Bad Feeling

Bad Feeling
Just Forget It


__ADS_3

Seorang petugas kebersihan memanggilku dari luar pintu. Sial, jika sampai ada orang melihatku dalam posisi seperti ini, aku pasti akan segera dikeluarkan dari tempat ini, berbuat mesum di tempat kerja. Ini sungguh memalukan.


Mataku membulat lebar mendengar suara tersebut, sedangkan Jojo tidak terganggu sedikitpun dengan suara itu. Ia masih saja mengecupi setiap inch leherku, apalagi kini posisi kami saling berhadapan dan aku terpojok di antara dinding dan lemari kartu buku. Aku tidak dapat bergerak, apalagi saat ini kedua tanganku terkunci ke atas olehnya. "Kumohon hentikan Jo, ini sudah cukup" pintaku memohon disela-sela menahan suaraku keluar akibat ulah Jonathan.


Bukannya melepaskanku dia malah menciumku, membungkamku agar tidak protes dan tangannya mulai menjelajah, melepas kancing kemejaku satu persatu. Sialan, ini sudah kelewatan.


"Mbak Rya" suara itu terdengar cukup dekat dan semakin mendekat. "Kalian?" hal yang kutakutkan akhirnya terjadi. Mas Narno memergoki kami berdua. Aku terkejut karena akhirnya apa yang kutakutkan terjadi, namun berbeda dengan orang di depanku, ia seperti kurang puas dengan apa yang dilakukannya.


Karena hal itu, akhirnya aku mendapat surat peringatan dan dikeluarkan dari tempatku bekerja. Untungnya mereka tidak menyebar luaskan alasan aku diberhentikan dari pekerjaanku. Karena alasan yang sudah kukatakan. Aku seratus persen tidak bersalah, tapi kenyataan jika nanti ada gosip yang menyebar dan membuat kacau, jadi untuk menghindari itu semua, aku harus pergi.


Setelah keluar dari tempatku bekerja, kuputuskan untuk melanjutkan kuliah, mungkin dengan melanjutkan kuliah aku bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik nanti.


Akhirnya aku melanjutkan kuliah S1 di salah satu universitas swasta di kotaku. Awalnya biasa saja, menjalani kuliah seperti biasa dan aku juga tidak kesulitan mendapatkan teman walaupun, umurku lebih jauh dibandingkan mahasiswa baru lainnya. Namun sebuah kejadian membuatku seperti berada di ujung tanduk. Jojo juga kuliah di tempat yang sama denganku. Kami tak sengaja saling berpapasan, aku bersama teman-teman priaku di kelas dan dia bersama teman-teman wanitanya. Kuakui dia tampan, jadi pasti banyak gadis yang menyukainya.


Pertemuan tak terduga ini membawa hubungan kami semakin rumit. Mata kami bertubrukan, namun mengingat kejadian terakhir waktu itu, kupilih menganggapnya sebagai orang asing dan lebih baik menghindar darinya.


"Harusnya bahan-bahan makalah kita kumpulin dulu baru setelah itu kita simpulkan, cari referensi makalah di perpus atau internet nanti..." ucapku melanjutkan obrolanku barusan, yang sempat terhenti akibat kejadian tak terduga.


"Kak Rya, Kak..." serunya memanggilku yang meninggalkannya pergi tanpa menghiraukannya.

__ADS_1


Aku tetap mengabaikannya, namun sebuah tangan menarik lenganku yang seketika menghentikan langkah kakiku. Teman sekelasku pun ikut berhenti dan menoleh pada seseorang yang menghalangi jalanku. "Kak Rya, kan? Kog bisa di sini? Ini aku Jojo, kakak tidak ingat?"


Mataku yang semula menatap Jojo berpaling menatap teman sekelasku. "Nanti kita kumpul di basecamp" ucapku yang seketika disahut anggukkan dan satu persatu teman sekelasku pergi meninggalkanku.


"Long time no see" ucapku merespon, sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Aku harap semoga ini bukan pertanda buruk dan menyapanya juga tidak ada salahnya.


"Kakak ke mana saja, kenapa tiba-tiba keluar tanpa pamit, kakak marah padaku karena kejadian...."


Kupotong ucapannya. "Cukup Jo, aku tidak mau membahas kejadian waktu itu. Sekarang, kamu selesaikan kuliahmu dan aku akan selesaikan kuliahku. Dan aku harap, kau abaikan aku seperti kita tidak saling kenal, mengerti?" pintaku penuh penekanan.


"Bagaimana bisa mengabaikan kakak, orang yang pertama kali melakukan ciuman pertamanya denganku?" seperti biasanya ia ceplas-ceplos tanpa peduli dia ada dimana sekarang.


Aku hanya ingin dengan tenang menyelesaikan kuliahku seperti biasa tanpa adanya drama-drama aneh yang tercipta. Apalagi memikirkan berteman lagi dengan bocah mesum yang seenak jidatnya itu, yang sudah membuatku dikeluarkan gara-gara ulahnya padaku.


Usai kuliah, rencananya aku ingin menghabiskan waktu di perpustakaan untuk mencari bahan-bahan perkuliahan yang perlu, sebagai bahan tambahan. Namun melihat Jojo juga berada di dalam perpustakaan bersama beberapa gadis di sekitarnya, mengurungkan niatku memasuki tempat tersebut. Kupilih pergi ke salah satu tempat tersepi di kampus. Loteng kampus, membawa laptopku untuk browsing dan mencatat tambahan informasi tentang mata kuliah.


Sudah setengah jam berlalu, aku masih berkutat di depan laptop dan binderku mencatat informasi yang kuperlukan. Tanpa sadar ada sepasang mata mengawasiku dan mulai berjalan mendekat. "Jadi di sini tempat persembunyian kakak?" Kepalaku mendongak, pandanganku teralih dari depan laptop, menatap orang yang kini sudah berdiri 1 meter dariku. Mataku membulat menemukan sosok Jonathan di depanku.


"Perlu banyak informan untuk menemukanmu. Kenapa kakak menghindariku? Aku juga belum mendapat jawaban, kenapa kakak tiba-tiba keluar dari perpus?" ucapnya kini sudah berjongkok di depanku, menatapku menyelidik.

__ADS_1


"Aku bukannya tiba-tiba, aku memang sudah punya niatan untuk keluar, karena aku mau kuliah lagi. Dan bukannya aku menghindarimu...aku hanya sibuk dengan tugas-tugas kelompokku" sahutku yang tidak seratus persen mengada-ada.


Ia tersenyum mendengar jawabanku. Lalu memilih duduk di sampingku, kepalaku menoleh, bingung dengan ulahnya, "Kakak masih seperti dulu...polos dan mudah ditebak. Ini kenapa aku masih menyukai kakak sampai sekarang" Ia mendekatkan wajahnya ke arahku.


Kuakui jantungku berdegup cukup kencang mendengar ucapannya. "Hentikan ocehanmu" ucapku sambil menjatuhkan kacamatanya. Sialnya, aku malah terpesona melihat wajahnya tanpa kacamata. Ia tersenyum sambil menangkap kacamatanya. Tanpa memasangnya lagi.


"Aku kangen sama kakak" ucapnya yang langsung membekukan sistem kerja otak dan sarafku.


Tenggorokkanku sedikit tercekat. "Aah....sudah sore, aku harus pergi kerja" sahutku sambil bergegas merapikan barang bawaanku, mamasukkan ke dalam tas.


"Bisakah, aku menyapa kakak kalau kita tidak sengaja berpapasan?" lenganku ditarik olehnya.


"Silahkan saja. Tetapi alangkah lebih baik, kalau kita tidak saling mengenal" ucapku langsung berdiri pergi menjauh darinya.


Harus dengan cara apa aku menghindarinya dan bagaimana caranya menghilangkan perasaan aneh ini jika berada di dekatnya? Kenapa perasaan seperti dikelilingi ribuan kupu-kupu dan ribuan jutaan kembang api yang meledak bersaut-sautan muncul kembali? Dan kenapa jantung ini? Apa aku perlu ke dokter menanyakan tentang sekaratnya jantungku? Selalu berdetak tanpa henti ketika berada di sampingnya? Kenapa harus dengan boch itu? Kenapa dia harus muncul lagi? Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya? Okey, Rya lupakan bocah itu fokuslah pada kuliahmu.


#####BadFeeling#####


semoga tetap pada suka ya, happy reading 😊🙏

__ADS_1


__ADS_2