
Jam dinding yang melekat di tembok sekat pemisah antara rak satu dengan yang lain sudah menunjukkan pukul 3 sore. Dosen magang masih berkutat dengan catatannya. Walaupun sebenarnya masih ada waktu 15 menit untukku keluar sebelum si bocah kunyuk itu selesai kuliah, akan tetapi aku memutuskan untuk keluar perpustakaan lebih dahulu. Kurasa lebih baik aku menunggunya di luar perpustakaan daripada bertemu dengannya di dalam perpustakaan, apalagi di lihat oleh salah satu dosennya nanti, bisa runyam.
"Eum...Nick, duluan ya" ucapku setelah mengembalikan kembali buku-buku yang kuambil sesuai raknya. Ia mendongak padaku. Sebenarnya aku hanya ingin berpamitan dengannya untuk sekedar tata krama, namun lengan Nick yang mencegahku untuk tidak beranjak membuatku mematung di tempat.
"Aku juga sudah selesai, kita keluar sama-sama" dengan cepat ia mengembalikan buku ke rak referensi. Karena sebagian besar buku yang dibacanya tadi berisi laporan tugas akhir dan skripsi.
Entah kenapa aku malah menunggunya, bodoh. Seharusnya aku menghindarinya kenapa aku malah bersamanya sekarang? Kami keluar perpustakaan bersama-sama. Mataku langsung berkeliling melakukan tarian kecak. Berharap Jonathan belum keluar kelas dan tidak melihat keberadaanku sekarang dan nantinya akan membuat kesalah pahaman yang tak perlu.
"Kau sibuk?" tanya Nick.
Kepalaku menoleh ke arahnya. "Oh, aku ada kerja nanti jam 4" sahutku. Sial, bodohnya aku. Kenapa aku terlalu jujur kalau masih ada waktu luang?
Ia tersenyum. "Baguslah, aku lapar. Kau mau menemaniku makan?" ucapnya menawariku.
"Apa?!" seruku seakan berteriak padanya. Karena kali ini aku merasa seperti seseorang yang takut ketahuan berselingkuh dari pacarnya. "Eum...maaf" ungkapku merasa bersalah telah berteriak padanya barusan. "Aku masih ada janji dengan seseorang, kurasa dia sudah menungguku sekarang. Jadi lain kali aku akan menemanimu makan" ucapku yang menemukan sosok Jojo berjalan ke arah perpustakaan.
"Oh baiklah. Tunggu, apa aku boleh meminta nomormu?" ia meminta ijin.
"Oh...eum...ya" kutuliskan nomorku untuknya tanpa pikir panjang apa yang akan terjadi nanti jika aku memberikan nomorku padanya, kutulis di buku binderku kemudian menyobek kertasnya dan memberikan padanya. "Ini, maaf aku pergi dulu" ucapku yang langsung bergegas meninggalkannya dan menghampiri Jonathan.
"Hai...kakak merindukanku?" seru Jojo mendapatiku berlari ke arahnya.
Aku berkelit. "Oh, tidak. Aku hanya ingin segera ke toilet, kau mau mengantarku" kuraih lengannya dan menyuruhnya untuk segera berbalik.
"Jonathan" panggil seseorang dari arah belakang kami dan aku sedikit familiar dengan seuara tersebut dan sepertinya aku baru saja mendengarnya. Jojo menoleh lebih dulu karena namanya yang dipanggil. "Kau Jonathan angkatan 2017 kan? Semester 2?" tanya suara barusan.
"Ah iya, ada apa pak?" sahut Jojo mengenali siapa orang yang memanggilnya. Kudengar langkah kaki mendekat. Mau tak mau aku ikut menoleh karena tubuh Jojo sudah berbalik 180 derajat dan melepaskan lengan Jojo.
__ADS_1
"Kalian saling kenal?" ucap Nick ke arah kami. Kurasa ia sengaja menanyakan hal ini, dia pasti sudah menduganya, karena kami barusaja berpisah dan dia pasti melihat kami berdua dengan gelagat mencurigakan. Sebenarnya gelagatku saja yang mencurigakan. Kenapa aku begitu ceroboh?
Kusunggingkan senyuman ke arahnya. Jonathan melihat ke arah kami bergantian. "Kakak kenal sama pak Nick?" tanyanya heran. Kedua alis hitam runcingnya saling bertaut.
Aku tidak mampu menjawab pertanyaan Jonathan, karena otakku seketika membeku tak mampu mencari alasan. "Iya, baru saja kami dari perpustakaan dan kurasa aku tau alasan kau menolak ajakanku tadi" ucap Nick yang semula tertuju ke arah Jojo sekarang beralih padaku.
Aku hanya mampu tersenyum miris. Malu itu kata yang tepat menggambarkan perasaanku saat ini.
"Aa...besok pagi saya tidak bisa mengajar. Jadi saya menitipkan tugas makalah untuk dikumpulkan minggu depan. Ini materinya" menyodorkan bundelan kertas yang sempat terbaca olehku, 'Materi–materi singkat Perkembangan Psikologi' kepada Jonathan.
Ia menerimanya sambil menganggukkan kepala sopan. Setelah itu Nick berpamitan sebelum akhirnya memilih untuk pergi lebih dulu. Setelah kepergian Nick rasanya hati ini sedikit melukainya apalagi melihat sorot matanya saat memandangku sebelum kami berpisah tadi. Sepasang hazel terlihat murung. Apa aku menyakiti hatinya karena telah berbohong? Atau ini hanya perasaanku saja?
"Kakak kenal dengan dosenku?" tanya Jojo yang langsung membuatku kelabakan sendiri. Namun aku berusaha tidak menampakkan itu pada ekspresi wajahku sekarang.
"Oh, itu. Iya, kami tidak sengaja kenalan di kantin" ucapku berusaha tetap tenang.
"Belum lama" kupilih berjalan lebih dulu dan Jojo mengekor di sampingku.
"Apa yang kakak lakukan di perpus?" tanyanya lagi.
"Mencatat materi" jawabku singkat.
"Lalu dia mengajak kakak apa?" tanyanya lagi.
Kulihat Jojo, aku tersenyum tak menyahut pertanyaannya. "Aku bertanya kenapa kakak malah tersenyum? Dosenku ngajak kakak ngapain?" serunya kesal.
"Kau cemburu?" tanyaku sedikit geli dengan kelakuannya.
__ADS_1
"Jelas. Aku cemburu" serunya.
"Baguslah. Ah, aku lapar, mau makan" kualihkan pembicaraan yang lucu ini. Entah kenapa melihatnya jujur mengakui dirinya cemburu sungguh lucu.
"Kakak tadi bilang mau ke toilet?" tanya Jojo bingung.
"Sudah tidak lagi" kataku sedikit cuek.
"Kakak, tadi selingkuh ya?" tuduhnya padaku.
Kuhentikan langkah kakiku. "Aish...kau mau kita putus sekarang?" bentakku kesal menanggapi rengekan si Jojo. Ya walaupun sebenarnya tindakanku tadi memang seperti sedang selingkuh di belakangnya. Namun sebenarnya kami tidak melakukan apapun, akan tetapi aku tidak menceritakan kalau aku memberikan nomorku pada dosen magang tadi. Dia tidak perlu tau juga kan? Kalau kuberitahu pasti akan bertambah pula pertanyaan darinya yang mengintrogasiku.
"Tidak...tentu saja tidak" sahutnya cepat. Kuanggukkan kepalaku, lalu berjalan kembali. "Kakak tidak selingkuhkan?" ia bertanya lirih padaku, takut aku kembali kesal. Ia paling paham bagaimana mengatasi kekesalanku.
Aku tersenyum menanggapi pertanyaannya. Baiklah, lebih baik aku menjelaskan padanya kalau tidak ada apapun antara aku dan Nick, agar kecemasannya mereda. "Walaupun ingin, aku bukan wanita yang mudah menjalin hubungan dengan orang yang baru aku kenal lagipula statusku sekarang sudah punya pacar, jadi aku usahakan sebisa mungkin untuk setia dengan pacarku" mendengar ucapanku wajah yang semula cemberut dan menyiaratkan ketakutan sekarang berseri, senyumannya merekah kembali.
"Maaf, aku meragukan ketulusan kakak" ucapnya sambil bergelayut manja di lenganku dan menyandarkan kepala besarnya di pundakku. Melihat kelakuannya kugidikkan bahuku dan menarik lenganku agar dia tak menempeliku lagi. Namun dia bersikeras tetap menempeliku. Dasar bocah. Biarkanlah bocah ini menikmati kebahagiaan kecilnya.
"Kakak suka makan apa? Restoran jepang atau makanan indo?" tanyanya.
"Apa aja yang penting kenyang" sahutku yang tak terlalu pemilih makanan, kecuali itu udang. Kalau aku nekad memakannya, bisa masuk rumah sakitlah aku.
"Okey, kalau begitu kita ke restoran jepang saja" ucapnya menarik lenganku erat.
* * *
So, happy reading..
__ADS_1