Bad Feeling

Bad Feeling
Sorry


__ADS_3

Saat kata-kata itu keluar dari mulutku, sebenarnya itu tak seperti apa yang ada di dalam hatiku. Mungkinkah aku terlalu pengecut ataukah aku terlalu menyukaimu dan tak berani berterus terang kalau aku mencintaimu? Haruskah aku terus menyakitimu dan di saat yang sama aku juga ikut terluka merasakannya? Kenapa membuatku seperti ini? Aku tidak pernah mengharapkan ini. Kau membuatku seakan benar-benar seperti apa yang mereka pikirkan. Jadi kumohon hentikan semua ini dan kumohon jangan terus membuatku menyakitimu terlalu lama. Itu menyakiti hatiku. Aku tidak ingin melakukan hal itu. Kumohon berhentilah dan kembalilah dengan kehidupan remajamu yang indah.


$$$$$$$


Usai perkuliahan kupilih untuk segera pergi meninggalkan kelas. Namun sebuah tangan menyuruhku untuk tetap tinggal. Siapa lagi kalau bukan Jonathan. "Kamu tidak mengerti bahasa manusia ya, Jo? Kumohon lepaskan aku dan biarkan aku pergi. Lagipula tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan lagi" ketusku namun tidak sampai berteriak karena aku tidak ingin membuat perhatian orang lain.


"Tidak, sebelum aku dengar penjelasan kakak. Apa alasan kakak sampai memilih hal itu" beberapa mahasiswa melihat ke arah kami namun mereka tetap keluar meninggalkan kelas secara bergantian karena suara Jojo yang terlalu keras.


"Apa lagi yang perlu dijelasin? Hubungan ini tidak akan mungkin berjalan dan aku tidak mau lagi menjalin hubungan dengan orang seegois dirimu" ucapku dingin.


"Bagaimana kalau orang tuaku mengijinkan?" ucapannya membuatku terpaku. "Aku berencana akan memberitahu mereka, jika kakak bersedia menemaniku. Aku akan mengenalkan secara resmi kakak kepada orang tuaku" jelasnya.


"Tidak Jo, cukup. Aku malas ngomong sama anak kecil sepertimu" ucapku ketus, kuhentakkan lenganku sampai terlepas darinya, lalu pergi meninggalkannya. Jojo terpaku dan terdiam di tempat. Aku tau pasti ucapanku melukainya. Dia tidak pernah suka disebut anak kecil. Apalagi meremehkannya seperti ucapanku barusan. Walaupun sebenarnya hati ini juga tak rela mengucapkannya. Namun tetap saja, demi kebaikannya dan memang ini satu-satunya cara untuk bisa menghindarinya. Walau sakit tetap harus kulakukan. Maafkan aku Jo.


Akhirnya Jojo membiarkan aku pergi, mungkin sekarang hatinya terluka oleh ucapanku, tetapi itu lebih baik daripada dia tersiksa selamanya jika terus mengharapkan hubungan yang sulit untuk dijalani ini. Langkah kakiku tak menentu, sampai seseorang menangkap lenganku di saat tubuhku akan terjatuh. "Kau baik-baik saja?" ucap pemilik tangan yang barusaja menolongku.


"Ah...ya, terima kasih. Mungkin aku lapar. Lebih baik aku ke kantin" kusunggingkan senyuman padanya. Berharap dia tidak terlalu mengkhawatirkanku.


"Kalau begitu kita ke kantin sama-sama" ucap Nick mengajukan ide. Ide yang membuatku tak mampu berkata apapun. Pria ini sungguh selalu membuatku menanyakan setiap hal yang dilakukannya padaku.


Akhirnya kami pergi ke kantin kampus berdua. Sebenarnya aku tidak terlalu lapar. Karena roti lapis yang diberikan Eva sudah cukup mengisi perutku. Namun mau tak mau aku harus mengisi perutku juga karena sekarang aku di kantin. Kami berdua memesan makanan. Nick memesan nasi goreng telur mata sapi dan teh hangat. Sedangkan aku memilih roti bakar coklat dan air mineral. "Kau seharusnya memesan makanan berat, kenapa hanya roti bakar?" Nick membawakan pesananku sambil berjalan menuju tempat duduk.


"Eum....sepertinya aku tidak nafsu makan" ucapku. Akhirnya kami mendapatkan tempat duduk. Walau sebenarnya kantin tidak terlalu ramai, namun tempat duduk terdekat dari kasir sudah penuh dengan mahasiswa yang lain, jadi kami mendapatkan tempat duduk di bagian luar kantin.

__ADS_1


"Kau harus makan, jangan siksa tubuhmu. Kau terlihat sangat menyedihkan. Apa yang membuatmu seperti ini?" tanya Nick menunjukkan perhatiannya padaku. Ya, kuakui aku memang menyedihkan sekarang. Mata sembab ini membuatku seperti wanita bodoh yang menangis semalam hanya karena masalah cinta.


Aku tersenyum menyembunyikan apa yang sebenarnya telah nampak terlihat dengan kondisiku saat ini. "Ah...mungkin aku terlalu lelah dengan tugas yang menumpuk" elakku.


"Kurasa itu lebih dari sekedar tugas. Oh ya, apa kau melihat Jonathan? Tadi dia tidak ikut mata kuliahku, kau tau di mana dia?" tanyanya yang seketika membuatku melebarkan kedua mataku karena kaget.


"Oh...mungkin dia bangun kesiangan atau ada urusan" jawabku sekenanya.


"Apa kalian benar-benar berkencan? Itu rumor yang kudengar dari mahasiswa yang lain" lagi-lagi pertanyaannya membuatku menghentikan aktivitasku menghabiskan roti bakarku. Untungnya aku tidak sampai tersedak dan menyemburkan semuanya.


Setelah berusaha menelan roti bakarku, aku menjawab pertanyaan dari Nick. "Ah...itu. Aku dan dia...."


"Kenapa ada di sini?" seru pemuda yang tiba-tiba datang mengejutkan kami berdua. Dari nafasnya yang tersengal-sengal, dia barusaja berlari dari suatu tempat. Keringat di pelipisnya menunjukkan dia baru saja dari tempat yang jauh atau mengelilingi seluruh gedung kampus.


"Aku tadi belum selesai bicara sama kakak. Aku akan tetap berusaha mendapatkan hati ibu kak Rya dan restu kedua orang tuaku. Jadi kumohon kak Rya bersedia menungguku" ucapnya meyakinkan diriku.


"Jo, cukup" pekikku.


Nick berdehem berusaha meredam emosi kami. Jonathan menoleh. Mata sipitnya membulat. "Oh, pak Nick. Maaf mengganggu makan bapak dan maaf tadi saya tidak bisa ikut perkuliahan anda, saya harus menyelesaikan masalah saya dulu. Jadi..."


"Kau mengganggu kami makan" ucapku ketus.


Jojo menoleh ke arahku tak percaya dengan kata-kata yang didengarnya. "Kami? Kalian..." matanya menatapku dan Nick bergantian. "Apa kalian..."

__ADS_1


"Ya, seperti yang kau lihat" entah apa yang ada dipikiran Jojo sekarang, kurasa apa yang dia maksud dan aku maksud berbeda. Tetapi itu lebih baik dia berpikiran seperti itu. Ya Tuhan aku tidak tahan melihat wajahnya seperti itu. "Jadi bisakah kau pergi sekarang?" ucapku seraya mengusirnya seperti kucing liar yang terus mengeong di depanku. Sungguh aku tak menyukai hal ini.


Ia menatapku yang menatap ke arahnya dengan tatapan dingin. Kemudian setelah beberapa detik ia memalingkan wajahnya dan pergi. Kupalingkan wajahku dan menatap roti bakar di atas piring, mencoba untuk memakannya lagi.


"Kalian baik-baik saja? Apa kalian bertengkar?" tanya Nick.


"Tidak" sahutku singkat.


"Mungkin hubungan kalian sedang tidak berjalan dengan baik sekarang. Kurasa kalian butuh bicara berdua dan menjelaskan segalanya, bukankah kepercayaan itu sangat kuat dan mengalahkan segalanya" ia menasehati diriku.


"Sudahlah, tidak ada yang perlu dijelaskan. Begini lebih baik. Soal tawaranmu waktu itu, bisa aku menerimanya?" kualihkan percakapan kami.


"Tentu saja. Kalau kau tidak bisa menemaniku di kelas saat mengajar, kau bisa datang ke kantorku saja, menyelesaikan tugasnya. Kau kan juga perlu kuliah. Aaaa...aku perlu jadwal perkuliahanmu. Jadi aku bisa tau kapan kau free"


"Eum...baiklah. Kapan kita bisa mulai?" tanyaku.


"Ee...minggu depan, kau bisa memulainya minggu depan. Karena tugasku mulai banyak dan aku sedikit kewalahan" sahut Nick memamerkan gigi putihnya yang rapi.


"Baiklah" sahutku sambil mengangguk mantap. Mungkin ini bukan keputusan yang terbaik. Tetapi setidaknya aku punya biaya tambahan untuk kuliahku. Karena tugas makalah yang menumpuk dan fotokopi matakuliah yang tak sedikit cukup membobol tabunganku. Lagipula aku juga perlu membiayai hidupku sendiri nanti, aku tidak harus mengandalkan orang tuaku kan?


Usai makan kami berpisah, Nick kembali mengajar dan aku memilih ke perpustakaan untuk sekedar membaca buku sembari menunggu jam mata kuliahku nanti. Saat kaki ini melangkah menuju perpustakaan, kulihat pemuda yang tak asing bagiku sedang duduk melamun, tertunduk dengan aura kesedihan yang jelas nampak di wajahnya dan seorang gadis bersamanya, menghiburnya atau menempelinya, entahlah. Tapi itu sedikit melukai mataku. Kupilih mengabaikannya, karena kupikir akan lebih baik jika mereka berdua menjalin suatu hubungan. Ya walaupun sebenarnya dalam hati kecilku aku tak merelakannya.


Aku memasuki ruang perpustakaan. Tak banyak orang di sana. Hanya petugas dan beberapa mahasiswa kutu buku. Kulangkahkan kaki menuju rak buku di golongan 300 dan mendapatkan subyek pendidikan. Mungkin ada buku untukku yang bisa kugunakan untuk referensi makalah, menyangkut tugas salah satu matakuliahku. Namun tak ada yang menarik. Aku berjalan lagi melewati beberapa rak dan memilih di golongan Fiksi. Aku menemukan sebuah novel berjudul "Takut kehilangan" seketika kata-kata itu membuatku teringat pada Jojo. Ya Tuhan, tidak bisakah dia menghilang dari pikiranku. Kuletakkan kembali novel tersebut ke dalam raknya dan memilih mencari TA alumni untuk menambah pengetahuanku.

__ADS_1


___________*****___________


__ADS_2