Bad Feeling

Bad Feeling
Reward


__ADS_3

“Kau mau kemana?” tanyaku pada Jonathan yang mengekor di belakangku padahal aku sudah menyuruhnya pulang lebih dulu karena aku ada urusan. Aku sudah menjelaskan padanya untuk kali ini tidak pergi bersama dulu. Tetapi dia terus mengekor di belakangku seperti sekarang.


“Tentu saja ikut kakak” sahutnya sambil tersenyum tanpa dosa. Matanya melengkung indah sempurna.


“Siapa yang menyuruhmu ikut, aku ada urusan dengan temanku dan aku tidak ingin mereka bertanya tentangmu. Kau kan sudah berjanji akan merahasiakan hal ini, sebelum aku siap mengumumkannya. Lagipula aku hanya sebentar saja dan..” sebuah kecupan menghentikan ocehanku. Pelakunya tidak lain adalah Jonathan. Bocah ini memang lebih sering melakukan tindakan daripada ucapan.


“Iya.. Iya kakak cerewet. Aku hanya ingin melihat dari jauh. Apa kakak baik-baik saja atau tidak. Aku hanya takut pacarku kenapa-kenapa” ada nada khawatir di dalam ucapannya.


Kuhela napas. “Jangan berlebihan. Aku hanya ke toko buku bersama Erna lalu setelah itu ke cafe lembali bekerja. Aku bisa menjaga diri sendiri dan... “


Tiba-tiba lenganku ditarik dan membawa tubuhku ke dalam pelukkannya. “Apa salah jikalau aku mengkhawatirkan kakak? Aku hanya tidak ingin kakak pergi sendirian tanpa aku. Rasanya hati ini tidak rela mengetahui kakak pergi sendiri tanpa aku. Aku hanya takut ada pria jahat yang nanti tiba-tiba datang dan menggodamu” lagi-lagi dia berdrama.


“Ck...mana ada. Cepat lepaskan, jika orang lain tau bisa masalah” Jonathan melepaskan pelukkannya dengan sedikit tak rela. “Aku akan memberimu kabar” imbuhku. Aku tau dia akan seperti ini, setelah berkencan dengannya, sekalipun aku tidak diijinkan pergi tanpa dirinya. Hingga tak ada waktu sendirian kecuali di kelas, rumah, kamar mandi dan kerja. Walau sebenarnya aku kurang begitu leluasa, entah kenapa keberadaan Jonathan menjadi kebiasaan juga untukku.


“Janji?“ kuanggukkan kepalaku, lalu membelai rambutnya menenangkan bocah itu. “Kalau begitu kakak boleh pergi sekarang” ucapnya yang akhirnya melepasku pergi.


Aku tersenyum kearahnya serta melambai sebelum berpisah dengannya. Ada perasaan lega yang kurasakan. Kupikir Jonathan sudah semakin dewasa, dia tidak begitu memaksakan kehendaknya lagi. Mungkin inilah yang disebut kepercayaan.


Kakiku melangkah ke halte bus. Hari ini Erna mengajakku pergi ke toko buku, ada pameran di sana dan juga bazar. Bagi penggila buku seperti kami pasti tidak akan pernah absent ke acara seperti ini.


Setelah 10 menit, aku tiba di toko buku yang Erna maksud. Suasananya sangat ramai dan banyak buku di sana. Ya Tuhan jangan biarkan diriku lapar mata dan menghabiskan banyak uang untuk membeli buku.


Aku harus berhemat demi biaya kuliahku, jika aku menghabiskan tabunganku bisa-bisa aku harus berhemat lebih untuk bulan depan. Erna mengejutkanku. “Lama sekali, lihat aku sudah dapat buku sebanyak ini” ucapnya dengan tumpukkan buku di lengan kirinya. Ya ampun anak ini, dia pasti telah menghabiskan setengah dari gajinya.

__ADS_1


“Masih ada kuliah tadi. Maaf. Aku hanya akan beli buku yang kubutuhkan. Jika aku kehabisan bahan bacaan, aku bisa pinjam bukumu nanti” ucapku sambil menunjukkan senyum manisku.


“Ish... Seperti biasa, tukang hemat” sahutnya. Erna selalu paham tentangku. Ia memang sahabat baikku. Sudah hampir 10 tahun aku berteman dengannya dan sudah seperti kakak beradik kami berdua.


Sudah satu jam kami bergelut dengan tumpukkan buku dan aku hanya membeli dua buku yang kubutuhkan untuk tambahan informasi mata perkuliahanku. Dan tak lupa aku memberikan kabar pada Jonathan kalau aku sudah selesai di toko buku dan kini menuju ke cafe untuk bekerja.


Baru juga kami berdua sampai. Dering handphone milikku berbunyi. Kulihat nama “Jojo”. “Kau masuklah dulu, nanti aku menyusul” ucapku menyuruh Erna memasuki cafe terlebih dahulu.


“Ya, ada apa?“ sahutku menjawab telpon darinya.


“Sudah sampai?“ tanya suara di ujung saluran.


“Iya, baru sampai depan cafe” jawabku, melirik dalam cafe. Tidak ada manager dan Erna sudah menghilang ke dalam cafe.


“Kenapa lagi?“


“Aku sudah merindukanmu”


Mendengar ucapan recehnya sungguh membuatku bersemu. “Kau ini. Aku harus kerja sekarang” ucapku sedikit salah tingkah dibuatnya.


“Tunggu sebentar, sebentar lagi aku sampai” serunya di ujung sambungan. “Yup, akhirnya. Kakak”. Suara Jojo terdengar di dua tempat antara di telpon dan di luar telpon.


Kualihkan pandanganku dan melihatnya melambai padaku. Kuhampiri dirinya. “Kenapa ke sini?“

__ADS_1


“Ini untuk pacarku” ia memberikan goodie bag padaku dan saat kulihat isinya adalah beberapa buku yang sempat kubaca tadi dan aku memilih tidak membelinya karena buku itu kurang begitu penting bagiku sekarang.


“Kau... Ini kan?” alisku bertaut bingung, kenapa dia bisa tau semua buku yang kusukai tadi.


“Hadiah untuk pacarku” ia tersenyum manis.


“Jadi kau mengikuti tadi?“ tanyaku pura-pura kesal.


“Mau bagaimana lagi?” ia menggaruk belakang kepalanya.


“Kenapa membelikan semua ini? Gunakan uangmu untuk hal lain, kenapa membeli buku tidak penting seperti ini? Ini namanya pemborosan” kunasehati dirinya.


“Aku hanya ingin memberikan hadiah untuk pacarku. Apa salahnya?” raut wajahnya berubah menjadi kecewa dan murung. Wajahnya tertunduk memandangi jalanan.


“Jangan diulangi lagi, okey? ” ia mengangguk patuh. Walaupun sebenarnya apa yang dilakukannya hanya untuk membahagiakanku namun aku ingin mengajarinya cara untuk berhemat. Aku tidak ingin ia menghabiskan uangnya untuk sesuatu yang tidak perlu dan tidak begitu penting. Apalagi hanya untuk membelikanku hadiah.


"Maafkan aku, aku tidak akan melakukannya lagi" ucapnya menyesal. Melihatnya menyesal dan sudah mengerti kalau harus menggunakan uang seperlunya, aku jadi tenang.


Namun apa yang dilakukannya kali ini dapat kutoleri, sekali lagi aku bisa dengan mudah memaafkan kelakuannya. Apakah ini yang dinamakan pengertian dalam menjalin sebuah hubungan? Apa yang kulakukan sekarang mungkin akan kusesali nanti, tetapi aku ingin tetap melakukannya hanya karena aku memang ingin memberikan reward atas apa yang dilakukannyabpadaku kali ini.


Kutempelkan hidungku pada hidungnya lembut, seolah aku memberikan ciuman kepadanya melalui hidungku. “Terima kasih” ucapku kemudian berlari masuk ke dalam cafe. Aku tidak menunggu respon pria yang sedang duduk di atas sepeda motornya. Aku juga lupa kalau sekarang kami berada di pinggir jalan. Aku lupa akan keadaan di sekitarku bahkan aku tidak mempedulikan apakah ada orang lain yang mengenal kami, melihat apa yang kami lakukan. Aku hanya melakukan apa yang ada di kepalaku saat itu. Ketika aku menyadari apa yang aku lakukan barusan, aku malu sendiri. Aku malu telah melakukan hal memalukan seperti ini. Ah... Apa yang barusan kulakukan? Apa kekanak-kanakan? Apa yang dipikirkan Jojo nanti? Apa aku tidak perlu menemuinya selama satu minggu? Memang apa salahnya memberikan reward untuk pacarnya sendiri? Tetapi ini memalukan. Aku memasuki cafe dan mungkin orang yang melihatku sekarang seperti udang rebus. Wajahku memanas dengan sendirinya. Ah, ini memalukan. Aku langsung masuk toilet untuk mendinginkan wajahku, sebelum Erna menyadari apa yang terjadi padaku.


###BadFeeling

__ADS_1


__ADS_2