Bad Feeling

Bad Feeling
Can I


__ADS_3

Aku sudah berkencan dengan Jojo selama satu bulan ini. Tidak ada yang tau kalau kami sedang berkencan. Karena orang–orang yang melihat kami, hanya akan mengira kami  ini seperti kakak beradik yang begitu akrab layaknya saudara kandung. Akibat panggilan kakak dari Jojo, jadi statusku terselamatkan. Aku juga menghindari banyak kontak fisik jika kami berada di sekeliling orang lain. Selama satu bulan ini, Jojo selalu mengantar dan menjemputku kerja, menemaniku kuliah jika dia tidak ada kuliah dan saat berangkat kuliah dia juga akan menjemputku, kecuali kalau dia ada kuliah pagi.


Walaupun sedikit merepotkan karena dia selalu mengikutiku, namun seperti obat dia selalu kubutuhkan keberadaannya untuk berada di dekatku. Entah karena kebiasaan atau apa, kami selalu menginginkan untuk selalu berdua. Sial, aku ketagihan akan kehadirannya. Seperti sekarang, dia masuk pagi. Aku merindukan sosoknya yang tersenyum menyapaku di depan pintu rumahku. Untungnya setiap kali Jojo datang ke rumah, orang tuaku sudah berangkat kerja, dan saat aku pulang kerja orang tuaku sudah tidur. Jadi aku terselamatkan dari pertanyaan, 'Siapa anak itu?' dari orang rumah. Oh ya, aku tiga bersaudara adik pertamaku sekarang ada di bangku SMA dia gadis nakal namun senakal-nakalnya adik sendiri tidak pernah kuanggap dia orang lain. Walaupun kami berdua sering bertengkar hanya karena masalah sepele. Dan adik keduaku, paling bontot yang manjanya melebihi putri raja ini masih di bangku SD kelas 5. Inilah alasan kenapa aku baru masuk kuliah sekarang. Aku harus bekerja dan membantu menyekolahkan mereka berdua. Makhlum-lah aku hanya mempunyai orang tua tunggal. Seorang ibu perkasa yang mampu menghidupi ketiga anaknya. I Love you Mom.


Hari ini aku berangkat kuliah naik angkot, karena Jojo bilang dia ada kuliah pagi dan dia bilang akan mengantarku kerja nanti. Saat berada di dalam bus, handphoneku bergetar, kupikir ada WA dari Jojo saat kubuka notifikasinya, ada nomor tak kukenal masuk. Dia memberiku pesan berbunyi, "Masih bersedia dengan ajakanku? Kapan kau menepati janjimu?" kubaca berkali-kali kalimat tersebut. Untung dia mengirimiku pesan melalui WA jadi aku bisa melihat foto profil dari si pemilik saat aku mengesave nomornya. Dosen Magang, Nick. Mataku membulat mengenali pria dengan pakaian sporty, santai dan tak nampak kalau dia seorang dosen. Mulutku sedikit menganga tak percaya melihat aura ketampanan dosen ini meluap-luap.


Aku menyukai pria dengan gaya berpakaian sporty, mereka akan terlihat tampan jika mengenakannya. Secara otomatis akan ada nilai tambah untuk mereka yang berpakaian sporty rapi di depanku. Seperti sekarang ini, aku menyukai pria ini. Oh God, apa yang kupikirkan sekarang, aku sudah punya pacar. Kuketik balasan untuknya, "Oh kau Nick. Baiklah, kapan?"


Tak berapa lama ada pesan masuk. "Bagaimana kalau nanti jam 9, kau ada kuliah?"


Aku berpikir sejenak. "Eum...tidak ada, mau ketemu di mana?" balasku. Bodohnya aku tidak memikirkan jadwal Jojo.


"Ketemu di kantin depan kampus. Aku juga ingin bicara sesuatu denganmu" balasnya.


"Ok, baiklah. Jam 9 kita ketemu di kantin depan kampus" balasku. Selesai mengirim pesan. Sebuah pesan lain masuk dan kini berasal dari Jojo.


"Nanti temani aku sarapan ya jam 10 kutunggu di kantin depan kampus" pesan Jojo. Mataku mendelik, tidak biasanya dia mengajakku sarapan bersama.

__ADS_1


"Kita ketemu di paviliun biasanya saja. Akan kubawakan sarapan untukmu nanti" balasku.


Perasaanku sedikit merasa bersalah, apa aku bisa disebut sedang berselingkuh sekarang? Kurasa tidak. Aku tidak menjalin hubungan apapun dengan dosen magang itu. Hanya menemaninya makan dan menepati janjiku saja. Lagipula dosen itu juga tidak mungkin menyukaiku kan?


Jarum pendek arlojiku sudah menunjuk ke arah angka sembilan dan dua belas. Aku juga sudah duduk di salah satu meja kantin depan kampus dan menikmati minumanku. Kupilih mengerjakan tugas daripada diam seperti orang bodoh. Kukeluarkan binder dan bolpoin, kemudian mulai mencatat dan meringkas dari bahan fotokopi-an kemarin, mata kuliah english grammar.


"Sudah lama menunggu?" ucap seseorang yang baru saja menghampiri mejaku, kemudian mengambil tempat duduk di depanku. Mataku menengadah dan melihat sosok pria yang sering kulihat dalam drama korea. Pria dengan setelan kemeja biru langit, berjas putih dan celana kain yang senada dengan warna jasnya. Sedangkan pria itu tersenyum memantulkan sinar sang surya yang hari ini bersinar cukup ramah. Kaca mata yang menggantung di batang hidungnya membuatnya terlihat seperti pria cerdas walaupun sebenarnya, memang benar dia pintar. Apalagi mengingat pekerjaannya sekarang yang menjadi seorang dosen.


"Ah, tidak. Baru saja aku memesan. Kau pesanlah dulu" ucapku mempersilahkannya pergi ke meja kasir memesan makanannya.


Setelah beberapa saat dia kembali lagi. "Aku tidak mengganggu jadwalmu kan?" tanyanya sedikit merasa tak enak dengan mengajakku sarapan sekarang ini.


"Oh, ada yang menunggumu?" ucapnya.


Kepalaku seketika terangkat dan menatapnya. Padahal semula masih berkutat dengan lembaran-lembaran di depanku. "Oh, iya. Ada tugas yang harus aku kumpulkan ke dosen" ucapku beralasan.


"Ah, dosen? Bukan pacar atau Jonathan?" ucapnya yang seketika membuat leherku tercekat. Kuraih minumanku dan menyesapnya pelan. Makanan Nick datang, sedikit perasaan lega aku tidak perlu menjelaskan padanya. "Ada hubungan apa kau dengan Jonathan?"

__ADS_1


"Dia kenalanku di tempat kerjaku dulu" sahutku cepat. Karena jawaban inilah yang dapat aku pikirkan sekarang.


"Kau tidak makan?" tanya Nick yang sudah siap ingin memakan sarapan paginya.


"Aku sudah menghabiskan roti lapisku tadi"


Nick mengangguk, memakan makanannya perlahan. "Alasanku mengajakmu bertemu untuk meminta bantuanmu. Dalam tiga bulan ke depan aku akan resmi diangkat sebagai dosen tetap di kampus ini. Dan mungkin akan banyak tugas. Jadi aku akan membutuhkan asisten dosen nantinya, kau mau mencobanya?" ucapnya menjelaskan maksud ia mengajakku bertemu.


"Aku? Mahasiswa semester awal? Jadi asisten dosen? Tapi aku tidak pernah belajar tentang psikologi, bagaimana aku bisa jadi asisten dosen dan lagi, aku tidak begitu pintar. Kurasa kau akan kerepotan nantinya" ucapku tak percaya diri dengan tawarannya.


"Aku memilihmu, karena aku tau dan paham dirimu. Walau aku baru mengenalmu, aku tau kau gadis hebat, cerdas dan pekerja keras. Jadi aku ingin kau menjadi asistenku nanti. Tenang saja, aku akan memberikanmu gaji, bukankah itu lumayan?" ujarnya yang sedikit membuatku tergiur akan tawarannya. Uang, itulah yang kubutuhkan sekarang.


"Gaji? Eum...akan kupikirkan nanti" sahutku yang tidak dapat memberikan jawaban saat itu juga, karena memang aku harus sangat mempertimbangkan tawaran baik darinya.


"Tenang saja, masih ada tiga bulan. Pikirkanlah terlebih dahulu" ucapnya sambil menghabiskan makanannya.


Kusunggingkan senyuman untuknya, membalas nasihat yang diucapkannya. Haruskah aku menerimanya dan mendapatkan dana tambahan untuk biaya kuliahku dan dengan konsekuensi akan lebih sering bertemu Jojo di kelasnya. Apa perlu aku menanyakan pendapatnya terlebih dahulu untuk menerima tawaran ini atau tidak?

__ADS_1


_____*****_____


###BadFeeling


__ADS_2