Bad Feeling

Bad Feeling
Putus


__ADS_3

________________*****________________


Perpisahan ini, Rintik air mata


Mungkin hanya rindu, saja dalam hati


Hanya satu kata, untaian jiwa


Jauh dari hati, jujur ku mencinta


Haruskah ku, lepaskan-mu


Jauh dariku


Mungkin terlara, perih terasa


Berpisah bukan akhir segala


Meski dilema, rasa hati hampa


Cinta ialah segala


Hatiku tersiksa, bila kau tiada


Rasa terlara, ingin kau saja


Hanya satu cinta, hanya kau saja


Jauh dari hati


Ku tak ingin pisah


Lagu: Perpisahan ini (Melly G.) ost. ada apa dengan cinta 2

__ADS_1


$$$$$$$


Setelah kejadian malam itu, aku memilih pulang sendiri dan meninggalkannya dan inilah aku dengan kebodohanku. Menangis setelah memilih untuk memutuskan hubungan kami.


Pagi ini aku malas sekali beranjak dari tempat tidur, setelah seharian menghabisakan waktu di kamar dan menangis, tubuhku benar-benar lemas. Apalagi kemarin aku hanya sempat sarapan saja. Walau tubuh tak berkehendak namun apalah daya kewajiban harus dilaksanakan apalagi mengingat kalau mata kuliah pagi ini bernilai 3 SKS. Kakiku menuruni ranjang dan mulai berjalan menuju kamar mandi. Kupandangi diriku di depan cermin, kacaunya aku. Mata sudah bengkak hampir sebesar telur ayam, rambut acak-acakan dan bibirku terlihat pucat. Aku terlihat mengenaskan layaknya mayat hidup.


"Benar, lupakan Rya. Dia memang tidak seharusnya masuk dalam kehidupanmu" ucapku berbicara pada diriku sendiri sebelum akhirnya aku memilih mandi dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Saat kubuka pintu kamarku, Eva sudah berdiri di sana membawa nampan berisi sepiring roti lapis dan segelas jus jeruk. Memandangku dengan wajah terkejut. Aku tersenyum ke arahnya, "tumben ada yang perhatian"


"Ish, sebenarnya aku nggak mau. Tapi karena aku lagi baik nih, makan" ucapnya menyodoriku nampan itu dan mau tak mau aku menerimanya. Si pemberi kemudian pergi memasuki kamarnya. Kuteguk jus jeruk dari dalam gelas lalu menggigit dan mengunyah roti lapis sambil menuruni anak tangga. Saat minumanku tinggal setengah kutinggalkan nampan di atas meja makan dan membawa roti lapisku berangkat ke kampus. Aku memilih naik motor sendiri hari ini, karena aku tidak mau naik bus dengan kondisiku seperti ini. Aku tidak ingin terlihat begitu menyedihkan dan menjadi tontonan banyak orang. Aku akan berpikir positif dan tersenyum hari ini, walaupun aku tidak mampu menyembunyikan mata bengkakku.


Setibanya di kampus aku langsung mencari kelasku dan duduk di bangku kosong dengan tempat strategis. Tidak begitu depan maupun belakang hanya dekat dengan AC dan pintu keluar. Kukeluarkan binder dan bolpoinku. Walau kelas belum dimulai, tidak ada salahnya kan mempersiapkan diri? Handphoneku tiba-tiba bergetar. Dari kemarin aku membiarkannya di dalam tas, ternyata banyak panggilan tak terjawab dan beberapa chat dan paling banyak dari Jojo. Kubuka WA-nya.


"Kakak tidak serius dengan ucapan kakak tadi kan?"


"Kak Rya balas dong"


"Aku tidak mau berakhir seperti ini"


"Jika kakak mau, aku juga akan meminta ijin orang tuaku untuk mengencani kakak"


"Kak Rya jawab telponku atau setidaknya baca pesanku"


"Kak Rya, kakak dimana?“


“Kemana kakak hari ini? Kenapa tidak berangkat ke kampus”


“Kakak masih marah? Maafkan aku”


“Kakak balas pesanku dan angkat telponku. Aku merindukan kakak”


“Kak Rya, aku merindukanmu. Aku tunggu besok pagi di kampus. Kita harus bicara"


Itu beberapa Chat yang ia kirimkan dan chat terakhir yang masuk pagi ini berbunyi. "Aku ingin bicara sekarang, kakak di mana?"

__ADS_1


Ingin sekali aku membalas pesannya. Namun jari-jariku tak mampu mengetik sebuah kalimat. Aku hanya tidak ingin membuatnya lebih mengharapkanku atau aku tak ingin diriku benar-benar jatuh ke jurang bersamanya. Aku ingin merangkak naik kembali ke permukaan, di mana tempat seharusnya aku berasal. Di istana dengan pintu yang kembali menghilang dibalik semak belukar. Kuabaikan chatnya dan membalas chat dari sahabatku dan beberapa temanku yang lain. Namun sebuah tangan menghentikan aksiku. Kepalaku mendongak melihat si empunya tangan yang tak lain ialah Jonathan.


"Kakak membaca pesanku tapi tidak membalasnya dan pesan orang lain, kakak balas?" ia terlihat begitu kesal. "Sekarang ikut aku. Kita harus bicara" dia membawaku keluar dari mejaku.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, semuanya sudah jelas" ucapku menarik lenganku dan menghentikan langkahnya yang berniat mengajakku keluar kelas.


"Kakak tidak bercandakan? Aku tidak mau dan aku tidak menerimanya?" serunya.


"Terserah" ucapku dingin.


"Aku ingin tau perasaan kakak sebenarnya. Apa kak Rya tidak pernah menyukaiku sedikit pun?" tanyanya yang membuatku membungkam seribu bahasa. Beberapa teman sekelasku sudah berdatangan memenuhi kelas. "Jawab kak? Kalau kakak tidak menjawab akan kucari tau sendiri jawabannya" dia menarikku untuk keluar kelas. Namun aku menariknya ke arah berlawanan.


"Tidak perlu, akan kujawab sekarang. Aku tidak pernah sedikitpun..." sialan, Jojo malah menciumku di dalam kelas. Seketika kudengar suara riuh sorakan. Kudorong tubuhnya agar melepaskanku, ciumannya malah semakin menuntut. Kugigit bibirnya agar dia menghentikan aksinya. Dia mengaduh. Kulihat bibirnya berdarah. Tau rasa. "Aku sudah bilang kita putus jadi lebih baik kita putus dan lagi kau melakukan hal yang yang membuatku malu" ucapku.


Jonathan mengerkapkan mata karena sadar kesalahan yang dilakukan olehnya. Ia berseru, "tetapi bukankah dulu kakak bilang akan menungguku sampai aku bosan sendiri dan melepaskan kakak? Jadi sekarang, aku tidak mau..."


"Ada apa ini? Cepat duduk" dosenku datang. Mau tak mau aku kembali ke tempat semula dan Jojo mengikutiku.


Kutolehkan kepalaku ke arahnya seakan bertanya, untuk apa kau di sini? Seakan mengerti dia berkata. "Aku akan menemani kakak kuliah. Kakak harus bertanggung jawab atas kejadian kemarin. Aku hampir gila setengah mati. Ooo...mata kakak..." kupalingkan wajahku darinya. "Ada apa dengan mata kakak? Kakak menangis kemarin?"


"Untuk apa menangis?" kualihkan perhatianku dan sedikit menutup mataku dengan satu tanganku menopang pipi.


"Lalu? Kenapa mata kakak bengkak seperti itu?" tanyanya menyelidik berbisik ke arahku.


"Hentikan ocehanmu, aku harus kuliah" ucapku ketus dan memilih mengabaikannya fokus terhadap mata kuliah yang kini sedang dijelaskan oleh dosen.


Akhirnya Jojo memilih duduk diam membiarkanku konsentrasi kepada perkuliahan pagi ini. Walaupun otakku sekarang tidak bisa berpikir jernih. Jojo menciumku barusan di depan teman-temanku bagaimana ini tidak memalukan? Sekarang aku harus berkonsentrasi dengan perkuliahan hari ini? Mana bisa? Apalagi menghadapi masalah yang akan datang nanti, pasti akan banyak bisikan dan gosip aneh yang akan mulai menyebar.


Apa perlu aku pindah kuliah? Tapi akan memakan biaya banyak sekali. Dan sedangkan sekarang, aku tak punya banyak uang. Harus aku apakan bocah ini sampai dia menyerah sendiri? Ini sudah terlalu sulit untuk kuhindari sendiri. Tidak bisakah seseorang membantuku menyingkirkan bocah ini dariku?


___________*****_____________


###BadFeeling

__ADS_1


__ADS_2