Battle Of Hunter

Battle Of Hunter
Chp 25, Kembali Ke Palu


__ADS_3

Desa Bengkolli


[Dual Dragon Sword


Pedang tipis panjang bermata satu yang berasal dari modifikasi pedang bermata dua. Tidak dapat mengubah berat sehingga berat pedang tetap sama.


Skill Pasif : Dragon Aura, meningkatkan aura pengguna saat menggunakan pedang.


Skill Aktif : Shadow Dragon, dapat membuat bayangan naga yang mempu menyerang musuh, hanya dapat dikeluarkan saat pengguna menggunakan kedua pedang.]


[Dual Ice Sword


Pedang tipis panjang bermata satu yang berasal dari modifikasi pedang bermata dua.


Akibat modifikasi membuat pedang menjadi lebih ringan tapi tidak menurunkan kekuatan.


Skill Pasif : Ice Princes, mengeluarkan aura dingin dari tubuh pengguna. Hanya dapat digunakan saat pengguna menggunakan kedua pedang.


Skill Aktif : 'Ice Critical, membekukan target yang ditebas oleh pedang.


Skill Aktif : Ice Sword, menurunkan suhu pedang hingga ke -2.000° C. Tergantung penggunaan mana.]


"Ini sangat bagus paman good job." Aron langsung mengambil pedang tersebut mencoba menebaskan satu persatu.


Memang sangat aneh karena Dragon Sword memiliki berat yang sangat berat sedangkan Ice Sword merupakan Pedang teringan yang pernah Aron gunakan bahkan serasa seperti mengankat kertas saja.


"Aku juga membuatkan sarung pedang untuk keempat pedangmu itu lihatlah." Ayah Dinda kembali mengeluarkan empat sarung pedang.


Dua diantaranya berwarna biru es yang memang dimodifikasi untuk Ice sword dengan berbagai corak keristal sedangkan yang satunya mungkin bisa dibilang bukan sarung karena hanya menutupi beberapa bagian saja dan membiarkan beberapa corak dari Dragon Sword untuk kelihatan tapi Aron menyukai itu.


"Sesuai selera paman." Aron memberikan jempol.


"Baiklah itu saja yang bisa aku lakukan dan ini armormu kecuali slot dan merendamnya dalam batu sihir aku tidak menambahkan yang lain lagi." Ayah Dinda mengeluarkan semua armor pundak Aron yang sudah megkilat.


"Jadi aku harus membayar berapa untuk ini semua?" Bertanya Aron.


"Tidak perlu karena lima kilo sisa batu sihir didalam sudah lebih dari cukup." Ayah Dinda menjawab.


"Semua keperluanku disini sudah selesai mungkin aku harus pulang besok jadi bagaimana dengan Dinda?" Bertanya Aron pada Dinda akan tujuan mereka kedepannya.

__ADS_1


"Aku akan ikut ke Palu." Jawab Dinda.


"Kamu baik baik saja dipalu yah nak." Ayah Dinda menimpali.


"Iye."


"Saya akan membawanya kembali saat membutuhkan perbaikan senjata baru." Ucap Aron yang merasa perjalanan kali ini tidak lah terlalu merugikan.


"Baiklah kalau kau memiliki sesuatu yang


bagus lagi bawalah kemari." Ayah Dinda merasa senang karena tentu sebagai penempa yang memiliki harga diri tinggi dia akan merasa senang jika bertemu dengan item tingkat tinggi apa lagi bisa menggunakan apinya untuk membengkokkannya.


"Ok."


Singkat cerita keesokan harinya Aron kembali kepalu setelah berpamitan. Naviza sendiri sudah tidak terlalu mual karena telah mengantisipasi jadi segera meminum berbagai obat yang dapat menahan mualnya.


Waktu kembali kepalu membutuhkan waktu tujuh jam itu adalah kecepatan maksimal Aron bukan karena mobil baru tapi karena dia belum terbiasa mengemudi dijalan berliku.


Akhirnya mereka tiba dirumah Aron jam dua siang, Naviza dan Dinda hanya langsung melemparkan dirinya ketempat tidur tapi Aron memilih menunggu paket nya datang yang akan tiba jam tiga jadi sambil menunggu dia juga menata beberapa set armor digudang.


Begitu jam tiga sore bell rumah Aron berbunyi dan Aron segera keluar untuk membiarkan para pekerja itu mengantarnya kedalam rumah.


"Benar ini rumah Aron atmaja?" Bertanya seorang petugas kurir yang sebenarnya sudah tahu itu rumah Aron.


"Silahkan tanda tangani dulu." Petugas itu memberikan Aron surat keterangan pengantaran paket dan surat terima. "Paketnya ditaro dimana mas?"


"Bawa masuk saja." Tentu Aron tidak ingin menyiayiakan jasa pengantar paket dan sekalian saja menyuruhnya untuk mengantar masuk karena Aron yakin paketnya lumayan berat.


Satu kotak setinggi dua meter keluar dari truk dengan troli yang dibawa oleh petugas tersebut untuk membawanya kedalam rumah Aron. Aron segera menuntunya untuk menyimpan didepan pintu gudang itemnya.


Empat kardus berikutnya menyusul karena Aron memang memesan lima paket.


"Apa itu Aron?" Bertanya Naviza yang sudah ada didekatnya.


"Ini bonek besi yang aku pesan, Dinda kemana?" Kembali Aron bertanya.


"Dinda pulang, untuk apa kau membeli banyak boneka besi." Naviza agak bingung.


"Lihat saja nanti sekarang aku harus memindahkan semuanya kedalam kamu bantu aku membuka kardusnya

__ADS_1


didalam." Aron segera mengankat satu persatu kotak besar tersbut.


"Oke." Naviza segera masuk dan membantu Aron membereskan kardusnya.


Didalam lima kardus tersebut terdapat lima boneka besi hitam legam yang boleh digerakkan persendianya termasuk jari jari dan dikunci tergantung bentuk yang ingin pengguna pakai.


"Saatnya menyusun armornya." Aron segera memakaikan kaos hunter yang lumayan ketat dan fleksibel kepada setiap boneka besi sebelum memasangkan mereka Armor dan senjata.


Lima boneka besi tersebut berbaris rapi diruangan tersebut dengan yang ditengah menggunakan armor Dragon lengkap dengan prisai besar dan pedang yang menancap dilantai karena tentu boneka itu tidak akan mampu menahan beratnay perisai dan pedang.


Empat lainya Aron pasankan armor sesuai job yaitu Archer, Mage, Tank dan Assassin. Semuanya lengkap dengan senjata masing masing.


"Untuk apa kamu menghabiskan uang demi ini?" Bertanya Naviza keheranan memandang aneh lima pajangan itu yang jika armornya digunakan oleh Hunter rank C bisa bertempur setara dengan hunter rank B yang menggunakan armor biasa.


"Ini seni loh seni!!" Aron bergaya layakmya seorang seniman handal memperkenalkan seni pajangannya.


"Kenapa tidak dipakai saja?"


"Nilai seninya akan berkurang saat kita menggunakannya." Itulah logika Aron.


"Oh..." Walau melihat jawaban dan tingkah Aron yang agak konyol tapi selintas senyuman terukir diwajah cantik milik Naviza karena sekarang setidaknya Aron sudah memiliki sesuatu yang penting didunia dan tidak lagi berpikir untuk mati pun bukan apa apa.


Akhirnya Naviza malah ikut membantu menata berbagai perlengkapan didinding rumah milik Aron serta berbagai senjata bahkan beberapa senjata tingkat rendah tapi memiliki keindahan yang cukup semuanya tidak Aron lewatkan.


"Aku tidak menyangka ternyata menyusun ini lumayan memakan stamina juga." Naviza beristirahat.


"Hehe aku sudah terbiasa menyusunnya ketika kembali dari Dungeon." Aron membawakan minum pada Naviza.


"Sepertinya aku memang harus sedikit meningkatkan kekuatan fisikku." Sebagai seorang Suporter yang notabelnya adalah mage tentu memiliki kekuatan fisik terlemah dari job lain.


"Oh iya bagaimana keadaan telurnya?" Bertanya Aron karena dia menyerahkan nya pada Naviza untuk menelitinya.


"Tidak ada perkembangan." Naviza menggeleng.


"Apa mungkin kita harus menggunakan kristal yang menutupinya dulu itu untuk membuatnya menetas?" Bertanya Aron.


"Tidak, kristal yang menutupi telur itu dulu merupakan keristal sihir tapi sihirmya telah habis karena dihisap oleh telur ini sehingga hanya butuh satu sentuhan saja kristalnya sudah pecah." Jawab Naviza.


"Kalau begitu artinya keristal itu melindunginya dari dingin apa mungkin telur itu akan meretas jika kita memberikannya hawa dingin." Aron berspekulasi.

__ADS_1


...----------------...


karena novel ini tidak memiliki pembaca yang cukup, untuk sementara akan up 1 chp/3 hari, maaf banget yah soalnya kalau pembacanya hanya dua sampai lima orang itu nggak bakal bisa lulus kontrak, ini aja author maksain banget buat up 1 per 3 hari buat kalian.


__ADS_2