
Kuliah masuk pagi itu sungguh menyiksa, apalagi semalam aku harus berkutat dengan pekerjaanku sampai harus pulang jam sebelas malam. Dan kali ini aku harus terkantuk-kantuk di dalam kelas dengan pelajaran yang membosankan, mau tak mau aku harus hadir karena nilai SKS-nya tiga. Jika aku harus mengulang mata kuliah ini bisa runyam, pasti pembayarannya lebih mahal.
Catatan yang panjang dan banyak, penjelasan yang berputar-putar membuatku pusing kepala. Apalagi perutku yang malang belum terisi sarapan. Keluar kelaspun rasanya ingin pingsan. "Kau baik-baik saja?" tanya seseorang padaku. Kepalaku mendongak menemukan sosok yang tak asing lagi bagiku, dosen magang yang memiliki senyum manis menawan.
"Oh, iya. tidak papa kog" mataku sebenarnya berkunang-kunang namun melihat pria itu sedikit membuatku sadar akan adanya makhluk Tuhan yang perlu aku nikmati keindahannya.
"Lapar ya? Nih" ia menyodoriku bungkusan plastik berisi roti. Lalu tersenyum padaku setelah kuterima bungkusan itu kemudian berlalu begitu saja.
Pria ini sungguh, membuatku semakin hari semakin bertanya kenapa dia begitu baik padaku? Atau memang sikapnya baik kepada semua orang? Ah...abaikan saja, mungkin dia memang orang baik, syukurlah perutku terselamatkan dengan roti pemberiannya. Aku mesti mengikuti mata kuliah lain setelah ini, jadi tidak ada waktu ke kantin. "Tuhan terima kasih, telah Engkau kirimkan pria baik, amin" doaku singkat dalam hati.
Kakiku kembali menyusuri lorong gedung kampus sambil menikmati roti pemberian dosen magang tadi, menuju ruang kelas jam mata kuliahku selanjutnya. Aku tidak hanya berjalan sendirian karena ada beberapa teman sekelasku yang juga berjalan di sampingku. Namun seseorang muncul dan menghalangi langkah kakiku. "Kakak masih ada kuliah?"
Kuhela nafas panjang setelah menghabiskan cepat roti coklat tadi, karena bocah yang muncul adalah orang yang tak kuharapkan keberadaannya muncul di dekatku sekarang. "Tentu saja, kamu sendiri tidak ada kuliah apa?" tanyaku, walaupun sebenarnya aku malas juga bertanya padanya. Namun hati nuraniku tak tega mengabaikannya.
"Ada, tapi nanti. Kalau begitu, aku ikut mata kuliah kakak ya? Pasti seru" ucapnya seperti biasa sekehendak hatinya.
Bocah ini gila. "Tidak boleh, kamu tidak usah sok-sok'an ikut mata kuliah yang beda jurusan darimu. Mending kamu belajar gih di perpus atau main ke mana kek gitu" tolakku mentah-mentah.
"Iya, aku main di kelasnya kakak" sahutnya kekeh dengan pendiriannya. Sepertinya dia ingin membuatku cepat tua dengan kelakuannya yang selalu membuat emosiku naik 180 derajat.
"Adik lu manja amat, kak Rya" timpal bocah yang berdiri tak jauh dariku.
"Udah diajakin aja, lagian dosen kita nanti nggak bakalan tau ada penyusup" Jojo nyengir kuda mendapat dukungan dari temanku yang lain.
"Nggak papa kak, lagian adik kakak cakep. Lumayan buat cuci mata" bisik Nuri ke telingaku, mahasiswi yang suka tebar pesona sama cowok-cowok. "Haloo, kenalin aku Nuri teman sekelas kak Rya" sapanya sambil menyodorkan tangannya.
Jojo menyambutnya ramah. "Jonathan"
"Lebih suka dipanggil apa?" tanya nuri mulai tebar pesona.
__ADS_1
"Apa aja. Kak Rya, ayo masuk buruan...nanti telat lho" ucapnya langsung menarik lenganku tanpa permisi dan mengajakku memasuki pintu kelas yang juga sudah dimasuki oleh beberapa teman kuliahku. Ia mengajakku duduk di bangku paling pojok, tapi ada di bagian tengah kelas. "Wah, teman kakak banyak juga" celetuknya saat semua mahasiswa berdatangan memenuhi bangku-bangku yang kosong.
Aku hanya mengerling malas ke arahnya. Kukeluarkan buku binderku dan bolpoint siap untuk kuliah selanjutnya. Ia ikut-ikutan mengeluarkan bindernya. "Kak Rya" panggilnya padaku. Kutolehkan kepalaku malas ke arahnya. "Coklat kakak menggoda"
Alisku bertaut, mencerna ucapannya. Coklatku? Memang aku punya coklat? "Apa maksudmu?"
"Auh...kakak mirip anak kecil saja, makan belepotan gini" ucapnya sambil membersihkan bibirku yang ternyata ada sisa coklat dengan jemari tangannya.
"Uwaaa...romantisnya...." pekik Nuri seketika. Mataku yang semula membulat kaget langsung mengalihkan pandanganku dan menjaga jarak dari Jojo.
"Romantis ya?" sahut Jojo sambil menghisap jempolnya yang terkena coklat barusan.
"Uwaaa...kalian ini kakak beradik atau pasangan kekasih?" teriak Nuri antusias. Dia memang gadis yang menyukai hal-hal drama.
"Memang bagaimana kelihatannya?" tanya Jojo penasaran.
"Kalian cocok juga jadi pasangan kekasih" sahut Nuri tanpa dosa.
Ia kini diam, tapi diamnya dia membuatku jadi salah tingkah sendiri apalagi sempat kudapati dia sedang mengamatiku. "Apa yang kau lihat?" tanyaku pelan.
"Kakak" sahutnya.
"Untuk apa?" desisku malas. Mataku berusaha fokus dan mencatat mata kuliah hari ini.
"Hanya ingin"
"Lihat depan sana" ucapku sambil menyikut lengannya yang tak jauh dariku.
"Buat apa, kan pelajaran ini tidak ada dalam SKS-ku" sahutnya santai. Walaupun memang benar dia tidak perlu memperhatikan perkuliahan hari ini, tapi tetap saja tidak bisakah dia memperhatikan hal yang lain bukan diriku.
__ADS_1
Kupilih tak menghiraukannya dan fokus mengikuti perkuliahan. Dan tanpa terasa, dua jam mata kuliah ini berakhir juga. Kumasukan binder dan bolpenku, bersiap untuk pergi. Tujuan utamaku yang pasti adalah restoran. Aku harus mengisi perutku dengan makanan atau aku bisa pingsan, apalagi kalau harus berhadapan terus dengan bocah yang kini menempel terus padaku seperti perangko.
"Kak Rya, brondongnya cakep" pekik Nuri menyindirku. Beberapa mahasiswa yang lain ikut-ikutan menyindirku. Memuji tampannya Jojo, kerennya dia, beruntungnya aku memilikinya bahkan ada yang mengatakan, pakai pelet apa sampai si brondong mau denganku. Sialan.
Siapa juga yang menggunakan pelet, aku sih ogah harus melet nih bocah. "Kak, temen kakak keren. Tau aja kalau kita pasangan"
"Siapa yang pasangan? Kita? Sejak kapan?" ucapku protes tak terima.
"Mulai sekarang. Kita pacaran. Titik" ungkapnya tanpa memikirkan perasaanku yang sungguh tak mau kalau harus berdekatan maupun menjalin hubungan dengannya. "Untuk merayakan hari jadi kita, aku traktir kakak makan siang, yuk" dia menarik tanganku, menggandengnya tanpa permisi.
"Tunggu dulu, aku itu tidak bilang setuju. Kenapa kau selalu mempersulitku?" ucapku menarik tanganku dan berusaha keras menghentikan langkah kakiku.
"Aku tidak mempersulit kakak, aku hanya mengajak kakak pacaran"
"Kau taukan umur kita itu terpaut jauh jadi..."
"Memangnya begitu penting? Aku tidak pernah berpikir akan mencintai seseorang yang lebih tua atau lebih muda dariku, yang kupikirkan adalah hati dan perasaanku. Kalau aku menyukai seseorang aku akan mengikuti perasaan itu, aku hanya tidak mau perasaan yang kurasakan harus mati tanpa bersemi terlebih dahulu. Jadi, kalau kakak belum punya pacar, pacaranlah denganku sekarang"
"Dasar bocah, pikiranmu terlalu simple. Kau tidak pernah berpikir bagaimana nantinya kalau temanmu mengejekmu berkencan dengan tante-tante atau kau tidak pernah berpikir bagaimana kalau hal ini diketahui oleh orang tuamu. Kau akan malu sendiri, dan lagi...."
"Kakak menyukaiku?" tanyanya memutus ucapanku. Aku terdiam tak menjawab ucapannya. "Aku tanya sekali lagi, kakak menyukaiku tidak?"
"Bukannya aku tidak menyukaimu, kau itu..." Jojo menarikku ke dalam pelukkannya, yang membuatku nyaman dan tak ingin terlepas darinya. Murahankah aku?
"Aku tidak peduli pendapat orang lain bahkan orang tuaku sekalipun, jika kakak menyukaiku, itu sudah cukup untukku. Itu merupakan kekuatan utama bagiku menghadapi apa yang nanti akan terjadi. Yang kubutuhkan hanyalah, pernyataan kakak menyukaiku atau tidak? Jika kakak menyukaiku, aku akan melindungi kakak dan membahagiakan kakak selamanya. Walaupun seluruh dunia nanti menentang hubungan kita, aku tidak akan pernah melepaskan tangan kakak, kecuali kakak sendiri yang menginginkannya"
Entah kenapa ucapannya membuatku terharu, sikapnya seperti ini yang paling kubenci. Dia menganggapku seperti wanita lemah yang perlu dilindungi. "Kenapa kau begitu bodoh, Jo?" ucapku mendorong tubuhnya pelan hendak menatap kedua matanya. "Apa yang kau harapkan dari wanita sepertiku? Aku tidak punya apapun untuk dibanggakan bahkan usiaku..." sebuah kecupan kudapatkan. Mataku membulat seketika.
Tak berapa lama ia melepaskan kecupannya, memandangku dengan jarak hanya beberapa centi. "Kalau kakak membahas soal umur lagi, aku akan mengajak kakak menikah sekarang juga" bibirku terdiam, tak protes sekalipun. Sampai kedua bibir kami bertemu pun aku membiarkannya. Yang dapat kulakukan hanya menutup mata dan menikmati ciumannya. Sial, aku takut mengatakan hal ini. Kurasa aku benar-benar jatuh cinta padanya.
__ADS_1
######BadFeeling