Bagaikan Adam & Hawa (Azwa[R], I'M In Love)

Bagaikan Adam & Hawa (Azwa[R], I'M In Love)
39. Obrolan Ibu anak


__ADS_3

🍃🍃


Setelah kepergian Aswar meninggalkan kediaman mereka, Keysha segera menemui Aswa yang masih berada di dalam kamarnya. Gadis itu mencoba untuk membuka pintu, beruntungnya tak di kunci lagi oleh Azwa. tampak Aswa yang tengah mengelus gelang mereka sejak lahir, gelang yang diberi nama Azwa & Azwar.


Sepertinya gadis itu tengah galau, dilema, senang, sedih, semua berbaur menjadi satu. Keysha menghampiri, menduduki tubuhnya di samping Azwa.


"Bukannya lo juga suka ama dia ya" imbuh Keysha tiba-tiba


Aswa menoleh, lalu mengangguk


"Terus kenapa marah? lo kan kepengen juga ama dia"


"Dia udah punya cewek. mana mungkin gue ngerebut punya orang" celetuk Aswa


Keysha menghembus nafas dengan kasar. lalu berkata, "Sebelum janur kuning melengkung, kita masih bisa mendapatkannya"


"Itu kata-kata untuk pria kan? toh kita sebagai cewek ya disebut pelakor mah"


"Pelakor untuk mereka yang merebut suami orang kaleee .. dia kan belum suami orang" jelas Keysha


Sungguh oon sekali Azwa ini.


"Hmmmm .. terus gue harus apa? disisi lain gue senang, disisi lain benci dan kesal. benci karna dia segampang itu mengatakan cinta pada wanita yang baru dikenal. padahal kan dia sudah lama sama wanita itu. gue takut entar sama gue dia segampang itu ma wanita. Terus gue kesal juga, dia masih punya pacar disana. gue gak mau kalee jadi kedua"

__ADS_1


"Kita lihat aja seberapa besar perjuangannya buat dapati lo" ucap Keysha


"Hmm"


**


Azwar baru saja tiba di kediamannya pada tengah hari itu. Memarkirkan mobilnya di depan rumah, menatap dalam diam seolah ada rasa bingung yang berkecamuk di sanubarinya. Azwar bingung bagaimana caranya mengatakan itu pada Ibu?


"Sekarang atau nanti yaa" gumam Azwar, bimbang


"Huh! ni kotak disini aja dulu" sambungnya. Ia pun segera membuka pintu mobil, namun sesuatu mengingatkannya dan mengurungkan niat itu. Azwar kembali membuka kotak tersebut, meraih gelang bayi yang berukuran kecil dan sangat persis yang dikenakan Azwa. tentu saja gelang milik Azwa sudah di cetak ulang dengan bentuk yang sama.


Melihat gelang itu tiba-tiba Azwar menyunggingkan senyum manisnya, membayangi perbuatan itu sungguh membuatnya malu pada diri sendiri.


"Oh Azwa, kau benar-benar seperti magnet yang membawaku menempel padamu" sambungnya.


Azwar kemudian keluar dari mobil, berjalan dengan langkah yang gontai memasuki kediamannya.


"Bu, Assalamualaikum" teriak Azwar


"Waalaikumsalam! Ibu di dapur" sahut Ibu dari dalam dapur. suaranya sayup-sayup terdengar.


Azwar datang menghampiri Ibu, "Ibu masak apa?"

__ADS_1


"Lauk kesukaanmu, gulai tauco ikan serai dan juga rubik" jawab Bu Ratna seraya tersenyum


"Kalau gitu mah sekarang Azwar sikat, Bu" Azwar dengan antusiasnya langsung mengambil piring dan gelas, menduduki tubuhnya di kursi meja makan lalu mengambil nasi dari magic com dan menuangkannya ke piring.


Melihat putranya yang begitu senang, turut membuat ibu juga merasa senang. Ibu pun mengelus pucuk kepala Azwar dengan penuh rasa sayang. hingga pada akhirnya anak dan ibu itu melahap makan siang dengan begitu nikmatnya.


"Ibu," panggil Azwar


"Ya, nak?"


"Menurut Ibu, Azwa itu anaknya kayak mana?" tanya Azwar, disela-sela makannya.


Ibu berpikir sekejap. "Baik, ramah, humble orangnya, ceria" jawab Ibu sembari menerawang memikirkan sifat Azwa


Azwar tersenyum tipis dibuatnya.


"Kalau Siska?" tanyanya kemudian


"Siska itu baik, pintar, manja, suka ngatur sih ibu lihat. emang kenapa?" tanya Ibu heran, menilik Azwar lebih dalam.


"Aku mau putusin Siska, Bu" akhirnya Pria itu mulai menyampaikan inti dari pertanyaan yang ia ajukan.


🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2