
Suratan takdir berkata lain, mungkin ini salah kita yang memulai sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi. Kejadian ini mungkin sebagai pembelajaran agar kita tak harus berani menentang takdir kehidupan. Tetapi kenapa balasan ini lebih kejam dari yang kukira??
###badfeeling
Sebulan setelah kejadian di halte bus waktu itu, aku tidak lagi bertemu dengan Jonathan, bahkan menginjakkan kaki di kelas Jojo juga tidak pernah. Karena aku memilih untuk berhenti sebagai asisten dosen Nick sebab aku ingin lebih fokus menyelesaikan skripsiku. Kenapa aku begitu cepat skripsi? Karena aku mahasiswa lintas jalur, maka dari itu membutuhkan waktu lebih cepat untuk menyelesaikan kuliah dibandingkan dengan mahasiswa reguler yang memerlukan waktu lebih panjang.
Kini aku tengah duduk di paviliun tempat mahasiswa berkumpul, menunggu atau hanya sekedar duduk dan mengobrol, mengumpulkan bahan-bahan untuk menyusun skripsiku. Menyusun skripsi itu menyita banyak waktu, apalagi kalau sore aku juga harus bekerja. Aku juga perlu bekerja saat weekend untuk menambah pendapatanku. Karena menurut kabar, biaya ujian dan wisuda itu sangat besar, jadi aku harus mengumpulkannya mulai sekarang apalagi biaya untuk menyusun skripsi kali ini, cukup menguras tabunganku. Aku tidak mungkin meminta orang tuaku untuk membantuku membayar kuliahku kan? Aku tidak ingin menyusahkan beliau. Jadi mau tidak mau, aku harus ekstra menghemat biaya pengeluaranku.
Sebuah panggilan membuatku mengalihkan pandanganku dari tumpukan kertas-kertas di hadapanku. Nick, dosen tampan yang masih dengan pesonanya. Setiap mahasiswa pasti langsung terperangah ketika melihatnya. Ia berjalan ke arahku dan tanpa sadar aku pun tersenyum ke arahnya. Kubetulkan letak kacamataku yang sedikit turun dari batang hidungku. "Rya" panggilnya lagi.
Kusunggingkan senyuman manis padanya, setelah dia sampai di depanku. Tapi anehnya wajah Nick tak secerah biasanya. Ia terlihat terkejut bahkan gusar. Entah apa yang membuat wajah tampannya jadi sekacau ini. "Ada apa? Sepertinya kamu dalam kondisi kurang baik? Wajahmu kenapa sekacau ini pak dosen? Apa ada mahasiswi yang menganggumu lagi? Kenapa tidak kamu kencani salah satu dari mereka?" ucapku menggodanya.
Bukannya dia menanggapi godaanku dengan wajah tersenyum, matanya mengisyaratkan bahasa yang sulit kucerna dengan otakku. "Lihat ini" ia menyodoriku secarik kertas. Tertera nama Jonathan di sana. Namun setelah aku membaca kelanjutannya. Seketika membuat bola mataku membulat dan tubuhku membeku sesaat. "Apa kau tau soal ini?" imbuhnya lagi.
__ADS_1
"Kenapa, kenapa bisa...." beberapa kata yang mampu keluar dari bibirku yang membeku tadi. Mataku masih tak percaya membaca surat pengunduran diri di tanganku. Kubaca sekali lagi dan sekali lagi sampai aku hapal kata demi kata yang tertulis di sana.
Kutatap Nick penuh tanya. "Kau juga baru tau?”. Bodohnya aku kenapa aku baru tau soal ini dan baru tau hari ini dari Nick. Jika Nick tidak memberitahukan padaku masalah ini, maka aku akan jadi satu-satunya orang bodoh yang tidak tau menau kabar Jonathan. ”Kata Pak Tonny bagian kantor jurusan, seminggu yang lalu ibu Jonathan datang ke sana dan mengajukan surat pengunduran diri itu dan baru hari ini mereka mengambil berkasnya" terangnya menurut informasi yang dia terima dan dia memberi tauku seketika setelah ia mendapatkan kabar tersebut.
Mungkin kali ini aku terlihat seperti orang linglung yang jelas tak mmengerti harus berkata apa, karena memang aku tidak tau apapun soal ini. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa sampai dia mengundurkan diri? Katanya dia akan melanjutkan kuliah dan mendapatkan gelar sarjana. Lalu apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi" tanyaku tak percaya dengan apa yang kubaca. Bahkan aku tidak habis pikir hal ini akan terjadi. Mataku mulai mengabur karena sedih.
Alis Nick mengkerut membentuk gelombang yang jarang sekali terjadi kecuali dia benar-benar pusing. "Apa mungkin karena dia sakit?" sahut Nick masih berdiri di depanku. "Kudengar seminggu sebelumnya, Jonathan kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit namun kemudian aku mendapatkan ini dari kantor jurusan. Kupikir kau tau" Nick terlihat sedikit bersalah karena dia memberitahukan hal ini padaku.
Mendengar Jonathan kecelakaan seketika hatiku mencelos dan air mata yang menggenang tadi terjatuh. Rasanya sesuatu itu hilang. Astaga, apa yang terjadi dengan Jonathan? Kenapa aku begitu bodoh sampai hal sepenting ini tidak tau. Bagaimana bisa aku jadi seseorang yang pernah dicintainya, sedangkan hal seperti ini saja aku tidak tau? "Kecelakaan? Bagaimana mungkin aku sampai tidak tau hal seperti ini?” tanyaku. Bisa-bisanya aku begitu bodoh tak pernah mengetahui apa yang terjadi pada Jonathan atau mungkin aku terlalu sibuk dan terlalu ingin menghapus dirinya dari ingatanku? Bukankah hal ini lebih baik, jadi aku tidak akan memiliki perasaan egois untuk memilikinya lagi? Tetapi kenapa mendengar hal yang berhubungan dengannya seketika membuatku merasakan kehilangan? Apakah ini yang dinamakan keegoisan? Keegoisan masih memilikinya. Bodoh.
Aku berlari sekuat tenaga. Diotakku terlintas pikiran-pikiran buruk tentang Jojo. Aku berpikir dia jatuh koma setelah kecelakaan, salah satu bagian tubuhnya hilang atau dia lumpuh selamanya atau bahkan lebih parah dari itu. Semoga apa yang ada dipikiranku tidak benar-benar kejadian. Ya Tuhan.
Untung takdir masih berbaik hati padaku, aku masih diijinkan melihat ibu Jojo di tempat parkir dan kulihat Olive juga berada di sana. Wajah mereka terlihat sangat muram. Kuhampiri mereka. Tanpa peduli tentang sikap Ibu Jonathan yang kemungkinan besar masih marah kepadaku.
__ADS_1
Kuhentikan langkah kakiku di depan motor mereka. "Kak Rya? Kakak kuliah di sini juga" ucap Olive kaget melihat kedatanganku. Wanita di sampingnya menegang saat melihat kedatanganku. Kutundukkan wajahku dan menoleh menatap Olive. Jelas inilah respon yang akan kuterima jika berani bertemu kembali dengan beliau. Tetapi aku tidak peduli, yang terpenting saat ini adalah menanyakan keadaan Jonathan dan mencari tau kenapa Jonathan memilih mengundurkan diri dari kampus.
"Iya” sahutku lirih. Menepis akan sikap yang akan ditunjukkan oleh Ibu Jonathan, aku bertanya kepada Olive tentang kondisi Jonathan. ”Apa yang terjadi? Kenapa Jojo harus mengundurkan diri? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat Jojo harus mengundurkan diri? Dia baik-baik saja kan?" cecarku.
"Itu sudah bukan urusanmu" jawab ibu Jonathan dingin. Jelas dari nada bicaranya beliau masih membenciku yang telah membuat hubungan ibu dan anak ini sedikit renggang.
Olive menengahi kami berdua. Gadis ini memang baik, adik Jonathan yang sangat paham akan perasaan sang kakak. Ia pernah menjadi alasan bagi Jonathan saat Jonathan pergi kencan denganku, waktu aku mengajaknya piknik kemarin, dia juga orang pertama yang merestui hubungan kami.
"Ma, apa mama masih bersikap seperti ini setelah apa yang terjadi pada kak Jojo?" Olive memprotes sikap sang ibu yang masih terlampau dingin padaku. Wanita di sampingnya terdiam dan memilih mengenakan helm dan bersiap untuk pulang. Ia seperti tak peduli kalau aku sedang menanyakan kondisi anaknya.
Olive memandang ibunya pasrah, karena memang beginilah sifat sang ibu, keras. Beliau hanya memikirkan yang terbaik untuk masa depan anaknya. Jika tidak sesuai dengan kehendaknya, beliau akan mengacuhkannya atau menentangnya. Seperti hubunganku dengan Jonathan. Beliau menganggap hubungan yang menentang kodrat Adam dan Hawa ini tidak patut untuk dilanjutkan. Padahal banyak orang di luar sana juga sama, melanggar kodrat Adam dan Hawa. Menurut beliau hubungan ini salah dan tidak akan pernah berhasil di masa depan.
“Kak Rya...” Olive ingin mengatakan sesuatu namun sang ibu memotong ucapannya.
__ADS_1
"Kalau kau ingin menemuinya, temuilah dia di rumah" ucapnya yang seketika membuat bibirku menganga tak percaya mendengarnya, karena beliau mengijinkanku untuk menemui Jonathan.
Kupandang Olive yang tersenyum tak percaya padaku.