
...◦•●◉✿ 𝙎𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙈𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 ✿◉●•◦...
Waktu terasa cepat, untuk orang yang bahagia,
Terasa lambat bagi yang tersiksa,
Terasa lama bagi yang menanti.
Kini pernikahan Raffa dan juga Zavania akan di adakan 2 hari lagi.
Raffa begitu bahagia menantikannya,
berbeda dengan Zavania yang entah mengapa perasaannya tidak bisa di jelaskan,
Jika di tanya apakah siap tentu jawabannya tidak, tapi Zavania tidak mau mengecewakan orang tuanya.
Sebenarnya bukan tidak mau tapi terlalu cepat untuk melangsungkan pernikahan, zavania sudah merasakan nyaman tapi kalau cinta dia masih belum merasakannya
Cinta bisa tubuh karena terbiasa, itulah yang selalu di tanamkan oleh zavania dalam hatinya walau dia tau sulit menghapus Aldiyan dalam hatinya, tapi dia akan selalu berusaha.
Sebelum mengabadikan hidupnya untuk sang suami, zavania ingin mengetahui alasannya kenapa Aldiyan tidak kembali.
Zavania yang saat ini masih bekerja di perusahaan milik Aldiyan, walaupun sampai sekarang dia belum tau yang sebenarnya siapa pemilik perusahaan tersebut.
Zavania setiap hari berusaha menemui Gilang tapi hasilnya nihil, walau pun Zavania datang lebih pagi dan pulang setelah kantor sepi, tapi dia tidak pernah menemukan sosok Gilang,
yaa Gilang memang satu kantor dengannya tapi Zavania hanya pegawai biasa yang sudah pasti sulit menemui atasan apa lagi seorang Direktur utama.
Gilang seakan menghindarinya, semenjak pertemuan mereka untuk pertama kali setelah beberapa tahun tidak bertemu,
Gilang sengaja masuk kantor ketika zavania sudah sibuk bekerja dan pulang lebih dahulu sebelum jam pulang kerja
Gilang selalu menunggunya di dalam mobil yang sengaja di parkir kan di dekat pintu gerbang perusahaan.
dia akan melakukan vidio call kepada Aldiyan agar Aldiyan bisa melihat gadis yang sangat dia rindukan.
Beruntungnya kaca mobil yang hitam dan tidak bisa terlihat dari luar.
Bukan hanya itu Gilang juga selalu memantau Zavania lewat CCTV yang berada di ruangannya setiap hari, lalu mengirimkannya ke Aldiyan.
Gilang bersikap begitu tanpa alasan karena dia di suruh oleh pemilik perusahaan sekaligus sahabatnya siapa lagi kalau bukan Aldiyan
__ADS_1
Entah apa alasan Aldiyan melakukannya, yang pasti dia memiliki rencana sendiri dan tidak mau sampai zavania tau.
Tiiinn tiinnn
Suara klakson mobil mewah membuyarkan lamunan seseorang yang asik melamun dan berdiri di dekat pintu gerbang perusahaan.
"Raffa!" gumamnya setelah seseorang keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuknya
"Ayo masuk sayang, "
"kok kamu jemput aku?"
"emangnya nggak boleh jemput kamu, lusa sudah resmi jadi suaminya lo masak nggak boleh jemput sih?"
"hhmmmm" ucap zavania lalu berjalan masuk mobil
Zavania sengaja menunggu Gilang pulang karena besok dia sudah ijin libur kerja.
Tanpa dia sadari orang yang di tunggu sebenarnya masih berada tak jauh dari tempatnya saat ini, dengan kebiasaannya memegang handphone dan mengarahkan kameranya ke zavania karena dia melakukan panggilan vidio dengan seseorang
"Kok kamu masih kerja aja sih sayang? kapan cutinya?"
"iya aku tahu, aku nggak masalah kok sayang, berapa hari kamu cuti?"
"3 hari"
"Hah masak cuma 3 hari kan nggak cukup!" ucap Raffa sedikit kesal
"ya kan aku cuma karyawan biasa bukan pemiliknya, jadi dapat cuti 3 hari"
"kamu kenapa nggak berhenti saja sih sayang, kamu bisa jadi ibu rumah tangga kalau ngga ya kamu kan bisa bekerja di perusahaan ayah kamu sayang"
"aku nggak bisa berhenti begitu saja, lagian aku sudah mendatangani kontrak kerja selama 1 tahun ini, kamu pasti tahu betul kalau aku resign akan dapat penalti kontrak kerja"
"Aku pasti akan membayarnya sayang, jika kamu mau berhenti" ucap Raffa
Raffa mengerti akan peraturannya karena dia juga pengusaha,
maka dari itu Raffa mau membayar penalti kepada perusahaan Zavania.
Uang penalti bukanlah seberapa karena Raffa merupakan orang yang bisa di bilang sangat kaya.
__ADS_1
"bukan karena uang, aku juga punya uang untuk membayarnya, aku harus profesional dalam bekerja setidaknya aku harus menyelesaikan kontrak kerja itu terlebih dahulu kemudian aku akan keluar" ucap zavania agak sebal.
Sebenarnya bukan hanya itu alasannya, kalau untuk bayar pinalti dia bisa sendiri karena Zavania juga orang yang berada dan ayahnya punya perusahaan walaupun tak sekaya dan sebesar milik Raffa,
Ada alasan yang tidak bisa dia ceritakan kepada Raffa hingga membuat dia ngotot ingin tetap bekerja
"ya sudah terserah kamu saja, aku nggak akan melarang kamu, " ucapnya mengalah, sambil tangannya mengelus pelan rambut Zavania
Setelah perdebatan itu zavania hanya diam dan menjawab seadanya pertanyaan Raffa, karena dia merasa seolah Raffa tidak mendukungnya.
hingga tak terasa mereka sampai di rumah zavania.
"Aku langsung ke kantor lagi ya sayang, "
"hemm hati hati Raf" seketika Raffa menatao tajam Zavania
"kamu bisa nggak sih panggil aku jangan pakai nama, "
"terus?"
"ya terserah kamu panggil aku dengan sayang, cinta, honey atau apa gitu?"
"mmbbbbb kamu maunya apa?"
"sayang juga sama kayak aku ke kamu, kalau sudah punya anak baru beda lagi"
"nggak, panggil mas aja gimana?"
"Yasudah deh terserah dari pada di panggil nama kayak gimana gitu"
"yasudah aku turun dulu ya m…mas kamu hati hati di jalan" ucapnya sedikit kaku saat memanggil Raffa dengan Mas
"ok sayang" jawabnya sambil mencondongkan kepalannya dan mencium sekilas dahi zavania.
"loh kok Raffa nggak mampir dulu van?" tanya mama Dilla yang melihat mobil Raffa berlalu pergi
"astaga mama ngagetin tau nggak, iya tadi Raffa pamit mau kembali ke kantornya lagi"
"Beruntung kamu dapetin dia, tidak sedikit lo yang ingin menjadikan dia menantunya, bahkan teman teman arisan mama sering ngomongin Raffa dan ingin menjadikan dia menantunya, sudah ganteng, pekerja keras mama nggak menyangka kalau Raffa sebentar lagi akan menjadi mantu mama" ucap mama Dilla memuji Raffa
zavania hanya diam dan langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya
__ADS_1