
"Dia sudah sering membuat senjata sebelum dungeon terbuka jadi saat dia mendapatkan gelar hunter dia semakin lihai dalam menempa desanya merupakan salah satu desa yang selamat dari bencana lima tahun lalu dan bahkan sampai sekarang belum ada dikabarkan ada portal yang terbuka didesa tersebut." Jelas Dinda.
"Oh dimana letaknya?" Aron semakin penasaran.
"Enam jam naik mobil dari kota palu yaitu menuju kedesa bengkolli." Dinda menunjukkan google map diponselnya.
"Hm aku sepertinya pernah mendengar nama desa ini tapi aku lupa dimana. " Aron berpikir keras tapi tidak dapat menemukan apa apa.
"Bagaimana menurutmu?" Bertanya Dinda.
"Hee.. jika dia bisa menempa tulang naga kenapa kita tidak mengunjunginya." Aron mengiyakan.
"Kapan?" Dinda terlihat antusias.
"Besok." Singkat saja Aron menentukannya.
"Baiklah aku ikut Naviza juga akan ikut kan?" Dinda melompat senang.
"Terserah saja." Naviza terlihat tidak terlalu peduli. "Aron aku mendapatkan buku lagi tapi tidak dapat diidentifikasi menggunakan sistem." Naviza melemparkan satu buku kearah Aron yang mana seperti memiliki kunci karena tidak dapat terbuka.
"Sudahlah kita simpan saja dulu siapa tahu akan berguna nantinya lagian siapa yang akan membeli buku nggak jelas seperti ini." Aron membereskan semua drop item.
Setelah hampir semalaman membereskan ruangan tersebut akhirmya Aron malah memasukkan semuanya kembali kedalam cincin penyimpanannya karena takut kemalingan.
Aron juga telah memesan boneka besi kepada penempa melalui jasa online dan mereka akan segera membuatnya jadi Aron hanya membayar dimuka dan akan memintanya dikirim setelah pulang dari perjalanannya.
Keesokan hari mereka bertiga sudah siap untuk menuju kedesa yang Dinda maksud.
Aron menggunakan jubah putih seperti biasa sama halnya dengan Naviza yang menggunakan kaos stail dalam dengan penyimanan dipinggannya yang lebih mirip tas kecil serta topi hitam yang membedakan adalah Naviza kali ini menggunakan kaos berwarna coklat.
Dinda sendiri menggunakan jaket yang biasa digunakan nya saat mengendarai motor dengan celana jeans panjang dan rambutnya yang dia biarkan terurai tidak seperti Naviza yang selalu dia ikat kecuali jika berada didalam Dungeon.
"Apa sudah tidak ada yang kelupaan?"
Bertanya Aron yang sudah siap menjalankan mobilnya dimana Naviza duduk dikursi depan bersamanya dan Omen sedangkan Dinda dibelakang dan dia pula lah yang paling antusias untuk jalan.
"Tidak ada yo!" Cepat Dinda menjawab.
"Baiklah kita berangkat!"
"Yey!"
Perjalanan Aron menuju kedesa bengkolli cukup jauh jadi Aron mulai memperlaju mobilnya begiu keluar dari kota palu tapi masih dalam batas kecepatan wajar dan tidak melebihi batas aturan kecepatan lalu lintas.
__ADS_1
Aron menyusuri pantai dan melewati jalan poros palu toli-toli mengitari gunung sojol karena informasi yang Aron dapatkan dari google desa bengkolli terdapat tepat dibawah kaki gunung sojol.
Semakin dekat dengan perbatasan toli toli dan donggala semakin banyak pula gunung yang harus Aron lalui sehingga jalan pun juga belok sana belok sini membuat Naviza agak sedikit mual.
Setelah sampai diperbatasan toli toli dan donggala Aron segera mengikuti petunjuk map yaitu masuk kesebuah lorong meninggalkan jalan poros dan saat masuk disana jalannan super keras dan bagaikan sungai bebatuan yang kering karena kecepatan maksimal mobil Aron hanya ada pada dua puluh kilometer perjam saat memasuki lorong untuk menuju kekaki gunung sojol.
"Apa yang dilakukan pemerintah sampai jalanan disinipun tidak diperbaiki.. oueek!" Gerutu Naviza yang dari tadi agak mual sekarang tambah mual karena jalanan yang bebatuan dan meskipun tempat duduk dimobil Aron cukup empuk tapi tetap saja menyakiti pan*tat karena jalan berbatu.
"Sabarlah Navi sebentar lagi juga nyampe." Aron masih berusaha menyetir dimana tanganya sudah agak keram gara gara jalanan berbatu.
Setelah sekian lama akhirnya mereka menemukan sebuah tanda yang mengatakan selamat datang didesa bengkolli.
"Akhirnya sampai." Aron melihat sekitar tapi tidak ada rumah satupun dan hanya ada kebun kelapa yang terbentang luas dikaki gunung serta beberapa pohon coklat.
"Mungkin masih didalam." Aron membawa mobilnya masuk lebih dalam kearah desa dan satu persatu rumah mulai bermunculan.
"Oi! Din! Dinda! Bangun oi!" Aron berusaha membangunkan Dinda yang malah keasikan tidur saat jalan yang mereka lewati berbatu.
"Hmm? Apa sudah sampai?" Bertanya Dinda masih setengah sadar.
"Kamu turun tanya ama warga dimana penempa yang kamu maksud itu." Aron meminta Dinda untuk bertanya alamat karena Dinda sepertimya memiliki informasi lebih banyak tentang desa ini.
"Oo.." Dinda sekejap melihat sekeliling sebelum menunjuk kearah depan. "Masih jauh didepan." Ucap Dinda.
"Sudahlah kau tinggal maju saja." Dinda tidak ingin dibantah.
"Baiklah." Aron memajukan mobilnya dan masih harus melewati jalan bebatuan gersebut.
Aron semakin masuk kedalam desa dimana sudah berhasil melewati dua jembatan dengan sungai super deras dibawahnya yang Aron yakini jika ada Hunter rank D yang hanyut disana maka seratus persen akan mati.
Saat semakin dalam Aron semakin bingung apa Dinda sebenarnya masih tidur atau sudah bangun dalam mengarahkan jalan.
"Berapa jauh lagi?"
"Sebentar lagi."
"Dari tadi sebentar lagi kapan sampai!"
"Kau yang terlalu lambat!"
"Mobil baru cuy."
"-_..."
__ADS_1
Setelah masuk lebih dalam dan melewati satu sekolah menengah akhirnya Dinda menunjuk kearah depan.
"Nah disana." Tunjuk Dinda kearah sebuah rumah panggung yang memang dari belakang rumah tersebut terdapat asap yang melambung keatas mirip asap penempaan.
"Oke." Aron jadi agak bersemangat tapi belum sempat Aron mencari tempat parkir saat berada didepan rumah tersebut Dinda sudah melompat keluar.
"Aku pulang!" Teriak Dinda setelah turun dari mobil.
"Eh? Eeee!!" Aron terkejut tapi Naviza biasa saja ntah dia sudah tahu atau karena efek mabuk perjalanan sehingga dia tidak lagi terkejut.
"Aron parkir mobilmu disini saja!" Berteriak Dinda menunjuk kearah halaman rumah tersebut yang tidak terlalu besar dan hanya muat dua mobil seperti mobil Aron.
"Oh b-baiklah." Aron mencoba untuk tetap tenang.
Seorang wanita paruh baya yang agak mirip dengan Dinda datang menyambut Dinda.
"Wee nak kenapa ko tidak kasi tau mama kalau ko mau pulang." Dia langsung memeluk Dinda dibalas pelukan oleh Dinda pula.
"Hehe sama ka temanku pulang." Dinda menunjuk kearah Aron yang sudah selesai dengan urusan memarkir mobilnya dan sedang membantu Naviza yang masih agak sempoyangan berjalan.
"Apamu itu? Cowokmu ga?" Bertanya ibu Dinda.
"Bukan ma.".Dinda langsung menjawab tegas tanpa ragu.
"Selamat siang tante." Aron pun memyapa.
"Siang nak naikki dirumah." Ibu Dinda langsung memimpin jalan masuk kedalam rumah.
Aron tidak lagi terkejut dengan cara logat mereka berbicara karena memang rata rata orang didesa memiliki logat seperti itu bahkan dipalu sendiri masih banyak.
Saat sampai kedalam rumah Dinda segera mengantar Naviza untuk beristirahat sebelum kembali menemani Aron dan ibunya.
"Istirahatmiki juga dulu nak capek ki tu jauh itu palu apa lagi basetir mobil sendiri ki. " Ibu Dinda menyuruh Aron untuk beristirahat.
"Tidak usah tante sebenarnya saya kesini juga karena memiliki tujuan lain selain mengantar Dinda pulang yaitu saya ingin membuat senjata tante." Ucap Aron tanpa basa basi lagi.
"Oh ada bapaknya Dinda dibelakang kalo masalah buat senjata itu bapaknya Dinda paling jago." Ibu Dinda malah memuji suaminya sendiri.
"Boleh saya melihatnya?" Bertanya Aron.
...----------------...
like aja dulu
__ADS_1