
Satu demi satu kenangan itu muncul, menghantuiku dan membuatku menangis dan menangis lagi menyadari kenyataan yang tak akan mungkin pernah terjadi. Hubungan ini terlalu sulit untuk dilanjutkan, aku tak berani menghadapi resiko yang akan menghadang kami nantinya. Kenapa aku begitu pengecut? Apakah dia akan sama merasakan apa yang aku rasakan ini?
*********$$$$$*********
Pagi yang cerah mengawali hari ini, setelah semalam hujan mengguyur dengan sempurna. Kusibakkan jendela kamarku dan menikmati sang surya menyapaku hangat. Mataku masih sedikit sembab karena menangis semalam. Ya, lagi-lagi aku menangisi kenyataan pahit saat aku mulai jatuh cinta. Untungnya aku menempelkan masker mata dimataku sebelum tidur, jadi bengkaknya tidak begitu parah.
Melihat awan biru di langit membuatku teringat akan sosok Jonathan yang selalu ceria dan pandai menghibur hati, entah bagaimana dia sekarang? Aku merindukannya. Tak terasa dadaku sesak seperti terhimpit sesuatu, kucoba menarik napas dan menghembuskannya panjang. Aku harus melupakannya. Ya harus. Entah bagaimana caranya?
Beranjak dari depan jendela, aku memilih untuk bersiap-siap mandi dan pergi ke kampus. Aku perlu menyelesaikan kuliahku. Tidak peduli apa yang akan terjadi padaku. Aku harus tetap berangkat mengejar mata kuliah yang tertinggal setelah beberapa kali aku absen karena pergi bersama Jonathan.
Aku berjalan ke kamar mandi. Selesai mandi aku bercermin, kulihat kalung pemberian Jonathan masih bertengger di leherku, lagi-lagi aku teringat kepada sosoknya. Oh Tuhan kenapa aku masih mengingatnya? Kugenggam erat kalung itu, tak terasa air mataku mengalir. Kuhapus asal air mataku. Kemudian bergegas keluar.
Selesai bersiap, aku keluar kamar menuruni tangga dan berniat keluar rumah untuk pergi ke kampus. Namun ibu menghentikan langkahku. “Kau baik-baik saja, Ya?“ tanya beliau khawatir, karena aku lebih sering mengurung diri di dalam kamar.
Kusunggingkan senyuman pada ibu, menyembunyikan kesedihan yang kurasakan. Aku hanya tidak ingin membuatnya khawatir. “Iya. Aku berangkat kuliah dulu ya, bu? Aku nanti pulang agak malam, aku harus menggantikan shift temanku” aku pamit tak lupa mencium tangan beliau sebelum keluar rumah. Ibu tersenyum dan melepasku pergi.
Namun ketika aku hamoir mencapai pintu, ibu berucap lirih padaku “Ibu minta maaf”. Mendengar hal tersebut, air mataku tanpa sengaja mengalir dengan sendirinya. Tak kutanggapi ucapan ibu, aku lebih memilih diam dan pergi keluar rumah. Aku harus berpura-pura sekali lagi tak apa-apa. Ini keputusan diriku.
Di depan rumah kutepis air mataku, menghapus jejaknya dan menghembuskan napas panjang yang membuatku sulit bernapas. Aku harus kuat aku harus ikhlas, kataku menyemangati diri sendiri.
__ADS_1
Ketika berjalan melewati pohon mangga di depan rumah, membuat diriku teringat saat terakhir kali dia kusuruh untuk diam dan bersembunyi di balik pohon itu. Tanpa disengaja aku tersenyum mengingat kelakuannya yang mirip seekor anak anjing yang patuhbkepada tuannya. Langkah kakiku berlanjut, melewati pohon mangga, membuka pintu pagar dan sebuah sosok mengagetkanku dan membuatku terpaku di tempat.
Muncul sosok Jonathan seperti biasa menunggu di atas motornya, tersenyum melambai padaku. “Ayo kak berangkat” ajaknya padaku. “Jangan diam saja, ayo” serunya lagi. "Aku harus masuk kuliah, dosen pagi ini sering memberi test dadakan"
Aku termenung menatapnya, tak percaya ini nyata atau halusinasiku. Namun sebuah klakson membuyarkan lamunanku dan seketika membuat sosok Jonathan yang sedang tersenyum padaku tadi juga ikut menghilang. Ternyata tadi hanya khayalanku semata. Oh God, kenapa aku terus mengingatnya. Kugelengkan kepala cepat, berharap aku tidak lagi memikirkan Jonathan. Dia membuatku hampir gila karena terus mengingat sosoknya.
Sampai di kampus, aku menghindari tempat yang sering kulewati ketika bersama Jonathan dan menjauhi tempat dimana kami sering menghabiskan waktu bersama. Kupilih tempat-tempat baru agar tidak bertemu dengan Jonathan bahkan mengingat akan hal-hal kecil yang kami lakukan.
“Hei, Rya” panggil seseorang padaku. Suara yang tak asing membuatku menoleh. Nick. Kusunggingkan senyuman padanya. "Mau menemani makan?“
“Baiklah, mumpung aku belum ada jam kuliah" sahutku.
Kami berdua pergi ke kantin kampus. Masih belum ada banyak pengunjung di sana. Jadi kami lebih bebas mau memilih tempat duduk di mana saja yang kami inginkan. Setelah memesan makanan kami duduk di meja dekat dengan meja kasir.
"Kamu akan menghabiskan semua itu?“ tanya Nick melihat pesananku yang seperti biasa banyak.
Aku hanya ingin membuat tubuhku kuat agar aku tidak jatuh sakit hanya karena terlalu sering bersedih. "Ah, aku hanya lupa sarapan tadi dan sekarang aku sangat lapar" kataku beralasan. Aku lupa kalau sekarang aku tidak bersama dengan Jonathan tetapi bersama dengan Nick.
"Baguslah, tak apa. Aku hanya heran saja, gadis sepertimu juga bisa makan sebanyak ini" Nick tersenyum. Kubalas senyumannya, sedikit sungkan bahkan ada rasa malu karena aku melakukan hal di luar batas. Tetapi inilah aku yang sebenarnya.
__ADS_1
“Oh ya, bagaimana kuliahmu?“ tanya Nick berbasa-basi, karena tidak mungkin kami berdua makan dalam diam.
"Eum... Seperti biasa banyak tugas menungguku, apalagi minggu ini sudah mulai ada test. Membuat kepalaku hampir meledak. Oleh karena itu aku perlu banyak energi untuk menghadapi semuanya. Makanya aku memesan semua ini" cengiran langsung tercipta di wajahku. "Kamu sendiri, bagaimana rasanya jadi seorang dosen dan jadi seorang mahasiswa?“
“Aku pikir sama saja, hanya bedanya saat menjadi dosen harus menyiapkan materi sebelum aku praktekan di kelas. Untungnya saat jadi mahasiswa aku tidak perlu lagi memfotocopy bahan, karena biasanya bahan yang dosen pakai, lebih sering sudah kugunakan jadi materi pembelajaran untuk mahasiswa. Kurang lebih materinya sama"
"Benarkah?" tanyaku. Nick mengangguk. Kusuapkan makanan ke dalam mulutku. Karena terlalu asyik sampai tidak menyadari ada sisa makanan di mulutku.
"Ada sesuatu di bibirmu" ucap Nick.
"Hm... Apa?“ aku masih mengunyah dan tidak mengetahui apapun.
Tiba-tiba jari Nick membantu membersihkan sisa makananku. "Kau seperti anak kecil" ucqpnya. Mataku mengerjap tersenyum simpul.
Kelakuan dia barusan membuatku terkejut dan sialnya malah mengingatkanku saat Jonathan yang pernah juga melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan barusan. Saat itu Jonathan juga pernah membersihkan sisa coklat di bibirku, waktu aku dalam kelas dan temanku seketika memekik kita girangan karena ulah Jonathan yang dianggap sangat manis olehnya.
Mataku mengerjap saat Nick melambaikan tangannya di depan mataku. "Kau melamun?" tanya Nick yang melihatku diam saja.
Jelas saja aku tak merespon karena sejak tadi aku malah terbuai kenangan saat bersama dengan Jonathan. "Oh maaf, aku teringat sesuatu. Sepertinya aku melupakan tugasku" sahutku asal. Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain tugas. Ya ampun, bodohnya aku.
__ADS_1