Bagaikan Adam & Hawa (Azwa[R], I'M In Love)

Bagaikan Adam & Hawa (Azwa[R], I'M In Love)
37. Fakta diri


__ADS_3

🍃🍃


Hari demi hari rasa penasaran selalu terpendam rapat dan bertanya-tanya apakah benar yang dikatakan Azwa? walau hati ingin bertanya dan mengorek-ngorek tentang identitas aslinya, namun lidah ini kelu untuk berucap. Azwar sudah tak tahan, sisi lain ia ingin mencari tahu tentang dirinya, sisi lain pula ia tak tega untuk bertanya pada Ibu. merasa takut bila wanita yang ia cintai itu akan bersedih dan terpuruk.


Hari ini pun Azwar memutuskan untuk mencari sebuah bukti di rumah milik Ibunya, tanpa sepengetahuan sang Ibu. Kini Azwar telah berada di kediaman itu, tempat pertama yang ia tuju adalah kamar orang tuanya. Membuka lemari pakaian, laci penyimpanan hingga keseluruh tempat.


Namun sayang sekali, ia tak mendapatkan apa yang ia cari. Azwar pun berfikir keras, GUDANG!! ya, tempat itulah sasaran terakhirnya.


Azwar menelusuri setiap sudut ruangan gelap dan tak berpenghuni itu, membuka kotak kardus satu persatu untuk mencari barang bukti yang tersembunyi. mengobrak abrik isinya, membuang kesana kemari mencari sesuatu yang berhubungan dengannya. Hingga udah puluhan kardus ia buka namun tak jua ia temui.


Azwar berdesah frustasi, tercenung sebentar menduduki bokongnya disebuah sofa yang tak terpakai. berdiam diri untuk beberapa saat sembari berfikir keras. hingga tanpa sengaja ia melihat sebuah kotak diatas lemari yang sudah usang. Azwar menyipitkan mata, apakah disana barang itu berada??


Azwar pun beranjak berdiri, mengambil kotak itu dengan kedua tangannya.


"Apa ini?" gumam Pria itu


Azwar menghembus debu-debu yang menyelimutinya. mencoba membuka kotak tersebut yang ternyata di gembok oleh pemiliknya.


"Huh!" Ia berdesah kesal. Mencari akal untuk membuka gembok itu. hingga ia mendapati sebuah besi nan panjang, Azwar bergegas mengambilnya dan mulai menghentakkan besi itu ke gembok berulang kali.

__ADS_1


Cukup sulit memang, namun usaha keras tak pernah mengkhianati hasil. Azwar akhirnya bisa bernafas lega, ia buka kotak tersebut dan tercengang mendapati ada beberapa pakaian bayi yang teronggok di dalamnya.


"Kain bedung, baju bayi, gurita, dan--Oh Tuhan, ini kan-"


Azwar kaget, ia terduduk lemas dan terdiam sesaat. Ia bisa menyimpulkan ini semua, ternyata benar kata Azwa bila ia bukan anak kandung Bu Ratna, orang tua yang membesarkannya. Tak terasa buliran air mata pun jatuh menetesi pelupuk matanya, jantungnya mencelos mengetahui fakta dirinya.


Azwar tak menyangka, orang tua yang sangat ia cintai ternyata bukan orang tua kandungnya. kalau bukan dia yang punya semua barang ini, lalu siapa??? hanya dirinyalah anak tunggal di keluarga itu.


"Apa yang terjadi? kenapa aku dibesarkan oleh Ibu dan Ayah? kenapa mereka tak membesarkanku?? dan sekarang mereka mencariku lewat Azwa" Pria itu terisak, menangisi jati dirinya.


Cukup lama berdiam diri seraya memeluk pakaian bayi itu, dan perasaannya pun mulai tenang, Azwar segera pergi meninggalkan rumah tersebut sembari membawa barang bukti itu.


"Apa yang harus ku lakukan? apakah sekarang juga ku katakan kepada Ibu?" gumam Azwar sembari menyetir mobilnya.


Kebetulan ini hari minggu, pasti wanita itu libur bekerja dan berada di kediamannya.


Tak berapa lama, ia pun tiba, Azwar menghentikan mobilnya tepat di depan pagar itu. Ia pun turun, membawa barang bukti dan menggeser pagar tersebut.


Tok tok

__ADS_1


Azwa dan Keysha yang tengah memasak hidangan siang itu pun sayup-sayup mendengar suara ketukan pintu. Mereka terdiam sesaat,mempertajam pendengaran bila kala pintu itu kembali di ketuk.


Tok tok tok


"Wa!! Azwa!!" teriak Azwar.


Mata Azwa membelalak, ternyata benar, ada tamu yang mengetuk pintu kediamannya.


"Iya bentar!!" teriak Azwa seraya berjalan menuju ruang tamu.


Ceklek!


Dug!


Azwa terkesima merasakan beban berat dari tubuh kekar yang berhambur memeluknya. matanya semakin membulat mendapati serangan mendadak di depannya ini.


Azwa mengerutkan dahi, tatkala pelukan itu semakin erat dan terdengar sedikit isakan tangis di belakang tubuhnya.


Azwa melepaskan pelukan itu, mendapati mata yang berkaca-kaca dan linangan air mata di dalamnya. Azwa tertegun,

__ADS_1


"Kamu kenapa? kok nangis?"


🍃🍃


__ADS_2