Bagaikan Adam & Hawa (Azwa[R], I'M In Love)

Bagaikan Adam & Hawa (Azwa[R], I'M In Love)
6. Gelang?


__ADS_3

🍃🍃


Sore ini sepulang bekerja, setelah beberapa jam berjibaku pada komputer, kini kedua sahabat itu tengah berada didepan kafe yang telah dijanjikan oleh Keysha untuk bertemu dengan temannya.


Disanalah dia, seorang pemuda yang berusia sedikit lebih tua dari dua wanita ini. Pria itu tengah menyesap kopinya sambil menunggu dua wanita itu.


"Hai kak, sudah lama?" Keysha menyapa, menduduki tubuhnya diseberang meja pemuda itu.


"Baru saja, Key. apa dia temanmu?" tanyanya, merujuk pada Azwa yang tengah tersenyum.


"Saya Azwa, Kak" Azwa mengulurkan tangan kanannya pada pemuda itu, dan dibalas olehnya.


"Saya Firman" ujarnya, Azwa mengangguk.


"Jadi kak, Azwa ini sering bermimpi yang sama dalam setiap tidurnya. sudah hampir sebulan ya Wa? dan itu terus menerornya" jelas Keysha, Firman menyimak.


"Mimpi seperti apa?" tanya Firman menatap wanita itu.


"Tugu monumen pompa angguk, setiap saya ingin menyela, tempat itu selalu muncul. sebentar saya terbangun, lalu tidur lagi dan tempat itu mengganggu lagi, berturut-turut seperti itu" jelas Azwa. Firman mengangguk paham, pikirannya pun menerawang.


"Apakah ada suatu kenangan di tempat itu? atau kamu pernah mengunjunginya?"


"Tidak, saya bahkan tak pernah berfikir akan hal itu" Azwa terkekeh pelan.


"Hmmm, menurut tafsiran saya, kamu harus mengunjungi tempat itu"


"Tapi untuk apa? sekedar berselfie? tidak mungkin kan?" Azwa bingung


"Apa hanya itu yang ada dimimpimu?" tanya Firman, dirinya bisa mengambil kesimpulan yang kuat bila ada mimpi lainnya.


"Ada! baru sekali! sebuah gelang yang memiliki tulisan"


"Gelang?" Firman menyipitkan sebelah matanya menatap Azwa dengan lekat. Azwa mengangguk cepat.


"Boleh saya memegang tanganmu? maaf, tapi dengan cara menyentuhmu saya bisa tau apa yang ada dipikiranmu saat bermimpi" ujarnya, meminta izin.


"Hmm, bo-boleh" Azwa mengangguk,.mengulurkan tangannya diatas meja. Pria itu langsung memegangnya, kemudian memicingkan mata, keningnya berkerut seolah memikirkan sesuatu.


Azwa menatap heran pada Keysha yang begitu fokus memerhatikan, Keysha mengangguk pelan seolah mengatakan semuanya baik-baik saja.


Lima menit kemudian pun, Pria itu membuka matanya, melepaskan pegangan pada tangan gadis itu.

__ADS_1


"Gelangnya pasti seperti itu" tebaknya, menunjukkan gelang yang dikenakan Azwa, gelang rantai besi yang memiliki nama ditengahnya.



Azwa terkesima, ia menatap gelang yang dikenakannya selama ini sejak ia bayi hingga dewasa. gelang itu tak pernah ia lepas sekalipun. baginya, gelang ini sangat berharga. kenang-kenangan bersama pria sebaya dengannya dari lahir hingga mereka berpisah sejak kejadian yang diceritakan orang tuanya.


"Gelang ini," Azwa tertegun


"Anda benar" ucap lirih gadis itu. Pria itu menghembus nafas dengan kasar.


"Sudah saya duga, seseorang yang mu kenang berada ditempat itu. lebih tepatnya berada di kota yang memiliki tugu itu" ujarnya kemudian, dari hasil tafsiran penerawangannya, ia dapat menyimpulkan hal itu.


"Tapi Azwar sudah meninggal, sejak saya masih bayi" pukas Azwa, ia sedikit terkejut mendengarnya.


"Apa mayatnya ditemukan?"


"Saya tidak tau. kata Mama dan Tante dia menghilang begitu saja. mereka tak dapat menemukannya" Azwa tertunduk, menatap lekat gelang itu dan mengelus nama Azwar.


"Lagian pasti banyak kota yang memiliki tugu itu" sambungnya, mengingat pencarian di Google, tidak hanya satu daerah yang memilikinya.


"Ada di Sumatera"


"Hah??"


**


"Wa,"


"Ya, Ma?" Azwa gelagapan mencari sang pemilik suara yang memanggilnya, hingga ia terkejut bila sang Mama sudah berada dibelakangnya.


"Ah, Ma, maaf" Azwa langsung menyalimi punggung tangan ibunya.


"Kamu kenapa? kok melamun" tatapan mama menyelidik, dahinya berkerut menatap anehnya anak gadis itu.


"Ti-tidak, Ma. Azwa hanya capek" keluhnya.


"Kenapa pulang lama? bentar lagi maghrib"


"Biasa, Ma. lembur" ucapnya terkekeh.


"Oh baiklah, pergi mandi sana, setelah itu sholat"

__ADS_1


"Iya, Ma"


Azwa segera melangkahkan kaki menuju ke kamarnya, menatap seisi kamar itu dengan tatapan yang bingung. Ia pun membuka sepatu kerjanya, melempar tas ke sembarang arah lalu menjatuhkan tubuh mungilnya diatas kasur.


Sungguh, ini membuatnya pusing.


"Apakah itu benar?" gumamnya, kembali menatap gelang itu.


"Apa aku harus kesana?"


"Bagaimana kalau hasilnya zonk?"


"Apa aku harus percaya dengan perkataan kakak itu?"


"Mengapa ini sangat membingungkan! kenapa mimpi itu menyusahkanku!" berangnya kesal. mengayunkan kedua kakinya hingga terpentok dengan badan kasur.


Azwa menghembus nafas kasar, Ia mengambil ponselnya untuk mencari kota itu di Google.


"Oh, ada di provinsi itu" gumamnya mengerti.


"Seakan-akan aku seperti orang bodoh kalau memang harus kesana, padahal belum pasti"


"Aw ah! mending mandi dulu!" gerutunya, segera beranjak berdiri dan berjalan malas ke kamar mandi.


**


Adzan telah berkumandang maghrib, Azwa segera mengenakan mukenanya untuk melaksanakan sholat fadhu wajib itu. sudah menjadi kewajibannya walaupun dirinya sangat jarang untuk sholat. lebih sering sholat maghrib dan Isya bila dipikirkan.


Tak butuh waktu lama mengerjakannya, sekitar 5 hingga 10 menit melaksanakan sholat itu.


"Ya Allah, berikanlah petunjukmu apa yang harus aku lakukan? Aamiin"


🍃🍃


Like


Koment


Hadiah


Vote

__ADS_1


😉😉


__ADS_2