
Hari berlalu begitu cepat, tidak ada perubahan apapun diantara suami istri itu. Komunikasi mereka hanya terjalin seperlunya saja. Darren akan menuruti semua keinginan Zea atas dasar tanggung jawabnya sebagai ayah. Seperti kali ini, Zea meminta Darren untuk mencari makanan yang ia mau. Jajanan kaki lima yang jarang sekali ia pijaki.
"Sebaiknya kamu tunggu di mobil aja! Disini banyak polusi, bisa bahaya buat baby," peringat Darren saat mobil berhenti di bahu jalan.
"Enggak, aku mau ikut! Seru tau jalan-jalan lihat makanan sedap," tolak Zea.
"Tapi-"
"Udah ayo!" Tanpa mendengar penjelasan Darren lagi, Zea sudah keluar terlebih dahulu.
Darren hanya menghembuskan napas pasrah dan ikut turun dari mobil. Ia dapat melihat binar bahagia yang terpancar dari wajah gadis itu. Artikel yang ia baca tentang pentingnya membuat mood up si ibu hamil yang berpengaruh akan kandungannya. Ia coba terapkan pada istrinya kini.
"Ayo buruan!" ajak Zea menyeret tangan Darren untuk berjalan cepat menuju stand jajanan disana.
Zea tampak semangat memilih banyaknya jajanan yang ia mau. Dari mulai seafood bakar sampai sate kikil ia jajah. Tidak lupa minuman dingin berbagai macam yang ia pilih.
"Mau?" tawar Zea menyodorkan satu sate kehadapan Darren, namun dibalas gelengan pria itu. "Hem, ya udah!" si ibu hamil itu dengan lahap memakan makanannya sendiri.
Terselip senyum kecil Darren saat melihat Zea begitu lahap makan. Apalagi sekarang sudah tidak ada lagi drama muntah pagi, membuat Zea sudah tidak nampak pucat dan cukup segar.
Terkadang Darren masih bingung akan dibawa kemana hubungan mereka ini? Sementara ia sendiri tidak ingin memulai dan bahkan menutup diri dengan ego yang membentengi.
"Alhmdulillah, kenyang!" Zea menyeka bibirnya setelah menegak es teh dihadapannya.
Sungguh hal itu berbeda dari yang Darren tau sebelumnya. Zea yang nampak arogan dimatanya dulu, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Apa mungkin itu perbawa bayi yang dikandung? Atau memang gadis itu berubah?
"Kalo udah, kita pulang!" ajak Darren yang sudah berdiri.
"Eh bentar dulu, kamu gak pengen apapun?" tanya Zea memastikan.
__ADS_1
"Nggak, aku akan pesan makanan aja!" tolak Darren.
"Ya udah nanti aku masakin aja!" celetuk Zea.
"Hem?" Sontak Darren menautkan alis tak mengerti.
"Ehem, ini kemauan baby buat masak," balas Zea sekenanya dan berlalu terlebih dahulu. Darren tidak memedulikan ucapan Zea dan berlalu mengikuti istrinya itu.
**
Di dapur, Zea sudah siap dengan bahan masakan yang akan dibuatnya. Meski ia belum sepandai seperti sang mama, entah kenapa ia begitu nekat membuat makanan untuk suaminya.
"Gak ada salahnya 'kan aku melayaninya?" gumam Zea dalam hati.
Perhatian yang diberikan Darren, membuat si ibu hamil itu bertekad untuk melayani suaminya tersebut. Meski perhatian itu hanya sekedar untuk kandungannya saja, namun entah kenapa hal itu membua Zea senang dan ingin membalasnya.
Tak membutuhkan waktu lama, masakan yang dibuat Zea sudah selesai. Segera, si ibu hamil itu menyiapkan makan malam untuk suaminya itu.
"Hem," Darren berlalu menghampiri Zea di meja makan.
Terlihat beberapa makanan yang tersaji. Darren menarik satu sudut bibirnya melihat itu, seraya mendudukkan diri. Ia terus memperhatikan gerak gerik Zea yang semakin hari semakin berbeda. Ini kali pertama gadis itu menyiapakan makanan di piring untuknya.
"Makasih," ucap Darren sebelum, melahap makanan itu. Zea hanya tersenyum manis menanggapi.
"Gimana enak gak?" tanya Zea, harap-harap cemas.
Darren tersenyum tipis dan menganggukkan kepala. "Enak!"
"Iya 'kah? Padahal ini masakan pertamaku," tanya Zea tak yakin. Namun, tidak ditanggapi Darren yang sibuk menyantap makanannya.
__ADS_1
Sejujurnya, Darren ingin memuji makanan Zea yang lumayan untuk seorang pemula. Namun, ia urungkan saat sadar gadis itu kemungkinan akan besar kepala.
Makan malam pun selesai. Kini pasangan suami istri itu sudah berada didalam kamar mereka. Setelah pemeriksaan waktu itu, Darren disarankan untuk selalu berada di dekat Zea saat bangun pagi. Hal itu bisa mengurangi si ibu hamil dari rasa mualnya. Dan benar saja hal itu terbukti ampuh setelah beberapa kali, Darren tidur bersama sang istri.
Meski mereka hanya sekedar tidur, namun itu sudah menjadi hal biasa bagi keduanya. Tertidur dengan guling sebagai sekat, dan bangun didalam pelukan Darren. Bukan hal risih lagi bagi Zea. Justru ia tidak bisa tidur, jika jauh dari Darren.
"Kenapa gak pakai guling?" tanya Darren heran, saat Zea menajuhkan gulingnya.
"Gak apa-apa! Lagian, nanti pagi juga udah hilang tuh guling," balas Zea.
"Kamu gak merasa risih?" tanya Darren.
"Apa kamu sendiri merasa begitu?" tanya balik Zea.
"Nggak!"
"Ya udah peluk aku!" titah Zea.
"Hah?!"
"Kayaknya ... Baby lagi manja, pengennya diusap-usap," lanjut Zea tersenyum manis.
Darren tersenyum tipis, ia mengelus perut rata Zea. Apapun yang berhubungan dengan bayi membuat pria itu bergerak cepat tanpa protes. Zea tersenyum, saat tiba-tiba bayangan sebuah keluarga manis muncul dalam benaknya. Terbesit dalam hati, untuk membangun sebuah keluarga yang pasti diinginkan calon anaknya kelak. Namun, apa Darren memikirkan hal sama?
'Aku ingin mencobanya dengan normal. Apa aku bisa merubah kesepakatan itu?' batin Zea bertanya.
Grep!
Tiba-tiba sebuah dekapan di kepala, membuat Zea terlonjak dari lamunannya. Tanpa diduga Darren mendekap, seraya mengusap rambutnya.
__ADS_1
"Tidurlah! Tidak baik untuk Ibu hamil kebanyakan begadang."
\*\*\*\*\*\*