Bad Feeling

Bad Feeling
GreenCake


__ADS_3

Dia yang selalu melakukannya terlebih dahulu dan sekarang aku yang memulainya. Mungkin ini yang namanya membalas perasaan orang lain, agar orang itu menyadari kalau kita juga mencintainya. Karena cinta tidak perlu diucapkan melainkan dilakukan.


 


\*


 


Kuberlari meninggalkan Jonathan seorang diri di atas loteng, aku tidak peduli bagaimana responnya setelah aku dengan beraninya telah memberikan ciuman padanya untuk yang pertama kalinya. Kupikir itu bukan ciuman, itu hanya wujud dari ucapan terima kasih, bukankah di luar negeri juga melakukan hal seperti itu dengan biasa. Tetapi ini bukan di luar negeri Rya dan yang barusan itu termasuk ciuman. Walaupun kami sudah sering berciuman, tetapi Jojo yang memulainya terlebih dahulu dan barusan aku yang memulai. Oh Tuhan.


Untung aku ada mata perkuliahan, jadi aku bisa menghindar dari Jojo untuk sementara waktu. Kulewati perkuliahan dengan semestinya. Walaupun di dalam pikiranku, masih saja aku berusaha mencari alasan bagaimana agar dapat menghindar dari Jojo saat pulang nanti, karena aku benar-benar sangat malu untuk bertemu dengannya.


Sebuah pesan mampir di handphoneku. Kubuka chat, “Ay, maaf hari ini tidak bisa mengantarmu kerja, padahal aku ingin sekali ketemu setelah ciuman kita tadi. Sayangnya, dosen memberi tambahan mata kuliah ah... Menyebalkan. Haruskah aku tidak ikut kuliah?” tanyanya.


Kuketik balasan untuknya. “Kuliahlah yang serius” dan setelah kuketik balasan tersebut kuhela napas lega karena aku tidak perlu memberikan alasan lagi untuk tidak pulang bersama.


Kakiku melangkah keluar gedung kampus untuk menuju halte bus. Namun ketika di tengah perjalanan, suara klakson mobil dari arah belakang membuatku menoleh. Seseorang dari dalam mobil menurunkan kaca jendela mobilnya kemudian melongokkan kepalanya. Ketika kumengenali sang pengemudi, langkah kakiku terhenti.


“Rya, kau mau kemana?” tanyanya padaku.


Kuhampiri dirinya sebelum menjawab pertanyaan darinya. “Berangkat kerja. Kau butuh sesuatu?” tanyaku


“Naiklah, aku akan mengantarmu” ucap Nick ramah seperti biasanya.


Mataku membola, menanggapi tawarannya. Tumpangan gratis. Siapa yang akan menolak? Tetapi, jika orang lain tau, aku pasti disebut wanita gampangan. Aku sudah punya pacar dan kini naik mobil pria lain. Aku bukan tipe orang yang bisa menolak permintaan seseorang. Jadi inilah aku duduk di samping Nick.


“Kamu bekerja di mana?” tanyanya.


“Di sebuah cafe tak jauh dari sini. Memangnya kamu mau ke mana?” tanyaku.

__ADS_1


“Aku sudah tidak punya jam kuliah dan mengajar. Jadi aku pulang. Berhubung kamu kerja di cafe, aku akan mampir dan membeli sesuatu di sana. Bolehkan?“


“Tentu saja boleh” ucapku senang.


Siapa sih orang yang tidak senang saat orang lain membantu menambah income di tempatmu bekerja?


Nick tersenyum bahagia karena aku mengijinkannya. Tidak seperti saat Jonathan ingin masuk cafe, aku selalu menyuruhnya untuk jangan datang ke sini. Karena aku tidak ingin dia jadi bahan omongan pelanggan. Intinya, aku cemburu melihatnya diperhatikan oleh orang lain.


Kami berdua tiba di cafe tempatku bekerja dan orang yang paling terkejut saat aku sampai di sana adalah Erna. Setelah menyuruhnya duduk, aku mohon diri untuk masuk untuk ganti seragam kerja dan seseorang yang sejak tadi terkejut melihat kedatanganku, dia langsung menghampiriku dan seperti layaknya detektif ia mengintrograsiku seperti aku jadi tersangkanya.


“Siapa pria tadi? Itukah dosen baik hati yang kau ceritakan?“ tanya Erna. Kuanggukkan kepalaku mengiyakan ucapannya. “Daebak, pria cakep dengan mobil mewah tadi?“ tanya Erna lagi. Kuanggukkan kepalaku lagi. “Tolong kenalin aku dengannya” ucapnya antusias.


“Kau ini” ucapku tak percaya dia akan seheboh itu saat melihat Nick berjalan bersama diriku.


“Kau itu, seorang dosen tampan dan tajir malah kau abaikan dia. Mending kenalin sama aku. Kan, kamu sudah sama si Jojo biarkan aku kenalan sama si Nick, ya?” pintanya merayuku. Baru kali ini aku melihatnya seperti gadis kecentilan.


Kubawakan minuman untuk Nick. “Minumlah, ini aku yang traktir” kataku sambil menyodorkan gelas berisi coffe untuknya.


Nick protes padaku. “Kenapa kamu yang traktir? Aku mau pesan sesuatu untuk kumakan dan kubawa pulang nanti. Adakah cake yang enak di sini?“


Aku sedikit protes. “Cake di sini semua enak. Tetapi jika kau mau mencobanya. Ada cake yang jadi favorit di cafe ini” tawarku.


“Benarkah, kalau begitu aku pesan satu untuk kubawa pulang” ucapnya antusias. Matanya berbinar seakan menemukan sesuatu yang indah di depan matanya.


“Baiklah” kuanggukkan kepalaku.


“Dan aku pesan satu potong untuk kumakan di sini sebagai pendamping minuman darimu. Tempat ini sangat tenang, aku suka” imbuhnya sambil menunjukkan ketertarikan akan tempatku bekerja.


“Baiklah, tunggu sebentar. Nikmatilah minumanmu” ucapku kemudian pergi meninggalkannya kembali ke tempatku.

__ADS_1


Sebuah pesan masuk ke handphoneku. Jojo pelakunya. "Kuliahnya membosankan. Aku butuh ciuman" bunyi pesannya.


Kuketik balasan untuknya, "kuliah, aku suka pria pandai" lalu kukirim pesannya.


Sebuah pesan masuk lagi, balasan darinya. "Aku akan kuliah demi masa depan kita, aku mencintaimu 😘" kubaca pesannya, lalu tersenyum. Aku tidak membalas pesannya. Bukannya kenapa-kenapa, aku hanya tidak suka menulis kata-kata romantis untuk seseorang.


"Kau kencan di sini dan tebar pesona di sana" sindir Erna padaku. Namun sebenarnya ia hanya bercanda denganku.


Aku membela diri. "Siapa yang tebar pesona? Ya ampun, aku hanya menawarkan dia minuman dan kue favorit di cafe ini” aku pura-pura cemberut. Seakan-akan aku kesal dengan ucapan Erna.


Erna melirikku sambil membuatkan pesanan dari pelanggan. Kuambil sepotong kue pesanan Nick dan meletakkannya di atas piring saji. ”Mau aku yang antar atau kau?” bisikku menawarinya. Aku mengetes keseriusan sahabatku satu ini.


Erna tersenyum, “lakukan tugasmu sana” ia mengusirku. Bibirku mengulas senyuman menanggapi sikapnya. Sudah kuduga dia tidak akan benar-benar menyukai Nick. Dia hanya sedang menggodaku. Aku tau Erna akan paham bagaimana tipe pria favoritku, yang sebenarnya hampir seperti Nick. Tetapi pria yang mampu mendapatkan cintaku adalah si bocah yang bernama Jonathan.


Pengunjung cafe hari ini sedikit sepi jadi suasanan kali ini sangat bersahabat untuk membaca. Seperti apa yang dilakukan Nick saat ini, ia membaca buku. Jangan lupakan kacamata yang menghiasi hidung runcingnya. Astaga, memang benar pria ini sangat tampan. “Silahkan, ini pesananmu” ucapku menyodorinya sepiring kue yang berwarna hijau mint.


“Wah, lucu sekali” ia mencicip kuenya. “Eum...rasanya manis tapi ringan, ada rasa mint-nya dan rasa sedikit segar. Sebenarnya apa bahan untuk membuatnya” tanyanya seperti juri dalam acara cooking.


“Hei, ini rahasia cafe kami” jawabku berlagak protes dan menjaga rahasia menu cafe kami.


Nick tersenyum, mendengar jawaban dariku. Dan mau tak mau aku ikut juga tersenyum bersamanya. “Kalau begitu aku kembali kerja ya, terima kasih sekali lagi untuk tumpangannya”


“Terima kasih juga untuk traktirannya” aku tersenyum manis padanya sebelum akhirnya benar-benar meninggalkannya, kembali bekerja.


Dengan adanya Nick, aku berhasil melupakan kejadian di loteng tadi siang. Namun mengingat apa yang terjadi sebenarnya, membuatku kembali berpikir. Bagaimana nasib hubunganku dan Jonathan nanti jika banyak orang mengetahuinya? Aku yakin hubungan ini tidak akan begitu mudah untuk dijalani. Akan tetapi perasaan kami semakin hari semakin dalam. Bagaimana aku bisa mengatasi semua ini? Kuharap Tuhan berbaik hati kepada kami dan mengijinkan hubungan kami.


* * *


Happy reading everybody

__ADS_1


__ADS_2