Bad Feeling

Bad Feeling
Piknik


__ADS_3

Kuingin hubungan ini berlangsung lama, namun aku tidak mampu menyakiti hati orang yang paling kuhormati dan kusayangi. Aku tak ingin egois, aku tak bisa.


__________***________


"Kalian pacaran?" seketika bibirku kelu tak mampu menjawab pertanyaan itu. Bagaimana tidak? Ibu dan adikku mendengar pembicaraan kami barusan. Bola mataku membulat lebar mendengar pertanyaan itu. Apalagi posisi tanganku yang bergelayut menarik lengan Jojo. Bisa dikatakan kami tertangkap basah. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?


"Eum...itu..." seperti terserang hujan es, bibirku membeku. Bagaimana aku menjelaskan hubungan yang belum serius ini.


Ibu menyuruhku pulang dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tau suatu hari nanti hubungan ini akan terbongkar. Genggaman tangan dari Jojo, memberiku keberanian untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


Kami bertiga berkumpul di ruang tamu. Hanya ada keseriusan di raut wajah kami. “Jadi, ada yang ingin kau jelaskan Rya?“ ucap Ibu mengawali sidang kali ini.


Jonathan mendahuluiku bicara. “Maaf ibu, maksudnya tante. Saya mencintai anak tante. Kalau diijinkan, bolehkah kami...”


Kupotong ucapan Jojo. “Bu, aku minta maaf. Tidak seharusnya melakukan hal ini. Aku tau, aku tidak boleh bermain-main lagi soal menjalin hubungan. Namun untuk saat ini, kami berdua memang sedang menjalin hubungan” terangku.


“Rya, ibu rasa kamu tau mana yang benar mana yang salah dan untuk kali ini, ibu sangat kecewa denganmu. Kamu pasti tau hubungan ini salah, kenapa tetap kamu melanggarnya?“ raut wajah wanita paruh baya yang telah melahirkanku ini berubah jadi semurung ini. Ini kedua kalinya aku melihat ekspresi ibu seperti ini, yang pertama saat ayah pergi.


“Aku tau. Maafkan aku ibu. Aku akan selesaikan masalah ini sendiri” ucapku. Jonathan menatapku meminta pertanggung jawaban. Tetapi aku tetap tak memandangnya hingga ibu pergi menghilang masuk ke dalam kamar.


“Kak Rya... “ panggilnya.


“Aku tau ini akan terjadi cepat atau lambat. Walaupun aku tidak mengira akan secepat ini” kutatap mata jojo sebelum kuucapkan apa yang harus kukatakan. “Kau paham kan, hubungan kita tidak seharusnya terjadi”


Jojo berniat membalas nyela ucapanku, namun aku lebih dulu melanjutkan ucapanku. “Aku tau, cintamu tulus. Namun orang tetap tidak akan menerima hubungan ini. Aku tidak mungkin membuat ibuku kecewa makanya kita...”


Jonathan memotong ucapanku. “Tidak mau. Aku tau kakak akan mengatakan apa. Aku tidak bisa dan tidak mau. Aku akan memperjuangkan hubungan ini. Aku akan berusaha meminta ijin. Entah itu ibu kakak atau orang tuaku. Hanya saja, aku butuh kakak untuk memberiku dukungan. Jika kakak di sampingku aku tidak akan pernah takut pada apapun” jelasnya.

__ADS_1


“Kenapa kau tidak menyerah saja? Lebih baik kau menyukai orang lain, bukan aku” ucapku yang sudah tak mampu berpikir logis. Aku hanya tidak ingin membuat ibu murung seperti yang barusaja ia tunjukkan padaku.


“Kak, kumohon jangan menyerah. Aku memang masih muda. Tetapi aku tetap seorang pria, aku akan bertanggung jawab atas segala pilihanku. Aku akan bertanggung jawab atas kakak jika suatu saat nanti kita menikah. Aku akan bekerja keras demi keluargaku. Aku tidak mungkin lari dari tanggung jawabku” ucapku.


Mataku mulai berkaca-kaca. Dilain sisi aku ingin mempercayai ucapannya tetapi disisi lain aku tidak ingin menyakiti hati orang yang paling aku hormati dan sayangi. “Jo, ini tidak akan mungkin. Lebih baik kita menyerah saja” pintaku.


“Kalau kakak mengatakan hal ini. Aku jadi tidak memiliki keberanian apapun untuk memperjuangkan hubungan kita. Jadi kumohon kak Rya jangan menyerah pada hubungan kita. Aku akan mencari cara agar hubungan kita direstui” ucapnya.


Kusunggingkan senyuman padanya dan dia membalas senyumanku. Ia menggenggam erat jemariku sambil membelai rambutku. “Percaya padaku, aku akan berusaha untuk mendapatkan restu” katanya.


"Siapa yang akan memberi kalian restu? Ibu tidak akan memberi restu. Rya, suruh anak itu pulang atau ibu yang mengusirnya pergi" ucap ibu dingin. Aku tau kali ini ibu akan marah padaku.


Mataku membulat melihat kedatangan ibu. "Rya tau" ucapku lirih. Aku berdiri dari tempat dudukku. Menarik lengan Jonathan, mengajaknya untuk keluar. "Pulanglah dulu, hari ini tidak mungkin membuat pemikiran ibu berubah dengan cepat. Keputusan dia yang sekarang adalah keputusan yang menurut ibu benar. Tunggu sampai keadaan membaik baru pikirkan caranya"


"Baiklah, aku pulang" Jonathan meraih lenganku menuju jemariku. Sedikit lebih lama, karena dia tidak rela berpisah untuk saat ini.


"Pulanglah, hati-hati di jalan" pesanku.


Setelah kepulangan Jonathan. Ibu mengajakku ke kamar dan mengajakku bicara empat mata.


"Maaf kalau ibu mengatakan hal ini. Ibu tau, dia pria pertama yang kamu kenalkan pada ibu. Tetapi, pasti kamu tau umur kalian berbeda cukup jauh. Jadi pandangan orang lain akan aneh, ibu hanya tidak ingin orang lain memandang rendah anak ibu. Untuk itu, lebih baik kalian berpisah. Walau mungkin menyakitkan untukmu, lebih baik menyakitkan diawal dari pada dikemudian hari sampai nanti kalian berkeluarga" jelas ibu yang sangat menyayangi dan mengkhawatirkan diriku.


Tak terasa air mataku mengalir dan tak mampu membendungnya lagi. Astaga, aku menangis. Aku lemah. Bodoh, aku begitu menyukainya hingga tak mampu melepaskannya pergi. Tuhan, tak bolehkah aku bersamanya? Seketika ibu memeluk diriku erat dan aku menangis sejadinya. Karena memang inilah yang harus kuterima, melanggar aturan menyukai pria yang lebih muda, yang merupakan aib bagi kebanyakan orang.


Setelah menangis dipelukkan ibu, aku kembali ke kamar. Merenungkan ucapan ibu yang memang benar adanya.


Keesokkan harinya di kampus, seperti biasa Jonathan menjemputku. "Kau ada test?“ tanyaku ketika kami dalam perjalanan ke kampus.

__ADS_1


"Tidak, ada apa?“ tanyanya.


"Ayo piknik" ajakku.


Kata-kata ajaibku seketika membuat Jojo menghentikan motornya. Untung jalanan sepi. Kalau tidak kami pasti dimarahi oleh pengendara lain.


Ia menolehkan kepalanya padaku. "Kakak serius"


"Eum... Kita piknik hari ini sepuasnya besok baru pulang" ungkapku. Entah kenapa aku ingin berlibur menjauh dari rutinitasku. "Aku akan ambil cuti kerjaku. Bagaimana?“ tanyaku antusias.


Melihatku antusias, membuatnya jadi ikut antusias. "Kakak serius?“ tanyanya semangat.


Kuanggukkan kepalaku mantap. Diapun menyetujui usulanku. Kami akhirnya memilih berlibur. Jonathan mengajakku ke pantai dan menyewa tempat untuk kami bermalam nanti.


"Ayo jalan-jalan, katanya di sini ada air terjun" ajakku antusias.


Jonathan mengikuti ucapanku. Kami menikmati waktu berdua. Berjalan menyusuri hutan bakau, menyusuri kedalaman hutan untuk menemukan air terjun tersembunyi. Setelah satu jam berjalan, akhirnya kami menemukan air terjun tersembunyi itu.


"Wah...cantik"


"Lebih cantik kamu" ucap Jojo yang seketika membuatku bersemu.


"Tukang gombal" timpalku.


"Sungguh, kakak cantik hari ini" ungkapnya sambil menyentuh daguku mengarahkan untuk menatapnya.


Kedua mata kami bertemu, berbicara melalui tatapan kami. Saat jarak kami tinggal sejengkal saja. Mataku mengerjap. "Ayo pulang, sudah siang. Aku lapar" ucapku mengalihkan pandanganku.

__ADS_1


Jojo tersenyum. Dia pasti paham kalau aku salah tingkah. "Ayo makan" ia menggenggam jemariku erat. Beruntungnya diriku dicintai oleh pria ini. Tuhan, tak bisakah Kau ijinkan aku bersama pria di sampingku ini untuk selamanya? Bolehkah kami hiduo bersama?


#####


__ADS_2