Battle Of Hunter

Battle Of Hunter
Chp 18, Cara Mencuri Ikan Asin


__ADS_3

Rumah Aron.


Setelah semua kegiatan yang biasa Aron lakukan saat selesai berburu yaitu mandi dan menata drop item mereka segera makan malam.


"Apa kau tidak memiliki tujuan hidup Aron?" Bertanya Naviza karena setiap hari melihat Aron hanya peduli dengan uang sesaat saja dan tidak memiliki tujuan hidup seperti sebuah motivasi untuk menjadi lebih baik.


"Iya juga dulu aku hanya fokus mencari uang untuk membeli mobil itupun nantinya ingin aku gunakan untuk membeli taksi dan mencari uang tapi sekarang aku sudah memiliki mobil dan pekerjaan yang cukup bagus kurasa aku sudah tidak ada tujuan lain selain bertahan hidup."


Itulah tanggapan Aron yang memang semenjak kematian orang tuanya dia hanya bisa bertahan sebisanya jika pun mati yah dia akan menyusul keorang taunya karena didunia juga tidak ada yang terlalu penting lagi baginya.


Maka dari itu Aron tidak terlalu terpikirkan motivasi hidup atau semacamnya, selama dia bisa hidup dan bertahan selama itu juga lah Aron merasa cukup.


"Haih hentikan pikiran bodohmu itu Aron." Naviza tentu paham apa yang menjadi patokan hidup Aron atau moto hidupnya. "Mulai sekarang mulailah mencari apa yang penting bagimu setidaknya kamu masih bisa merasa bahwa uang sangat penting juga mulailah bersosialisasi." Tegas Naviza.


"Terserah kamu saja." Aron tidak peduli dan melanjutkan makan malamnya.


"Jadi kapan kita akan memasuki Dungeon?" Naviza mengganti topik.


"Besok sore aku memperhitungkan waktu dungeon jika kita berangkat besok sore maka didalam dumgeon adalah pagi hari jadi kita berangkat besok sore saja."


Memang waktu dungeon diseluruh dunia sama dan Aron sudah menetapkan waktu dia akan memasuki dungeon.


"Aku memiliki teman mulailah bersosialisasi dengan dia aku akan membawanya masuk keparty kita besok." Timpal Naviza.


Sembarang saja Naviza memutuskan yang mana seharusnya Aron lah yang memutuskan dan sudah sepakat hanya mereka berdua yang akan memasuki dungeon bersama omen tapi sekarang Naviza malah menambah orang kedalam party lagi.


"Terserah kamu saja." Aron tidak ingin berdebat dengan Naviza saat makan malam karena akan jadi masalah jika dia ngambek dan tidak membuat sarapan pagi.


"Aku akan memintanya kesini besok untuk mempersiapkan barang disini sebelum berangkat kedalam dungeon." Ucap Naviza tidak lagi ingin dibantah.


"Urus saja."


Pagi hari.


Aron sekarang sedang merawat kebun sayur disamping rumahnya saat setelah dia membersihkan badan sekalian menunggu teman Naviza yang katanya akan datang pagi hari tapi ini sudah jam sepuluh dan dia belum datang.


Pip! Piiiip!!!


Tiba tiba klakson motor yang lumayan memekakkan telinga bunyi didepan rumah Aron dan Naviza yang dari tadi duduk sambil memperhatikan Aron membenahi tanaman sayurnya langsung meluncur keluar.

__ADS_1


"Kurasa itu teman yang dia maksud." Aron melihat Naviza aneh.


Belum lima menit Naviza kembali dengan satu orang wanita berambut hitam panjang sama dengan Naviza tapi tingginya sedikit lebih tinggi dari pada Naviza.


"Aron kenalkan ini temanku namanya Dinda Kirana nah Dinda ini Aron sebagai ketua party kita." Ucap Naviza memperkenalkan mereka.


"Halo aku Dinda seorang Arcer rank C." Dinda menyapa Aron dan jelas dia adalah Archer karena melihat panah dan anak panah dipunggungnya.


Aron segera mencuci tangannya sebelum menyambut Dinda. "Aku Aron rank C+." Singkat Aron memperkenalkan diri.


"Aku tidak menyangka ternyata teman Naviza adalah anda-" terpotong ucapannya oleh Aron.


"Panggil saja Aron."


"Baiklah."


"Sepertinya kamu mengenalku?" Aron cukup heran.


"Hehe siapa yang tidak mengenal Dark Catty bahkan ada banyak Hunter dan warga yang mengikuti gayamu dan mulai memelihara kucing hitam." Ucap Dinda.


"Yah selama mereka tidak membawa kucing mereka kedalam Dungeon kuanggap masih dalam batas kewajaran." Aron menggeleng.


"Omen!" Aron tidak menjawab dan memilih memanggil Omen.


Satu klebet hitam tiba tiba datang kepundak Aron dengan cepat bahkan Dinda tidak sempat menyadarinya tapi yang membuat nya semakin bingung kenapa ada ikan asin dimulut kucing yang ada dipundak Aron.


"Ini Omen juga jika mereka ingin mengikutiku seharusnya mereka mengajari kucing mereka cara mencuri ikan asin." Aron memperkenalkan kucingnya.


"Itu.. kenapa aku tidak menyadari kapan dia datang?" Bertanya Dinda.


"Dia merupakan hewan yang telah berevolusi menjadi kucing Beast jadi dia memiliki beberapa skill yang lumayan menguntungkan saat bertarung dengan monster." Jawab Aron.


"Wow ternyata title Dark Catty bukan hanya sebagai gurauan yah." Dinda langsung menangkap Omen dan mengelusnya yang mana Omen langsung membuang ikan asin yang ada dimulutnya.


Meong...


Omen memgeong dengan nada yang agak sedih dan Aron cukup kasihan dengannya karena harus menjadi populer dikalangan wanita terutama bulunya yang lebat apa lagi dibagian dada.


"Sudahlah... berapa banyak anak panahmu Dinda?" Bertanya Aron mulai masuk ketopik pembahasan.

__ADS_1


"Aku memiliki dua puluh anak panah apa itu cukup?" Bertanya kembali Dinda.


"Tidak! Kita akan membeli tiga puluh lagi nanti juga sini berikan panahmu aku ingin memeriksanya." Aron meminta Dinda untuk menyerahkan panahnya.


"Aku tidak bisa membawa terlalu banyak anak panah juga itu tidak muat ditempat penyimpanan anak panahku. "


Dinda menyerahkan panahnya pada Aron.


Aron memeriksa tingkat panah milik Dinda sebelum mencoba menariknya. "Omen ambilkan panah silver digudang." Aron ingin mengganti panah milik Dinda.


Omen langsung meluncur tanpa pamrih dan hanya perlu beberapa detik saja dia sudah pulang dengan panah berwarna silver dimulutnya yang sedikit lebih besar dari panah milik Dinda juga terdapat bebrapa tading wolf diujungnya.


"Gunakan ini." Aron memberikann panah silver tersebut kepada Dinda dan membiarkan Omen membawa panah Dinda masuk untuk disimpan.


"Ini terlalu bagus juga aku masih bisa menggunakan panah yang tadi." Tolak Dinda.


"Jika kamu memasuki Dungeon maka pilih lah sesuatu yang memiliki tingkat keberhasilan tinggi itu yang terpenting." Ucap Aron tidak ingin ditolak. "Gunakan ban pinggang ini juga itu dapat membantumu menyimpan anak pada cadangan."


"Baiklah terima kasih." Dinda tidak lagi menolak.


"Aih sepertinya kamu memang masih kekurangan banyak perlengkapan kenapa kamu tidak membelinya?" Aron merasa agak aneh karena seorang hunter rank C tapi tidak memiliki perlengkapan yang cukup.


"Hehe aku menjual semua perlengkapanku dan baru saja menggunakan semua uangku untuk membeli motor."


Seakan tidak merasa aneh Dinda hanya tersenyum sendiri dimana dia lebih memilih kendaraan dari pada keselamatannya.


"Sudahlah sebaiknya kamu memilih perlengkapanmu sendiri bersama dengan Navi digudang." Aron meminta Naviza untuk mengantar Dinda.


Mereka berdua segera pergi sedangkan Aron juga kembali kekamarnya untuk bersiap dengan perlengkapan serta segalah hal yang akan dia bawa seperti tenda dan lainnya.


Saat waktu makan siang mereka kembali berkumpul didapur untuk mengisi perut mereka.


Makan siang berjalan cukup lancar walaupun masih tetap membahas tentang r encana dan strategi dungeon nantinya.


Setelah sore hari dan semua siap berangkat Aron dan Naviza sudah siap dengan perlengkapan yang sering mereka gunakan yaitu Naviza sebuah jubah dengan staf serta sepatu dan sapu tangan yang dapat meningkatkan efek skill dan regenerasi mana.


Dinda sendiri menggunakan armor yang menutupi seluruh bagian tangan kiri sampai kelehernya dan menutupi bagian dada dan punggung serta sepatu yang berasa dari serigala angin yang dapat membuat kecepatan Dinda meningkat.


Setelah semuanya beres dan Dinda juga telah memarkir baik baik motornya dirumah Aron mereka segera berangkat menuju kedungeon yang sudah mereka pesan tapi sebelum itu mereka juga singga di tempat penjualan senjata dan makanan untuk membeli anak panah serta beberapa roti kering dan daging tentu Aron tidak lupa membawa ikan asin.

__ADS_1


__ADS_2