
Hari sudah siang saat kami berjalan mencari tempat makan. Kami pergi ke pasar terdekat di sana. Ada banyak penjual menjajakan makanan laut bahkan ikan yang masih mentah. Tempat ini cukup ramai dengan banyaknya pengunjung di pantai ini, karena terkenalnya tempat ini. Jonathan tidak membiarkan genggaman tangan kami terlepas. Dia berkata tidak ingin kehilangan diriku dalam keramaian pasar ini. Astaga, anak ini sungguh menyebalkan, tetapi cukup romantis.
“Apa yang ingin kakak makan?“ tanyanya.
“Asalkan bukan udang atau kepiting aku bisa memakannya. Kau sendiri ingin makan apa?“ tanyaku menatapnya ingin tahu. Aku hanya penasaran apa sebenarnya makanan kesukaannya, karena dia tidak pernah mengatakan makanan apa yang dia sukai. Ia selalu mengikuti makanan yang aku pesan dan dia akan terlihat begitu menikmatinya.
“Masakan kakak” ia menatap mataku cukup dalam.
Jawabannya membuatku terpana, karena tidak pernah kufikirkan akan mendapat jawaban seperti itu. Namun kemudian mataku mengerjap karena aku menyadari barusan terpana oleh ucapan Jonathan. “Baiklah, kita beli sesuatu. Nanti akan aku masakan makanan untukmu” ucapku.
Ia memandangku sambil tersenyum senang. “Baiklah, ayo kita belanja” ucapnya. Ia menarikku dan begitu sangat bersemangat ketika kami berbelanja. Ia memilih apapun yang ia sukai lalu dibelinya. Aku yakin dia menghabiskan uang untuk semua ini. Betapa borosnya dia ketita bersamaku. Hanya karena ingin membuatku senang, dia mengabaikan apapun. Termasuk uangnya. Padahal aku juga ingin ikut membayarnya, ia malah menyuruhku menyimpan untuk masa depan kami nanti.
Selesai berbelanja kami kembali ke pondok tempat yang kami pesan. “Tunggu di sini” pesannya. Jonathan pergi sebentar entah kemana, aku tak tahu. Kupilih menyiapkan bahan-bahan untuk kumasak. Kukeluarkan semua bahan kemudian mencucinya dengan air mengalir sebelum kugunakan.
Karena terlalu fokus, aku tidak menyadari kedatangan seseorang yang kini berjalan di belakangku. Seseorang itu tiba-tiba memelukku seketika membuatku memekik karena terkejut. “Istriku” ucapnya mengecup pipiku. Jelas aku tau siapa si pelaku tersebut. Jonathan.
“Lepaskan, jangan menggangguku. Ini terlalu panas kalau kau memelukku seperti ini” usirku menyingkirkan tangannya.
Jonathan menyingkirkan lengannya. “Pakai apron ini dulu, supaya pakaian kakak tidak kotor” ia menyerahkan apron di hadapanku. Kuhula napas pasrah, karena aku tak habis pikir kalau dia akan melakukan hal sejauh ini. Saat aku hendak menerimanya. Jojo malah memasangkan apron padaku. Rasanya jantung ini berdebar cukup cepat karena jarak kami yang begitu dekat ketika ia mengalungkan apron pada leherku. Ia tersenyum lalu memutar tubuhku untuk membantuku mengikatnya. “Selesai. Cepatlah memasak. Aku sangat lapar” ucapnya menepuk kedua bahuku lalu mendorongnya kembali di depan kompor.
Kembali kuselesaikan pekerjaanku, memasakkan makanan untuk kami makan siang. Setelah beberapa menit akhirnya masakanku selesai. Kuhidangkan makananku di atas meja dan mengajak Jonathan makan siang bersama.
“Masakan pertama dari istriku” ucapnya sambil tersenyum bahagia melihat masakan yang terhidang di atas meja. Walaupun tidak banyak jenisnya, tetapi cukup untuk kami makan bersama.
“Cobalah” ucapku mempersilahkan dirinya mencicipi masakanku untuknya.
Jonathan mencoba masakanku, ia terlihat begitu menyukainya karena sejak dia mengunyah setiap makanan yang ia coba, ia akan berkata, "luar biasa, ini enak sekali"
Aku tersenyum menanggapinya. Syukurlah dia menyukainya. Namun di sisi lain hati ini merasa sedih. Kutepis perasaan buruk ini dan memilih menikmati kebahagiaan kecil yang tercipta untuk sekarang.
Selesai makan, Jonathan mengajakku menaiki perahu boat yang disewanya. “Wah, ini sangat indah” ucapku saat Jojo menghentikan perahu boat di tengah laut.
Hamparan air laut yang jernih dan berwarna biru terpisah oleh garis tipis yang tak terwujud dari cakrawala biru cerah. Warna yang sangat cantik.
Jonathan tersenyum lalu memeluk tubuhku dari belakang. Membuatku sedikit salah tingkah. “Jika nanti kita menikah, kita bulan madu ke pulau Maldives. Kakak akan suka pemandangan di sana. Karena pemandangan di sana lebih indah dari tempat ini” ucapnya.
“Benarkah? Di sini sudah begini indahnya“ ungkapku tak percaya karena aku tidak pernah tau bagaimana bentuk pulau Maldives.
__ADS_1
Jonathan menatap kedua manik mataku. “Maka dari itu, kakak menikahlah denganku. Aku akan berusaha membuat kakak selalu tersenyum. Walau suatu saat kakak sedih karena sesuatu, aku akan berusaha keras agar kakak kembali tersenyum bahagia. Untuk itulah jangan pernah menyerah pada hubungan kita. Aku benar-benar berharap dapat menikah dengan kakak”
Mendengar ucapan darinya membuat air mata ini tak terbendung lagi. Ini pertama kalinya seseorang membuat janji padaku. Pertama kalinya seseorang menginginkan aku bahagia dan menginginkan aku untuk jadi istrinya. Untuk pertama kalinya seorang pria berani memberikan hidupnya untukku.
Kutarik kerah bajunya. Ijinkan aku melakukan apa yang diinginkan oleh hatiku untuk saat ini. Mencintai pria di depanku tanpa mempedulikan pemikiran maupun pendapat orang lain. Sebelum aku melakukan hal yang mungkin akan kusesali nanti.
Kucium dirinya penuh cinta. Biarlah kulakukan ini sebelum aku menyesal nanti. Ia pun membalas ciumanku. Sedikit lebih lama dari biasanya. Wajahku seketika memerah karena Jonathan berbisik padaku. “Pencuci mulutnya sangat manis” kupukul bahunya pelan. Ia malah tertawa bahagia. Oh Tuhan, ijinkan waktu ini kunikmati lebih lama lagi.
Usai berlayar menggunakan perahu boat kami kembali ke pantai. Jonathan membeli pakaian untukku ganti baju, karena pakaian kami basah, tadi kami sempat berenang sebentar. Ketika malam hari Jonathan mengunjungi kamarku. “Ayo, ke pasar malam. Ada pesta api unggun malam ini, mau ikutan?“
“Baiklah”
“Aku tunggu di luar” pesannya sebelum meninggalkanku.
Kuanggukkan kepalaku, kemudian bersiap-siap pergi. Menempelkan beberapa polesan di wajahku. Setelah siap aku keluar menemui Jonathan.
Ternyata pakaian kami pakaian untuk pasangan. “Kakak, cantik” pujinya.
Aku tersipu karena ucapannya. “Bisa saja. Ayo pergi” aku melangkah lebih dulu namun Jonathan menarik lenganku, kepalaku menoleh padanya. “Ada apa?“ alisku naik ke atas.
Kami berdua jalan berdampingan menuju pasar malam terdekat dari pondok kami menginap. Kulihat lampu-lampu kecil menghiasi jalan kecil menuju pasar malam. Setelah berjalan selama lima menit akhirnya kerumunan kios-kios kecil dan beberapa orang terlihat. Suasananya cukup ramai dan sangat terang karena banyak lampion dan lampu-lampu menghiasi pohon" di sekitar pasar. Lampion warna-warni memeriahkan pasar malam ini.
"Eum... Ini untukmu" seseorang tiba-tiba memberikan bunga kepada Jonathan. Lebih tepatnya seorang gadis muda seumuran dengannya.
Pegangan tangan kami seketika terlepas olehku. Kaget dengan keberanian gadis itu. Jonathan menoleh bingung karena tiba-tiba aku melepaskan tanganku darinya, lalu pandangannya beralih melihat gadis itu. Ia tersenyum. "Kau memberiku bunga? Kau menyukaiku?“ tanya Jonathan.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk. "Apa kau tau siapa orang di sampingku?“ tanyanya.
Gadis tersebut melihat ke arahku. "Memangnya siapa dia, bukannya kau memanggilnya kakak. Dia kakakmu kan?“ gadis itu sepertinya telah lama memperhatikan kami berdua, sampai ia tau panggilan Jonathan untukku.
"Dia pacarku dan sebentar lagi akan kujadikan istriku" jelasnya. Mendengar ucapan Jonathan, seketika bunga yang dibawa gadis tadi terjatuh dan gadis cantik, tinggi dan putih itupun berlari pergi.
"Ayo" Jonathan kembali menggandeng tanganku.
Kutarik lenganku berlainan arah darinya dan membuat Jonathan mengernyitkan dahinya. "Kenapa kau menolak gadis secantik dia barusan? Aku yakin jika kalian bersama, kalian akan terlihat lebih cocok daripada kau berjalan denganku“
" Kakak ini bicara apa? Apa kakak tau kenapa aku menyukai kakak?“ Kugelengkan kepalaku tak tau. "Aku sendiri juga tidak tau alasannya kenapa" ia tersenyum dan membuat pipiku menggembung. "Namun yang aku tau. Ketika aku bersama kakak, aku bisa tertawa dan bahagia. Ketika aku tidak bersama kakak, hatiku begitu merindukan kakak hingga rasanya aku akan mati. Jadi kumohon, jangan berpikir untuk berpisah. Aku bisa mati nanti"
__ADS_1
Hatiku rasanya bahagia namun ada juga rasa sakit mendengar ucapannya. Kutepis air mata yang mulai menggenang. Kupalingkan pandanganku ke arah penjual lampion. "Wah, ada yang menjual lampion, ayo kita membelinya dan membuat harapan" ajakku.
Kami membeli satu lampion menuliskan harapan kami kemudian menerbangkannya ke langit. Kepala kami berdua menengadah ke atas melihat terbangnya lampion kami. Setelah cukup jauh, kami tersenyum saling berhadapan. "Apa permohonanmu?“
“Agar kakak bahagia selamanya" ucapnya. "Kakak sendiri?“
“Semoga kau bahagia meskipun tidak bersamaku suatu hari nanti" jawabku.
"Kan sudah aku bilang kalau bahagiaku bersama kakak" ucapnya protes.
"Terserah kau saja" timpalku yang kemudian pergi mencari sesuatu yang menarik lagi di pasar itu.
Jonathan mengejar dan memanggil namaku namun kuabaikan saja dia. Tiba-tiba tanganku ditarik seketika membuatku menoleh. Jonathan pelakunya. Ia mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena barusaja berlari. Lalu setelah napasnya kembali normal. Ia berlutut di depanku, ia melakukannya di tengah keramaian pasar malam. Mataku seketika membola dan kepalaku menoleh kanan dan kiri melihat orang-orang melihat tingkah Jonathan yang tak wajar terjadi.
"Apa yang kau lakukan, berdirilah sekarang juga" pintaku pada Jonathan.
Jonathan menggelangkan kepalanya, salah satu tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah kotak kecil, saat ia membukanya isinya sebuah cincin. "Kakak menikahlah denganku?“ ia menyodorkan kotak kecil ke arahku.
Seharusnya ini yang kuinginkan, namun aku tidak bisa mengiyakan ucapannya untuk sekarang dan ini membuatku memiliki alasan untuk melakukan hal yang sudah aku rencanakan.
"Kenapa kau melakukan ini, ini memalukan? Lihatlah, banyak orang memperhatikan kita, cepat berdiri" seruku.
"Tidak, sebelum kakak menjawab iya" kelakuan Jonathan menarik perhatian beberapa orang di sana.
"Terserah kau saja" kuhentakkan kaki pergi meninggalkan Jonathan yang bersikeras masih berlutut di depanku.
"Kakak, tunggu sebentar" Jojo berteriak, ia berlari mengejar diriku.
"Sudah kukatakan jangan melakukan hal yang memalukan seperti tadi, kau malah membuatku malu di depan banyak orang. Sudah kukatakan kalau aku belum siap untuk menikah, tetapi kau malah memasakku menjawab pertanyaanmu tadi. Jadi lebih baik kita putus" ungkapku.
"Kakak, jangan bercanda, aku hanya ingin hubungan kita lebih serius lagi" ia berhasil menghentikan langkahku.
"Kita saja belum mendapatkan restu, kau malah berpikir untuk menikah. Kau sungguh... Lupakan. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Hubungan ini tidak bisa kita lanjutkan, kau sangat egois" kuhentakkan tanganku agar terlepas darinya.
Maaf, Jo. Aku tidak ingin orang lain berbicara apapun tentang hubungan kita nanti, aku juga tidak ingin melukai hati ibu. Mungkin ini yang terbaik untuk kita. Kuharap kau bisa melupakanku. Terima kasih untuk liburan indah hari ini. Airmataku tak terbendung lagi. Mungkin inilah yang terbaik.
####BadFeeling
__ADS_1