
Malam datang dan semuanya telah berkumpul dimansion tepat setelah makan malam, tentu mereka berkumpul untuk membahas pembagian drop item dan yang mana yang harus disimpan sebagai harta party.
"Baiklah semuanya sudah berkumpul silahkan nilai setiap drop item dan pisahkan sesuai jenis dan tingkatnya." Ucap Aron setelah mengeluarkan semua drop item yang didapat dari desa lenju.
Semuanya langsung mulai menilai setiap barang dan memisahkannya sedangkan Naviza bertugas untuk mencatat setiap nama barang dan nilainya.
Setelah beberapa menit akhirnya selesai juga.
"Bagaimana Naviza?" Bertanya Aron.
"Hmm.. kita mendapatkan dua Skill Tome, tujuh jenis senjata, sebelas jenis armor, lebih dari dua puluh barang pribadi Lizardman yang dapat digunakan untuk menempa dan sisanya adalah barang seperti potion dan item buff lainnya." Jawab Naviza.
"Baiklah kalian bisa memilih barang yang kalian suka terlebih dahulu sebelum menentukan pemiliknya." Ucap Aron.
Mereka kembali memilih barang yang menurut mereka cocok meski begitu hampir semuanya tidak menarik bagi mereka karena telah memiliki barang super epik dari sarang naga, Sul sendiri tidak terlalu tertarik dengan barang seperti ini.
"Aron apa aku bisa mengambil yang ini?" Bertanya Naviza mengangkat sebuah bola kecil seukuran kelereng berwarna boru tua.
"Apa itu?" Aron mencoba untuk menganalisanya.
[Mana Orb
Meningkatkan kapasitas penyimpanan mana pengguna.
Hanya dapat digunakan sekali.]
"Nn itu cocok untukmu." Mengangguk Aron meskipun sebenarnya dia sangat membutuhkannya karena sering kehabisan mana saat bertempur tapi itu lebih cocok digunakan oleh mage suport seperti Naviza.
"Ini sepatu yang bisa membuatmu berlari diatas air selama beberapa waktu apa ada yang menginginkannya?" Bertanya Dinda karena terlihat tidak terlalu tertarik pada sepatu kayu yang ada ditangannya.
"Itu memang barang unggulan tapi kita tidak memerlukannya." Ucap Aron.
"Kalau begitu untukku saja." Ucap Sul langsung merampas dan entah kenapa dia sangat tertarik.
"Apa masih ada yang kalian inginkan?" Bertanya Aron.
"Sudah tidak ada." Jawab Dinda.
"Jadi bagaimana dengan Skill Tomennya?" Bertanya Naviza karena sejak tadi belum ada yang menyentuhnya.
"Coba kulihat." Aron segera memintanya.
[Skill Tome - Water Slash
Melemparkan sebuah serangan bilah air pada beberapa target.]
[Skill Tome - Water Control
Mengeluarkan dan mengontrol air disekitar.]
"Naviza kamu gunakan semuanya saja." Ucap Aron.
"Yah aku memang kekurangan skill penyerang tapi semuanya untukku? Aku sudah mengambil terlalu banyak." Ucap Naviza.
__ADS_1
"Sudahlah ambil saja, mungkin dilain waktu aku yang akan menggunakan semua skill Tome dan lagi semuanya sepertinya setuju saja." Ucap Aron.
Semuanya mengangguk saat Aron menatap mereka.
"Baiklah terima kasih." Ucap Naviza menerimanya.
"Untuk item yang dapat digunakan untuk meningkatkan senjata atau semacamnya simpan dulu sisanya akan kita jual besok, bagaiamana?" Ucap Aron menanyakan pendapat yang lain.
"Setuju." Mengangguk Dinda dan Naviza.
"Sul?" Semuanya menatap Sul karena dia hanya memperhatikan ponsel barunya yang dibelikan oleh Dinda yah meskipun itu menggunakan uang Sul hasil dari klear Dungeon.
"Ah! Haha terserah kalian saja, aku ikut kalian saja." Ucap Sul yang tidak terlalu memikirkan drop item.
"Oke kuanggap semuanya setuju selanjutnya silahkan kalian beristirahat sebelum kita menentukan pekerjaan party kita kedepannya." Ucap Aron menutup rapat yang tidak pernah dibuka.
...
Pagi hari Aron menjalani kegiatan biasanya sebelum berangkat keAssociation Group untuk menjual item.
Hasil penjualan item akan dimasukkan langsung kedalam kas party, sedangkan uang hadiah dari kelar dungeon akan langsung dibagi pada setiap anggota yang berpartisipasi, itu adalah aturan umum semua party atau guild hunter.
Setelah selesai Aron kembali kemansionnya dan melihat Sul yang sedang memperbaiki bonekanya.
"Apa yang kau lakukan Sul?" Bertanya Aron menghampiri Sul.
"Akibat pertempuran kemarin beberapa bagian Widi (nama boneka Sul) jadi rusak, jadi aku mengganti beberapa bagian dengan kayu yang baru." Jawab Sul masih melanjutkan pekerjaannya dengan memahat kayu.
"Itu memang ide yang bagus tapi sayangnya benang pengendaliannya hanya bisa mengendalikan kayu." Ucap Sul.
"Kalau begitu kau cukup menempelkan besi pada bagian luar kayunya, konsepnya sama seperti kau meletakkan pedang dan pisau ditubuh Widi." Ucap Aron memikirkan ide yang menarik.
"Hmm aku memang belum pernah mencobanya tapi itu membutuhkan penempa." Jawab Sul memikirkan ide Aron.
"Benar juga hmm.. sebenarnya ada banyak penempa dipalu hanya saja untuk membuat boneka tempur sama saja membocorkan skillmu." Aron kembali memikirkan.
"Ayah Dinda pasti bisa membuatnya hanya saja tempatnya sangat jauh." Sul sangat ingin mencoba saran Aron.
"Yah tidak ada pilihan lain, besok kita akan berangkat kedesa Bengkolli." Ucap Aron meskipun dia sangat malas menghadapi jalan berliku dan berbatu.
"Baiklah aku akan bersiap." Sul nampak senang.
"Aku juga akan mengambil beberapa item langka untuk melengkapinya, dulu aku tidak bisa membuat permintaan membuat item kelas atas pada ayah Dinda karena tidak membawa bahannya sekarang aku akan membawa semuanya." Ucap Aron yang juga bersemangat.
...
Pagi hari.
"Kalian yakin tidak ikut?" Bertanya Aron pada Naviza dan Dinda.
"Aku ingin melakukan sesuatu lagi pula aku baru saja pulang beberapa waktu lalu." Jawab Dinda.
"Aku juga ingin tetap dirumah dulu dan masih ingin melatih skill baruku." Jawab Naviza meskipun semuanya tahu bahwa Naviza ingin menghindari perjalanan jauh sebisa mungkin karena mabuk kendaraan.
__ADS_1
"Oh baiklah kalau begitu kami berangkat." Ucap Aron pamit.
"Ya hati hati."
Dengan begitu Aron Omen dan Sul berangkat kedesa bengkolli, perjalanan mereka memang sedikit lebih cepat dari pada sebelumnya karena Aron sudah mulai terbiasa pada jalan berliku digunung.
Akhirnya mereka tiba dirumah Dinda tepat siang hari.
"Permisi tante!" Teriak Aron mengetuk pintu setelah menaiki tangga.
"Apa yang kau lakukan Aron?" Bertanya Sul yang langsung membuka pintu dan masuk.
"Eh?" Aron agak terkejut karena Sul langsung masuk saja dan mencari keseluruh bagian rumah."
"Tidak ada orang." Ucap Sul setelah berkeliling didalam dan entah kenapa dia membawa dua jambu dari dalam sana, satu dimulut satu ditangan.
"Tidak ada orang apanya? Kau main masuk saja dan lagi kau malah mengambil buah buahan orang tanpa meminta?" Aron terkejut dengan apa yang Sul lakukan.
"Yah aku lapar dan kau tidak singgah diwarung makan untuk makan siang-_-" Jawaban lain dari Sul.
"Bukan itu masalahnya kan?" Ucap Aron.
"Oh kak Sul dan kak Aron, kenapa berdiri didepan pintu?" Tiba tiba adik Dinda datang dari belakang mereka.
"Kami baru saja sampai, tante dan om dimana?" Jawab Sul kembali bertanya.
"Ibu sedang pergi sedangkan bapak dibelakang bekerja." Jawab Candra menunjuk kearah belakang rumah.
"Oh begitu yah, sebentar aku ambil sesuatu dimobil." Ucap Sul yang langsung berlari menuju mobil.
"Kak Aron, kenapa tidak masuk?" Bertajya Candra pada Aron.
'Yah mana mungkin aku masuk sebelum tuan rumah mengizinkan kan?' Batin Aron.
"Kalau begitu silahkan masuk kak." Ucap Candra yang lebih dulu masuk.
'Kau membaca pikiranku kah?' Terkejut Aron dan mengikuti Candra saja.
Sul datang dari pintu saat Aron duduk diruang tamu. "Ini oleh oleh hehe." Ucap sul mengangkat sebuah kantong plastik yang berisi buah apel dan buah semangka ditangannya.
"Waaah terima kasih kak." Entah kenapa Candra terlihat sangat menyukainya.
"Hehe." Sul terlihat sangat membanggakan diri.
"Ah! Kalian pasti capek kak untuk sekarang silahkan makan dulu, ayah baru saja memotong ayam tadi pati." Ucap Candra.
"Ayam!?" Mata Sul langsung berbinar. "Kalau begitu selamat makan." Sul langsung berlari kearah meja makan.
"Kak Aron juga silahkan."
"Kalau begitu aku tidak akan sungkan." Aron mengikuti Sul dan akhirnya makan siang bersama.
Setelah makan siang Aron dan Sul langsung pergi kebelakang untuk melihat ayah Dinda.
__ADS_1