Battle Of Hunter

Battle Of Hunter
Chp 24, Ayah Dinda


__ADS_3

Desa Bengkolli


"Boleh saya melihatnya?" Bertanya Aron.


"Ai tidak suka i je diganggu kalo lagi bekerjai jadi lihat mi saja di." Ibu Dinda mengizinkan dengan syarat tidak boleh mengganggu. "Dinda antar i dulu nak Aron pigi liat bapakmu." Ucap ibu Dinda menunjuk kearah belakang rumah.


"Iye ma." Dinda berdiri. "Ayo Aron." Ajak Dinda.


Aron segera mengikuti Dinda kekuar rumah dan pergi kebelakang dimana disana terdapat sebuah gudang yang cukup besar dan didalmnya tedapat dua orang satu sedang memukul besi yang satunya anak kecil yang terus mengatur suhu api dari pembakaran.


"Itu yang memukul besi itu ayahku dan yang kecil adikku namanya Candra Kirana." Dinda memperkenalkan.


"Sepertinya dia akan menjadi penerus ayahmu." Aron memperhatikan.


"Aku juga tidak ingin menjadi penempa besi." Dinda tidak ingin meneruskan pekerjaan ayahnya.


Ting!...


Tiba tiba ayah Dinda berhenti memukul dan menoleh kearah Dinda sebentar sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Benar benar profesional anaknya pulangpun tidak dihiraukan." Antara memuji ayah Dinda dan mengejek Dinda keduanya pas untuk kata kata Aron.


"Kenapa aku merasa kau sedang mengejekku Aron." Dinda agak kesal mendengar perkataan Aron.


Cukup lama Aron memperhatikan bagaimana ayah Dinda bekerja sampai akhirnya terbentuk sebuah golok yang hanya perlu diasah dan gagang saja maka sudah siap untuk digunakan.


Ayah Dinda datang menghampiri Dinda.


"Kapan kau pulang nak?" Bertanya ayah Dinda membiarkan Dinda memberinya salam sama seperti Aron.


"Baru baru pa." Dinda menjawab.


"Siapa ini?" Ayah Dinda bertanya tentang Aron.


"Aron temanku mau perbaiki senjatanya." Dinda menjawab.

__ADS_1


"Oh apa yang ingin kau perbaiki anak muda?" Bertanya ayah Dinda.


"Ini." Aron mengeluarkan Dragon Iron Sword dan Ice Crystal Sword.


"Hee memang senjata yang bagus dan aku ragu jika kau akan menemukan tempat lain untuk menempanya." Ayah Dinda cukup menyombongkan skill penempaannya karena memang sepertinya dia memiliki harga diri tinggi sebagai penempa. "Tapi apa yang perlu diperbaiki kedua senjata ini sudah sangat bagus." Heran ayah Dinda.


Aron mengeluarkan pedang hitamnya dan menyerahkannya pada ayah Dinda. "Aku ingin kedua pedang itu dibelah dua dan menjadi dual sword dalam bentuk pedang seperti itu." Ucap Aron.


"Pedang ini telalu tebal untuk dijadikan pedang tipis maka tingkat ketahanannya juga akan menurun kecuali kau memiliki batu sihir maka ini akan mudah tapi batu sibir terlalu langka untuk didapatkan. " Ucap ayah Dinda mengembalikan pedang tipis Aron.


Aron langsung mengekuarkan sepuluh kilo batu sihir kedepannya. "Segini cukup?"


"Oh kau punya barang bagus aku akan mulai bekerja dengan batu sihir ini terserah kau mau menunggu atau mau apa." Ayah Dinda sempat berbinar melihat batu sihir tapi segera dia kembali tenang.


"Butuh waktu berapa lama?" Bertanya Aron.


"Dragon Iron Sword ini memiliki tingkat kekerasan yang extra jadi kemungkinan memerlukan waktu selama satu hari penuh untuk membentuk dua pedang dari satu pedang itu lalu butuh satu malam untuk direndam kedalam larutan batu sihir yang sudah di leburkan dan harus tetap dalam keadaan panas." Ayah Dinda meletakkan pedang tersebut kembali.


"Dan untuk Ice Crystal Sword mungkin tingkatnya kekerasannya lebih rendah dari pada Dragon Iron Sword tapi ini akan lebih lama karena harus ditempa dengan hati hati juga pedang ini juga memiliki ketahanan terhadap api jadi akan susah untuk menyatukannya dengan batu sihir." Ayah Dinda berpikir sejenak.


"Jadi berapa lama waktu yang dibutuhkan?" Kembali Aron bertanya.


"Bisakah sekalian memodifikasi armor ini." Aron memberikan Armor pundak kanannya yang hanya memiliki satu slot pedang.


"Ingin kau apakan armor ini?"


"Buat dua slot pedang disana dengan membentang dari kanan atas kekiri bawah juga usahakan agar pas dan tidak terlalu berisik walaupun tidak menggunakan sarung pedang. " Pinta Aron.


"Baiklah serahkan saja padaku." Ayah Dinda menyanggupi.


"Baiklah kalau begitu sekalian saja semuanya." Tersenyum Aron memberikan banyak Armor pundak yang ingin dia berikan semuanya dua slot pedang.


"Oi bocah apa kau ingin membunuhku?"


"Aku kira paman ini adalah penempa terhandal ternyata bukan bahkan pesanan seperti ini saja tidak bisa diselesaikan." Ucap Aron siap untuk membereskan itemnya.

__ADS_1


"Ek tentu saja aku bisa kau tenang saja bocah tapi ekhhem itu. " Ayah Dinda memberikan kode dengan melirik kearah batu sihir yang ada dilantai.


"Paman tenang saja aku masih ada banyak." Aron langsung mengeluarkan sepuluh kilo lagi.


"Oke aku akan meningkatkan senjatamu kali ini." Berkata ayah Dinda percaya diri memegang pundak Aron.


"Kalau begitu aku menyerahkannya padamu paman." Aron berjalan keluar.


Alasan Aron sebenarnya mempercayakan senjatanya pada ayah Dinda selain direkomendasikan oleh Dinda Aron juga melihat diinternet cukup banyak orang yang jauh jauh datang untuk membuat pedang dan bahkan paman itu juga sangat dipercayai oleh warga sekitar larena kejujurannya. Jadi menurut Aron jika paman itu berkata bisa maka sudah pasti bisa.


Aron berjalan keluar bersama Dinda dimana Dinda tiba tiba bertanya.


"Aron aku melihat telur dibagasi mobil apa kau membawa telur itu?" Bertanya Dinda.


"Aku membawanya jangan sampai telur itu malah menetas saat kita tidak ada dirumah dan mengakibatkan masalah karena mencari orang pertama sebagai induk." Aron menjawab.


Memang akan sangat merepotkan jika telur tersebut malah meretas dirumah kosong walaupun Aron tidak yakin itu akan meretas begitu cepat.


Aron lebih memilih untuk beristirahat dan Dinda mengantarnya kekamar adiknya untuk beristirahat sementara biar bagaimana pun perjalanan enam jam ditambah satu jam dibebatuan membuat pinggang Aron agak keram.


Sore hari Naviza bangun juga Aron dan mereka memilih berkeliling desa untuk menikmati suasana desa sebelum menjelang malam.


Memang tidak ada sunset ataupun sesuatu yang indah saat sore hari karena terhalang oleh banyak pohon kelapa tapi Aron masih dapat menikmati suasana desa yang jauh dari kata sibuknya kota.


Aron segera kembali kerumah Dinda untuk makan malam saat hari sudah mulai gelap, Aron sendiri memutuskan untuk tetap tinggal dan memilih menunggu hingga perbaikan senjatanya selesai.


Selama beberapa hari Aron hanya akan pergi ketempat penempaan ayah Dinda untuk melihat proses terkadang pula pergi melihat lihat desa sampai kegunung.


Aron tidak berani mendaki karena walaupun itu adalah hunter rank A sudah pasti tidak akan mampu mendaki hingga kepuncak gunung dalam waktu sehari saja.


Jadi Aron hanya menikmati liburan seadanya saja seperti pergi kesungai untuk mandi setiap pagi dan kadang malah membantu warga yang jika sedang ada gotong royong seperti memperbaiki jalan, membersihkan selokan memperbaiki rumah dan lain lain.


Aron hanya melakukan itu semua untuk mengisi waktu luangnya karena dia sangat jarang memiliki waktu luang selama ini.


Tidak terasa akhirnya satu minggu berlangsung dan dan ayah Dinda pun sudah menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


...


"Bagaimana menurutmu?" Bertanya ayah Dinda meletakkan empat pedang dimeja dengan dua jenis pedang.


__ADS_2