Bad Feeling

Bad Feeling
Are You Crazy


__ADS_3

Engkau seperti embun penyejuk di saat kumerasa kehausan, namun kau bagaikan mata air yang tak mampu kuminum karena kau hanya fatamorgana bagiku. Bagaimana mungkin hati ini berkhianat dan menghilangkan dahaga ini seorang diri sedangkan dia yang di sana belum tentu bahagia dengan keadaannya? Tak bolehkah Tuhan mengijinkanku untuk mencintainya sekali lagi?


###BadFeeling


Mataku mengerjap berkali-kali menatap Nick. "Kenapa tidak menjawab?" tanyanya padaku. Bibirku kelu tak mampu mengucap sepatah kata pun saat itu. Aku hanya kaget dan bingung, apa alasan yang sebaiknya kukatakan untuk menjawab pertanyaan tersebut.


"Ah.... Kau masih menyukai Jonathan?" sahutnya dengan mimik muka sedikit kecewa. "Kenapa kalian putus?" sahutnya kemudian. Ia mengalihkan pandangannya pada tumpukan berkas-berkas yang ada di mejanya, yang sudah menunggu seharian tadi untuk disentuh olehnya, is kembali mengenakan kacamatanya.


"Eum... Nick, apa yang kau ucapkan tadi.... " tanyaku sedikit ragu. Aku tak tau dia akan mengucapkan kata-kata seperti itu. Dia bukanlah tipe orang yang gampang mengucapkan hal seperti itu, mengingat dia dosen muda, tampan, pintar dan dikagumi dosen dan mahasiswinya. Dia lebih serius dibandingkan dosen killer di fakultasku. Dia juga tidak pernah membahas hal lain kecuali laporan-laporannya. Namun sekarang kata-katanya membuatku bertanya benarkah selama ini dia menyimpan rasa untukku atau ini hanya fatamorgana bagiku.


Matanya kembali menatapku. Namun kemudian fokus kembali pada berkasnya. "Kau masih menyukai Jonathan?" ucapnya datar seperti biasa.


"Bukan, soal... " ucapku sedikit sungkan. Aku hanya tidak ingin mengecewakannya. Dia sudah terlalu baik padaku selama ini. Dia seperti teman yang dikirimkan Tuhan padaku untuk membantuku melupakan masalahku sendiri.


"Lupakan. Aku hanya mengetes perasaanmu dan ternyata kau masih menyukai anak itu" sahutnya sambil menulis catatan pada berkas-berkasnya. Berharap aku benar-benar melupakan ucapannya dan kuanggap itu memang benar, dia hanya mengetesku. Kutepis rasa penasaranku barusan.


"Apa aku begitu bodoh?" tanyaku polos. Memang sepertinya aku bodoh bisa menyukai bocah itu sampai seperti ini, padahal ada pria baik di depanku tapi aku tetap mengabaikannya. Kenapa aku tidak memulai menjalin hubungan dengannya? Siapa tau berhasil. Namun sepertinya pintuku sudah tertutup untuk yang lain.


"Soal cinta tidak ada yang namanya bodoh, yang ada hanyalah kebekuan syaraf otak kenormalan kita yang lebih mementingkan hati daripada akal kewarasan" ucap Nick yang membuat keningku mengkerut mendengar penjelasannya. Mungkin itu bahasa dosen psikologi yang sulit untuk kupahami. "Ya ampun, kenapa mukamu selucu itu?" ucapnya saat mendapati mukaku yang masih memikirkan tentang ucapannya barusan. Dia tersenyum melihatku.


"Auw... Ini gara-gara kamu yang mengucapkan kalimat yang sulit aku mengerti. Aku anak Ilmu Perpustakaan dan kau mengatakan bahasa Psikologi. Walaupun aku sedikit banyak sudah membaca tentang pelajaran kalian, tapi tetap saja tak pernah aku berniat untuk mempelajari dan memahaminya. Jadi kumohon..."


"Permisi"  sebuah suara menghentikan ucapanku. Kami berdua menoleh ke arah pintu dan menemukan sosok orang yang barusan menyela percakapan kami dan hal yang tak kuduga Jonathan berdiri di ambang pintu. Mata kami sempat bertemu entah kenapa aku tak mampu menatapnya lagi dan memilih untuk kembali fokus dengan berkas-berkas laporanku.


"Boleh saya masuk pak Nick?" ucapnya minta ijin. Nick mengijinkannya dan dia melangkah masuk menghampiri meja Nick, namun sempat kulihat dia memperlambat langkah kakinya saat melewati meja kerjaku. Ya Tuhan, kenapa jantungku berdegup tak menentu seperti ini. Namun kepalaku tetap tertunduk walau kini otakku tak lagi mampu fokus membuat laporan karena kedatangannya.


"Maaf pak Nick, beberapa hari ini saya tidak bisa mengikuti perkuliahan. Ada sesuatu yang harus saya selesaikan dan saya ke sini ingin menanyakan ujian minggu kemarin. Saya berniat ingin melakukan ujian susulan, jika bapak mengijinkan" jelasnya.


"Baiklah. Kamu bisa mengikuti ujian mata kuliah saya dengan satu syarat. Bantu saya menyelesaikan laporan akhir bulan saya terlebih dahulu. Setelah itu saya akan memberikan kesempatan kepadamu untuk melakukan ujian susulan" sahut Nick seperti biasa berwibawa.


"Baik, pak" ucapnya patuh.


"Okey, kalau begitu. Kamu bantu Rya menyelesaikan tugasnya dan saya akan meninggalkan kalian. Karena ada rapat yang harus  saya hadiri. Saya harap hari ini, kalian dapat menyelesaikan laporan itu" ucap Nick yang kemudian membawa beberapa map dan meninggalkan kami berdua dengan tampang tercengang tak percaya.

__ADS_1


Mendengar namaku disebut jantung yang sejak tadi sudah berdegup tak menentu bertambah menggila.


Kurasa Nick mengerjaiku sekarang, dia tau perasaanku saat ini tetapi dia malah membuatku tinggal berdua bersama Jonathan sekarang. Ya Tuhan apa yang harus kulakukan, aku belum siap menghadapi dirinya untuk saat ini. Jantung ini berdegup lebih cepat saat sepasang langkah kaki berjalan mendekati meja kerjaku.


"Eum... Apa yang mesti kulakukan?" tanyanya yang seketika membuat otakku buntu karena gugup.


"Ee.... Kerjakan saja laporan di atas meja Nick, sudah aku beri tanda mana saja yang perlu diperbaiki setelah itu tulislah laporan di laptopnya" ucapku memberitahu. Aku tak mampu menatapnya mengingat kata-kata terakhir yang kuucapkan padanya.


*flash back*


Saat aku berjongkok di depan rumahnya dan menangis, Jojo membuka pintu dan berjalan menghampiriku. Kudengar suara teriakan dari dalam rumahnya, kurasa sang ibundanya sangat marah karena berteriak sekeras itu. "Lebih baik kita pergi dari sini, di sini tidak ada yang mengerti cinta kita" ucapnya membangunkan tubuhku. Kemudian menggandeng tanganku mengajakku pergi dan aku hanya mengikut ke manapun dia inginkan.


Ia membawaku menaiki motornya dan pergi dari rumah, setelah pertemuan kami berdua dengan keluarga Jojo yang berakhir berantakan. Tak berapa lama ia menghentikan motornya di depan cafe ice cream. Ia tau benar cara meredakan emosi. Walaupun sebenarnya dia tidak begitu menyukai makanan manis tapi kali ini dia memesankan semangkuk besar ice cream dengan topping coklat dan beberapa buah-buahan segar.


"Makanlah, aku minta maaf atas semuanya. Tidak seharusnya aku mengajak kakak ke sana tadi" dia mengucapkan kata-kata itu sambil menundukkan kepalanya menatap meja kosong di hadapannya. Kulihat bekas cap tangan di pipi kirinya. Aku sudah tak lagi menangis sejak di jalan menuju tempat ini. Entah kenapa airmataku berhenti setelah tangan Jojo menggandeng erat tanganku.


Kuulurkan tanganku hendak menyentuh pipinya namun ia malah menjauhkan wajahnya dan menangkap jemari tanganku. "Ini bukan apa-apa. Aku akan tetap mempertahankan hubungan ini. Walaupun mereka menentangnya" ucapnya padaku. Terlihat pancaran kesedihan dalam setiap ucapannya. Kulihat tangannya menggenggam jemari tanganku.


"Indirect Kiss" ucap Jojo yang seketika membuatku menyingkirkan tanganku dan terlepas dari genggamannya. "Yaa... Kakak ini, kenapa? Bukannya kita juga pernah melakukannya bahkan kita juga pernah cium... " seketika kubungkam mulutnya dengan telapak tanganku. Entah kenapa aku malu ketika Jojo mengucapkan kebenaran itu di depan banyak orang.


"Kau ini ya, sudah jangan diucapkan" pipiku seketika merona malu.


"Kalau begitu kita lakukan saja" Hidungku disentil dengan telunjuknya dan tersenyum. Seketika telapak tanganku yang barusan lepas dari bibir Jojo beralih ke dahinya yang lebar sampai berbunyi 'plaaaakkk'


"Kau ini..." Jojo mulai kembali tersenyum. Aku menyukai senyumannya itu, namun entah kenapa melihat senyumannya membuatku sedih. "Jo, kurasa kita sebaiknya berpisah"


"Apa maksud kakak?"


"Sebelum aku memutuskan untuk kencan denganmu aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Jika suatu saat nanti aku menyukai orang lain, walaupun banyak masalah yang datang menghadang, aku akan berusaha sekuat hati dan tenaga tidak akan membiarkannya pergi, kecuali saat aku sudah menjadi beban di hidupnya. Jadi kurasa saat ini aku sudah menjadi beban di hidupmu, maka dari itu aku memilih untuk pergi meninggalkanmu" akhirnya kata-kata itu meluncur bebas dari bibirku.


"Kakak menyukaiku kan?"


"Eum... " kuanggukkan kepalaku pelan.

__ADS_1


"Kenapa kakak melepaskanku? Siapa bilang kakak menjadi beban untukku? Kakak tidak pernah sekalipun jadi beban untukku kakak itu penyemangatku, masa depanku, kenapa kakak berpikir kakak adalah beban bagiku?" ungkapnya. Beberapa pengunjung cafe tersebut melihat ke arah kami karena nada suara Jojo yang mulai meninggi.


"Tapi sekarang kau jadi beban untukku. Jadi kumohon, biarkan aku pergi" tanpa sadar setetes bulir airmataku meluncur sukses tak ada penghalang. Jojo terperangah menatapku. "Terima kasih untuk hari-hari indah yang kau berikan untukku dan maaf mengecewakanmu. Aku pergi" kupilih untuk segera beranjak dari tempat itu daripada harus melihat wajah Jojo yang nantinya dapat merubah keinginanku sekarang.


"Apa benar aku hanya beban untukmu?" tanyanya. Dari suaranya terdengar dia benar-benar sedih dan terpuruk.


"Eum... Kau beban untukku dan aku tidak sanggup menanggungnya lagi" ucapku tanpa membalikkan wajahku ke arahnya kemudian pergi meninggalkannya. Aku hanya tidak ingin membuatnya bermusuhan dengan orang tuanya walaupun di sisi lain aku juga tidak ingin berpisah dengannya. Entah kenapa aku mengucapkan kata-kata itu. Apakah aku menyakitinya? Itu lebih baik kurasa, jadi ia lebih mudah untuk melupakanku.


*flash back off*


Aku belum juga terfokus pada tugasku sekarang, diotakku muncul kalimat untuk bertanya tentang apa yang ia lakukan selama beberapa hari terakhir tidak mengikuti perkuliahan. Namun bibirku kelu tak mampu berucap, karena mungkin aku merasa terlalu berdosa atas tindakanku sebelumnya.


"Kakak baik-baik saja?" tanya Jojo memulai pembicaraan setelah setengah jam berlalu tanpa suara, hanya detik jam dan dentuman jari-jari Jojo yang menekan keybord laptop Nick.


Mataku mengerjap, mengalihkan pandanganku menatap ke arahnya. Sorot mata yang kurindukan menatapku sendu. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang. "Eum... Dan kau? Kau baik-baik saja?" tanyaku.


Ia tersenyum simpul. "Aku tidak baik. Bagaimana aku baik-baik saja, kalau setiap hari tidak bisa melihat kakak?" dari nada bicaranya tersirat kepedihan.


"Jo..." panggilku lirih. Aku hanya tidak ingin dia kembali lagi mengingat masa lalu, walau sekarang aku juga masih terjebak di masa lalu bersama kenangannya.


"Iya aku tau" sahutnya kembali menunduk dan mengetik laporan untuk Nick.


Maaf kalau aku mengecewakanmu, ucapku dalam hati. Tak terasa bulir airmata mengalir, dengan cepat kutepis dan menghilangkan jejaknya. "Jika kau sudah selesai, kau bisa meninggalkannya. Biarkan aku mengerjakan sisanya" ucapku sambil merapikan beberapa berkas yang akhirnya selesai juga kukerjakan. Kurapikan berkas-berkas laporanku, kemudian meletakkannya di meja Nick sambil mengamati apa yang dikerjakan oleh Jonathan. Apakah yang dikerjakannya benar atau tidak?


"Bagaimana kalau kita kawin lari?" celetuknya sambil menatap padaku.


Mataku membulat. "Apa?" seruku tak percaya dengan ucapan yang barusan meluncur bebas dari mulut Jonathan.


"Aku tidak yakin sanggup seperti ini terus. Aku bisa kembali ke duniaku sebelum mengenal kakak, tapi aku tidak yakin masalah apa yang nanti akan kuperbuat. Jadi, maukah kakak kawin lari denganku" ungkapnya yang terlihat begitu frustasi dengan kenyataan yang ada dalam hidupnya.


"Kau gila?" pekikku seketika atas ajakan Jonathan.


________________________******____________

__ADS_1


__ADS_2