Bad Feeling

Bad Feeling
A kiss


__ADS_3

___________***__________


Sesuatu yang tak kuinginkan akhirnya muncul juga ke permukaan. Aku benci ini, tapi bagaimana lagi? Aku harus menanggungnya karena memang ini adalah jalan pilihanku sendiri. Aku sudah jatuh dan terperosok hampir ke dasar jurang, akankah aku beranjak naik dan kembali lagi ke permukaan untuk menghindari situasi menyulitkan seperti ini? Akankah dia mengijinkannya?


$$$$$$$


Setelah pengakuanku kepada sahabat terbaikku. Setidaknya kini aku merasa tidak lagi bersalah, apalagi harus membuat berbagai alasan lagi ketika tidak bisa menemaninya pergi ke manapun yang dia inginkan seperti dulu. Karena alasannya, tentu saja Jojo mengajakku pergi kencan.


"Kau ini, jika kau melakukan hal lain lagi seperti kemarin datang ke cafe dan membuatku harus menjelaskan apa yang terjadi kepada sahabatku. Aku akan menerima tawaran Nick" ucapku mengancamnya.


Aku hanya tidak suka dia terlalu sekehendak hatinya sendiri tanpa mempedulikan perasaanku yang belum siap untuk menjelaskan kebenaran tentangnya. Walaupun aku tidak tau juga butuh berapa lama lagi.


Jojo mendesah. "Yah...kalau itu jangan. Kakak tidak boleh menerimanya. Pokoknya aku menolak, lagipula...."


Sayup-sayup kami mendengar sebuah gosip dari beberapa mahasiswa dan mahasiswi di kampus. "Murahan sekali wanita itu. Bisa-bisanya berkencan dengan cowok yang lebih muda darinya. Mungkin dia pedofil. Menjijikan, cowok itu juga mau saja dengan tante-tante. Mungkin dia dapat uang dari tuh tante-tante" ucap mereka bergantian sambil memperlihatkan handphone mereka. Kepala kami otomatis menoleh ke asal suara gosip itu.


Mereka membaca gosip dari salah satu grup di kampus yang memposting judul 'Tante dapat brondong' ada juga forum diskusi di sana. Jojo ikut membuka postingan grup itu. Walau tidak menyebutkan nama pasangan itu. Jojo paham maksud dari sang penulis adalah kami dengan melihat nama sang penulis. AY. Inisial nama pena Alya di kelas.


Aku juga paham dengan tulisan itu. "Lihat kan" raut wajahku seketika berubah menjadi sedih, setelah membaca dan mendengar berita tersebut. Namun aku berusaha untuk terlihat baik-baik saja di hadapannya.


Rahang Jojo yang semula mengeras kini sedikit melunak dengan menyunggingkan senyumannya untukku. "Kakak ini kenapa? Ini kan bukan kita. Bukankah sekarang sudah banyak yang seperti itu. Kakak lihat di tv, ada berita pemuda menikahi nenek-nenek. Banyak kak, di luar sana. Jangan terlalu serius. Ikut aku" Ia menggenggam tanganku. Mengajakku kesuatu tempat.


Kaki kami berdua menyusuri jalan setapak di area kampus yang di samping kanan-kirinya terdapat tanaman mini berwarna hijau dengan daun berukuran kecil dan berbentuk bulat. Entah tanaman apa itu. Yang jelas tanaman ini sering kita jumpai di banyak tempat di area taman. Setelah beberapa menit kami melangkah akhirnya Jojo menghentikan langkah kakinya di atap gedung kampus seni. "Untuk apa ke sini?" tanyaku heran.


"Kakak suka anime?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya. Bocah ini tak biasanya melakukan hal sekonyol ini. Dia seperti boneka anjing kecil yang pernah dihadiahkannya padaku saat kencan 7 hari kami. Entahlah, dia selalu memberiku kejutan di hari-hari dimana yang kupikir tidak begitu istimewa tetapi baginya merupakan hari yang sangat spesial.


"Kenapa kau tanyakan itu?" alisku bertaut.

__ADS_1


"Aku ingin menggambar kakak sebagai salah satu tokoh anime" jari telunjuknya menaikan kacamatanya yang sedikit melorot dari hidung mancungnya. Sambil menatapku serius.


"Tsk...memangnya kau bisa menggambar?" kuremehkan kemampuannya. Ya walaupun aku juga tidak tau, dia berbakat atau tidak. Yang aku tau dia hanya hobi basket, ngegame, baca komik dan suka hal-hal yang berbau jepang. Dan biasanya orang yang suka hal seperti itu lahir seorang seniman dan sedikit banyak suka menggambar.


"Jangan meremehkanku. Lihat dulu hasilnya" ia mengajakku duduk di sudut tempat yang teduh dan sedikit tersembunyi dari yang lain. Ia kemudian mengeluarkan bukunya dan sebuah spidol hitam. "Kakak diam ya, aku akan menggambar kakak jadi sebuah anime"


Aku tersenyum, sedikit tersanjung akan dijadikan sebagai model gambarnya. "Wah... baiklah" ucapku menurut saja dan mengambil tempat duduk yang nyaman dengan bersandar pada dinding pembatas.


Di balik kacamatanya, aku dapat melihat sorot mata serius dari seorang Jonathan. Ia begitu serius menggoreskan setiap garisnya. Sempat aku teringat Jack dalam film Titanic saat melukis Rose. Otakku pasti benar-benar tak waras menganggap Jojo sebagai Jack dan aku, Rose-nya. Menggelikan.


"Serius sekali kau Jonathan Christiano" ucapku berlagak seperti Rose saat mengganggu konsentrasi Jack.


"Ish...tumben pacarku ini memanggil nama lengkapku?" Jojo berhenti sejenak dengan lukisannya menatapku serius. Apalagi senyum dibibirnya yang menyembunyikan sebuah maksud.


"Apa aku tidak boleh mengatakannya?" tanyaku.


"Tentu saja boleh. Mau panggil nae Namphyeon juga boleh" ucapnya yang membuatku tak percaya mendengarnya.


"Yah...kakak ini, jangan bicara bahasa aneh itu. Aku hanya mengikuti ucapan kakak saja waktu itu. Lagipula aku hanya belajar satu kata itu dari Olive" jujurnya. Tak disangka dia mempelajarinya juga dari adiknya yang ternyata suka korea dan Jepang juga.


Olive adalah adik perempuannya. Kini dia sudah kelas 2 SMA dan tubuhnya menjulang juga seperti Jojo. Jika tidak ada yang tau mereka berdua kakak adik, pasti mereka akan mengira mereka berdua sepasang kekasih jika jalan berdua. Pernah aku merasa iri pada mereka, karena aku anak pertama mungkin. Dan aku pernah menginginkan seorang kakak laki-laki dan sayangnya aku tak punya.


Setelah beberapa menit. "Selesai" ucapnya bangga dengan hasil karya seninya.


"Kau benar menggambarku atau menggambar asal-asalan?" komentarku sambil menghampiri dirinya yang duduk tak jauh dariku.


Melihat gambarnya membuatku terpaku. Sosok gadis dalam gambar itu mempunyai rambut panjang seperti rambutku, memakai kaos lengan panjang dan sedang duduk bersila sepertiku. Dan yang membuatku terpesona adalah hiasan bunga di kepala gadis itu dan pemandangan di sekelilingnya membuatku tersenyum tanpa sadar.

__ADS_1


"Kakak menyukainya?"


"Kenapa ada banyak sekali lebah dan katak? Ini sungguh di luar konteks" komentarku.


"Aku hanya mengibaratkan tukang gosip atau orang-orang yang tidak suka dengan hubungan kita, seperti lebah dan katak yang begitu berisik di luar sana namun sang putri tetap duduk manis menikmati ice cream di tangannya bersama tikus kecil yang setia menemaninya" jelasnya panjang lebar.


"Jadi tikus ini kau?" ucapku menunjuk tikus di samping gadis di dalam gambar tadi.


Ia mengangguk. "Eum...dia pangeran yang dikutuk menjadi seekor tikus oleh penyihir jahat"


Aku tersenyum mendengar penjelasannya yang terlalu mengada-ada. Imajinasinya memang luar biasa. Pantas dia lebih memilih psikologi, mungkin dia akan jadi ahli jiwa yang hebat nanti, asal bukan dia yang tiba-tiba menggila karena imajinasinya yang terlalu luar biasa.


"Okey, kuterima gambar ini. Thank you" kutersenyum menatap lembaran kertas di genggamanku.


"Hanya itu?" ucapnya tak percaya dengan balasan yang kuberikan untuknya.


"Kau mau apa? Ayo kembali...aku masih ada kuliah lagi" ucapku mulai berdiri dan beranjak dari tempat itu.


Jojo merajuk. "Kakak, kenapa hanya bilang itu?"


"Apalagi? Lagipula aku tidak menyuruhmu menggambarku kan?" protesku.


"Ish...tidak seru" sahutnya cemberut. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang masih seperti anak kecil. Dia memang pacarku yang lucu.


Jojo membuka pintu loteng. "Jo" panggilku. Ia menoleh. Bibirnya masih manyun lucu, kepalanya juga terlihat malas untuk menengadah ke atas, walaupun tetap dia melihat ke arahku. Mungkin dia terlalu kecewa dengan balasan yang aku berikan padanya.


Aku berjalan menghampirinya. Kuulurkan jariku menarik kerah bajunya dan memberikan sebuah kecupan padanya. "Thank you" ucapku yang kemudian memilih segera pergi meninggalkannya. Tepatnya kabur setelah melakukan aksi kriminal.

__ADS_1


Apakah tindakanku kekanak-kanakan? Apa seharusnya aku tidak melakukannya? Kenapa aku menciumnya seperti tadi? Bagaimana kalau dia menganggapku murahan? Bagaimana nanti kalau aku bertemu dengannya? Bagaimana aku menjelaskan padanya nanti? Dia shock seperti itu? Apa yang harus kulakukan?"


Beberapa rentet pertanyaan langsung muncul satu persatu diotakku. Oh Tuhan, salahkah aku? Murahankah aku?


__ADS_2