
Didalam Cafe
"Ada yang aneh dengan orang itu." Berkata Dinda meihat kearah orang diluar cafe karena cafe tersebut dindingnya terbuat dari kaca.
Sebagai seorang archer tentu Dinda memiliki mata yang cukup jeli untuk melihat sekitar dan dia melihat bahwa seorang diluar sedang mengawasi mereka.
"Biarkan saja aku yakin dia akan segera kembali." Berkata Aron yang cukup ahli dengan ini.
"Kenapa kau berkata begitu?" Bertanya Naviza.
"Orang itu bertugas untuk memantau kita dan melihat kita kapan kita pulang dan satu tim lagi sekar an pasti sedang bertarung dirumah." Aron menjawab sambil menyeruput kopinya.
"Aku baru sadar akan itu ayo kita pulang!" Naviza langsung berdiri karena dirumah Aron banyak benda berharga.
"Tenanglah Navi, sudah kubilang mereka sedang bertarung dirumah bahkan aku memperkirakan sekarang mereka sudah KO." Santai saja Aron berkata.
"Kenapa kau bilang begitu?" Naviza bertanya keheranan dan mencoba untuk tetap tenang sementara Dinda tidak paham akan pembicaraan.
"Ned ada dirumah ditambah aku mengirim Omen dengan kecepatannya sudah pasti hanya perlu beberapa menit saja untuk sampai." Aron memperkirakan karena jarak diantara Cafe dan rumahnya tidak terlalu jauh ditambah banyak gang yang gelap yang dapat menambah kecepatan Omen.
"Aku berharap begitu." Ucap Naviza melirik keluar.
"Biarpun Omen mungkin tidak dapat mengalahkan mereka tapi masih dapat menahan mereka juga jika masih belum bisa yah Omen akan membawa kabur semuanya kedalam cincin 0enyimpanan bersama Ned." Berkata Aron.
"Lalu kenapa kita tidak kembali?" Itu yang membuat Naviza bingung.
"Untuk menangkap dalangnya." Aron berkata saat orang yang mengawasi mereka tiba tiba mengankat telepon dengan wajah terkejut.
"Cepat tangkap orang itu." Aron langsung berlari keluar tanpa membayar diikuti oleh Naviza.
"E? Eh....? Kenapa harus aku yang membayarnya!?" Dinda berteriak kesal.
...
Sementara diluar Aron cepat mengikuti taksi yang membawa mata mata tersebut.
__ADS_1
"Mereka mau kemana?" Aron agak bingung karena dia kira akan mengikuti orang tersebut menuju kemarkas mereka tapi malah orang itu menuju kerumahnya.
"Sudahlah kita bersihkan orang ini dulu sebelum menanyakan siapa yang mengirim mereka."
Naviza bersiap dengan seragam hunternya yaitu jubah yang dapat melindunginya dari berbagai serangan dan staff.
"Aku berharap mereka tidak menghancurkan rumahku." Aron turun dan sembarang saja dia memarkir mobil saat melihat orang yang ia ikuti memasuki rumahnya.
Begitu Aron sampai didepan rumahnya Aron sudah dapat melihat beberapa kaca jendela rumahnya yang membeku bahkan suasana sekarang ini hampir mirip saat telur Ned menetas.
Aron juga melihat beberapa orang berpakaian layaknya assassin sudah tergeletak dihalaman rumahnya serta orang yang dia ikuti tadi sedang bertarung dengan Omen tapi lebih mirip seperti sedang ingin menangkap klabat hitam dengan pisau.
Mudah saja Ned membekukan kakinya sebelum omen menumbangkan orang tersebut.
"Setidaknya mereka masih hidup." Aron berjalan mendekat dan mulai mengikat para pencuri dirumahnya itu.
"Jadi apa yang akan kita lakukan pada mereka?" Bertanya Naviza.
"Aku menemukan emblem ini di saku orang yang mengikuti kita tadi tapi aku tidak menemukan emblem di yang lainnya." Aron melemparkan satu emblem pada Naviza yang berbentuk seperti pusau dan mata.
"Aku melihat emblem ini disalah sati guild yang turun dari bandara." Naviza segera membuka ponselnya. "Ini salah satu Guild ternama dijakarta namanya Porter Coffin." Naviza agak terkejut dengan itu.
"Sepertinya kita berurusan dengan lawan yang merepotkan sekarang." Ucap Aron.
Aron memang tidak ingin berurusan dengan sesuatu yang merepotkan tapi bukan berarti dia takut malahan ini akan menjadi seperti hiburan untuk hidupnya yang membosankan.
Aron tidak ingin menyisahkan satu pun sehingga akhirnya dia malah membunuh semua tawanan itu dan segera memasukkannya kedalam cincin penyimpanannya.
Setiap tempat penyimpanan semesta memang tidak dapat menyimpan makhluk hidup atau sesuatu y ang berjiwa tapi beda cerita jika mereka telah mati maka akan bisa masuk kedalam tempat penyimpanan namun beberapa tempat penyimpanan hanya dapat memasukkan mayat mosnter tidak dengan mayat manusia, cincin penyimpanan Aron merupakan cincin penyimpanan tinkat tinggi jadi dapat memasukkan mayat manusia.
Memang Naviza sempat terkejut dengan Aron yang membunuh dengan mudahnya tapi cepat juga dia menenangkan diri, disegala tempat yang pernah terjadi tragedi akibat terbukanya dungeon tidak ada yang lebih parah dari kota palu sehingga rata rata penduduk palu sudah terbiasa melihat mayat dan orang orang yang mati dihadapan mereka termasuk Naviza.
Hanya saja melihat Aron membunuh itu memang sangat berbeda dari pada mati karena kecelakaan.
Aron juga sebenarnya sempat memikirkannya bagaimana bisa ia membunuh dengan mudah tapi langsung membuang pikiran tersebut.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan dengan mayat itu?" Bertanya Naviza.
"Buang keDungeon."
Memang untuk sekarang Aron tidak berencana untuk melakukan serangan balik bagaimanapun juga kekuatannya
masih lemah untuk saat ini.
Untuk masalah pencurian Aron sudah menganggap selesai karena diapun sudah membunuh dalangnya.
Segera mereka berdua memperbaiki kondisi rumah dan menghilangkan jejak pertarungan setelah itu mengamankan semua isi gudang sebelum menuju kedungeon.
Memang diDungeon tetap banyak hunter asing (maksudnya bukan hunter lokal palu dan mereka berasal dari berbagai kota lainnya) yang sedang berkeliaran baik diluar maupun didalam bahkan semua tempat peruburan sudah terisi penuh.
Berbagai pandangan dari berbagai orang yang belum mengenal Aron, tentu dia kembali menjadi pusat perhatian dengan matanya bahkan membawa seekor naga juga kucing yang kebanyakan beast adalah monter yang berasal dari dalam Dungeon jadi banyak hunter yang tidak memperkirakan bahwa kucing Aron adalah seekor Beast.
Aron terus berjalan hingga sampai ketempat pemburuan serigala walaupun begitu masih ada beberapa party yang berburu disana.
"Kenapa Aron?" Bertanya Naviza melihat Aron agak bingung.
"Kita belum pernah memasuki hutan ini lebih dalam lagi tapi jika kita membuangnya disini maka kemungkinan akan ketahuan adalah lima puluh persen." Berkata Aron meminta pendapat Naviza.
"Benar juga kalau begitu sekalian saja kita menjelajahi hutan ini kurasa dengan kekuatan kita dan bantuan omen kita masih bisa melarikan diri saat berada dalam bahaya." Naviza mengusulkan.
"Baiklah."
Aron kembali melanjutkan perjalan mereka hingga sampai tempat perburuan Orge walaupun masih ada beberapa party bunter rank A tapi dengan bimbingan Omen mereka berhasik mencapai tempat yang lebih banyak orge dan jauh dari hunter.
"Aku akan membuangnya." Aron meluncur ktengah tengah Orge dan melukai beberapa sebelum membuang mayat assassin tadi dan meninggalkan kerumunan para Orge.
"Sudah?" Bertanya Naviza.
"Sudah tapi baru kali ini aku menebas Orge tidak kusangka kulit mereka sangat tebal seandainya aku tidak menggunakan Dual Ice Sword maka aku tidak yakin dapat melukai mereka."
Aron merasakan tanganya hampir keseleok karena menganggap Orge sebagai tahu dan menebas sembarangan.
__ADS_1
"Jadi apa kita akan berburu?" Kembali Naviza bertanya.
"Karena kita sudah berada disini sekalian saja meningkatkan kekuatan aku juga ingin merasakan efek dari teknik pedang ilusi ku." Berkata Aron meninggalkan kerumunan Orge tersebut yang mulai memperebutkan mayat assassin.