
Rumah Aron
"Biar kulihat." Aron masih memilih diantara rumah yang dia tandai.
Beberapa saat kemudian Aron berhasil menentukan rumah yang ingin ia beli, rumah tersebut adalah rumah yang dibangun setelah tsunami dan memiliki bentuk yang mirip dengan rumah bangsawan eropa abad pertengahan dimana memiliki tiga lantai.
Satu lantai diatas genteng yang memiliki satu kamar disana dengan atap diatasnya adalah kaca sehingga dapat melihat langit dari kamar secara langsung, itu akan sangat cocok untuk Aron yang menyukai seni dan melihat bintang malam sebelum tidur untuk menenangkan pikiran.
Rumah tersebut juga dilengkapi dengan gudang bawah tanah dimana memiliki dinding baja setebal sepuluh centi meter, keamanan tentu terjamin dimana memiliki sistem keamanan hunter yaitu dapat dibuka dengan sandi yang langsung terhubung dengan sistem hunter.
"Bagaimana menurutmu?" Bertanya Aron sambil memberikan laptopnya pada Naviza untuk melihat rumah yang dia pilih.
"... Ini cukup bagus, kenapa tidak." Naviza menanggapi. "Aku akan menelpon pemiliknya untuk bertemu besok bagaimna?"
"Ya aku juga ingin melihat lihat." Aron pun setuju.
"Aku pergi menyiapkan makan malam dulu."
Keesokan harinya Aron dan Naviza menuju lokasi rumah yang akan mereka beli bersama dengan pemilik rumah tersebut.
Saat sampai Aron memang sangat tertarik karena model rumah tersebut memang dirancang sesuai model rumah bangsawan eropa kuno, rumah itu memang tidak terhubung langsung dengan pantai tapi masih dapat merasakan angin pantai dari taman rumah.
Taman nya sendiri bahkan lebih luas dengan berbagai tumbuhan dipinggir jalur masuk rumah juga disamping kiri dan kanan memiliki lapangan kosong yang memang dikhususkan agar pemilik memilih apa yang akan mereka simpan disana nantinya.
"Ini.. mansion." Aron sudah berbinar melihat taman rumah yang bisa dia isi dengan kebun sayur nantinya.
[TL note : Mansion adalah rumah yang lebih besar dari pada umumnya dan kebanyakan orang ingris menyebut mansion sebagai tempat tinggal para bangsawan.]
"Haha ini hanyalah bagian luarnya saja tuan silahkan saya akan mengantar anda untuk melihat bagian dalamnya."
Seorang pria paruh baya bersuara yang memang dia adalah pemilik rumah tersebut yang mereka telpon untuk mengantar mereka.
Mereka terus berkeliling ditaman sebelum memasuki rumah yang lebih membuat Aron tertarik lagi tapi dari semua bagian dalam yang diperlihatkan pemilik rumah masih belum bisa memperlihatkan lantai bawahnya sebelum Aron sah sebagai pemilik rumah.
"Bagaimana menurut tuan?" Pemilik rumah tersebut bertanya pada Aron yang sudah terlihat sangat tertarik juga sudah siap menaikkan harga.
"Aron disini biar aku saja yang mengurusnya kamu pergilah melihat lihat tamannya." Naviza ingin mengambil alih bagian negosiasi karena Aron sudah tidak dapat diandalkan dalam hal ini karena pemilik sudah melihat Aron sangat tertarik pada rumah tersebut.
__ADS_1
Tentu Aron paham akan itu dan segera membawa Omen untuk pergi ketaman.
"Baiklah kuserahkan padamu."
Aron berjalan pergi dari ruang tamu.
"Mari kita masuk kebisnis." Berkata Naviza melihat kearah pemilik rumah yang selalu tersenyum dari tadi.
Sementara diluar rumah Aron sudah mengukur berbagai tempat kosong dan pembagian lokasi tempat kebun dan
jenis tanamannya.
Cukup lama Aron menunggu sambil melihat sekeliling juga sudah mempersiapkan akan adanya arena latihan untuknya berlatih pedang nanti sampai akhirnya Naviza berjalan keluar bersama pemilik rumah yang senyumannya agak berubah tidak seperti tadi.
'Sepertinya dia diperas habis habisan oleh Naviza.' Batin Aron berjalan medekat.
"Navi bagaimana?" Bertanya Aron.
"Sepuluh milyar." Naviza mengankat semua jarinya.
"Kalau begitu sesuai perjanjian kita akan melakukan pembayaran dan penyerahan rumah besok jam tiga sore disini jadi saya permisi dulu." Pemilik rumah tersebut pergi dengan mengendarai mobilnya yang sudah terparkir dihalaman rumah.
"Pulang?" Bertanya Aron.
"Aku menyarankanmu untuk melihat ponselmu." Naviza mengankat ponselnya.
Aron segera membuka ponselnya dan melihat berita terbaru dari web hunter palu, semua yang tertera disana adalah adanya berbagai guild besar yang mendarat dibandara.
"Dengan itu aku yakin harga batu sihir tidak akan rendah." Naviza berjalan mendahului kearah mobil Aron.
"Mereka datang untuk membeli batu sihir bahkan aku melihat ada orang asing yang datang." Aron tahu sebagaimana mahal dan langkah batu sihir itu dan memang ini hal wajar jika mer eka datang kepalu hanya untuk membeli batu sihir.
Aron juga telah merasakan sendiri bagaimana kekuatan dari batu sihir, bukan hanya meningkatkan kekuatan senjata tapi juga senjata tersebut dapat mengenali tuannya, seandainya bukan karena batu sihir maka Aron sampai sekarang belum bisa menggunakan Dual Dragon Sword karena beratnya tapi berkat batu sihir senjatanya dapat dia kendalikan dengan mudah karena berta pedang akan menyesuaikan kekuatan Aron.
Tentu kekuatan tebasan pedang juga akan menurun jika berat pedang tersebut menyesuaikan kesanggupan Aron tapi mau bagaimana lagi dari pada tidaj dapat digunakan, yang dapat Aron lakukan hanyalah meningkatkan kakuatannya agar dapat memaksimalkan kemampuan dari pesangnya.
Kembali kecerita sekarang Aron sudah menyetir dan siap untuk kembali kerumah.
__ADS_1
"Ini masih siang apa tidak bosan jika kita langsung kembali kerumah kenapa kita tidak mampir kewarung untuk minum kopi?" Aron mengusulkan.
"Kau punya uang Aron sebaiknya pilih cafe yang menyiapkan es krim juga." Naviza meralat perkataan Aron dengan mengusulkan hal lain.
"Baiklah kamu pilih saja tempatnya." Aron mengalah.
"Didepan ada Cafe dekat dengan bioskop kita singa kesana saja." Naviza melihat kearah ponsel dimana sekarang sedang mencari cafe terdekat untuk mampir.
"Oh iyah dari tadi Omen beraksi terus sepertinya ada yang mengikuti kita." Aron berkata dan alasan ini pula dia masih memilih untuk tidak pulang kerumah.
"Sudah jelas lah, mereka pasti tahu jika kau yang memiliki batu sihir yang akan dilelang diAssociation group." Naviza tidak terlalu memikirkannya.
"Bukannya mereka akan menyembunyikan identitas kita?" Bertanya Aron.
"Pasti Association tidak akan menjawab pertanyaan tentang identitas kita tapi saat kita menyerahkan batu sihir ada banyak hunter disana aku cukup ceroboh saat itu." Ucap Naviza.
"... Aku mengerti ..." Ucap Aron sebelum melihat sesuatu didepannya. "Bukankah itu Dinda." Aron mengenali Dindan yang sedang mengemudikan motornya ntah ingin kemana.
"Samperin." Naviza segera membuka jendela mobil untuk menyapa Dinda.
"Oke."
"Dinda! Kau mau kemana!?" Bertanya Naviza saat membuka kaca mobil tepat disamping Dinda.
"Naviza!" Meskipun sempat terkejut tapi Dinda segera menjawab. "Aku tadi ingin ke Dungeon tapi disana rame jadi aku pengen pulang!" Kembali Dinda menjawab.
"Mampi ke Cafe depan." Naviza mengajak Dinda sambil menujuk kearah Cafe dideoan mereka yang sudah dekat dan segera menutup kaca karena dibelakang mereka sudah banyak pengemudi yang membunyikan klakson.
"Oke!"
Aron perlahan membawa mobilnya keparkiran begitu juga Dinda yang memarkir mobilnya dan segera turun.
"Teraktir." Itu yang pertama kali dikatakan oleh Dinda saat turun dari motor.
"Aron saja." Naviza melemparkan semuanya kepada Aron.
"Ek! Terserah." Aron berjalan masuk ke Cafe.
__ADS_1