Bad Feeling

Bad Feeling
Our Love


__ADS_3

Mentari pagi bersinar dengan ramahnya, menyapaku yang kini sedang termangu di depan jendela kamar. Kubalas senyum ramahnya. Salah satu ciptaan Tuhan yang begitu indah. Pemberi kebahagiaan ketika sinarnya mengalahkan kegelapan sang malam.


Sebuah suara membuat lamunanku teralihkan. “Kak, disuruh ibu sarapan” seru Eva dari luar pintu kamarku.


“Tinggal saja dulu, aku belum mandi. Aku masuk siang, malas mandi” balasku dari dalam. Aku enggan beranjak, apalagi disambut hangatnya sang surya seperti ini. Aku ingin berlama-lama menikmati hangatnya pagi, karena jarang sekali aku merasakannya.


“Terserah” timpalnya. Dari nada suaranya ia terlihat cuek dan masa bodoh denganku, ya begitulah dia. Adik keduaku ini memang sedingin es. Namun di balik sikap dinginnya ada kehangatan yang tersembunyi di dalamnya.


Kuhirup aroma rerumputan yang semalam terguyur hujan. Aroma menenangkan, apalagi ditemani oleh siulan burung yang bertengger pada pohon mangga. Pagi ini benar-benar bersahabat. Rasanya aku tidak ingin pergi kemana-mana. Handphoneku berbunyi. Kuambil handphone yang tergeletak di atas nakas dekat dengan jendela tidak sampai membuatku beranjak ketika mengambilnya. Kulihat ada pesan masuk. Jonathan. Bocah pengganggu kehidupanku yang kini resmi menjadi pacarku. Tunggu, jangan sampai orang lain mengetahui hubungan kami. Karena kami merahasiakannya dari orang lain.


Kubaca isi pesannya, “good morning my shinning heart. God bless you” walau terlihat receh tetapi sempat membuat bibirku melengkung membentuk sebuah senyuman dan berucap 'God bless you too'. Tak kubalas pesannya, karena aku tidak suka menanggapi kata-kata romantisnya, atau lebih tepatnya aku bingung harus membalasnya dengan jawaban apa.


Lagi-lagi pintuku diketuk. Kali ini bukan Eva tetapi ibu. Ia berpamitan padaku sebelun beliau pergi mengantar sekolah adik bungsuku dan berangkat ke tempat kerja. “Rya” panggil ibu seketika membuatku beranjak dari depan jendela menghampiri pintu. Kubuka pintu kamarku dan terlihat ibu cantikku berada depannya.


“Kamu ini, masih belum mandi juga” ibu mencolek hidungku dengan jari telunjuknya. Aku hanya tersenyum menunjukkan deretan gigiku. “Ibu berangkat dulu, jangan lupa sarapan. Ibu sudah siapkan di atas meja makan. Buruan mandi, jangan malas-malas, entar rejekimu dipatok ayam” ucap ibu menasehatiku.


Kupeluk ibuku sayang. “Iya ibuku sayang, ibu hati-hati di jalan” kucium tangan ibu sebelum beliau meninggalkanku.


Setelah kepergian ibu, aku pun bergegas mandi. Karena sarapanku tidak enak jika nanti dingin. Selesai mandi dan berbenah diri. Kakiku menuruni anak tangga. Rumah sudah tidak berpenghuni, tinggal diriku sendiri.


Kakiku melangkah menuju dapur, namun sebuah bel pintu menghentikan langkahku dan membuatku berputar arah menuju pintu keluar, untuk melihat siapakah tamu yang datang berkunjung di pagi hari seperti sekarang ini.


Ketika kubuka pintu, seketika orang yang berdiri di depan pintu tersenyum padaku kemudian menghambur kepelukkanku. Jonathan pelakunya. “Aku rindu kakak” ucapnya.


Aku yang semula terkejut atas sikapnya, kini membalas pelukkannya dan menepuk lengannya pelan. Agar ia bersedia melepaskan pelukkan eratnya dari leherku. Aku sedikit kesulitan untuk bernapas karena terlalu erat. Jonathan melepaskan pelukkannya dariku. “Apa ibu kakak atau adik kakak di rumah?“ alisku bertaut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulutnya. Kugelengkan kepalaku menjawab pertanyaannya. Dan seketika lengkungan indah dari bibir Jonathan tercipta. Ia seperti menang game jutaan rupiah.


"Boleh aku masuk rumah kakak?" tanyanya lagi, ada makna tersembunyi dari tatapan matanya.


Bibirku mengulas senyuman untuknya. Mungkin ini akan jadi pertama kalinya dia berkunjung di rumah kekasihnya. "Apa yang kamu pikirkan sekarang? Memasuki rumahku dimana tidak ada satu orang pun di rumah?“ godaku padanya. Aku paham apa yang ada di dalam otaknya sekarang. Segala hal mesum yang biasa terpikirkan olehnya.


Ia tersenyum tersipu malu karena pikirannya berhasil tertebak olehku. Dasar bocah mesum.


"Aku akan mengijinkanmu masuk ke rumah hanya untuk sarapan, jika kau menginginkan hal lain, lupakan dan pergilah" imbuhku.


Ia mengangguk setuju. Aku tau, dia akan menuruti ucapanku. Aku juga mampu mengontrol tindakan mesumnya. Ia menghargai kekasihnya, jadi dia tidak akan melakukan hal yang nantinya akan merusak kekasihnya.


Kami masuk ke dalam rumah, terlihat kebahagiaan terpancar jelas diwajahnya. Tangannya pun terus saja menggandeng tanganku. Mungkin kali ini kami bisa disebut pasangan yang lagi kasmaran. Ia menyentil hidungku dengan telunjuknya. "Kita mirip pengantin baru ya, di rumah berdua seperti ini"


Kuajak Jonathan langsung menuju dapur, tempat ibu sudah menyiapkan sarapan untukku. "Duduklah sebentar" ucapku menyuruhnya untuk menunggu sebentar selama aku mengambilkan piring untuknya.


"Kakak yang masak?“ tanya Jonathan ketika melihat hidangan di atas meja, sembari duduk di salah satu kursi, menyamakan dirinya.


“Bukan, ibu yang masak" sahutku mengambil piring dan alat makan di rak.


"Lain kali kakak yang masak untukku ya?“ pintanya. Oh Tuhan, sikap manja ini mulai dikeluarkan olehnya lagi.


“Okey" sahutku yang sudah ikut duduk di sampingnya. Kuambilkan sarapan dan meletakkannya di atas piring yang tadi telah kuambil, kemudian menyodorkannya di depan Jonathan.


Jonathan tersenyum, mengucapkan terima kasih padaku. "Biarkan aku yang memimpin doa makan" celetuk Jonathan yang membuatku tersenyum mendengar celotehannya.

__ADS_1


Kuanggukkan kepalaku menyetujui usulnya. Ia mengulurkan tangannya padaku saat aku sedang melipatkan kedua tanganku. "Kita berdoa seperti ini" dilepasnya lipatan tanganku dan mengambil salah satu telapak tanganku, menggenggamnya erat.


Kubiarkan dirinya melakukan kehendaknya. "Tuhan Yesus terima kasih untuk berkat jasmani yang telah Engkau berikan kepada kami. Terima kasih kepada ibu kak Rya yang telah mempersiapkan sarapan kami dan tidak lupa kami berterima kasih banyak atas kesempatan langka seperti ini, sarapan di dalam rumah. Kiranya Tuhan memberkati makanan kami supaya makanan kami dapat menjadi kekuatan di dalam diri kami. Terima kasih Tuhan Yesus, kami serahkan doa kami ke dalam tangan kuasa-Mu, halleluya amin" Jonathan mengakhiri doanya tetapi genggaman tangan kami belum juga terlepas.


"Lepaskan, bagaimana caraku memakan sarapanku, kalau kamu tetap memegang tanganku seperti ini?“ kusodorkan tanganku yang masih digenggamnya erat.


"Pakai saja yang sebelah, biarkan seperti ini" ucapnya lagi-lagi senyum menghiasi wajahnya kali ini.


"Baiklah“ aku menyerah dan mengikuti keinginannya. Ketika aku kesulitan mengambil makananku. Jonathan akan menyuapiku. Biarlah kami menikmati momen kebersamaan kami yang jarang sekali terjadi ini.


Rasanya aku tidak ingin mengakhiri momen ini, aku juga merasakan kebahagiaan ketika kami menghabiskan sarapan kami. Genggaman hangat, sentuhan kecil, senyuman bahagia menjadi bumbu dalam sarapan pagi kami.


Usai sarapan, kupilih membereskan kekacauan yang kami berdua buat. Kubawa alat makan yang kami gunakan tadi ke bak cuci piring dan mencucinya di sana. Sebuah tangan tiba-tiba memelukku dari belakang saat aku tengah mencuci piring kotor. "Calon istriku" bisiknya tepat di samping telingaku.


"Apa yang kamu lakukan, lepaskan. Jangan menggangguku, aku harus menyelesaikan ini dulu, baru kita bisa berangkat ke kampus" ucapku berusaha menyingkirkan kepala Jonathan yang bertengger pada bahuku dan pipinya menempel pada leherku. Ini membuatku sedikit kurang nyaman. Karena ada perasaan aneh menggelitik perutku dan seketika membuatku merinding.


"Kakak lanjutkan saja, aku tidak mengganggu. Aku hanya ingin seperti ini. Memeluk kekasihku, calon istriku, calon ibu dari anak-anakku"


"Jangan berkhayal, siapa yang mau jadi istrimu bahkan jadi ibu dari anak-anakmu? Aku tidak mau" ucapku saat piring terakhir sudah selesai kubilas dan meletakkannya di tempat pengering.


"Ooo..." Seketika Jonatan memutar tubuhku menghadap ke arahnya. Mataku membola saat Jonathan melakukan hal itu. Mata kami bertemu, "sungguh kakak tidak bersedia jadi istriku atau jadi calon ibu dari anak-anakku nanti?“ tanyanya Jonathan menatapku serius.


Kuanggukkan kepalaku berniat menguji kesabaran dirinya. Jonathan menghela napas, ia tak habis pikir akan tanggapan dariku. "Baiklah, akan kupaksa kakak jadi istriku kalau begitu" ucapnya. Seketika memberiku ciuman, seperti biasa ia menciumku paksa. "Masih tidak mau?“ tanyanya. Kugelengkan kepalaku dan setelah itu Jonathan kembali memberiku ciuman lagi.


"Mau atau tidak?“ tanyanya lagi.


"Jawab dulu, baru aku hentikan" ucapnya disela-sela serangannya padaku.


Kudorong tubuhnya agar menjauh dariku. "Okey... Okey... Aku menyerah" sahutku tak mampu menahan lagi serangan ciuman Jonathan padaku.


"Ah... So cute" ia mencium hidung sebentar kemudian beralih ke bibir dan enta sejak kapan aku ikut ambil bagian dalam ciuman ini.


Selesai membereskan rumah, kami berangkat ke kampus. Di perjalanan menuju kampus. Jonathan memaksaku untuk memeluknya dari belakang dengan menarik kedua tanganku melingkar di tubuhnya, menggunakan sebelah tangannya. Kenapa kau membuatku seperti bocah saja. Pipiku memerah sampai ke telinga karena tingkah Jonathan.


Ketika kami tiba di kampus. Aku segera turun saat motor Jonathan berhenti. Aku tidak ingin menjadi bahan tontonan lagi. Aku ingin segera pergi menjauh darinya, kabur kemana saja namun sialnya sebuah tangan menghentikan niatanku dan menyuruhku untuk tinggal menunggunya.


"Kakak mau kemana? Kita masuk sama-sama" ucapnya. Bibirku mengulas senyum terpaksa. Kenapa tidak kau biarkan aku pergi?


"Kak Jojo" panggil seseorang. Jonathan menoleh ke sampingnya dan menemukan sosok Olive, sang adik berdiri di samping motornya. Ia menatap kaget kami berdua.


"Olive" ucap Jonathan menyadari keberadaan sang adik.


"Kalian?“ kedua alis Olive naik ke atas, ia mencoba menebak hubungan kami dan sepertinya kami tertangkap basah olehnya.


Mataku terbelalak, aku tidak ingin hubungan ini diketahui orang lain, kenapa harus ketahuan secepat ini, apalagi oleh adiknya. Aku berusaha melepaskan tanganku, Jonathan yang paham akan kecemasanku bukannya membiarkanku pergi namun malah tetap mengeratkan genggamannya dariku.


"Kamu setuju kan, Live?“ tanyanya santai, seakan sang adik menyetujui segala pendapatnya.


"Kalau pun aku tidak setuju, memangnya ada pengaruhnya bagi kakak?" ungkap Olive yang paham akan perasaan sang kakak.

__ADS_1


Jonathan tersenyum menanggapinya. Olive menatap padaku. "Kakak gampang banget nerima playboy ini? Yakin kakak mau menghabiskan seluruh waktu kakak untuk dia?" Olive menanyaiku.


Bibirku tersenyum padanya, karena dia tidak begitu mempermasalahkan hubungan kami berdua. "Sebenarnya aku juga tidak mau menerima dia, tetapi karena aku merasa kasihan kalau dia jomblo dan tidak terurus makanya..." kukerlingkan mataku ke arahnya. Ingin melihat ekspresi kesal dia. Astaga ini lucu sekali.


Bibir Jonathan seketika mengerucut, pipinya mengembung dan dadanya naik turun menahan kesal. "Jomblo tidak terurus? Wah... Kak Rya ini..." ia tidak terima. Aku dan Olive seketika menertawainya. "Aku ada yang urus" ungkapnya.


"Iya, diurusin mami sama emak, ya kan? Syukur ada yang mau ngurusin kamu tau kak?“ ucap Olive lagi-lagi menggoda sang kakak.


Jelas ini sangat lucu, apalagi melihat ekspresi kesal Jonathan yang tidak terima kalau dikatai jomblo oleh kami berdua.


"Aku kesal, aku hukum kakak" ucapnya seketika membuatku membulat kaget. Apalagi kecupan tiba-tiba yang ia lakukan di depan sang adik, membuat gadis yang beranjak remaja ini memekik seketika.


Usai melakukan hal itu. Kupukul bocah tak tau malu ini. Ia mengaduh kesakitan. "Kamu ini ya, ini tempat umum dan Olive juga ada di sini, bisa-bisanya melakukan hal itu"


"Siapa suruh kakak dan Olive membuatku kesal, jika aku kesal aku akan melakukan hal itu. Ayo buat aku marah lagi kalau berani"


"Kakak aja yang cari kesempatan dalam kesempitan." sahut Olive.


Kali ini mukaku pasti seperti kepiting rebus di depan Olive. Jelas malu, iya. Sang kakak menciumku di depan kedua matanya. Astaga, apakah aku berpengaruh buruk untuk bocah ini?


“Sudah kak Rya, jangan diurus lagi tukang modus ini. Mending kita cari makan aja" Olive menarik lenganku dan mengajakku pergi meninggalkan Jonathan.


"Liv, kamu mau bawa kemana pacarku?“ seru Jonathan.


"Pergi jauh dari tukang modus kayak kamu. Jangan dilihatin kak Rya, entar dianya ngelunjak" ucap Olive menasehati diriku.


Kuikuti perkataan Olive dan mengabaikan rengekkan Jonathan di belakang kami. "Liv, kamu nggak marah kan, kalau aku dan Jojo..."


Olive tersenyum padaku, dia menyadari ketidak-enakkanku. "Tidak usah khawatir aku tidak begitu pusing, kak Jojo mau pacaran sama siapa, yang aku takutkan adalah pacarnya. Kak Jojo itu tukang modus, dia juga suka penasaran tentang banyak hal. Jadi sebagai pacarnya, kak Rya kudu harus ekstra hati-hati padanya" ucap Olive memperingatkan diriku.


Aku tersenyum menanggapinya, "kalau soal itu aku sudah paham. Terima kasih sudah mau menerimaku" ungkapku tulus. Akhirnya aku bisa tenang di depan Olive.


"Aku yang harusnya berterima kasih sama kak Rya, mau mengurus kak Jojo. Kalau tidak, dia bisa menggangguku terus menerus" ucapku.


"Siapa yang mengganggu siapa?“ celetuk Jonathan menenggerkan lengannya kepada kami berdua.


"Kakak, traktir aku makan ya? Anggap pajak jadian okey? Yuk kak" Olive lagi-lagi menarik lenganku dan pergi menjauh dari kakaknya yang terperangah akan ucapannya.


Kini Olive membawaku masuk ke cafe. Mengajakku duduk di salah satu meja, kemudian memanggil pelayan. "Hei, bocah. Ngapain nyulik pacarku?“ ucap Jonathan berdiri di samping meja kami.


“Ish... Posesif" timpal Olive memandang daftar menu di tangannya.


Jonathan duduk di sampingku. "Jangan pesan banyak-banyak, entar kamu tambah gendut" ledek Jonathan ke Olive. Sedangkan yang diledek tidak ambil pusing. Menatap mereka berdua bertengkar mirip kucing dan anjing. "Mau makan apa?“


“Tadi kan habis sarapan. Pesan minum aja"


"Tidak apa-apa kalau kakak gemuk, enak dipeluk" ungkapnya sambil mempraktekkan ucapannya. Ia memelukku di depan umum dan di depan Olive.


"Hentikan ke mesuman kalian" seru Olive tak tahan melihat kami.

__ADS_1


__ADS_2