Battle Of Hunter

Battle Of Hunter
Chp 32, Tidak bisa menikah


__ADS_3

Aron setiap hari bekerja membajak taman untuk dijadikan lahan sayurannya sedangkan Naviza tidak ingin repot dan langsung menyewa jasa dekorasi rumah untuk mendekor ulang bagian dalamnya.


Naviza memilih dekorasi dengan berbagai ukiran lebih tepatnya menggunakan senjata pedang untuk menghiasi beberapa dinding dan beberapa boneka yang dilapisi armor full dan senjata lengkap yang memiliki tampilan super untuk melengkapi setiap ruangan karena menurutnya Aron akan menyukai itu.


Tentu berbagai senjata tersebut tidak akan bagus dipakai dalam pertempuran karena hanya tampilannya sajalah yang bagus dengan berbagai ukiran tapi sebenarnya senjata tersebut hanya lah berbagai lapisan besi biasa yang hanya diberikan enchant oleh para penempa untuk menamba kesan dan biasa dipakai dalam permainan opera.


Tentu semuanya sesuai perkiraan Naviza karena Aron langsung sangat berterima kasih padanya saat melihat Mansion Catty memiliki dekorasi yang hampir mirip dengan gudangnya.


Gudang Aron sendiri hanya dapat dibuka oleh hunter dan juga dapat mengenali penggunanya karena akan terhubung dengan sistem hunter pengguna.


Aron bukannya tidak ingin membiarkan Naviza masuk tapi wanita itu tidak ingin dimasukkan dalam admin pengguna gudang dengan alasan tidak terlalu peduli.


Setelah beberapa hari hanya menata rumah sana sini dan akhirnya hasilnya sesuai dengan perkiraan mereka walaupun ladang sayur milik Aron masih belum semuanya tumbuh.


"Akhirnya selesai juga." Aron melap keringatnya seakan puas dengan hasil.


"Aku jadi sedikit merasa bosan setelah beberapa hari hanya mengarahkan para pendekor saja." Naviza agak mengeluh.


"Bagaimana dengan Dinda?"


"Aku sudah menghubinginya dan sepertinya sebentar lagi dia akan sampai."


Bip! Biiipppp!...


"Berisik! Kau bisa tidak menyalakan klakson motormu saat sampai dirumahku!" Aron berbalik berteriak kearah wanita yang baru datang dengan motornya.


"Haha maaf maaf." Ucap Dinda tidak bersungguh sungguh karena memang dia sengaja melakukannya.


"Gua copot ntar lu punya klakson tuh." Aron masih agak emosi saat menikmati waktu santainya malah dikejutkan oleh klakson motor.


"Sudah sudah jangan terlalu dipermasalahkan.. hm.. kurasa kau sudah tau kenapa aku memanggilmu kemari."


Naviza melirik kearah Dinda.


"Dia bahkan sudah membawa koper." Aron berkomentar.


"Hehe aku juga sudah membawa semua barangku dari kost dan mulai sekarang aku tinggal disini." Ucap Dinda menunjuk kearah Mansion catty.


"Terserahmu saja yang penting jangan memilih kamar didekat kamarku, jauh jauh." Ucap Aron.


"Hehe.." Dinda tertawa aneh.


"Oh iyah kita belum pernah melakukan misi khusus dari association kan?" Naviza tiba tiba membahas hal lain.


"Kenapa kamu tiba tiba membahas itu?" Aron bertanya balik.


"Tidak ada masalah, aku hanya sedikit bosan saja." Naviza menjawab.


"Kita hanya melakukan misi saat mendapatkan satu dungeon, apa kalian ingin membeli dungeon lagi?" Dinda


bertanya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita cari misi lain seperti dungeon break atau semacamnya kita juga harus mendaftarkan party kita agar bisa mendapatkan misi darurat." Aron berkata.


"Iya juga kita sudah bisa membangun Party sendiri, bagaimana kalau kita menuju association sekarang untuk


mendaftar." Naviza menyarankan.


"Aku kedalam dulu ya!" Berteriak Dinda yang sudah berlari masuk ke Mansion.


"-_ Sebaiknya kita lakukan besok saja." Aron menyarankan dan berjalan masuk keMansion


menyusul Dinda.


Aron langsung naik kelantai dua dan melewati tangga kecil disalah satu kamar untuk naik kebalkon yaitu kamar Aron.


...


Pagi hari


"Benar benar kamar yang bagus, cahaya matahari langsung masuk begitu terbit."


Aron meregangkan badanya setelah membuka tirai jendela lebih tepatnya tirai atapnya karena atap rumahnya sendiri adalah kaca dibagian kamarnya.


"Mandi."


Aron segera bergegas membuka semua pakaiannya dan menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya sebelum turun kekamar dibawahnya yang memiliki kamar mandi untuk mandi.


"Aaahh!!!" Aron berteriak keras saat melihat Dinda berada didalam kamar mandi tanpa busana. "A-a-a-apa yang kau lakukan dikamarku!?" Bertanya Aron yang sudah tidak karuan.


"M-mm-kyaa!!" Dinda balas berteriak dengan semua badannya yang sudah memerah. "Aron mesum!!" Ucap Dinda siap menghantam kepala Aron tapi malah terpeleset saat mengambil handuk dan akhirnya menimpa Aron.


"Kau bisa hati hati tidak!?" Berteriak Aron yang agak kesal karena pagi cerahnya harus terganggu.


"Mm-mm." Dinda tidak bersuara lagi dan malah semakin mempererat  pelukannya pada Aron yang sedang terduduk bersandar didinding kamar mandi karena ditimpa Dinda.


"Mm?" Aron agak bingung.


"Wuaa.. uwaa.. a-aku sudah tidak bisa menikah Aron kau tanggung jawab uwaa..!" Dinda malah berteriak menangis.


"Kenapa harus aku yang tanggung jawab jelas jelas kau yang masuk kekamar mandiku!"


"Ini kamarku."


"Lah kemarin aku sudah bilang jangan memilih kamar di dekat kamarku!"


"Aku tidak peduli kau harus tanggung jawab!"


Bam!


Tiba tiba pintu kamar mandi terbuka dengan keras dan memperlihatkan Naviza yang berdiri disana.


"-_- aku penasaran apa yang dari tadi ribut pagi pagi begini.. oh.. ternyata dua pasangan baru yang sedang dimabuk cinta." Berkata Naviza yang setengah wajahnya sudah gelap.

__ADS_1


"Sekarang aku bingung bagaimana menjelaskannya_-" Guman Aron.


...


Satu jam kemudian setelah semuanya dijelaskan dimeja makan.


"Sajauh itu aku mengerti." Naviza mengangguk.


"Kenapa aku berpikir jika kau masih memilki dendam dengan kejadian tadi Naviza." Ucap Aron -_-


"Jadi Naviza ... Aron itu.." Dinda agak malu malu untuk berbicara sebelum menarik nafas dalam. "Pokoknya Aron harus menikah denganku!!" Teriak Dinda.


"E!-eh!!" Naviza dan Aron agak terkejut karena Dinda masih mempermasalahkannya tapi Naviza agak memaklumi.


"Ya aku sedikit paham keadaan Dinda tapi apa ini tidak terlalu ekhhem maksudku itu." Naviza tidak melanjutkan perkataannya lagi.


"Dinda, bukannya biasanya kamu selalu bertingkah seola sudah terbiasa dilihat laki laki kenapa sekarang aku merasa kalau kamu selama ini berpura pura." Aron menggeleng.


"I-itu tentu saja aku sudah biasa hmph!" Dinda berbalik karena tidak ingin dianggap sebagai cewek polos.


"Oh kalau begitu aku tidak perlu bertanggung jawab lagian aku juga hanya melihatnya saja itupun hanya sekilas."


"Hanya? Kau bilang hanya? Kau bahkan memelukku!" Berteriak Dinda.


"Itu kau yang memelukku woi!"


"Pokoknya kau harus tanggung jawab!!"


"Terserahmu saja." Aron tidak ingin lagi berdebat dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda.


"Hmph! Kuanggap kau setuju untuk menikah mulai sekarang kau dilarang dekat dengan wanita lain." Dinda menggerutu.


"Kenapa harus kau yang mengaturku!" Aron kembali berteriak.


"Sudahlah kalian nih.. kita hari ini ingin mendaftarkan party kita dan kalian malah berdebat dipagi hari begini sungguh party yang meriah." Naviza menengahi.


Pada akhirnya semuanya diam melanjutkan sarapan mereka dan segera menuju association dengan perlengkapan tempur mereka.


"Didepan ramai." Aron berkata saat melihat semua kendaraan didepannya berhenti dan macet parah.


"Itu macet." Ucap Dinda.


"Aku tau itu macet tapi ini jarang terjadi dipalu apa ada sesuatu didepan?" Aron berpikir.


"Dungeon Break." Ucap Naviza.


"Hm?" Aron dan Dinda langsung melihat


kearah Naviza dengan bingung sebelum mereka menyadarinya saat mendegar suara pertarungan didepan juga macet ini tidak terlalu panjang karena beberapa polisi dan petugas lapangan association telah mengarahkan kendaraan.


"Dikota ini kapan lagi bisa bertemu macet seperti ini." Ucap Naviza mulai bersiap.

__ADS_1


"Haih mobilku harus kutinggal ditengah macet begini apa tidak masalah?" Aron bertanya.


"Nanti kau beli yang baru saja jika mobilmu kecolongan." Dinda tidak terlalu peduli.


__ADS_2