
Rintik air hujan mulai mengguyur, hujan bulan Desember. Membasahi dirimu tlyang rela berdiri di tengah dinginnya hujan dan angin malam. Bodoh, kenapa kau harus sekeras itu? Lupakan saja aku jangan siksa dirimu. Apa kelebihan diriku sampai kau rela melakukan hal itu?
###BadFeeling
Malam ini aku tidak bisa tidur, mataku enggan terpejam dan tubuhku hanya berguling ke kanan dan ke kiri saja. Jarum jam weker di atas meja sudah mengarah ke angka 12. Jam 12 malam tepatnya dan hujan masih setia mengguyur dan tidak ada niatan untuk berhenti. Pikiranku memikirkan dirinya yang dari tadi masih setia berdiri di sana.
Kupilih menuruni tempat tidur, kubuka tirai jendelaku, melihat apakah Jonathan sudah menyerah atau tidak. Ternyata dia masih setia di sana. Tubuhnya sudah menggigil. Melihat hal itu seketika kakiku melangkah keluar kamar, berniat untuk menghampirinya. Namun hal yang tak terduga olehku. Ibu berdiri di depan pintu.
“Mau apa kamu? Kembali ke kamarmu sekarang” titahnya.
“Tapi bu, kasihan Jonathan” ucapku memelas. Aku hanya tidak tega melihatnya kehujanan, apalagi kini dia menggigil.
“Bukan ibu yang menyuruhnya berdiri di sana. Itu pilihan dia sendiri. Sudah, kembali ke kamarmu. Ibu ingin tau sekeras apa niatnya untuk menjadi kekasihmu” ucap ibu.
“Jangan hanya seperti itu saja kamu sudah luluh. Ibu tau kamu menyukainya tapi uji juga kesetiaan dan kesungguhan cintanya. Jika dia masih bertahan sampai besok pagi berarti dia kuat. Sudah kembali masuk kamar” ibu menyuruhku untuk kembali ke kamar dan mau tak mau aku kembali ke kamar.
Kuhampiri jendela kamarku untuk memastikan dia baik-baik saja. Ia menggigil kedinginan dan dia tidak menyerah, ia tetap berdiri dan tidak ada niatan untuk berteduh. Kupilih untuk menemaninya di atas sini. Sampai tak terasa mata ini terpejam dengan sendirinya.
Aku jatuh tertidur di pinghir jendela semalam dan saat kubuka mata, aku langsung teringat sosok Jonathan di luar. Ia masih berdiri di sana. Sekarang tidak ada lagi hujan. Wajahnya terlihat pucat. Kubasuh mukaku, aku harus segera menolongnya, harus kukatakan padanya untuk menyerah saja daripada menyakiti dirinya sendiri.
Namun saat tengah menyeka wajahku dengan handuk, aku mendengar sebuah suara dari luar, karena penasaran aku melongok keluar jendela. Eva berdiri di depan Jonathan, ia menyuruh Jonathan untuk pulang.
“Pulang saja, ibu tidak akan mengijinkan kalian bersama. Ibu sudah berpikir ke depan, hubungan kalian tidak akan mungkin bisa terjadi” ucap Eva menasehati Jonathan.
__ADS_1
“Tidak... Aku tidak akan pernah menyerah. Aku akan menunggu sampai mendapatkan restu”
“Kau sungguh keras kepala. Kalau begitu, minumlah ini dulu, sebelum ibu keluar” ucapnya menyodorinya segelas susu coklat.
Adikku yang dingin, ternyata dia punya rasa peduli juga. Bibirku mengulas senyuman. Namun ketukan membuyarkanku. Ketukan pintu tercipta sekali lagi. “Rya, hari ini ibu sudah mengijinkanmu untuk libur, jadi kau tidak perlu keluar rumah” ucap ibu dari luar. Seketika aku berlari menuju pintu dan meraih knop pintu. Ternyata ibu telah mengunci kamarku.
“Ibu, tolong buka pintunya” ucapku memelas, berharap ibu bersedia membukakan pintu untukku.
“Tinggallah di rumah untuk hari ini” ucap ibu.
“Bu, kumohon buka pintunya” kuketuk pintu agar ibu bersedia membukanya. Namun tak ada jawaban dari ibu. Kuhampiri jendela kamarku lagi. Kulihat Jonathan masih berdiri di sana. Namun Eva sudah tidak ada di sana. Kubuka pintu jendela kamarku, memanggil Jonathan.
"Jo.. Jojo" panggilku. Jonathan mencari asal suaraku. "Di atas sini" seruku lagi. Akhirnya dia menemukan diriku. Ia tersenyum, melihat senyumannya membuat hati ini tersayat karena senyumannya yang memilukan.
Kuanggukkan kepalaku, tak terasa air mataku menetes membasahi kedua pipiku saat melihatnya. Ia tersenyum lalu berucap, "jangan menangis". Kuanggukkan kepalaku sekali lagi dan menghapus jejaknya dari kedua pipiku.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Jonathan, dia melihat ke arahku. Ibu. Beliau memandang diriku dengan tatapan marah. Dari sorot matanya aku paham, beliau menyuruhku untuk menutup jendela kamar. Namun aku tak berniat untuk menutupnya kembali.
Ibu pun mengalihkan pandangannya dariku dan kembali menatap Jonathan. "Sampai kapan kau berencana akan seperti ini?" tanya ibu kepada pria yang sudah hampir limbung karena semalam dia terguyur oleh hujan.
"Sampai tante merestui hubungan kami" jawab Jonathan.
Ibu tersenyum sinis mendengar jawaban yang keluar dari mulut Jonatan. "Lakukan apa yang kamu inginkan"
__ADS_1
"Apa tante lebih suka melihat kakak seperti sekarang ini? Saya berjanji, saya akan berusaha membahagiakan kak Rya. Cinta saya tidak main-main. Saya juga sudah memikirkan untuk masa depan hubungan kami. Setelah mendapat restu tante, saya juga akan meminta restu kedua orang tua kami. Jadi saya mohon, ijinkan kami... "
"Saya tidak akan dengan mudah memberikan kebahagiaan anak saya kepada anak kecil seperti dirimu. Lakukan sesuka hatimu, itu tidak akan merubah keputusanku" ucap Ibu kemudian pergi kembali masuk ke dalam rumah.
Jonathan tiba-tiba bersin, seketika membuatku lebih mengkhawatirkannya.
Matahari kini mulai menyingsing di atas kepala. Setelah terguyur hujan kini sekarang dia harus berjemur di bawah terik matahari yang panas melebihi panasnya musim kemarau. Astaga. Tuhan bisakah kau turunkan awan untuk melindunginya dari terik matahari. Kulihat tubuh Jonathan mulai berkeringat. Baju yang semula basah kini sudah mulai kering dan akan kembali basah oleh keringatnya.
Kuketuk pintu jendelaku, agar dia melihat ke arahku. Jonathan merespon, ia menengadahkan kepalanya. Bibir pucat dan keringat dipelipisnya mulai membanjir. Wajah yang biasanya terlihat bercahaya dan ceria kini terlihat masam dan suram. Ia tersenyum.
Kutatap hasel hitam miliknya yang terlihat sedikit redup karena terjaga semalaman. Aku tak mampu berbuat apapun. Inginku berlari menghambur kepelukkannya, namun aku terpenjara di kamar ini dan tak bisa kemana-mana. Ingin kabur pun tidak bisa. Aku di lantai dua dan tidak ada alat yang bisa kugunakan untuk turun. Kalaupun bisa, ibu akan mencegahku dan kukan kembali dikunci di kamar ini, yang lebih parah lagi, nasib Jonathan akan lebih parah dari ini.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, aku juga melakukan mogok makan demi agar ibu luluh dengan permohonan kami. Namun tetap saja sampai sekarang ibu belum merestui kami. Hujan kembali turun dan membasahi tubuh Jonathan yang sudah cukup lemah dan lelah karena sejak tadi dia sudah berdiri, berjemur dan kini kehujanan lagi. Tuhan, berapa lama lagi ibu akan membiarkan hal ini.
Tubuh lemahnya diterpa dinginnya angin malam dan derasnya hujan. Mungkin saja bentar lagi dia akan tumbang, tubuhnya sudah mulai terhuyung-huyung, kesadarannya pun sudah mulai menurun. Asta ga, Tuhan tolong kuatkan Jonathan dan luluhkan hati ibu.
Tak terasa mentari pagi pun tiba, Ibu membuka pintu kamarku. "Keluarlah, temui dia" ucap ibu. Seketika aku berlari dari kamarku menuju keluar tanpa berpikir untuk kedua kalinya, menemui Jonathan. Saat kubuka pintu kudapati tubuh Jonathan masih berdiri di sana. Tanpa sadar bibirku mengulas sebuah senyuman bahagia. Ya, ibu merestui hubungan kami. Akhirnya, perjuangan Jonathan berbuah manis. Tubuh Jonathan ambruk seketika saat melihatku keluar dan segera aku menghambur kepelukkannya menangkap tubuh lemahnya. Airmataku berderai, jemari Jonathan menyentuh pipiku dan kurasakan dia membantuku menyeka airmataku.
"Kita berhasil" ucapnya. Kepalaku mengangguk dan tersenyum dengan tangisan membasahi kedua mataku. Kuusap wajahnya sayang. Tubuhnya demam dan mengigil, kupeluk tubuhnya erat, walau kini kami tengah terduduk di atas rerumputan. Wajah pucatnya tersenyum bahagia.
Terima kasih Tuhan dan terima kasih ibu telah mengijinkan kami menjalin hubungan ini.
####BadFeeling
__ADS_1