Bad Feeling

Bad Feeling
Jadian


__ADS_3

___________***__________


Kecupan lembut Jojo mengakhiri ciuman kami berdua. Kedua pasang manik coklat kami bertemu. Jantungku berdetak cukup cepat saat ini, kepalaku seperti dihujani ribuan ledakan kembang api yang seketika mematikan sistem kerja saraf kenormalanku.


Bibir manis Jojo menarik sebuah lengkungan cantik yang mampu membuatku terhipnotis tak berkedip menyaksikannya, bahkan mataku sekarang hanya memandangi bibir yang melengkung indah di depan mataku. Bibir yang baru saja menempel pada bibirku.


Jemari Jojo membelai surai indahku yang sedikit menutupi wajahku, merapikannya dan membuat jantungku semakin melompat-lompat kegirangan. Mataku mengerjap menyadari kini bocah itu di hadapanku, tersenyum setelah menciumku. Salah. Sebenarnya setelah kami berciuman, karena aku sedikit ikut ambil bagian dalam kegiatan barusan.


"Sekarang kita pacaran?" ucap Jojo menepis keheningan diantara kami berdua. Bodohnya aku, aku seperti bocah belasan tahun yang baru pertama kali jatuh cinta yang membuat mukaku memanas merah karena menahan maluku sendiri. Menyebalkan.


Berciuman di depan umum dengan bocah yang baru genap 18 tahun diumurku yang...ah sudahlah, lupakan. Tuhan kenapa Engkau pertemukan aku dengan bocah ini? Kenapa aku harus mengenalnya dan membuatnya menyukaiku dan kini hati dan pikiranku terpaut untuknya? Salahkah aku jika aku mengiyakan pertanyaannya kali ini?


Kutolehkan kepalaku menghindari tatapannya yang menjurus begitu intens yang seakan menenggelamkan aku hidup-hidup di tengah samudera cintanya. "Aku lapar, kau bilang ingin menraktirku makan" protesku ingin segera mengakhiri kecanggungan ini.


Walau pandanganku berkeliling tak menentu, namun aku mampu melihat kalau dia kini tersenyum melihat salah tingkahku di hadapannya. Dia pasti paham, kalau aku tidak akan mungkin menjawab ucapannya karena kini aku benar-benar merasa malu. Yang terpenting baginya, keinginannya sudah terkabul untuk sementara. "Ayo pergi" ucapnya menarik tanganku dan menggenggam jemariku erat mengajakku ke suatu tempat.


Walau otakku sedikit merasa tak ingin tapi hatiku berkhianat membiarkannya begitu saja. Kupandangi jemari kami yang bertaut satu sama lain. "Aku senang akhirnya, kakak...aa...kau dan aku berkencan" ucap Jojo membenarkan panggilannya padaku. Masih saja jantung ini berkhianat dari akal sehatku.


"Lebih baik kau tetap memanggilku kakak di lingkungan kampus ini" ucapku yang akhirnya berhasil mengalahkan otak bodohku.

__ADS_1


"Tidak mau, sekarang kita pacaran. Aku tidak mau memanggilmu kakak. Aku akan memanggilmu kakak jika kita bertemu dengan orang tuamu, sampai suatu saat kau menyuruhku menyebutmu sebagai istriku" ucapnya bangga.


Bola mataku melebar mendengar ucapannya yang sudah terlalu jauh bermimpi sampai menyebutku sebagai istrinya. Tenggorokanku terasa kering, tercekat sampai aku susah payah menelan air liurku sendiri sebelum menjawab pernyataannya padaku. "Kenapa kau berpikir terlalu jauh? Aku tidak yakin perasaanmu akan sejauh itu padaku. Aku akan mengikuti kemauanmu sampai kau bosan sendiri padaku dan akhirnya menyerah lalu melepasku, dan pergi bersama kebahagiaanmu nanti" ucapanku sepertinya benar-benar membuatku seperti boneka mahal yang akhirnya diabaikan dan ditinggal setelah sang pemilik menemukan boneka yang lebih indah dariku. Sepertinya aku harus mengasihani diriku sendiri kenapa bertindak seperti ini demi kebahagiaan bocah itu?


"Akan kubuktikan perasaanku tidak pernah salah untukmu" ucap Jojo dengan tatapan matanya yang cukup serius untuk meyakinkanku bahwa dia tidak akan pernah melepasku, apapun alasannya.


Kusunggingkan senyum tipis padanya, karena aku memang bukanlah gadis optimis yang yakin akan cinta beda usia yang terpaut cukup jauh ini. "Tetap panggil aku kakak, mengerti? Atau kita putus sekarang juga" ancamku padanya.


Ia mengusak kepalaku sayang. "Iya..iya kakak bawel" ucapnya menurut.


Setelah mengajakku makan dengan segala ke alay-annya yang membuat kami dilihat oleh seluruh penghuni cafe. Lalu Jonathan menyuruhku menungguinya sampai dia selesai kuliah di perpustakaan. Seharusnya aku ada kuliah namun dosen tiba-tiba menghubungi ketua kelas dan mengatakan kalau beliau berhalangan hadir dan tidak dapat mengajar. Jadi inilah aku, menunggu Jonathan dan menyelesaikan tugas makalah yang harus kukerjakan sambil menunggu waktu kerja part-time-ku di cafe yang letaknya tak jauh dari kampusku, tiba.


"Tidak ada kuliah?" seseorang yang baru saja duduk di sampingku berbisik pelan padaku. Kutolehkan kepalaku, mataku membelalak menyadari keberadaan dosen magang tampan yang baik hati. Kusunggingkan senyuman dan menggeleng padanya.


"Apa yang kau tulis?" tanyanya lagi.


"Tugas, mencari sumber untuk makalah" sahutku.


Ia tersenyum menanggapiku. "Rajin sekali. Baguslah, lanjutkan. Aku juga butuh beberapa sumber referensi untuk mengajar" ucapnya sambil membuka buku yang sudah menumpuk di hadapannya. Kusunggingkan senyum sungkan. Walaupun sebenarnya aku dan dia tidak begitu jauh umurnya, namun karena dia dosen, aku harus lebih menghargai dan menghormatinya.

__ADS_1


Entah kenapa aku sedikit penasaran dengan dosen magang ini. "Kalau boleh tau, pak Nick..."


"Panggil saja Nick" ucapnya sambil masih tetap fokus dengan pekerjaannya. Pria berkacamata ini mempesona jika serius seperti ini. Dia terlihat seperti Jojo. Sial, otakku kembali lagi jadi bodoh. Ah, benar. Aku dan dia kini sudah resmi berkencan. Apa salahnya aku memikirkan kekasihku sendiri? Bodohnya aku.


"Ah...ya, Nick. Kau mengajar di jurusan apa?" tanyaku berbasa-basi. Siapa tau dengan mengenalnya kami bisa berteman. Lumayan kan berteman dengan dosen, siapa tau dapat bantuan mengenai dosen-dosen yang lain atau mendapat tawaran sebagai asisten dosen bukankah lumayan dapat penghasilan.


"Jurusan Psikolog" jawabnya.


"Psikolog?" pekikku tak tertahan. Melihat ke sekeliling dan semua orang sedikit terganggu olehku, aku merasa bersalah dan meminta maaf. "Aa...begitu" kenapa semua orang yang kukenal masuk jurusan yang sama. Akankah terjadi sesuatu yang tak kuharapkan nantinya.


"Kenapa? Apa ada orang yang kau kenal? Kau punya adik di jurusan yang sama atau pacar?" ucapnya yang tiba-tiba fokus menatapku meninggalkan catatannya.


"Ah...tidak ada" elakku yang kemudian memilih fokus mencatat lagi. Dan begitulah, obrolan kami berhenti, dia juga kembali fokus dengan catatannya. Aku lebih baik tidak terlalu dekat dengannya. Pikiran positif awalku langsung menghilang seketika saat mengetahui dia mengajar di Fakultas Psikologi, fakultas yang sama dengan yang diambil Jonathan. Astaga. Jika dia tau aku berusaha akrab dengan salah satu dosennya dia akan mencari masalah dan menyuruhku untuk jauh-jauh dari dosen itu.


Kenapa aku harus berkenalan dengan orang yang sama-sama ada di jurusan psikologi? Ah... Ya sudahlah dinikmati, pelangi kehidupan yang diciptakan Tuhan dalam hidupku ini. Seseorang pernah berkata padaku, mau sakit, sedih, susah, senang, bahagia, apapun yang kau rasakan. Nikmatilah karena semuanya itu akan berlalu dengan sendirinya. Sebab roda kehidupan itu selalu berputar.


______________***______________


Thank you for reading...

__ADS_1


__ADS_2