Bad Feeling

Bad Feeling
My Failed First Kiss


__ADS_3

"Jojo" suara berat wanita paruh baya memanggil bocah di sampingku. Ia menoleh. Kepalaku pun mengikuti asal suara itu muncul. "Kamu ngapain?" tanya wanita itu.


"Mama" ucap Jonathan saat mengenal pemilik suara itu.


Mataku seketita mendelik melihatnya, kudorong tubuh Jojo menjauh dariku dan berusaha sekuat tenaga berdiri dengan kakiku yang masih terasa nyeri. Untung Jojo tidak protes aku mendorongnya menjauh dariku.


Bola mata coklat itu melihatku dari atas sampai bawah sebelum menatap anaknya. "Kog pegang-pegang kakaknya, ngapain?" tanya wanita itu heran.


"Nolongin ma, tadi kakaknya nggak bisa jalan, abis jatuh dia" jelasnya tanpa peduli akan pandangan mamanya yang sedikit mengintimidasiku.


Kusunggingkan senyuman ke arah wanita itu berharap ia tidak berpikiran macam-macam padaku. Aku anak polos yang nggak mungkin menjerumuskan anak anda, lagipula bukan aku yang memaksa hal ini terjadi tapi anak anda sendiri yang memaksa, teriakku protes dalam hati.


"Kog bisa jatuh kenapa?" tanya wanita itu menatapku. Belum sempat bibirku terbuka, Jojo sudah lebih dahulu menjawab pertanyaan sang ibu.


"Abis angkat-angkat kardus ma. Mama kog belum pulang?" ia berjalan mendekati ibunya. Ada rasa lega saat bocah itu menghampiri mamanya. Lebih baik aku segera keluar dari situasi seperti ini.


"Kamu juga kog belum pulang?" ia memukul pelan lengan anak kesayangannya, terlihat jelas dari tatapannya yang begitu mengkhawatirkan anak sulungnya.


"Aku pulang nanti ma, mau nemenin kak Rya dulu" seketika bola mataku membulat hampir keluar mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jojo.


"Kamu pulang aja sana, nggak perlu ditemenin juga" usirku. Aku tidak ingin orang tuanya menganggapku tante-tante perayu bocah. Tolong jangan persulit keadaanku bocah, pekikku dalam hati.


"Enggak papa kan ma, aku pulang nanti?" ia meminta ijin mamanya dan sialnya kenapa dia diijinkan.


Wanita itu tersenyum, sepertinya ia sangat percaya pada anaknya. "Boleh, asal nggak aneh-aneh" ucapnya mengingatkan.


"Dih mama, masa nggak tau yang diharapin anak muda sekarang?" sahutnya asal. Bocah ini tidak bisa apa jangan bercanda dengan orang tua.

__ADS_1


"Jo, kamu itu jangan gangguin kakaknya. Kamu itu masih kecil" imbuhnya menasehati.


"Mama ini, udah setinggi ini dibilang masih kecil. Aku tau kog mana yang baik dan mana yang nggak. Lagian aku kan sudah gede ma, boleh milih mau deket sama siapa dan temenan sama siapa"


"Iya kalau itu mama tau dan mama juga..."


"Iya iya mama sayang, sudah gih pulang udah siang, kasihan emak nunggu di rumah" Jojo mendorong tubuh wanita itu berbalik agar segera pergi dari tempat itu.


Kupilih memasuki perpus sendirian, namun tiba-tiba seseorang mengangkat tubuhku. Bola mataku hampir keluar mendapati tubuhku diangkat ala bridal memasuki kantor perpus oleh Jojo. "Kamu ini apa-apaan sih Jo, turunin nggak?" aku terus meronta ingin turun, namun Jojo masih membopongku sampai di depan meja kerjaku.


"Iya iya diturunin" ucapnya tanpa dosa.


"Ngapain pake acara dibopong segala, emang aku anak kecil?" protesku kesal.


"Iya, kakaknya lucu kayak anak kecil walau umurnya sudah bukan anak kecil lagi"


"Emang kakaknya takut dicap apa? Pacaran di tempat kerja atau tante-tante girang yang demen sama anak kecil?" celetuknya tanpa menyembunyikan kebenaran.


Ucapannya tepat sasaran. "Aku juga nggak mau orang lain mandang kamu negatif. Sudah...sana pulang, aku bisa pulang sendiri. Lagian kakiku sudah lebih baik. Jadi..." tiba-tiba sebuah kecupan kudapatkan, yang langsung membuatku membeku di tempat.


"Kalau kakak cerewet lagi, arahnya akan kugeser sebelahnya" ucapnya yang langsung dapat kucerna kalau dia akan mencium bibirku. Matanya mengintimidasiku. Entah kenapa nyaliku menciut di depannya padahal aku jauh lebih tua dibandingkan dirinya. Bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman.


"Maaf kak, aku bohong" dahiku mengkerut mendengar ucapannya yang terdengar aneh di telingaku. Tiba-tiba ia menarik leherku dan mencium bibirku. Bola mataku langsung melebar, mendapati kondisi seperti ini. Ciuman pertamaku direbut bocah ingusan ini. Padahal aku ingin pangeran tampan yang nantinya jadi suamiku yang mendapatkannya namun bocah itu mengambilnya.


Kudorong tubuhnya hingga ciuman kami terlepas. "Kau?" kuseka bibirku dengan punggung tanganku. Rasanya ingin marah tapi ciuman asing itu kenapa membuat jantungku melompat-lompat kegirangan. Kuakui aku memiliki sedikit rasa untuknya, namun aku berharap rasa itu hanyalah rasa seorang kakak kepada adiknya. Bukan rasa lain.


"Yah, kakak ini kenapa dilap?" serunya protes.

__ADS_1


"Kamu ya, nggak seharusnya sekurang ajar itu" desisku kesal. Aku tidak ingin berteriak karena tidak ingin orang lain dengar dan menimbulkan huru hara. Tetapi sikapnya tidak bisa kubiarkan.


"Apa itu ciuman pertamamu?" ucapannya membuatku terdiam. "Benarkah?" matanya berbinar senang.


"Lebih baik, aku pulang" aku bergegas berjalan membereskan meja kerjaku.


"Beruntungnya diriku, melakukannya barusan" ucapnya sambil tersenyum penuh kemenangan.


Dia berhasil mendapat apa yang dia inginkan. Bodohnya aku kenapa bisa lengah semudah itu. Kumatikan komputer, mematikan AC, mematikan beberapa lampu, akan tetapi bocah itu belum juga keluar maupun beranjak dari tempatnya. Kupandangi dirinya sebelum lampu terakhir kumatikan, ia malah tersenyum dan berkacak pinggang, congkak. Bola mataku berputar, jengah.


Saat lampu terakhir padam, sebuah pelukkan dari belakang kudapatkan. Sial aku terkunci, "aku suka posisi seperti ini" hembusan napasnya menyebar ke seluruh leherku. Sial, ini bagian sensitifku. Bahuku bergidik geli.


"Jo lepasin" pintaku sambil mendorong tubuhnya menjauh dariku dengan kedua sikuku.


"Tidak sebelum aku mendapat yang kuinginkan" bibir Jo menempel dileherku kemudian memberiku ciuman dan beberapa tanda kepemilikan.


"Jojo....aaa..." pekikku kesakitan. Rasanya seperti ia menggigit leherku dan menghisap darahku sampai habis. Sialan.


"Kakak berteriak atau mendesah" ledeknya padaku, dia sepertinya puas mengerjaiku.


Sialan, bocah ini sungguh. Tolong siapapun hentikan kelakuannya. Namun di sisi lain aku juga tidak ingin seseorang menangkap basah kami berdua. Apa yang akan terjadi jika orang lain menemukan kami dalam posisi seperti ini? Bocah ini, sebenarnya apa yang barusan dilihatnya? Kenapa dia seperti ini? Dia biasanya anak baik dan lucu. Aku berusaha menyingkirkannya dan mengelak dari ciumannya yang bertubi-tubi menyerangku.


"Kumohon hentikan Jo, ini sudah cukup" ucapku. Aku seperti korban pemerkosaan yang sialnya aku tidak mampu berteriak karena takut. Takut akan nasibku dan nasib Jojo jika aku berteriak, orang akan menyalahkannya dan membawa masalah ini ke jalur hukum. Aku tidak ingin membuat trauma bagi anak ini. Tetapi aku juga tidak ingin dia melakukan hal ini padaku. God help me.


"Mbak Rya" sebuah suara memanggilku dari luar pintu.


________***_______

__ADS_1


__ADS_2