
Tak seharusnya aku melakukannya kalau akhirnya aku juga yang merasakan sakit ini. Mungkin yang kubutuhkan saat ini hanyalah senyumanmu saja yang mampu obati segala sedihku dan apa yang aku lakukan sekarang tak jauh dari melukaimu dan melukaiku sendiri. Apa yang harus kulakukan, haruskah kulakukan kebodohaan lainnya yang akan melukai kita berdua atau aku harus menyerah dan melakukan hal yang pasti akan banyak penghalang nantinya?
$$$$$$$
Setelah menikmati makan bersama Nick, kami berpisah jalan. Aku memilih pergi mengasing di salah satu paviliun dekat dengan kelasku nanti. Kukeluarkan binder milikku, mencoba memfokuskan diri untuk persiapan test mata kuliah nanti.
"Lu kenapa bro? Wajah lu anyep banget? Nggak kayak biasanya?" ucap seseorang yang seketika mengalihkan pandanganku dari binder di tanganku ke arah tiga pria yang duduk di sisi paviliun lain dariku. Suara mereka mengganggu waktu heningku. Rasanya ingin kulempar mereka dengan buku binder yang kubawa ini. Agar mereka pergi dan menyingkir dari tempat heningku. Aku tidak suka kebisingan jika sedang fokus belajar. Sebenarnya bukan salah mereka juga, ini temoat umum siapapun boleh mengobrol di tempat itu, namun tetap saja, mereka menganggu diriku yang ingin fokus belajar.
"Patah hati dia bro? Anak mana emang? Cantik nggak? Penasaran gue sama tuh cewek" ucap cowok satunya. Kuabaikan mereka dan masih berusaha membaca kata demi kata dari catatan di bukuku.
Aku kesal karena suara mereka menggangguku lagi. Baguslah mereka berhasil membuat perhatianku teralih padanya. Kuhela napas pasrah. Pria yang ditanyai hanya menghela nafas frustasi, namun aku tidak bisa melihat tampang frustasinya cowok itu karena dia duduk membelakangiku tidak seperti temannya yang berdiri di depannya, yang seketika dapat kulihat bagaimana rupa mereka. Kupilih untuk fokus kembali pada catatanku. Aku harus menghafal mata kuliah ini karena sang dosen biasanya memberikan soal yang sangat detail.
"Orang tua kami nggak setuju sama hubungan kami, apa kami harus putus?" seketika mendengar suara itu, mataku melotot. Aku mengenal suara itu, kutolehkan kepalaku. Pria yang semula membelakangiku kini menghadap ke samping dan aku mengenalinya. Jonathan Christiano. Kepalaku kembali ke posisi semula membelakanginya, namun aku berusaha fokus dengan pembicaraan mereka bertiga sekarang dan mengabaikan catatanku. Bodohnya aku.
"What's? Cuma gara-gara itu, wajah lo jadi anyep gini? Tinggal usaha lu dong...tunjukin ke ortu lu sama ortunya tuh cewek, gimana perjuangan lu. Masa gitu aja lu nyerah sih, bro?" salah satu temannya memberikan nasihat bijak padanya.
"Itu dia masalahnya, ceweknya minta putus. Dia berkata kalau aku masih anak kecil yang egois" Jonathan mengatakan hal yang telah kukatakan padanya. Mungkin waktu ini ucapanku benar-benar menyinggung perasaannya. Aku sedikit merasa bersalah mendengar hal itu.
Pria di samping kirinya menepuk bahu Jonathan berniat menghiburnya. "Waduh? Apes amat lu?" sahut pria lain.
Pria yang sebelah kanan kurasa lebih memiliki perasaan yang lebih peka daripada yang satunya. "Ya jangan putusin. Pertama-tama lu kudu harus dapetin hati cewek lu lagi. Terus kenalin dia ke ortu lu dan dapetin ijin mereka, baru lu usaha dapetin restu ortunya. Emang kenapa lu nggak direstuin?"
"Karena umur" Jonathan langsung menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Eh busyet....hanya umur doang? Emang apa masalahnya?"
"Masalahnya umur kita beda 9 tahunan" jawabnya lemas. Dia sudah dapat memastikan teman-temannya akan terkejut dengan pernyataannya.
"What the...gila lu. Lu suka sama bocah?" serunya tak terkontrol sampai semua orang mengarahkan pandangannya kepada mereka.
"Bukannya bocah"
"Terus? Jangan bilang lu suka sama..."
"Iya, makanya nggak ada yang ngasih aku restu" Jojo menghela napas frustasi.
"Eum...ini masalah rumit nyet. Kalau soal itu udah deh lu nyerah aja cari cewek yang seumuran aja" sahut temannya yang berambut ikal. Aku sempat mencuri pandang ke arah mereka sambil menutup sebagian wajahku dengan buku binder.
"Kalau lu cinta banget sama tuh cewek, kejar dia dan rebut hatinya, jika cinta kalian kuat maka tembok rintangan akan runtuh dengan sendirinya" ucap pria yang rambutnya di potong ala-ala anime, harajuku style.
"Caranya?"
"Elah, cowok pinter ngerayu kayak lu masa nggak bisa nundukin hati cewek lu sih?" ia memukul lengan Jonathan.
"Masalahnya itu, tuh cewek tidak segampang cewek-cewek yang mampu kugombalin. Dia itu unik tapi menarik. Dia cewek kuat tidak seperti cewek pada umumnya. Dia terlihat seperti tidak perlu dijaga namun sebenarnya hatinya rapuh. Dia juga lucu. Tak seperti umurnya, dia akan bertingkah konyol jika aku membuatnya marah. Pikiran dia terlalu polos namun sebenarnya dia tau melindungi diri dari tindakanku yang...kalian tau sendirilah bagaimana pikiran cowok. Hufth....aku bingung" mendengar ucapannya barusan, seakan airmataku hampir terjatuh. Kutepis rasa ini. Rasa di mana aku akan jadi orang bodoh lagi dan jatuh cinta padanya mengharapkan sesuatu yang tak mungkin terjadi.
"Jadi penasaran gue sama cewek lu" sahut pria rambut harajuku.
__ADS_1
Kupilih untuk segera meninggalkan tempat itu untuk masuk kelas karena jam sudah menunjukkan pukul satu. Kumasukkan binderku dan segera pergi dari tempat itu. Lebih baik aku segera pergi dari sini sebelum ia menyadari posisiku sekarang. Kulangkahkan kaki cepat. Namun sebuah tangan tiba-tiba menarikku dan membuat tubuhku berbalik arah dan menabrak tubuh orang yang menarikku karena tarikannya yang terlalu kuat. Mataku membulat, jantungku berdegup cepat, terkejut atas tindakan spontan itu.
"Kumohon jangan pergi" kesadaranku pulih mengetahui bahwa itu Jonathan. Mataku mengerjap beberapa kali, kudorong tubuhnya. Namun ia mempererat pelukkannya padaku.
"Lepaskan aku. Semua orang melihat kita" ucapku yang sempat melihat kedua teman Jojo dan orang-orang yang ada di sekitar paviliun melihat ke arah kami.
"Aku tidak peduli. Aku akan lepasin kakak, kalau kakak mau balikan sama aku" Jonathan mengancamku.
"Jo, kita sudah tidak mungkin balikan. Lepasin, aku mau kuliah" desakku meronta lepas dari pelukkannya.
"Tidak. Aku sudah bilang tidak akan pernah ngelepasin kakak dan kakak juga berjanji padaku tidak akan ninggalin aku sampai aku sendiri yang meminta. Jadi kita balikan?" ucapnya memaksaku.
"Jo, ini...." aku berusaha untuk melepaskan diri darinya.
"Aku tidak mau putus kak, akan kulakukan apapun demi mendapat restu. Tapi kumohon jangan tinggalin aku sendirian. Aku bisa gila kalau kakak terus-terusan menjauhiku" serunya, kudengar suaranya bergetar, nafasnya pun seperti seseorang menahan tangisannya. Kemudian ia membenamkan kepalanya diceruk leherku. Sedikit basah. Sesuatu menetes dan diikuti suara isakan.
"Jo, kau...hentikan. Ini di depan umum. Kalau kau seperti ini...ini memalukan dan lag....mmph" bibir Jojo dengan cepat mendarat di bibirku. Ya Tuhan, aku tidak boleh terbawa perasaan padanya. Tetapi ini yang kurindukan. Sudah hampir dua minggu aku tidak mendapat pelukkannya yang sangat menenangkan jiwa dan bibir ini. Ya ampun, aku bisa gila. Kudorong tubuh Jojo. Seketika ciuman kami terlepas. Aku jadi salah tingkah sendiri karena tadi sedikit terbawa perasaan.
"Eum...cukup. Aku harus kuliah" ucapku yang kemudian pergi meninggalkannya. Bodohnya aku, aku berjalan sampai tersandung sepatuku sendiri untung aku tidak jatuh. Kulihat Jojo yang hampir berlari ke arahku karena mengira aku akan terjatuh. Cengiran tak terasa kutunjukkan ke arahnya. Malu, itulah yang kurasakan sekarang. Sempat kulihat Jojo tersenyum menatapku yang berjalan pergi meninggalkannya dan kedua temannya segera menghampirinya. Mungkin mereka akan bertanya tentang apa yang terjadi di antara kami.
Apakah kalian menganggap kalau aku dan Jojo balikkan sekarang? Jawabannya iya. Aku tidak mampu berbohong lagi aku menyukainya dan aku tidak ingin kami terluka lagi. Senyumannya mengobati luka yang selama ini kualami. Aku mempunyai perasaan buruk tentang hal ini dan kurasa sesuatu yang buruk akan menghampiri kami berdua.
_______________________******________________________
__ADS_1