Bad Feeling

Bad Feeling
Kaget


__ADS_3

Apa yang harus kulakukan jika masalah terus saja menghadang di depan mata silih berganti? Karena kelakuan dan sikap masa bodohnya hanya membawaku ke dalam bahaya berkali-kali. Dan bagaimana aku mampu bersikap masa bodoh sepertinya jika aku yang merasa ketakutan seorang diri?


$$$$$$$


Kedua bola mata ibu menatapku bingung karena aku seperti pencuri yang ketahuan. Aku memilih mengalihkan pandanganku ke Jojo mencari jawaban atas pertanyaan yang terlintas dalam benakku, tentang bagaimana bisa dia masuk ke dalam rumah bersama ibuku dan Jojo hanya menyahutnya dengan mengangkat kedua bahunya. "Kamu buru-buru mau ke mana, Ya?" tanya ibu saat melihatku berlari menuruni anak tangga.


Nafasku sedikit tersengal-sengal karena barusaja berlari seperti kesetanan. Ya memang benar, setan itu sekarang memasang wajah malaikat dan duduk manis di sana. Kuatur napasku sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari orang yang sungguh membuatku tidak sampai hati berbohong kepada beliau. "Oh...pergi ke gereja" untung aku paling pintar menyembunyikan ekspresi.


"Sekarang?" tanyanya lagi. Kuanggukkan kepalaku mantap. "Temanmu datang, temani dulu. Ibu masuk buatin minuman untuk kalian" pesannya padaku.


"Oh, ya" sahutku pasrah. Sepeninggal ibuku yang menghilang masuk ke dapur seketika kuhampiri Jojo dan duduk di sampingnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kubilang untuk tunggu di luar?" tanyaku mengintrogasi.


"Ibumu melihatku di depan pintu, menyapaku dan menanyakan padaku ada urusan apa dan cari siapa? Berhubung aku tidak mau berbohong jadi kukatakan, kalau aku menunggu kakak dan akan berangkat ke gereja bersama. Aku tidak bilang tentang hubungan kita. Aku hanya bilang teman kampus kakak" ucap Jojo. Ekspresinya menunjukkan ketakutan kalau aku akan marah dan lebih parah mengajaknya putus. Walaupun dulu aku juga ada keinginan melakukannya, namun tidak untuk sekarang.


Kuhela napas panjang lega mendengar penjelasannya. "Baguslah, aaa...pokoknya jangan ungkapkan hal sebenarnya sebelum hubungan kita benar-benar serius"


"Okey" sahutnya sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali. Entah kenapa aku meragukan jawaban darinya. Siapa yang tidak ragu dengan bocah yang selalu saja sekehendak hatinya dalam bertindak?

__ADS_1


"Maaf hanya ini yang ada di rumah, dicicipi ya nak. Rya tidak pernah mengajak orang lain ke rumah. Kecuali sahabatnya Erna. Jadi heran saja melihatmu tadi berdiri di depan pintu pagar" ungkap ibu tersenyum ramah menyambut tamu tak diundangnya ini. Kumohon, jangan tanyakan apapun lagi. Bhentikan dan kita pergi ke gereja sekarang, pintaku dalam hati.


"Eum...Bu, sepertinya kami harus berangkat sekarang. Soalnya gereja yang mau kita datangi jalanannya sering macet. Aku tidak mau terlambat nanti" ucapku yang lebih memilih untuk segera pergi daripada mendapat pertanyaan yang tak kuinginkan keluar dari mulut ibuku dan aku tak mampu menjawab atau berkata bohong padanya.


"Kenapa harus pergi ke gereja lain? Ke gereja kita saja" sahut ibu mengusulkan.


"Andwee..." seruku tiba-tiba. "Eum...maksudku, janganlah bu. Nanti ada yang ngomong aneh-aneh. Lagian kan, Jojo gerejanya tidak sealiran dengan gereja kita. Entar yang ada dia canggung lagi. Ya kan, Jo?" kusikut lengan Jojo. Aku hanya sedikit improvisasi kebenaran agar lebih terpercaya.


Jojo mengangguk. "Iya tante, aliran agamanya sedikit berbeda. Tapi saya bisa memakhluminya kog. Tidak apa kalau harus ikut ke gereja kalian" Seketika mataku melotot menatap Jojo mencari pertanggung jawaban atas ucapan yang barusaja keluar dari bibir manisnya. Aku benar-benar tak percaya Jojo mengiyakan ucapan ibuku. Sialan bocah ini, dia merencanakan apalagi sekarang?


"Baguslah kalau begitu. Nanti kita berangkat sama-sama" Seketika jawaban ibu membuatku ingin terjun bebas dari gedung lantai 21.


Akhirnya kami berlima pergi ke gereja bersama. Eva, Ninoy dan ibu naik motor bersama dan mau tak mau aku membonceng motor ninja Jojo yang sedikit menyiksa si penumpang.


"Bisakah lain kali kamu pakai motor maticmu? Motor ini terlalu berbahaya untukku" protesku.


"Tidak bahaya" ucap Jojo yang terlihat senang saat dengan terpaksa tubuhku menempel di punggungnya. Dia menang banyak. Sialan.

__ADS_1


"Iya untukmu, tapi bagiku ini kerugiaan besar" ungkapku terus terang. Baru kali ini aku menempel padanya tanpa adanya pembatas.


"Apanya yang rugi? Lagian aku juga sudah pernah merasakannya" imbuhnya terus terang.


Semburat malu langsung tercipta diwajahku. "Hentikan ocehanmu. Lebih baik kau percepat jalannya, nanti kita terlambat" titahku.


"Kita harus hati-hati, bukankah tadi ibu kakak berpesan untuk pelan-pelan jangan ngebut" ucapnya seakan-akan jadi anak penurut.


"Ish...kau ini..." sudahlah, lebih baik aku menyerah lagipula jarak rumah dan gerejaku hanya 10 menit. Jadi lebih baik biarkan saja bocah ini menikmati apa yang diinginkannya sekarang. Aku hanya perlu memikirkan jawaban atas pertanyaan yang mungkin akan muncul nanti setelah pulang gereja. Atau lebih baik aku kabur dulu sebelum yang lain sadar tentang adanya makhluk asing satu ini?


Motor Jojo berhenti di parkiran gereja. Segera aku turun dari motornya. Merapikan gaun putihku dan rambut yang sedikit berantakan, menyisir dengan jemari tanganku. Jojo juga sudah turun. Kulihat ibu, Eva dan Ninoy sudah memasuki gereja, bersalaman kepada petugas penerima tamu yang menyambut mereka di depan pintu. Oh My God, kenapa dia jadi usher di depan? Kepalaku berpaling menatap Jojo yang masih merapikan rambutnya di depan spion, rusak karena helm yang dipakainya. Haruskah aku meninggalkannya atau ah, aku stress.


Dia Samuel, pria yang sangat kukagumi di gereja, karena semangat dan antusiasnya dia memuliakan Tuhan, membuatku jadi salah satu fansnya. Aku pernah bermimpi menjadi kekasihnya kalau Tuhan mengijinkan. Namun apalah daya jarak kami terlalu jauh dan tidak adanya kemungkinan akan tercipta chemistry antara aku dan Sam. Mungkin karena kami beda suku dia keturunan chinese dan aku keturunan jawa, yang biasanya sangat sulit jika bersama.


Tetapi tetap saja aku tidak ingin dia melihatku bersama Jojo. Aku ini kenapa ya? Kenapa tidak ingin orang lain melihatku berdua dengan bocah gesrek ini? Egoiskah aku?


Tetap saja aku merasa kesal dan marah untuk saat ini. Karena adanya Jojo di sampingku dan Samuel yang menyambut kami di depan gereja. Andai saja dia tidak di depan pintu. aku tidak akan sekesal ini. Wajah ramahku sudah menghilang. Oh Tuhan, tidak bisakah pria di depan itu digantikan oleh orang lain saja. Kumohon jangan dia, aku tidak ingin dia melihatku bersama seorang pria. Benar, aku masih sedikit mengharapkannya, walaupun kenyataan aku sudah memiliki Jojo sebagai kekasihku. Maaf jika aku masih mengharapkan mendapat perhatian dari Samuel. Maafkan aku Jojo, aku belum bisa serius menerimamu sebagai pendampingku. Aku salah.

__ADS_1


________________*****_____________


__ADS_2