
Mencintaimu mungkin sangat sulit, karena cinta ini sangat sulit diterima oleh orang lain. Entah kenapa melihat keyakinan dan keteguhanmu membuatku yakin kalau kita dapat mengalahkan segala macam masalah yang akan menghalang nantinya. Bisakah kita bersama untuk selamanya?
###BadFeeling
Bulan Desember, bulan ulang tahunku. Menyenangkan jika memiliki seseorang yang bisa dicintai seperti sekarang ini, walau kami masih belum mendapatkan restu dari kedua orang tua kami, namun kami tidak lagi menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi di area sekitar kampus. Apalagi setelah kejadian waktu itu, yang membuat seisi halaman kampus waktu itu geger dan riuh karena ciuman kami. Memalukan tetapi manis sungguh.
“Kakak, hari ini aku ke rumah kakak ya?” ucap Jonathan padaku. Genggaman tangannya mengerat dan menyalurkan energi keberanian dan kesungguhannya padaku.
Mataku yang semula tak mempercayai ucapannya, ketika menatap kedua hasel hitamnya yang teduh membuatku yakin. “Kamu siap untuk ketemu ibu lagi?“
“Eum...” Jonathan mengangguk mantap. Kuukir senyuman diwajahku seakan mengatakan aku akan mendukung semua keputusanmu.
“Jika nanti kamu ditolak ibu, gimana?“ tanyaku penasaran akan rencananya.
“Aku akan berusaha untuk mendapat restu, apapun akan kulakukan. Ibu kakak suka dengan apa?“ alisku naik mendapat pertanyaan darinya.
“Eum... Ibuku suka sekali uang” jawabku asal.
“Uang?” raut wajahnya yang semula bersemangat kini terlihat murung. Melihatnya membuat bibirku melengkung. Kutahan ekspresiku, karena aku ingin mengetahui bagaimana reaksinya saja. Ternyata sangat lucu. Kedua alisnya bertaut bingung. Jelas saja, dia hanya seorang mahasiswa yang baru mendapatkan uang jika ia menang pertandingan game yang dilakukannya. Ia belum memiliki penghasilan tetap. Bagaimana dia berpikir akan memberikan uang pada ibuku?
Ibuku memang wanita kuat yang kusayangi, beliau menghidupi kami bertiga seorang diri, setelah ditinggal oleh ayahku, hingga sampai sekarang beliau memiliki dua rumah makan. Puji Tuhan, Tuhan sayang sama kami sehingga kami bisa sampai seperti ini. Hidup berkecukupan dan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Jika bukan karena kasih Tuhan, kami tidak akan seperti ini. Jadi sebenarnya bukan uang yang ibu inginkan, hanya kebahagiaan anak-anaknyalah yang dia inginkan.
“Apa tidak ada hal lain yang ibu kakak sukai?“ tanyanya memelas. Tak tahan juga melihatnya seperti itu, seketika tawaku meledak. Jonathan menatapku bingung. Kuhabiskan rasa geliku sebelum menjawab pertanyaan darinya.
“Ibu tidak menyukai uang, aku hanya penasaran saja bagaimana responmu” ucapku.
“Jadi kakak bohong padaku?“ tanyanya. Kuanggukkan kepalaku seperti boneka hiasan mobil yang manggut-manggut saat terkena sentuhan atau goncangan. “Ish...” bibirnya mengerucut, ia mulai merajuk.
Tak tahan aku menertawakannya. “Maaf maaf... Aku hanya bercanda padamu. Ibu menyukai anak-anaknya hidup bahagia, tetapi ada satu hal yang ibu suka. Makan tongseng" matanya berkedip-kedip lucu. Ia kemudian menyunggingkan senyumannya dan seketika membuat lengkungan indah di kedua matanya. "Kamu bahagia sekarang?“
Ia mengangguk bersemangat.
__ADS_1
***
Pulang kerja, Jonathan menjemputku. Tak lupa kami mampir ke tempat penjual tongseng yang jadi langganan ibu biasanya. Kami membeli tongseng untuk ibu. Anggap ini sogokkan agar kami diijinkan berkencan.
Setibanya kami di rumah, Eva membukakan pintu untuk kami. Bola mata Eva memandangki dan Jonathan bergantian. "Kalian ingin meminta restu?“ tanya Eva seperti biasa dingin. Hati anak ini tidak bisa lembut, dia selalu ketus pada apapun.
Jonathan mengangguk," ini untuk calon adik-adik iparku" ucap Jonathan memberikan goddie bag pada Eva. Aku tidak tau kalau dia juga mempersiapkan itu juga.
Eva tersenyum menerimanya. "Sogokkanmu berhasil, walaupun kau tidak membawakan ini, aku tidak akan menghalangi hubungan kalian. Karena aku yakin dengan pilihan kakakku yang tidak pernah main-main" Eva mengerling padaku.
Lengkungan indah tercipta di bibir kami masing-masing, tak kusangka gadis ini punya pengertian juga.
"Ibu ada di dalam, masuklah. Tetapi tadi dia terlihat murung" ucap Eva mengingatkan.
Kami berdua memasukki rumah bersama. Kusuruh Jonathan untuk menunggu di ruang tamu. Sedangkan diriku masuk ke dalam menemui ibuku. Eva menyiapkan minuman untuk kami.
"Bu, bisa bicara sebentar?“ ucapku ketika mengetuk pintu kamarnya.
Ibu membuka pintu kamarnya dan tersenyum padaku. "Bicaralah, ibu akan mendengarkanmu nak" dibelainya kepalaku lembut.
"Siapa?“ tanyanya heran.
Kuraih lengannya, mengajakknya menuju ruang tamu. "Ibu akan tau setelah bertemu nanti"
Kami berjalan ke ruang tamu. Namun ketika sampai di ruang tamu, tubuh ibu menegang di tempat. "Malam tante, saya bawakan makanan kesukaan tante" ucap Jonathan ramah. Disodorkan bungkusan tongseng tadi.
"Letakkan saja di situ, terima kasih" sahut ibu dingin. Setelah menatap Jonathan ibu menoleh padaku. "Sebenarnya apa yang terjadi, bukankah ibu sudah mengatakan untuk tidak lagi..."
"Aku paham ibu tapi aku tidak bisa melakukannya" jujurku.
"Kamu pasti tau akan resiko yang nanti akan kamu terima, nak. Ibu tidak ingin orang lain melukaimu, nak. Ibu..."
__ADS_1
"Maaf tante. Bukannya tante ingin melihat anak tante bahagia. Tetapi kenapa tante menyuruh anak tante melepaskan kebahagiaannya" ucapan Jonathan sedikit memancing emosi ibu.
"Kamu? Memang kamu tau, apa kebahagiaan dia? Apa hanya kamu yang bisa membuatnya bahagia? Kamu pikir hanya bersama denganmu, Rya akan bahagia? Apa kamu paham pandangan orang lain nanti jika kalian sampai menikah nanti? Apa kamu bisa menjamin Rya tidak akan bersedih karena hal itu?“ emosi ibu mulai naik.
“Saya bisa menjaminnya tante" sahut Jonathan
"Gampang sekali kamu menjawabnya, kamu bisa bicara sekarang, tetapi nanti..."
"Tante tidak perlu khawatir, jika nanti kak Rya menikah dengan saya, saya tidak akan membiarkan kak Rya bersedih"
Ibu menghela napas berat. Ia mengambil gelas air es yang ada di atas meja. "Dinginkan kepalamu nak, kamu harus sadar diri" ibu menyiramkan air es ke kepala Jonathan. Yang seketika membuatku memekik kaget. Jonathan hanya menerima kenyataan. "Kalian berbeda jauh. Aku juga tidak yakin orang tuamu akan menyetujui hal ini atau tidak. Lebih baik kamu pulang sekaranv dan lupakan Rya"
"Ibu..."
"Jangan bicara lagi, suruh anak itu pulang sekarang juga atau ibu yang usir dia" ibu memperingatkan diriku.
"Bu, kumohon..."
"Berhenti, jangan memohon lagi. Sekarang kamu pulang dan jangan pernah ke sini lagi" ucap beliau mendorong keluar Jonathan.
"Tante egois" seru Jonathan yang seketika membuat ibu kalap dan melayangkan tamparan padanya. Bola mataku hampir keluar, tak percaya dengan apa yang kusaksikan sekarang. Ibu tidak pernah semarah ini sebelumnya.
"Pulang sana" seru ibu kemudian menutup pintu rumah.
"Saya akan berdiri di sini sampai tante mengijinkan kami berdua berpacaran. Saya yakin tante juga ingin melihat senyum anak tante kan? jadi ijinkan kami berkencan" Jonathan berseru dari luar rumah.
Ibu tak menghiraukannya dan menyuruhku masuk kamar. "Bu, kumohon" pintaku.
"Masuk kamar. Biarkan anak itu, paling juga sebentar dia akan menyerah dan pergi" ucap beliau kemudian kembali ke kamarnya.
Eva menghampiri ibu sebelum beliau masuk ke kamarnya. "Jika dia masih bertahan, apa ibu akan mengijinkannya? Aku juga paham apa yang ibu khawatirkan, tetapi mereka berdua saling menyukai, apa ibu akan membiarkan mereka berpisah?“ Ibu tak menyahutnya dan memilih memasuki kamarnya.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar guntur menggelegar. Seketika aku menoleh menatap pintu rumah. Ingin kumelihat keadaan Jonathan ketika hujan turun. Namun ibu berseru. "Jangan ada yang membuka pintu ataupun keluar rumah"
Kuberlari mendekati jendela saat hujan mulai mengguyur dengan lebatnya. Jonathan masih berdiri di sana. Astaga...pulanglah Jo, menyerahlah jangan menyiksa dirimu sendiri. Air mataku tak terasa menetes menyaksikan dirinya berdiri di bawah guyuran hujan.