. "Aku serius kak"  nada bicaranya terdengar kecewa karena aku mengalihkan pembicaraan kami barusan.


Kutepis perasaan bersalahku, tetap dengan pendirianku, mengabaikan keinginan hatiku untuk terus mencintainya. "Aku juga serius Jo, lebih baik kau tinggalkan saja... "


"Bagi kakak, aku ini sebenarnya apa?" potong Jojo, membuatku tertegun atas pertanyaan yang dilontarkannya padaku. Seketika suasana menjadi hening hanya suara ac dan jarum jam dinding di ruangan Nick. Mataku tak mampu berpaling darinya.


"Apa aku begitu mengganggu kakak, hingga aku jadi beban untuk kakak? Tidak pernahkah kakak menyukaiku? Apa selama ini cintaku hanya bertepuk sebelah tangan? Apa aku berharap terlalu tinggi tentang impian untuk hidup bersama kakak?" pertanyaan bertubi-tubi dilontarkannya padaku dan aku tak mampu menjawabnya.


Kupilih menjauh dari Jonathan. Aku tak ingin melihat tatapan itu. Sorot mata penuh kesedihan dan kekecewaan padaku. Namun sebuah lengan menghentikan gerakanku. Kemudian orang itu menarikku ke dalam pelukkannya. "Jo, lepaskan. Bagaimana kalau Nick datang nanti?"  seruku berusaha melepaskan diri darinya. Cukup sudah, jangan lakukan hal yang membuatku akan jatuh ke dasar jurang lagi. Jonathan tolong jangan paksa aku untuk menyakitimu lagi.


"Apa aku begitu menyebalkan untuk kakak? Apa aku tidak pernah berarti untuk kakak selama ini?" tanyanya yang seketika membuatku menghentikan gerakan meronta ingin terlepas darinya.

__ADS_1


"Jojo, kau itu anak baik sangat baik, aku tidak ingin kebaikanmu itu sia-sia untukku. Hubungan kita tidak akan pernah berhasil. Orang tuamu pasti punya rencana terbaik untuk masa depanmu, bukankah lebih baik kamu mengikuti apa kata orang tuamu? Maaf mengecewakanmu. Aku.... " airmataku berderai tanpa pertahanan.


Aku berusaha menahan air mataku dan kembali mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan. "Aku...mencintaimu... Sangat mencintaimu. Tetapi aku tidak mungkin egois, kau bukan hanya milikku, kau masih punya keluarga, orang tua yang selama ini menyayangimu. Aku tidak mungkin merebutmu dari mereka. Jadi lebih baik, kita jalani hidup kita masing-masing seperti sebelum kita bertemu. Semoga suatu hari nanti, kamu akan bertemu orang yang menyayangimu dan semua keluargamu merestui hubungan kalian berdua. Kudoakan juga, semoga cita-citamu bisa terwujud. Bukankah kau ingin jadi ahli game dan pembuat anime? Tekunlah belajar dan dapatkan gelar sarjana agar orang tuamu bangga padamu" ucapku.


Kurasakan sesuatu basah di pundakku, tubuh Jonathan bergetar, ia mengeratkan pelukkannya atasku. "Tidak bisakah hubungan kita seperti dulu lagi?" ucapnya terisak.


"Jo, lepaskan aku. Jika Tuhan berkehendak lain pada hubungan kita, pasti suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi dan Tuhan mempersatukan kita. Namun jika tidak, pasti akan ada rencana terindah untuk kita berdua" ucapku menghiburnya. Kulepas pelukkannya saat tangannya mulai merenggang dariku. Kutatap wajahnya, pria seperti dia menangis di depanku sekarang. Ia menyembunyikan wajah lemahnya dariku dengan menundukkan kepalanya. Jemariku membantunya menghapus jejak airmata itu, walau air mataku sendiri tak terbendung lagi.


"Jangan menangis. Akan memalukan jika ada orang lain melihatmu seperti ini. Jadilah kuat, walau kita tidak lagi bersama. Kita bisa bertemu dan berteman kan? Kenapa masih menangis?" tanyaku yang melihatnya masih terisak-isak. Tanpa sadar airmataku juga mengalir bercucuran.


Ia memandangku, bola mata yang selalu berbinar kini terlihat redup ketika menatapku, seperti kehilangan sinarnya. "Akan kulakukan seperti ucapan kakak. Aku akan berusaha menyelesaikan kuliahku dan mendapatkan gelar sarjana. Aku juga akan berusaha jadi ahli game dan pembuat anime. Akan kubuktikan kalau aku bukanlah anak kecil yang hanya bisa merengek. Akan kubuktikan ke mereka kalau cintaku ini tak biasa" ucapnya padaku.


Kusunggingkan senyuman padanya dan mengangguk mengiyakan ucapannya. Ditangkupnya kedua pipiku, ia membantu menghapus jejak airmataku. "Kakak jangan menangis ini terlihat lucu, ingin rasanya aku menciumnya. Jangan pernah menangis di depan pria selain aku" pintanya memperingatkanku. Aku tersenyum. Kami seperti pasangan bodoh yang menangis saat berpisah dan tersenyum di waktu bersamaan. Walau sedih, aku ingin melepasnya dengan bahagia.


Dia tersenyum, akhirnya senyuman itu kembali. Kuharap hubungan kami akan lebih baik ke depannya, bersama ataupun tidak biarlah waktu dan Tuhan sendiri yang menentukan. Kini kami berdua mencoba untuk menjadi seorang teman, walau terdengar sangat sulit namun akan kucoba sebaik mungkin.


Jonathan menghampiri meja kerja Nick menghampiri laptop yang ditinggalkannya "Aku belum menyelesaikannya. Kuselesaikan laporan di dua makalah terakhir, setelah itu kita bisa meninggalkan tempat ini. Jika kakak mau pulang, pulang saja dulu. Akan kurapikan tempat ini"


"Akan kutunggu, aku juga perlu tau pekerjaanmu benar atau salah. Kalau tidak, aku bisa kerja dua kali nanti. Nick akan memarahiku dan menyuruhku kerja lembur" ungkapku mencoba mencairkan suasana dengan bercanda dengannya.


Jonathan tersenyum menatapku yang terlalu cemas akan tugas yang sedang dikerjakan olehnya. "Kakak pikir aku tidak tau ini laporan? Aku juga paham" ucapnya mulai menyombongkan dirinya. Inilah sifat aslinya jika di depanku.

__ADS_1


"Iya... Iya, juara kelas" tanpa sadar kuacak rambutnya. Dia tersenyum. Tak terasa kami bisa sedekat ini lagi. Ia mulai mengetik kembali laporan ke laptop Nick dan aku mengamati di sampingnya.


Setelah setengah jam berlalu akhirnya, Jonathan menyelesaikan laporannya. Kemudian kutinggalkan pesan memo untuk Nick tentang laporannya sebelum meninggalkan kantornya. Aku dan Jonathan keluar bersama-sama. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk pulang lebih dulu, tapi dia tetap dengan pendiriannya, pulang sama-sama.


Kami melewati lorong kampus yang sudah cukup sepi mahasiswa, mungkin karena sudah sore dan sebagian mahasiswa reguler menyelesaikan kuliah mereka sebelum jam 3 sedang mahasiswa ekstensi akan memulai perkuliahan jam 6. "Kakak pulang naik apa?" tanyanya menolehkan kepalanya menatapku.


"Naik bus, motorku masuk bengkel" sahutku tanpa melihat ke arahnya. Ketika kami tiba di persimpangan jalan yang berbeda arah, "kalau begitu aku duluan ya" belum sempat Jonathan menjawab aku sudah berjalan menjauhinya. Ia berhenti di tempat sampai akhirnya ia memutuskan untuk berjalan di sampingku. "Apa yang kau lakukan, bukannya tempat parkir di sana ya?" tanyaku heran sekaligus terkejut melihat keberadaannya.


"Aku tidak mau ke tempat parkir, kutemani kakak sampai di depan halte" senyumannya membuatku tak rela, dada ini bergemuruh lagi, rasanya tangisanku ingin pecah apalagi melihat sorot matanya kembali menatapku sendu.


Kutepis perasaan itu, kusunggingkan senyuman untuknya. "Baiklah, setelah sampai halte pulanglah"  ucapku mengijinkannya mengantarku dan berjalan lagi di sampingku.


"Kak, jika ini merupakan terakhir kalinya kita bertemu. Apa yang akan kakak lakukan?" Deg, ucapannya membuat jantungku berhenti sepersekian detik.


"Kamu itu ngomong apa'an sih. Pamali ngomong begitu. Kita masih bisa ketemu, kita kan masih satu kampus walau aku masih satu semester lagi, tapi kita masih bisa ketemu" ucapku menghibur dirinya dan terlebih menghibur diriku sendiri yang juga memikirkan hal yang sama. Kuliahku tinggal satu semester lagi. Aku hanya tinggal menyusun skripsi di semester akhir. Inilah enaknya mahasiswa yang ikut program lintas jalur, jadi cuma 3-4 semester sudah selesai.


Jojo mengangguk dan berusaha tersenyum. Tak berapa lama, kami sudah sampai di halte. Tak banyak orang di sana hanya ada satu orang pria yang mengenakan headphone dan berdiri pada sandaran tiang rambu halte berhenti. "Kita sampai, pulanglah... Sudah sore" ucapku lagi-lagi menyuruhnya pergi karena aku tidak ingin perasaan ini semakin menjadi egois lagi.


Sebenarnya aku tidak ingin cepat berpisah dengannya, namun jika terlalu lama aku bersamanya aku bisa serakah dan terus ingin bersamanya. Jadi lebih baik menyuruhnya untuk segera pergi menjauh dariku.


"Baiklah kalau begitu, kakak hati-hati ya. Aku pulang" ucapnya sambil tersenyum simpul padaku.

__ADS_1


Sialnya sistem syaraf diotakku mulai berkhianat dari kenormalannya. "Jo" panggilku padanya. Dia menoleh. "Kurasa aku akan melanggar untuk sekali saja" kuhampiri dirinya, menarik kerah kemejanya, kemudian mengecup bibirnya. Kurasakan dia terkejut karena dia mematung tak meresponku. Mataku yang semula terpejam perlahan terbuka dan hendak melepaskan kecupanku atasnya, namun Jojo menarik leherku dan membalas ciumanku, kami terbawa suasana dan tak mempedulikan sesuatu di sekitar kami. Sampai suara deru bus berhenti di dekat halte. Jojo menghentikan ciumannya. Tersenyum padaku. "Apa ini yang namanya perpisahan yang manis?" ucapnya di depan wajahku yang mungkin sekarang memerah.


"Terima kasih untuk semuanya" ucapku kemudian berjalan meninggalkannya, berlari menghampiri bus dan menaikinya. Tak terasa bulir airmataku berjatuhan. Seharusnya aku tidak melakukan ini, ini akan membuatku semakin serakah, ingin memilikinya lagi dan lagi. Kumohon hilangkan perasaan egois ini. Siapapun tolong aku.


__ADS_2