
_____________*****________________
Kebodohan yang kupilih akhirnya menyakitiku sendiri. Mungkin aku terlalu bodoh karena telah mencintainya bahkan ini kebodohan yang menurutku sangat kekanakan sekali. Kenapa aku begitu mudahnya membiarkan orang lain berbuat sekehendak hatinya menginjak-nginjak harga diriku? Padahal aku hanya punya itu yang dapat aku banggakan namun sekarang, aku sudah tidak memilikinya. Apa yang harus kulakukan sekarang?
$$$$$$
Rasanya harga diriku saat ini terinjak-injak sampai tak berwujud. Aku berusaha untuk tetap kuat walaupun rasanya aku ingin menangis sekeras-kerasnya saat ini juga. Namun aku harus tetap tegar, karena memang inilah jalan yang selama ini aku pilih. Padahal aku tau akan ada banyak penghalang yang selalu menghadang namun tetap saja aku menerjangnya. Jadi setidaknya aku harus menghadapi konsekuensi atas pilihan yang telah kuambil dengan bersikap tegar seperti ini. Tanpa peduli hati ini sudah teriris-iris menjadi potongan kecil.
"Kak Rya" Jojo membantuku untuk bangun setelah aku tersungkur di depan kaki ibunda tercintanya.
Kusingkirkan tangan Jojo saat kudapati sepasang bola mata menghakimi atas tindakanku. Kusunggingkan sebuah senyuman ke arah Jojo. "Lepaskan aku kumohon. Ini tidak akan pernah mungkin. Turuti keinginan orang tuamu. Lepaskan aku dan kembalilah ke kehidupanmu sebelum bertemu denganku. Lupakan aku kumohon" ucapku yang kemudian memilih bangun sendiri. "Maaf, jika kedatangan saya merusak ketenangan kalian barusan, permisi" ucapku membungkuk, mohon diri untuk meninggalkan tempat itu. Tempat dimana harga diriku tidak dianggap.
"Ma, Jojo itu suka sama kak Rya, jadi kumohon mama ijinin kami" pintanya memelas.
"Nggak ada" bentak wanita paruh baya keras.
"Kalau mama nggak ngijinin, Jojo nggak akan mau kuliah lagi" sahut Jojo mengancam.
"Kuliah itu demi kebaikanmu..."
Entah apa yang terjadi setelahnya. Aku sudah keluar dari rumah dingin itu. Setelah beberapa langkah, entah kenapa dengan kakiku rasanya lemas tak mampu menopang tubuhku. Seketika aku berjongkok. Menatap jalanan, mata ini pun sudah tak mampu melihat karena genangan air mata sudah membanjir di pelupuk mata. Sakit. Iya. Bagaimana tidak, aku dipermalukan seperti tak berharga? Orang tuaku sudah melepasku bersama bocah itu tetapi aku malah mendapat hinaan dari mereka dan kenapa orang lain mematahkan impianku yang sudah kubangun sejak dulu? Aku tidak suka orang lain meremehkan cita-cita orang lain apalagi cita-citaku. Haruskah ucapan mematahkan semangat itu keluar begitu saja dari mulut beliau, orang yang bekerja sebagai pengajar?
Orang lain boleh menghinaku bahkan merendahkanku, tapi kumohon jangan patahkan semangatku bahkan meremehkan cita-citaku. Aku membencinya. Kenapa kata-kata seperti itu harus kudengar dari seseorang yang sangat kuhormati?
__ADS_1
Setelah kejadian itu sudah seminggu lebih aku tak melihat Jonathan bahkan dia juga tidak mengikuti perkuliahan. Sedikit perasaan khawatir menyusup dibenakku, apalagi sempat kudengar dari temannya, yang pernah melihatku bersama Jojo, mereka bilang kalau Jojo sakit. Aku tidak mungkin menghubunginya dan aku tidak mungkin mendatangi rumahnya. Aku hanya mampu berdoa semoga dia baik-baik saja.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?“ tanya Nick padaku.
Aku sedikit melamun barusan, memikirkan tentang Jonathan. Bidohnya, kenapa aku masih mengingatnya mikirkannya setelah apa yang dilakukan ibunya padaku. "Ah , iya tinggal sebentar lagi" ucapku berusaha kembali fokus dengan kertas-kertas di ata meja kerjaku. Hari ini kerjaan Nick sangat banyak, karena ada evaluasi kerja bulanan untuknya.
"Kalau kamu lelah, kamu bisa istirahat dulu sebelum bentar. Maaf, laporan kali ini terlalu banyak. Biasa akhir semester jadi seperti ini" ungkap Nick menjelaskan tugas beratnya sebagai seorang dosen.
"Apa tugas dosen itu seperti ini?" tanyaku ingin tau. Setidaknya aku perlu menyingkirkan pikiranku tentang Jonathan. Aku lelah, jika harus terus memikirkannya.
"Tentu saja, terkadang ada dosen yang melakukan survey dan menganalisa data sendiri. Aku tidak mampu melakukannya apalagi aku harus melanjutkan S3 sekarang" tuturnya. Manik matanya kembali berfokus dengan layar di depannya.
"Kau hebat sekali. Eum...kalau boleh tau, apa fungsi gelar untukmu?" tanyaku ingin tau.
Kuanggukkan kepalaku. "Kau kuliah melanjutkan S3 bukankah untuk mendapatkan gelar?" kuletakkan bolpoinku menghentikan pekerjaanku.
Nick tersenyum melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja kedua tangannya terlipat menopang dagunya sebelum menjawab pertanyaan dariku. "Aku kuliah bukan untuk gelar, aku ingin mendapatkan lebih banyak ilmu dan kelak aku bisa membagikannya untuk orang lain. Seperti jadi dosen sekarang ini. Jadi kau kuliah hanya untuk mendapat gelar?" ia balik bertanya padaku.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkannya kepalaku menggeleng cepat. "Tidak. Aku juga sama, menurutku punya gelar atau tidak yang penting kita tetap punya hasrat untuk terus belajar. Lagipula aku masih belum menyerah, apalagi aku belum meraih cita-citaku". Ya, inilah aku dengan segala yang ada padaku. Kejujuranku. Karena bagiku gelar tidak begitu penting untukku, aku hanya suka belajar, namun orang lain akan beranggapan kalau gelar itu sangat penting, semakin tinggi gelar atau pangkatmu semakin tinggi pula kedudukanmu di tengah masyarakat.
"Memang kau bercita-cita untuk apa?"
"Memiliki sebuah cafe yang memiliki sebuah perpustakaan karena aku sangat menyukai buku" sahutku antusias. Mimpiku memang tidak begitu tinggi. Tetapi tetap, aku harus mengejarnya.
__ADS_1
"Unik, menarik. Semoga kau bisa merealisasikannya"
"Amin. Thank you" cukup senang dengan tanggapan yang diberikan oleh Nick.
"Kuharap yang datang ke cafemu nanti tidak membuat cafemu jadi taman kanak-kanak saja"
"Au....kau ini, tentu saja tidak" pekikku seketika. Tidak mungkin kan cafeku nanti seperti yang diperkirakan Nick. Pria ini sungguh menggelikan.
"Aku hanya menebak bentuk cafemu nanti dengan apa yang sering ada dipikiranmu. Kau suka anime kau juga suka manga lucu, kau pecinta makanan snack dan kau menyukai anak-anak. Jadi...bisa jadi hanya anak-anak yang datang ke cafemu" ucap Nick seperti mengenal baik diriku melampaui diriku sendiri.
"Tentu saja tidak." bantahku sedikit kesal. Nick tertawa dan kurasa dia benar-benar punya pikiran yang simple tapi dia telah tau banyak tentangku.
"Sekarang kau lebih baik?" tanya Nick yang membuatku memiringkan kepalaku. "Kulihat kau begitu frustasi sejak dari tadi, jadi apa kau sudah lebih baik sekarang?"
Aku tersenyum menanggapi ucapannya. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa, yang kutau saat ini aku benar-benar frustasi. Frustasi karena pekerjaan yang tidak selesai, frustasi karena sampai sekarang aku tidak tau bagaimana keadaan Jojo. Walau ingin sekali aku membuang pikiran jauh-jauh kalau aku mencemaskan keadaannya, tetap saja akal bawah sadarku berontak dengan sendirinya. Aku pasti sudah benar-benar gila sekarang. Aku merindukannya itu yang sebenarnya kurasakan sekarang, tapi apalah daya aku tak mampu bertindak lebih jauh lagi. Apalagi kalau mengingat ucapan yang ibu Jonathan ucapkan padaku. Itu melukaiku.
"Apa kau dan Jonathan baik-baik saja?" ucap Nick yang membuatku tertegun.
"Kami sudah putus" ucapku lemah.
"Baguslah, bagaimana kalau berkencan denganku sekarang?" pertanyaan yang tak pernah kuduga sebelumnya keluar begitu saja dari mulut seseorang yang pernah terbesit diotakku untuk dekat bahkan menjadi kekasihnya.
Mataku membulat tanpa di komando menatap kedua manik mata pria yang tergolong serius ini. Matanya seolah-olah menegaskan apa ucapannya barusan. Bagaimana aku menjawab pertanyaan itu di saat hati ini masih terpatri untuk yang lain? Haruskah kujawab iya saja?
__ADS_1
*****