
Hari ini jadwal kuliahku padat sekali, sampai-sampai aku belum makan siang hingga jam 3 sore. Perutku sudah berkoar-koar dari tadi minta diisi. Setelah kelas usai, aku segera pergi ke kantin untuk mencari makan agar perutku tidak lagi bernyanyi dan tubuhku kembali pulih.
Setelah memesan nasi goreng mata sapi dan es jeruk, aku memilih tempat strategis yang nantinya kugunakan untuk makan siang. Ternyata tempat itu penuh, aku tidak melihat kalau tidak ada meja kosong yang bisa kutempati. Namun aku melihat ada satu meja yang hanya digunakan oleh satu orang yang kini sibuk menikmati kopi sambil mengerjakan tugas. Kuberanikan diri menghampirinya, meminta ijin siapa tau dia mau berbagi tempat denganku. Semoga dia bersedia.
"Eum...permisi" pria itu mendongak, pria asing yang tak kukenal. Dia bukan satu jurusan denganku mungkin dari jurusan lain. "Boleh tidak aku gabung di meja ini? Meja lain sudah penuh" pintaku sopan.
Pria itu mengamatiku sepintas kemudian melihat sekelilingnya. Lalu kembali lagi padaku. "Duduklah" ucapnya kemudian melanjutkan aktivitasnya lagi.
"Thank you" ucapku meletakkan piring dan gelas milikku kemudian mendudukan diriku nyaman
"Kamu anak baru?" tanyanya sambil mencatat pada bindernya.
"Ya? Ah...iya, aku baru di kampus ini" sahutku menjawab pertanyaannya.
"Ambil S2 atau S3?" tanyanya tanpa melihatku dan masih fokus dengan pekerjaannya.
"Eum...aku baru ambil S1" sahutku pelan, ada rasa sedikit malu karena aku baru mulai S1 sekarang. Bagaimana lagi aku tidak boleh egois dengan keluargaku sendiri.
Ia menatapku dengan bola mata sedikit melebar, sepertinya ia terkejut dengan jawaban yang kusampaikan padanya. Memang benar, pasti banyak orang terkejut dengan umurku segini baru mau masuk S1. Tetapi bukankah ada pepatah, tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu.
"Aaa...pasti sulit bergaul dengan bocah jaman sekarang" celetuknya lagi.
"Tidak juga. Ngomong-ngomong nama kamu siapa dan kamu ambil jurusan apa?" tanyaku berusaha mengakrabkan diri dengannya.
__ADS_1
"Namaku Nick, aku salah satu dosen magang di kampus ini" sahutnya tersenyum ramah.
Bibirku menganga, aku salah bicara dengan dosen. Bodohnya aku. "Aaa...maaf. Seharusnya aku bicara sop..."
"Bersikaplah seperti biasa dan nikmatilah makan siangmu" ucapnya yang kemudian berdiri dari bangkunya merapikan semua buku-bukunya dan pergi meninggalkanku dengan sebuah senyuman. "Senang bertemu denganmu"
Dosen muda itu cukup ramah dan senyumannya cukup manis. Mungkin umurnya tak jauh berbeda dariku, mungkin aku bisa berteman dengannya, mengenalnya bahkan kalau bisa berkencan dengannya. Sial, otakku mulai berpikiran ngawur.
Kugelengkan kepalaku, menggaruk belakang kepalaku yang tiba-tiba terasa gatal dan tersenyum miris. Mengingat nasibku yang menyedihkan. Kupilih menyantap makanan yang sudah tersedia di depanku sambil menyalakan handphone dan melihat akun medsosku.
Seseorang tiba-tiba duduk di kursi di depanku. "Bolehkan aku duduk di sini?" tanya pria itu. Aku hanya mendengar suaranya tanpa peduli siapa yang ada di depanku. Aku mengangguk untuk menyahutnya. Namun mataku terfokus dengan berita yang baru saja kubaca. Idol favoritku sedang menjalankan wamil dan sekarang sedang mengikuti acara kemiliteran. Dia begitu tampan dengan pakaian tentaranya.
"Apa yang membuatmu begitu fokus melihat handphone daripada mengisi perutmu?" ucapnya yang seketika mengalihkan perhatianku. Sedang tersenyum bahagia melihat wajah tampan sang idol, mataku terbelalak menangkap sosok yang tak ingin kulihat saat ini. Jonathan. Seketika senyumanku luntur.
"Siapa dia bukan urusanmu, buruan balikin" ucapku berdiri berusaha meraih handphone milikku.
"Tunggu" ia mulai mengetik sesuatu, lalu sebuah dering telpon kudengar. "Okey, ini" ucapnya menyerahkan handphone milikku. Lalu merogoh saku celananya, kemudian tersenyum, jarinya menekan-nekan pada layarnya, menuliskan sesuatu. "Akhirnya aku bisa menghubungi kakak. Ayo makan" ucapnya tanpa dosa.
Aku terduduk mendengar ucapannya. Dia mengambil nomorku? Sial. Akan ada masalah baru lagi yang akan muncul jika dia menghubungiku nanti. Kulihat dia tenang sekali dan menikmati makanannya tanpa ada masalah sedikitpun.
"Nathan, kog di sini? Tadi kan aku nyuruh kamu gabung di meja sana" ucap gadis itu sambil menggelayutkan tangannya di lengan Jojo. Jojo melihat gadis itu kemudian melihat ke arah telunjuk gadis itu mengarah. "Ayo ke sana" ajaknya seraya menarik lengan Jojo untuk segera pindah dari tempat duduknya.
"Aku suka duduk di sini" ucapnya tak peduli rengekan gadis di sampingnya.
__ADS_1
"Siapa tante ini? Tantemu?" celetuk gadis itu.
'Tante?' pekikku dalam hati, protes. Jojo tersenyum, ia pasti menertawakan aku. Okey, puas kalian mengataiku tante-tante. Walau memang umurku jauh berbeda dari mereka. Tapi setidaknya...ah, biarkan saja. Toh untuk apa mengambil pusing panggilan mereka padaku, lebih baik kuselesaikan makan siangku yang terlambat dan setelah itu pergi ke tempat kerja.
"Dia...iya tanteku. Tante tersayangku" jawab Jojo yang langsung membuatku menyemburkan makananku, ke atas piringku lagi. Ini pasti menjijikan. Aku tersedak parah, kuteguk es jeruk di samping piringku. Untung saja tidak ada nasi yang masuk ke dalamnya.
"Tantemu? Halo tante, aku teman Nathan, Alya. Tante kuliah juga? Ambil S2 atau S3?" ia menjulurkan tangannya.
"Sorry, aku bukan tantenya" lebih baik segera meninggalkan tempat itu daripada terjadi masalah yang tidak kuinginkan.
Langkah kakiku sedikit kupercepat, karena ku ingin segera pergi jauh dari tempat itu. Aku mencium sesuatu yang aneh kalau aku lama-lama berada di tempat itu. Sebuah tangan menarikku, dan seketika membuatku berbalik dan menabrak tubuh orang yang menarikku. "Kakak marah ya?" tanyanya. Aku mundur menjaga jarak darinya karena aku tidak ingin orang lain salah paham dengan kondisi seperti ini.
Bocah ini lagi. "Tidak,, untuk apa marah. Aku hanya mau berangkat kerja saja, bukannya temenmu tadi ada perlu sama kamu, temuin gih sana" suruhku sambil berusaha melepaskan lenganku dari cengkramannya.
"Aaa...Alya? biarin, kakak mau ke tempat kerja? Aku anterin ya? Aku bawa motor sendiri" ucapnya.
"Aku juga bawa. Sudah sana" kudorong tubuhnya agar menjauh dariku. Lalu kupilih berbalik dan melanjutkan langkahku.
Ia berjalan di sampingku. "Okey baiklah, kali ini aku biarkan kakaknya pergi sendiri. Karena aku masih ada kuliah, tapi lain kali tidak akan". Sebuah kecupan kudapatkan. "hati-hati di jalan" ucapnya sambil tersenyum tanpa dosa.
Mataku mendelik, kakiku pun mematung di tempat. Beberapa detik kemudian aku menoleh, "jaga sikapmu, Jo" ucapku mengingatkannya kemudian melangkah pergi, tanpa menunggu reaksi Jonathan selanjutnya.
####Badfeelling
__ADS_1