
Setelah menerima perasaan Jonathan aku harus ekstra bersabar menghadapi sikapnya jika dia sudah mulai manja seperti sekarang ini. “Apa yang kau lakukan hentikan tanganmu atau aku bisa membuatnya patah atau kesleo” bisikku memperingatkannya.
Jemarinya yang sudah mulai masuk ke dalam bajuku, seketika berhenti dan keluar. Awalnya kubiarkan saja jemarinya bermain di rambutku, wajahku dan lenganku, saat aku tengah sibuk mengerjakan tugas. Namun saat jemarinya mulai menjelajah di dalam, tidak bisa kubiarkan. Aku tidak ingin dilecehkan. “Kakak dari tadi sibuk dengan laptop kakak, kapan kakak memperhatikan aku, pacar kakak ini. Aku juga butuh perhatian” rengeknya yang sudah hampir dua jam aku biarkan sibuk sendiri.
“Aku harus mengumpulkan tugas ini, kalau tidak nilaiku akan jelek. Aku tidak mau mengulang mata kuliah ini. Dosennya killer. Tunggu sebentar lagi, nanti kau boleh minta apapun” ucapku yang tidak ingin membuat rengekkannya semakin menjadi.
“Sungguh apapun?” tanyanya seketika bersemangat.
“Iya apapun, asal tidak menyuruhku aneh-aneh” jawabku memperingatkan.
Seketika ia menarik lengkungan indah di bibirnya dan membuat lengkungan indah lainnya di matanya. “Baiklah, kerjakan dulu tugas kakak. Aku akan menunggumu” ia kemudian mengambil handphone dan menyalakannya. Sepertinya ia mulai bermain lagi.
Aku masih dapat menjinakkannya kali ini. Walau sebenarnya dia tipe pemaksa namun ketika menyangkut kepentinganku dia mampu mengalah dan menghargaiku. Sisi manis darinya yang selalu kusukai.
Setelah saju jam berkutat di depan laptop, akhirnya tugas makalahku selesai. Kutolehkan kepalaku ke samping. Jonathan tertidur ditengah permainannya. Tanpa sadar bibirku tersenyum melihat wajah polosnya did ngan bibir sedikit terbuka. Entah kenapa bocah ini bisa begitu menyukaiku? Kualihkan perhatianku, memilih merapikan barang-barangku dan menyimpannya di dalam tas.
Jonathan masih terlelap dalam tidurnya. Mungkin aku sudah kelewatan membuatnya menunggu selama 3 jam. Kuregangkan otot-ototku dan menghirup udara sejuk di bawah pohon seperti sekarang ini. Kami berada di taman belakang gedung kampus yang jarang di datangi oleh orang. Bukannya kenapa-kenapa, hanya saja aku tidak ingin orang lain melihat kami berdua. Tidak ingin ada gosip yang menyebalkan.
Kulirik jam tanganku sudah jam 3 sore. Lebih baik kubangunkan dirinya jika tidak dia akan ngambek dan tidak membiarkanku kerja lagi. "Jo, bangun" kugoyangkan lengannya.
Ia terjaga. Mengusak sebelah matanya, menguap dan meregangkan kedua lengannya. "Kakak sudah selesai?“
"Sudah, ayo pergi" sahutku padanya sambil berdiri dari tempat dudukku.
"Kemana?" tanyanya bingung. Mungkin nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
"Main. Ayo, sebelum jam lima" seruku sudah berjalan lebih dulu meninggalkannya. Entah kenapa aku ingin pergi jalan-jalan dengannya. Sebagai balasan sudah bersabar menungguku membuat tugas.
Ia tersadar dan segera berlari mengikutiku. "Emang mau kemana? Tumben kakak mengajakku pergi"
__ADS_1
Seketika kuhentikan kakiku dan menoleh padanya. Menunjukkan ekspresi pura-pura kesal. "Nggak mau? Ya sudah" kembali kulangkahkan kaki dan Jonathan mengikutiku.
"Eii.... Siapa bilang nggak mau? Aku cuma penasaran dan heran saja"
"Ini imbalan karena kamu sudah bersabar tadi" sahutku.
"Aaaa... Ngomong-ngomong soal imbalan, tadi kakak berjanji akan memberikan apapun yang kumau, iyakan?“
Mendengar ucapannya seketika membuat tenggorokkanku tiba-tiba tercekat. Aku curiga dia memikirkan hal yang tidak-tidak. "Lalu?"
“Hari ini kakak milikku" ia menenggerkan lengan besarnya di bahuku dan melingkarkannya ke leher, membuatku sedikit tercekik.
"Kau mau membunuhku, lepaskan" rontaku sambil memukuli lengannya. Tetapi sang pemilik tidak melepaskannya malah memaksaku berhenti.
"Kakak mau melakukannya di sini atau di depan banyak orang?" bisiknya di telingaku.
"Apa maksudmu?" aku berusaha melepaskan lengannya. Ia malah memutar tubuhku menghadapnya membuatku membelalakkan mata.
"Kau itu jangan main-main, aku kan mau mengajakmu jalan-jalan. Ayo pergi sebelum sore, aku harus kerja" kudorong tubuhnya menjauh dariku.
Ia membuka matanya. "Tapi kan kakak sudah janji padaku, lagipula yang mengajak jalan-jalan kan kakak bukan aku"
"Ya sudah kalau tidak mau pergi" sahutku kesal.
Ia tersenyum, ternyata ia mengerjaiku. "Iya-iya kita pergi. Emang kakak mau kemana?"
“Ke kebun binatang"
"Ha? Kebun binatang?" kuanggukkan kepalaku mantap walau dia kini terlihat tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
__ADS_1
Dan akhirnya kami di sini, Zooland Park. "Kenapa kau cemberut seperti itu? Tersenyumlah" pintaku. Wajah Jonathan ditekuk sepanjang dia memasuki Zooland Park ini.
"Kenapa harus ke sini? Di sini membosankan"
rengeknya.
"Tidak membosankan, asal kau menikmatinya. Lagipula kau ke sini denganku, apa tetap membosankan?"
"Baiklah aku mengalah. Tapi, kakak tetap seperti ini denganku" ia mengaitkan jemarinya padaku dan menggenggamnya erat.
Akhirnya dia mau mengalah dan menikmati berjalan-jalan di Zooland. Menghabiskan waktu satu jam di Zooland cukup menyenangkan karena selama ini aku jarang menghabiskan waktu untuk liburan.
Menikmati permen kapas, pop corn dan berfoto bersama bermacam-macam fauna di Zooland sungguh menyenangkan. Apalagi ditemani bocah konyol ini. Sungguh pengalaman tak terlupakan.
"Ayo pulang, sudah jam setengah lima. Aku harus kerja" ucapku saat menikmati keindahan akuarium beserta para penghuninya.
Jonathan menatapku, "sekarang?" dari nadanya ia tidak rela meninggalkan pemandangan di depannya.
"Kita lain kali ke sini lagi, tapi sekarang kita harus kembali. Aku masih punya tanggung jawab. Aku harus ke cafe, aku harus bekerja. Kalau aku tidak bekerja, aku tidak bisa bayar kuliah" jelasku. "Ayo pulang" ajakku.
Tiba-tiba sebuah tangan menghentikan langkahku. Kutolehkan kepalaku dan melihat Jojo sebagai pelakunya. "Tunggu sampai aku lulus dan mendapatkan banyak uang, aku tidak akan membuat kakak bekerja keras lagi. Cukup jadi ibu dari anak-anak kita dan memasakkan makanan untukku. Aku tidak akan membiarkan kakak kelelahan pergi bekerja lagi" ungkapnya tulus.
Tuhan, ijinkanlah hal ini terjadi. Kalau boleh. Entah kenapa aku ingin mempercayai setiap kata yang barusan ia ucapkan. Kupandangi kedua manik matanya. Lalu tersenyum tipis menyadari kalau kemungkinan sangat kecil dapat mewujudkan mimpinya. Tak terasa genangan air mata sudah muncul dan mulai meluap.
Jonathan mengulurkan tangannya dan membantuku menghapus jejak air mata yang mulai membasahi pipiku. "Maafkan aku" ucapku.
"Bolehkah aku...mencium kakak" pintanya.
"Kau itu...di sini kan..." belum selesai aku mengucapkan perkataanku, bibirku sudah terbungkam olehnya. Kudorong tubuhnya agar ciuman kami terlepas, namun ia tetap bersikeras dan menarik tengkukku agar ciuman kami tidak terlepas dan lebih dalam lagi. Akupun menyerah.
__ADS_1
Walaupun kami sedang di tempat umum, namun di sini sedikit kekurangan cahaya jadi kubiarkan saja dirinya. Anggap saja menepati janjiku tadi. Melakukan apapun yang dia inginkan untuk saat ini.
###BadFeeling