
Manusia merancangkan sesuatu yang indah untuk kehidupannya. Kehidupan bahagia menurut pola pikir dan gambaran mereka. Namun mereka lupa, siapa pemilik kehidupan di dunia ini. Ya, Tuhan. Dialah Sang Pencipta kehidupan ini, yang berkehendak penuh atas semua hidup manusia ciptaan-Nya. Apa yang terjadi di dunia ini semua atas ijin dari-Nya.
###BadFeeling
Setelah akhirnya aku mendapatkan ijin untuk datang ke rumah Jonathan, kuhampiri motorku dan bergegas mengikuti mereka di belakang. Masih dengan perasaan yang sama, aku masih belum lega kalau belum melihat sendiri bagaimana keadaan Jonathan. Apalagi mengingat marahnya Olive kepada sang ibu saat menyangkut sang kakak barusan.
Olive adalah anak penurut, dia jarang sekali bersitegang dengan orang tuanya. Karena dia tidak ingin melihat orang tuanya sedih atau marah. Terlihat saat dia tidak berani mengungkapkan pendapatnya, ketika aku dan Jonathan disidang oleh keluarganya.
Kami akhirnya tiba di halaman rumah Jonathan yang cukup luas. Ibu Jonathan menghentikan motornya dan memarkirkannya di depan pintu garasi. Lalu turun dan memilih masuk rumah terlebih dahulu. Ia memang tidak menyukai keberadaanku di sini, tetapi dia juga tidak melarang diriku untuk berkunjung di rumahnya. Cukuplah itu. Dahulu kami memang pernah berhubungan cukup baik ,namun setelah mengetahui hubunganku dengan Jonathan seketika hubungan baik itu sirna dan berganti dingin tak bersahabat seperti sekarang ini.
Olive menungguku untuk masuk bersama. Kuparkirkan motorku dan segera menghampiri Olive. "Mungkin kak Jojo berbeda dari sebelumnya, jadi kakak harus bisa memahaminya ya?" kuanggukan kepalaku paham dengan segala kemungkinan buruk yang akan kulihat sebentar lagi. Namun aku masih belum siap menerima kenyataan buruk yang segera akan kuketahui kebenarannya. Olive menggandeng tanganku, mengajakku memasuki rumahnya. "Setelah putus dari kakak, kak Jojo mengurung diri di kamarnya, dia jarang keluar rumah dan hanya pergi ke kampus saja. Dia juga jarang bicara dengan orang rumah. Namun sebulan yang lalu dia sempat ceria". Mendengar hal itu, otakku seketika mereview kejadian saat berada di kantor Nick. Dia terlihat begitu frustasi dan tak punya keinginan untuk melanjutkan hidupnya. Wajahnya terlihat pucat dan muram kala itu. Sampai ia berpikir untuk mengajakku kawin lari. Senekat itukah dirinya, sampai tak peduli akan keluarga yang ditinggalkannya? Lalu saat kami berada di halte bus waktu itu, apakah sikapku yang dengan berani memberikan ciuman perpisahan untuknya sangat berpengaruh terhadap dirinya sampai sejauh itu. Mampu membuatnya kembali bersemangat menjalani setiap kehidupan dan masalah yang dialaminya. "Tetapi kemudian terjadi kecelakaan itu dan semua jadi seperti sekarang ini" ucapan Olive membuat jantungku semakin tak siap untuk menerimanya.
Jantungku berdegup cukup cepat, aku belum siap, bagaimana caraku menghadapi Jonathan yang menurut Olive berbeda setelah kecelakaan yang dialami oleh Jonathan. Apalagi perpisahan waktu itu, aku dengan berani sampai memberikan ciuman untuknya. Dan kini aku harus menemuinya. Hati ini tak tenang dibuatnya, cemas memikirkan apa yang akan dikatakan dan cemas akan kenyataan tentang keadaannya yang sebenarnya. Apa yang kutakutkan selama ini terjadi atau tidak, aku masih cemas. Semoga hal buruk tidak benar-benar terjadi. Kumohon Tuhan.
__ADS_1
Mata Olive menjelajah dan berkeliling di ruangan pertama yang kami lewati. Ia mengajakku untuk lebih lagi memasuki rumahnya. Terlihat seperti ruangan keluarga yang nyaman. "Kurasa kakak ada di dalam kamarnya sekarang, biasanya dia akan di sini melihat tv atau di kamarnya" ucap Olive yang semakin membuatku tak tenang. Dia mengajakku menaiki tangga memutar di ruangan itu. Yang kuduga menuju kamar Jojo berada dan memang benar adanya. Ada banyak pintu di lantai dua. Namun Olive mengajakku ke kamar yang ada di ujung lantai tersebut.
Kami berhenti di depan pintu berwarna putih biru dan di depan pintu itu tertulis "don't disturb". Dia tipe pengganggu kehidupan orang lain, seperti yang dia lakukan padaku mengganggu kehidupanku sampai sekarang, tetapi dia sendiri tidak mau diganggu oleh orang lain. Dasar.
Olive membuka pintu tersebut. Langsung terlihat seseorang yang sedang duduk menatap keluar jendela yang tertutup kain putih yang melambai tertiup angin yang masuk. Pria itu membelakangi kami. Syukurlah apa yang kutakutkan tidak pernah terjadi. Tidak ada bagian tubuhnya yang terluka maupun hilang, karena dari pengamatanku anggota tubuhnya masih lengkap tidak ada yang kurang dan masih berfungsi seperti sebelumnya. Karena kulihat dia masih sempat bergerak menggambar sesuatu di atas kertas gambar di hadapannya.
"Kak Jojo" Olive mencoba memanggil kakaknya, namun orang yang dipanggil tak merespon sama sekali.
Tanpa menunggu lama, kuhampiri dia. Melihat kondisi dia yang sebenarnya. Dia menatapku sebentar tanpa ekspresi, datar, tanpa sadar airmataku menggenang dan mulai berjatuhan tanpa dikomando. Kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya menatap jendela kamarnya, entah apa yang dilihatnya. Seketika mataku membola dan air mataku terhenti seketika, karena respon yang kudapat tidak seperti yang kuharapkan. Dia seperti tidak mengenalku dan menganggapku tidak ada. Ia mengabaikanku. Pandanganku seketika teralih dan menatap Olive mencari jawaban atas keanehan akan sikap Jonathan padaku. Apa dia membenciku sampai mengacuhkanku seperti ini?
"Apa maksud ucapanmu? Apa dia amnesia?" tanyaku. Itulah pertanyaan yang mampu terlintas diotakku. Karena biasanya orang hilang ingatan akan disebut amnesia.
"Lebih dari itu, kecelakaan yang menimpa kak Jojo membuat beberapa syaraf diotaknya rusak dan Dokter telah angkat tangan dengan kondisi kesehatannya. Ayah dan ibu sudah membawanya kebeberapa dokter tetapi jawabannya tetap sama, Kak Jojo tidak bisa disembuhkan, kecuali mukjizat dari Tuhan. Dia memang terlihat biasa, namun tidak pernah merespon apapun yang disampaikan oleh orang lain kepadanya. Dia hanya melakukan apa yang dia inginkan dan emosinya juga tak terkontrol. Dia sering melempar barang dan melukai tubuhnya. Pernah ibu mendapati kak Jojo membenturkan kepalanya ke tembok sampai memerlukan beberapa jahitan." jelas Olive yang tanpa sadar membuatnya meneteskan airmata apalagi saat kutemukan bekas luka jahitan di pelipis kanannya. Dapat kulihat dari ekspresi yang tersirat dari wajah Olive yang terpukul dengan kondisi yang menimpa kakak laki-laki dia satu-satunya. Orang yang dia sayangi telah melupakannya.
__ADS_1
"Dia tertabrak atau bagaimana?“
“Sebelum kejadian itu, ia bertengkar dengan mama. Kak Jojo ingin ngekost di luar, ia ingin mencoba hidup mandiri tetapi ibu pikir kak Jojo hanya mencari alasan untuk menemui... Kak Rya dengan mudah. Setelah itu kak Jojo berangkat kuliah dengan motornya seperti biasa, tetapi yang namanya emosi pasti membuat orang gelap mata. Dan kecelakaan itupun terjadi, kak Jojo sebenarnya ingin menghindari pejalan kaki tetapi ada mobil pick up melaju cepat dan menghantam motornya. Ia terpental hingga 5 meter dari lokasi kejadian. Untungnya ada orang baik yang membawa kak Jojo ke rumah sakit"
Mendengar penjelasan Olive, airmataku juga tak mampu terbendung lagi, tangisanku pecah, aku menangis sejadi-jadinya dan kemudian memeluk Jojo erat. Orang yang kurindukan dan kucintai, kini melupakanku untuk selamanya. Tak ada hukuman sesakit ini, dilupakan dan bahkan tak dikenali oleh orang yang kita sayangi untuk selamanya. Ya Tuhan, kenapa hukuman ini terasa begitu menyakitkan. Apa karena kami terlalu berani melanggar takdir karena saling mencintai.
Kupeluk erat tubuh Jonathan tetapi sang pemilik tak menginjinkanku dan bahkan mendorong tubuhku menjauh darinya. Ia berteriak. "Maafkan aku, maaf. Seharusnya aku lebih berani sedikit egois untuk mencintaimu. Aku hanya terlalu takut berharap lebih darimu karena aku tidak pernah yakin dengan hubungan kita selama ini. Maaf aku tidak pernah mempedulikan perasaanmu untukku. Maafkan aku, kumohon jangan seperti ini, jangan melupakan orang-orang disekitarmu seperti ini... Kumohon kembalilah seperti dulu, Jojo yang kukenal. Tak apa jika kau tak mengenalku tetapi tidak seperti ini" Jojo masih saja mendorong tubuhku berusaha menyingkirkanku. Aku hanya mampu bertahan dan memeluknya lebih erat sampai dia lelah sendiri dan menyerah membiarkan aku memeluknya.
"Kak Rya" ucapnya yang membuat tangisanku terhenti dan menatap wajahnya. Kedua pasang bola mata kami bertemu, aku hanya ingin memastikan apa yang kudengar tadi sungguhan atau hanya mimpi semata. Namun kudengar lagi suara Jojo memanggilku lagi. Akan tetapi matanya kosong tak bernyawa. Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini. Kenapa hanya dia saja yang melupakanku, bagaimana denganku? Bagaimana caraku melupakannya?
Airmataku tak terkontrol lagi. Tuhan ini terlalu menyakitkan, bisakah Engkau mengembalikan kesadaran Jonathan seperti sebelumnya? Akhirnya aku mengetahui kebenaran yang lebih buruk dari semua pikiran burukku ketika aku berda dalam perjalanan menuju kemari. Memang tidak ada yang hilang dari tubuhnya tetapi jika memorinya hilang bukankah sama saja dia menghilang untum selamanya. Tidak bisa mengenali dan bahkan tidak mau mengenali orang lain, dia seperti mempunyai dunia sendiri yang diciptakan olehnya dan tidak mengijinkan orang lain untuk memasuki dunianya.
Mungkin ini hanya sepenggal kisah yang mengajariku untuk tidak begitu takut bersikap egois demi orang yang kita cintai. Namun, dilain sisi jangan pernah mengabaikan perasaan orang lain untukmu dan satu hal lagi, jika kita ingin melawan takdir kehidupan, setidaknya kita perlu ijin dari Tuhan sang pencipta kehidupan. Karena jika Tuhan berkenan dan berkehendak semua akan dilancarkan oleh-Nya.
__ADS_1
###BadFeeling
Selesai