Bad Feeling

Bad Feeling
What should I do


__ADS_3

Masalah kecil akan mulai muncul saat kau mulai dengan rasa keraguan dan ketakutan. Tak seharusnya perasaan itu mengusik dalam hatiku, di saat dia yang setia di sampingku benar-benar melindungiku tanpa mempedulikan hal lain di sekitarnya, kecuali aku.


$$$$$$$


"Shallom..." sebuah sapaan yang mau tak mau harus kusambut dengan senyuman manis dan ucapan Shallom. Kami berdua berjabat tangan. Samuel melihatku dengan mata berbinar penuh keramahan. Ya Tuhan, ini hal yang selama ini kutunggu-tunggu bisa sedekat ini dengan Samuel dan betapa sedihnya bisa sedekat ini dengannya tetapi ada seseorang berdiri di sampingku.


"Shallom" ucap Samuel menyapa Jojo dan Jojo menyambutnya dengan ucapan yang sama dan menjabat tangannya ramah bersahabat.


Kami berdua memasuki gereja dan mencari tempat duduk agak di depan, walau harus berakhir duduk di sebelah ibu-ibu dan bapak-bapak. Aku hanya ingin menghindari deretan tempat duduk di belakang yang biasanya ditempati oleh pemuda seumuranku, yang jelas mereka teman-teman gerejaku. Untungnya mereka belum datang.


"Kakak lebih suka duduk di depan ya?" tanyanya penasaran.


"Tidak, hanya ingin saja" sahutku malas.


Alisnya bertaut. "Kakak tidak ingin mendapat pertanyaan dari teman-teman kakak? Kakak malu ke gereja bersamaku?" ucap Jojo yang seratus persen benar dan tepat sasaran.


Mau tak mau mataku yang ingin fokus ke depan kini melihat ke arahnya. "Kenapa aku harus malu?" kata-kata yang keluar dari mulutku terdengar seperti aku telah ketahuan menyembunyikan sesuatu.


"Akhirnya kakak melihatku. Kakak dari tadi fokus ke semua tempat, melihat ke sana kemari tanpa memperhatikan aku yang berdiri di sampingmu. Kakak juga terlihat kecewa saat memasuki gereja tadi. Apa ada orang yang kakak suka di depan tadi?" tanyanya lirih. Raut wajahnya kini penuh keseriusan.


"Kau ini bicara apa? Fokuslah ke depan" kualihkan pembicaraanya.


"Kakak mengalihkan pembicaraan lagi. Lebih baik aku tidak ikut tadi" Jojo memanyunkan bibirnya, mukanya menunjukkan rasa kekecewaan teramat sangat. Kurasa anak ini terlalu banyak melihat sinetron atau anime yang penuh dengan drama. Apa harus sampai seekstrem ini wajahnya?

__ADS_1


"Kau ini, sudahlah. Sekarang aku sudah duduk di sampingmu, kalau masih tidak terima ya sudah kita akhiri saja sampai di sini. Bukankah lebih baik, jadi kau tidak perlu merasa sedih seperti ini" ucapku yang tak mampu menghadapi rengekan Jojo dan entahlah kenapa hati ini benar-benar marah karenanya. Egoisnya diriku.


"Kakak gampang sekali mengakhiri hubungan kita? Aku kan tidak bilang ingin putus? Aku ke sini untuk meresmikan hubungan kita di depan Tuhan" ucapnya masih dengan mimik muka ngambeknya.


Mulutku menganga mendengar ucapan Jojo yang terdengar bagiku sebuah lelucon gila. Aku tak harus berpikir serius dengan ucapannya kan? Tanpa sadar senyuman tak percaya terlukis di wajahku. "Aaa...benarkah? Apa kau berani mengatakan kau punya hubungan denganku kepada orang tuamu?"


Jojo tertegun. Ucapanku seakan seperti petir baginya. Ia memang suka seenak hatinya mengaku berpacaran denganku, tetapi dia tak pernah sama sekali menyinggung keluarganya, karena aku yakin orang tuanya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. "Itu...makanya aku mengajak kakak ke Gereja bersama dulu. Jika Tuhan mengijinkan, pasti akan dipermudah mendapatkan ijin dari orang tuaku. Lagipula Olive juga sudah tau" ungkapnya.


"Lebih baik kau jangan terlalu berharap. Hanya nikmati saja apa yang kau jalani sekarang ini, jangan berpikir terlalu jauh" lagi-lagi aku mengeluarkan kata-kata pesimisku. Mimik muka Jonathan nampak murung mendengar ucapanku. "Jujur, aku tidak pernah mengharapkan kau datang ke sini bersamaku. Orang yang di depan tadi, Samuel. Dia orang yang kusukai di gereja. Aku tidak ingin terlihat bersama orang lain di depannya. Walau kutau mungkin tidak ada pengaruh apapun baginya. Hanya saja, aku ingin dia melihatku sebagai seorang wanita single. Maaf kalau aku terlalu egois" ungkapku jujur. Aku hanya tidak ingin menyembunyikan apapun darinya.


"Mungkin aku yang egois tidak pernah memikirkan keinginan kakak, aku hanya mengikuti apa yang aku rasa benar. Maaf, aku terlalu memaksakan kehendakku" ucapnya sedikit menyesal.


"Jadi, kita sudahan?" tanyaku memastikan.


"Siapa bilang? Tidak akan. Aku sudah bilang kan tidak akan melepaskan kakak apapun yang terjadi?" ia menggenggam jemariku erat.


"Jika kakak ngomong putus lagi, aku perkosa kakak sekarang juga" ucapnya mengancamku. Seketika kujitak kepalanya keras. Ia mengaduh kesakitan. "Kenapa memukulku?" rengeknya.


"Ini gereja, bicara ngawur lagi aku suruh seseorang mengusirmu keluar sekarang juga" pekikku tajam. Dasar bocah ini, tidak bisa apa mengontrol mulutnya berbicara yang benar?


"Ish...kakak ini, ini namanya penyiksaan. Kekerasan dalam berpacaran"


"Siapa suruh omonganmu ngaco. Sudah jangan berisik bentar lagi mulai"

__ADS_1


Ia masih mengelus kepalanya yang terkena jitakan dariku. Sekeras itukah aku? Buku-buku jari tanganku masih merasakan nyeri juga. Tak apalah, siapa suruh dia kelewatan. Biar tau rasa.


"Kalian ini, kenapa bertengkar di Gereja? Tidak baik. Kamu juga, seharusnya jadi calon istri yang lembut bukan kasar seperti itu. Jika nanti calon suamimu pergi gimana?" aku terkena tegur bapak-bapak di samping Jojo, apes.


"Oh...dia bukan calon..." aku hendak mengelak namun siapa lagi yang memanfaatkan situasi seperti ini, kalau bukan Jojo.


"Iya, calon istri itu harus lembut" ucapnya sambil merangkulkan lengannya di pundakku dan mengelus kepalaku. Dia ini sungguh memanfaatkan situasi. Sialan.


"Singkirkan tanganmu atau kupatahkan?" Jojo nyengir, mau tak mau dia mengangkat lengannya dan menyingkir dari bahuku. Dia tau kalau kekuatanku setara kekuatan pria jika aku mau dan tidak dalam kondisi terpojok. Dia pernah melihatku mengangkat batang pohon yang besar ketika menghalangi jalan.


Ceritanya waktu itu habis hujan, Jojo mengantarku pulang kerja. Ketika di jalan ada sebuah batang pohon tumbang di tengah jalan. Seketika aku turun dari motornya dan mengangkat batang pohon berdiameter 30 centi itu ke pinggir jalan. Agar, tidak ada yang kesusahan lagi. Jojo hanya menganga menatapku. Dia yang semula ingin menolong malah terpaku dengan kekuatan yang kumiliki. Keren kan? Atau menyeramkan?


Saat kebaktian usai. Seseorang menghampiriku dengan wajah penasaran dan senyum penuh aura cinta. Ya Tuhan, aku mulai gila. "Kamu Rya ya?" ucap seseorang yang langsung membuatku terpana tak bergerak sedikitpun. "Kata Theresia, kamu fansku ya?" Oh My God haruskah kujawab iya? Kalau kujawab tidak, ini di gereja, aku tidak boleh bohong. Tapi, seseorang berdiri di sampingku sekarang. Walaupun terlihat lebih muda darinya, dia adalah kekasihku saat ini. Kalau kujawab iya, bagaimana perasaan Jojo nantinya.


Kupandang Jojo yang ada di sampingku, entah kenapa aku ingin dia membantuku menjawab pertanyaan yang Samuel lontarkan padaku. Jojo tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Sam. "Iya, dia penggemarmu. Dia menyukai semangatmu saat di atas panggung. Kenalkan aku Jonathan pacarnya, aku sedikit cemburu denganmu" ungkapnya yang seketika membuat Sam dan aku menganga tak percaya.


"Ah...kau pacarnya? Senang berkenalan denganmu. Aku Samuel" mereka berdua saling berjabat tangan.


"Eum...ko'Sam, sorry kita duluan ya" ucapku yang langgung menarik lengan Jojo untuk segera keluar dari gedung gereja.


Namun suara seseorang membuat langkah kaki kami berdua berhenti. "Kalian pacaran?" seketika bibirku kelu tak mampu menjawab pertanyaan itu. Bagaimana tidak? Ibu dan adikku mendengar pembicaraan kami barusan. Bola mataku membulat lebar mendengar pertanyaan itu. Apalagi posisi tanganku yang bergelayut menarik lengan Jojo. Bisa dikatakan kami tertangkap basah. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?


"Eum...itu..."

__ADS_1


Bagaimana nasib hubungan kami selanjutnya? Hanya Tuhan dan keputusan ibuku-lah yang menentukan.


______________***_____________


__ADS_2