
Mungkin jalan yang kupilih terlalu beresiko, tetapi inilah yang kuinginkan. Merasakan yang namanya mencintai dan dicintai oleh seseorang memang begitu sangat kuinginkan. Tak pernah kubayangkan kalau jatuh cinta itu indah. Mungkin sebentar atau selamanya, aku hanya ingin merasakannya sekarang. Kumohon ijinkan aku untuk mencintainya.
###BadFeeling
"Kau yakin?" tanyaku saat kami berdua tiba di depan rumah Jonathan. Aku tidak percaya akan ikut begitu saja, saat dia bilang akan meminta restu kepada kedua orang tuanya.
"Tentu saja" sahut Jonathan mantap.
"Akan kutegaskan sekali lagi padamu" ucapku menjelaskan lagi pada Jonathan tentang hubungan kami. Aku hanya tidak ingin dia terlalu berharap lebih seperti apa yang dia pikirkan. "Aku melakukan semua ini karena aku ingin menepati janjiku padamu. Jika nanti orang tuamu tidak mengijinkan hubungan ini, kuharap kau mau melepaskanku. Aku hanya tidak ingin menyebabkan kekacauan di dalam keluargamu" ucapku memperingatkannya.
Ia mengangguk mantap. Manik mata hitamnya menatapku. "Kakak tenang saja, semua akan baik-baik saja" ia mencoba meyakinkan diriku, bahwa apa yang akan dia lakukan akan berjalan sesuai harapannya.
"Jo....berjanjilah kamu akan melepaskan aku jika tidak direstui" pintaku memelas. Aku hanya memiliki perasaan buruk saat ini. Karena aku yakin pasti akan ada kehebohan nanti.
Mata Jonathan menatapku lekat-lekat. "Kakak tau betapa bahagianya aku satu bulan ini menjalani hubungan dengan kakak tanpa harus sembunyi-sembunyi dari orang-orang di kampus? Yang kubutuhkan sekarang kekuatan dari kakak. Mendapatkan restu dari orang tua kakak itu sama sulitnya dengan apa yang akan aku lakukan sekarang dan untungnya adik kakak mau membantu meyakinkan ibu kakak untuk melepaskan kakak bersamaku. Dan sekarang aku hanya butuh dukungan kakak, bukan kata-kata pesimis seperti tadi" Jojo sedikit kesal dengan ucapanku yang terlampau pesimis, karena memang aku tidak yakin hubungan kami akan berhasil nantinya.
Walaupun saat meminta restu ibu, ini sama menakutkannya, sampai-sampai Jojo mendapat tamparan dari ibu dan siraman air es. Dia juga berdiri 2 hari dua malam di bawah terik matahari dan di bawah guyuran air hujan bulan Desember. Yang akhirnya membuat hati ibu luluh dan mengijinkan kami menjalani hubungan rumit ini. Walaupun berakhir dia terkena flu selama seminggu, tetapi dia bersikeras untuk tetap berangkat kuliah hanya untuk menemuiku. Apalagi setelah mengetahui aku jadi asdos dosennya, dia tidak pernah membiarkan aku tinggal berdua dengan Nick. Dasar cowok posesif.
**Flash back*
Setelah mendapat restu dari orang tuaku, Jojo dan aku menjalani hubungan tanpa diam-diam lagi. Walau terkadang ada sedikit rasa malu saat aku berkencan dengannya namun tetap saja aku bahagia merasakan dicintai oleh seseorang seperti saat ini. Andai perasaan bahagia ini untuk selamanya.
"Kakak mikirin apa'an? Kenapa melamun? Makanannya tidak dimakan? Apa perlu pesan yang lain?" tanya Jojo menikmati sushi roll pesanannya. Kami kini tengah berada di salah satu mall dan berhenti untuk makan malam setelah menonton film horror yang ingin ditonton Jonathan. Tetapi berakhir dengan dia bersembunyi di balik punggungku setiap kali hantu dari film itu keluar.
"Tidak, aku hanya heran. katanya kamu berani nonton film tadi kenapa setiap kali hantunya muncul kamu bersembunyi di belakangku?" Ia menunjukkan deretan gigi putihnya dan mata sipitnya menghilang membentuk sebuah lengkungan. Tanpa sadar aku tersenyum melihat kelakuannya seperti anak kecil. Tenggorokanku sedikit kering setelah memakan chicken katsu, kuminum minuman botol yang kupesan dari tempatnya langsung. Kulihat Jonathan melakukan hal yang sama. Ia menenggak minumannya hingga habis.
"Kakak bagi minumnya" ucapnya merebut minuman botolku dan meminum isinya dari botolnya langsung. "Eo...kita melakukannya"
"Melakukan apa?" ucapku merebut botol dan kembali meminum isinya lagi tanpa pikir panjang.
__ADS_1
"Kakak barusan menciumku secara tak langsung Indirect kiss" ucapnya. Seketika membuatku hampir menyemburkan minumanku.
"Kau ini" aku tersedak dan dia malah menertawaiku.
Jojo tiba-tiba meraih tanganku yang tergeletak begitu saja di atas meja, membuatku sedikit bertanya-tanya. Ia tersenyum dan menatapku begitu teduh. Mata nakalnya tak terlihat saat ini, hanya ada pria dewasa yang cukup membuat jantung ini berdegup tak menentu. "Aku ingin setiap hari seperti ini bersama kakak. Tertawa bersama dan berpegangan tangan seperti ini" ucapnya yang seketika membuatku tertegun. Ternyata bukan hanya aku saja yang menginginkan hal seperti ini. Untuk kali ini, aku bahagia, akhirnya cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Namun apakah mungkin kami bisa seperti ini selamanya?
**flash back off**
"Aku akan mendukungmu, tetapi jika nanti orang tuamu....." Jojo menutup mulutku dengan bibirnya, membungkamku dan menyuruhku diam, agar aku tak mengucapkan lagi kata-kata pesimis itu lagi.
Ia melepaskan ciumannya dariku. "Ini cukup memberiku kekuatan. Kakak tenang saja, semua akan berlalu dan aku janji tidak akan melepaskan kakak apapun yang terjadi" ucapnya yang secara langsung menghipnotisku dan membuatku terdiam menuruti ucapannya.
Kami akhirnya memasuki pintu rumah Jojo. Ia menggandeng tanganku erat, seperti kata-katanya, tak akan pernah melepaskanku. Saat kami memasuki rumah Jojo, di ruang tamu sudah ada kedua orang tua Jojo, adik perempuannya dan neneknya. Pandangan mereka langsung teralihkan dan mengamati kami berdua yang berjalan masuk ke arah mereka.
"Jojo, kamu ngajak siapa?" ucap wanita yang pernah kutemui saat aku masih bekerja di perpustakaan. "Oo...yang kerja di perpus dulu ya?"
"Iya tante" sahutku sambil menyunggingkan senyuman ke arahnya. Awalnya mereka tersenyum ramah menanggapi kedatangan kami.
"Eum....Jojo mau bicara sama kalian. Mama bisa duduk dulu?" seperti terhipnotis mamanya duduk di samping pria paruh baya yang sejak tadi menautkan kedua alisnya, melihat kami berdua. Aku hanya mencoba tersenyum ramah berdiri di samping Jojo. Jojo mengajakku duduk di samping adik perempuannya, yang jelas sudah tau maksud dan tujuan sang kakak.
"Eumm....Nek, Ma, Pa, Liv...Jojo ke sini mau kenalin pacar Jojo sama kalian dan...."
"Apa? Kamu tidak bercanda kan Jo?" seketika ucapan Jojo terpotong oleh mamanya. Karena pasti beliau sadar siapa pacar yang akan dikenalkan oleh anak laki-laki satu-satunya.
"Ma, Jojo serius. Jojo minta restu kalian untuk merestui hubungan kami" ucapnya tegas.
"Merestui kalian?" wajah wanita yang biasanya lembut dan tenang kini terlihat gusar dan sedikit kesal.
"Ada apa sih ma, biarin mereka pacaran. Toh mereka sudah pada gede. Lagian Jojo kan cowok biar dia belajar tanggung jawab" sahut pria di sampingnya, yang lebih bebas dan berpikiran terbuka.
__ADS_1
Wanita paruh baya tadi protes akan kenyataan yang ia dapatkan. "Tapi pa, umur mereka itu..."
"Ma, jangan bahas umur deh" potong Jonathan tak terima.
Kupikir akan lebih baik aku menjelaskan semua ini, aku tidak ingin melihat perdebatan di dalam keluarga ini. Sudah cukup perdebatan di keluargaku saja. "Eum...tante benar. Umurku jauh lebih tua dibandingkan Jojo. Umur kami terpaut 9 tahun" Seketika semua orang yang mendengar menganga tak percaya. Olive juga tak menyangka kalau jarak kami begitu jauh. "Mungkin ini tidak masuk akal, tetapi saya akan menerima keputusan kalian. Saya juga sudah sepakat dengan Jojo, jika kalian tidak merestui maka Jojo akan melepaskan saya" entah darimana semua keberanian ini, yang jelas setiap kata yang keluar dari mulutku membuat jantungku tak henti-hentinya berdegup dengan cepatnya.
Jojo menatapku. Kusunggingkan senyuman kaku kepadanya. Karena benar aku terlalu tegang untuk saat ini.
"Sembilan tahun? Kalian bercanda? Menurut agama seharusnya pria yang lebih tua bukan wanitanya. Walaupun sekarang sudah banyak yang terbalik. Tetapi dalam kasus ini, eyang tidak setuju" ucap sang nenek yang jelas menentang hubungan ini. Kutelan air liurku kuat-kuat seakan aku barusaja terdampar di padang pasir.
"Papa setuju saja kalian berkencan, toh kalian juga sudah pada dewasa. Tau mana yang benar mana yang salah dan kalian pasti tau bagaimana konsekuensinya nanti" ucap pria paruh baya yang tidak terlalu ambil pusing akan hubungan kami nanti.
"Papa ini gimana sih, kita ini besarin anak sampai segede ini dan sekarang kuliah masa mau berakhir dengan gadis ini? Umurnya terlalu dewasa untuk Jojo, gimana nanti kalau mereka menikah? Mau ditaruh di mana muka kita, Pa? Bagaimana juga nanti pikiran keluarga kita? Tidak-tidak mama tidak setuju pokoknya. Masa depan Jojo masih panjang, tidak harus berakhir dengan gadis ini. Dia hanya D3 kan? Tidak ada gelar yang bisa dibanggakan darinya"
"Ma, dia juga kuliah ngelanjutin S1 sama sepertiku" ucap Jonathan membelaku.
Walaupun kata-kata mama Jojo seperti sebilah pisau tajam namun tetap kusunggingkan senyumanku untuknya. Mungkin sekarang aku sudah tidak waras. "Benar ucapan Jojo saya melanjutkan S1 dan saya bekerja di sebuah cafe. Saya juga mempunyai bisnis online, walaupun itu skala kecil. Namun banyak pelanggan di sana. Saya sebenarnya ingin membuka usaha sendiri, namun saya masih mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Jadi saya fokus dulu untuk menyelesaikan kuliah, setelah itu mengumpulkan dana untuk membuka usaha sendiri. Karena saya juga tidak ingin merepotkan orang tua yang sudah membesarkan saya dari kecil. Jadi saya mencari cara untuk menghasilkan uang dengan menjadi asdos. Walaupun masa depan saya tidak jelas, namun saya yakin suatu hari nanti Tuhan akan membukakan jalan untuk saya bisa membuka bisnis sendiri" jelasku.
"Oh...ucapanmu terlalu tinggi nak, lebih baik berhati-hatilah dalam bermimpi. Jika terlalu tinggi, saat jatuh akan terasa sakit". Aku paham, berbicara dengan seorang pegajar murid SMU pasti akan sulit membantahnya. "Tetap mama tidak merestui hubungan kalian. Jadi, dua dari kami tidak setuju" ucap beliau yang kemudian memalingkan wajahnya dari kami.
"Kurasa memang ini yang terbaik" ucapku menoleh ke arah Jojo sambil berusaha ternyum manis ke arahnya. "Seperti ucapanku tadi, kumohon lepaskan aku" pintaku.
"Tidak akan" ucap Jojo yang langsung berdiri dari tempat duduknya. "Apa kalian tau, perasaanku setelah mengenal kak Rya? Kalian juga pasti paham, bagaimana aku sebelumnya. Olive juga paham, aku sering mempermainkan perasaan wanita tapi sejak aku mengenal kak Rya, aku seperti orang bodoh yang hanya bisa memikirkan satu wanita, yaitu kak Rya. Butuh keberanian untuk meminta restu dari ibu kak Rya, yang jelas akan menentang hubungan kami. Apalagi menyerahkan anak gadisnya untuk pemuda sepertiku yang masih bau kencur. Dan sekarang hal yang sama saat aku meminta restu kalian, mungkin memang benar, hubungan ini tak masuk akal. Agama juga melarang bukan? Lagipula yang diciptakan adam dulu bagaimana bisa hawa diciptakan sebelum adam? Dapat dari mana tulang rusuk itu? Jika memang seperti itu, seharusnya pasangan yang berbeda itu tidak pernah bersatu tetapi nyatanya apa, pendeta juga memberkati mereka kan? Penghulu juga. Lalu bagaimana nasib pasangan mereka sebenarnya? Tidak ada yang tau kan? Kalau mereka saja mendapat restu kenapa kami yang hanya ingin menjalani hubungan pacaran sudah ditentang seperti ini?" Jojo meluapkan amarahnya.
"Jo, kamu itu ya..." wajah wanita yang berstatus ibunya langsung memerah.
"Jo, kumohon hentikan semua ini dan lepaskan aku. Mereka tidak akan pernah mengerti hubungan kita" ucapku menyerah pada keputusan mereka.
"Setelah semua usaha yang kulakukan? Melepaskan kakak? Tidak akan. Aku tidak pernah berjanji untuk itu" kulihat di sorot mata Jojo ada amarah yang meledak-ledak. Aku tidak ingin melihat hal itu. Apalagi kini dia berani membantah ibu kandungnya. Aku tidak mau merusak dia seperti ini.
__ADS_1
"Lihat, gara-gara ulahmu. Anak ini berani melawan orang tuanya. Kamu memang pengaruh buruk. Cepat keluar dari sini" lenganku tertarik dan terlepas dari tangan Jojo yang sejak tadi menggenggam erat tanganku. Seketika aku jatuh tersungkur di depan kaki mama Jojo. Harga diriku sepertinya sudah hancur sekali lagi.