Battle Of Hunter

Battle Of Hunter
Chp 26, Telur Dragon


__ADS_3

Rumah Aron


"Aku juga belum memikirkannya dan itu patut dicoba tapi alam berusaha melindungi agar telur ini tidak mertas apa tidak berbahaya jika kita meretaskannya?" Naviza agak ragu.


"Kalau memang akan bebahaya langsung kita bunuh saja begitu dia meretas aku yakin isi telur itu tidak terlalu kuat saat baru lahir." Aron berbicara sambil menggeser layar ponselnya.


"Apa yang kau lakukan?" Bertanya Naviza karena merasa sesuatu yang aneh lambat atau cepat pasti akan datang kerumah.


"Memesan kulkas pendingin super dapat mendinginkan hingga minus seribu derajat celcius." Aron memperlihatkan isi ponselnya dimana sesuatu terpampang jelas disana dengan kulkas kecil yang sudah terpesan oleh Aron.


"Kapan sampainya?" Kembali Naviza bertanya.


"Tiga puluh menit."


Singkat cerita tiga puluh menit kemudian dan satu kulkas berukuran satu meter kali satu meter masuk keruang tamu Aron, Aron segera menyalakannya untuk mendinginkan kulkas tersebut lebih tepatnya mesin pendingin tingkat tinggi.


"Bagaimana cara meletakkan telurnya?" Bertanya Aron karena tidak tahu bagaimana biasanya telur menetas dan apakah kepalanya terbalik atau tidak.


"Biar aku saja." Naviza mengambil telur ditangan Aron dan segera meletakkannya didalam kulkas dengan posisi yang benar.


"Bagaimana sekarang?" Aron bertanya.


"Tunggu saja lagian suhunya belum terlalu mines mungkin memerlukan beberapa menit untuk memaksimalkan suhunya." Naviza menutup pintu kulkas.


"Baiklah."


Sudah satu jam Aron menunggu tapi tidak ada reaksi juga akhirnya Naviza memanggilnya untuk makan malam.


Setelah makan malam Aron lebih memilih tidur disova ruang tamu karena ingin melihat perkembangan telur meskipun sebenarnya telurnya tidak terlihat sama sekali karena berada dalam kulkas.


Keesoknya Aron tidak lagi menunggu diruang tamu karena setelah sarapan dia pergi kehalaman rumahnya untuk memperbaiki kebun sayurnya, meskipun sudah memiliki banyak uang dan tidak perlu lagi menanam sayur untuk menghemat uang tapi karena sudah kebiasaan Aron setiap bangun tidur jadinya seperti itu.


Setelah selesai menata kebunnya Aron lebih memilih untuk membiasakan memkombimasikan empat pedang berat dan ringan itu meskipun itu adalah hal sulit tapi tidak mustahil.


Aron memang sangat kesulitan karena harus memainkan dua pedang super berat dan dua pedang super ringan, alasan Aron menggunakan empat pedang secara bergantian karena menurutnya itu akan mampu menaikkan persentase kemenangan saat musuh hanya dapat menangkis dua pedang atau malah terkecoh oleh mata pedang.

__ADS_1


Jelasnya tekhnik berpedang yang Aron latih memaksimalkan pada titik buta penglihatan umum monster atau manusia.


Adapun pisau, tentu itu bukan sekedar gaya saja karena Aron pun harus mengantisipasi saat musuh berhasil masuk kedalam jarak dekat tapi pedang tidak dapat menajngkaunya karena kepanjangan dan hanya pisau yang dapat menyerang.


Kombinasi empat senjata milik Aron semakin baik karena tidak akan ada pedang yang menganggur didalam sarung dan semuanya hanya dilemparkan keatas untuk mengganti senjata dan kembali melemparnya atau menancapkannya ditanah agar lebih mudah untuk mengambilnya.


Dalam tekhnik ini pedang yang dilempar keatas tentu akan sering mengecoh lawan terutama lawan yang pintar karena terkadang fokus mereka akan berada pada pedang yang dilempar keatas untuk menghindari Aron kembali mengambilnya dan jika mereka tidak memperhatikannya bisa saja Aron menyerang mereka dengan pedang ditangannya tapi cepat pula mengganti senjata yang jatuh dari atas dan menebas leher mereka.


Kekurangan tekhnik ini hanyalah terletak pada pedang Aron yang memiliki dua macam berat jadi sebelum Aron terbiasa dengan berat dua pedang yang berlawanan maka dia tidak akan mampu memaksimlakan teknik ini.


Ditengah pelatihannya dan Naviz ayang tidak memiliki kerjaan lain selain membaca buku dihalaman sambil memperhatikan Aron tiba tiba rumah Aron mulai dingin bahkan kolam tempat Aron mengambil air untuk menyiram tanamnnya juga ikut membeku apa lagi ikan yang ada didalamnya hampir mati.


"Aaa ikanku!!" Yang dipermasalahkan Aron malah ikannya yang hampir mati dan bukan rumahnya yang sudah dingin layaknya gunung es.


"Woi yang seharusnya kau cari adalah sumber dingin ini!" Berteriak Naviza.


Aron baru tersadar dan segera berlari kearah ruang tamu dimana disana terdapat telur yang sedang dia dinginkan dan benar saja memang dingin tersebut berasal dari kulkas yang pintunya sudah rusak.


Perlahan Aron melihat didalamnya terdapat kadal berwarnah biru es dengan sayap kecilnya yang bisa dibilang lumayan lucu.


Roarrr...


Meskipun aumannya tidak terlalu besar tapi itu menimbulkan sedikit kesan intimidasi dan segera dia melompat kearah Aron.


Aron kira dia akan diserang tapi nyatanya naga kecil yang masih memiliki kulit tipis itu dan hanya beberapa sisik saja yang tumbuh mencoba untuk mendapatkan belaiannya mungkin dia mengira Aron adakh orang tuannya tapi segera Aron siap menebasnya.


"Apa yang kau lakukan Aron!?" Berteriak Naviza segera merebut naga kecil tersebut.


"Dia kecil begini saja sudah bisa membekukan rumahku dan membunuh ikan ikan ku bagaimana kalau dia besar nanti mungkin satu bumi jadi lautan es." Aron menepati kata kata nya yang akan membunuh naga tersebut jika dianggap berbahaya.


"Tapi dia lucu." Naviza memelas dan baru kali ini Aron melihatmya seperti itu.


Memang dari awal Aron ingin membunuhnya karena keraguan Naviza tapi kali ini Naviza sendirilah yang ingin merawatnya jadi dia bolehkan saja.


"Terserahmu saja." Aron menyimpan pedangnya.

__ADS_1


"Oke hehe." Yang tadi memelas sekarang tiba tiba melompat bahagia.


Suhu dirumah Aron juga perlahan kembali normal dan Aron segera membereskan kulkas rusak yang habis dia pakai tapi dia menemukan satu leontin es didalam kulkas tersebut yang sepertinya berasal dari telur tadi.


Aron segera mencarikan kalung yang cocok untuk liontin itu diruang penyimpananya dan menemukan satu kalung silver tapi Aron langsung tidak berminat saat mencobanya karena lebih cocok digunakan oleh perempuan.


"Naviza!" Berteriak Aron memanggil Naviza karena ingin memberikan liontin itu padanya.


"Apa!?" Balas Naviza berteriak dari kamarnya dan Aron seera menuju kesana.


Kriieeek... Bun!


"Ini." Aron langsung memberikannya karena merasa itu lebih cocok digunakan oleh Naviza.


"Ini indah terima kasih." Naviza pun tidak menolaknya.


"Anu sepertinya aku merasa rumah kita kekecilan jadi aku berencana membeli rumah yang lebih besar dan merekrut party agar memudahkan kita dalam membentuk kekuatan." Aron tiba tiba menyampaikan pedapatnya akan bagaimana masa deoannya nanti.


Sekilas Naviza tersenyum karena Aron sudah mulai berpikir bahwa memiliki rekan lebih baik. "Baiklah aku akan mendukungmu." Jawab Naviza.


"Aku akan mencari dungeon jika ketemu maka kita akan kesana besok tapi kalau tidak yah kita akan menuju kedungeon tetap, usahakan mengajak Dinda yah." Aron keluar.


"Baiklah."


...


Pagi hari rumah Aron.


"Apa kau menemukan Dungeon?" Bertanya Naviza saat melihat Aron mengerutkan keningnya.


"Belum... haih sudahlah kita masuk kedungeon tetap saja dan mencoba untuk mencari lebih dalam. " Aron menutup ponselnya.


"Akhir akhir ini netizen sudah mulai berhenti membicarakanmu dan memilih berganti topik." Ucap Dinda karena memang mereka bertiga sudah siap untuk berangkat ku Dunegon.


"Ya selama aku tidak muncul dipublik maka mereka juga akan melupakanku." Aron segera menyalakan mobilnya.

__ADS_1


Brooomm!...


__ADS_2