
Hari sudah semakin siang, Zea sudah kembali segar setelah meminum teh jahe buatan Darren dan sarapan bersama, walau hanya sedikit. Darren terus memaksa Zea untuk makan lebih banyak, agar energinya kembali terisi. Namun ibu hamil itu hanya makan sedikit dan lebih banyak memakan buah. Bukan, buah Apel atau buah yang banyak mengandung karbohidrat. Tetapi buah masam dan muda yang membuat Darren terpaksa berkomentar.
"Kenapa harus makan yang asam? Kenapa gak yang manis? Ini tuh masih pagi. Kamu bisa menyakiti baby," omel Darren tak habis pikir.
"Ini juga aku makan bukan keinginan aku. Tapi, keinginan baby," balas Zea dengan enteng.
Berulang kali Darren menarik dan membuang napasnya kasar. Ia yang tidak biasa banyak bicara enggan beradu mulut dengan istrinya itu. Meski entah kenapa, tiba-tiba bibirnya gatal untuk memperingati apa yang dimakan Zea. Namun, ia pun mencoba mengerem bibirnya untuk kembali berkomentar.
Tak berselang lama, mereka pun siap untuk berangkat ke kampus. Meski Darren menyarankan untuk Zea cuti, namun gadis itu meyakinkan jika dirinya baik-baik saja.
Didalam mobil, keadaan nampak hening dari suara pasangan pengantin itu. Hanya ada lagu yang terdengar dari pemutar yang mengiringi perjalanan mereka. Kebiasaan Darren yang biasa sendiri dan hanya ditemani sebuah lagu kemanapun.
"Kamu kayaknya suka sekali mengendara sambil dengerin musik?" tanya Zea memulai obrolan.
Darren menarik satu sudut bibirnya. "Kenapa? Gak suka?" tanyanya.
"Ck! Gak juga. Tapi 'kan, apa gak sebaiknya ngobrol dari pada dengerin musik?" saran Zea.
"Ngobrol, cuma bikin tenggorokan kering," balas Darren.
Zea terkekeh mendengar jawaban Darren. Sungguh ingin sekali ia menampol kepala pria itu, agar bisa berpikir normal. Mana ada orang dimuka bumi ini yang tidak suka mengobrol. Ia hanya tidak tau karena tidak memiliki teman, bagaimana enaknya mengobrol?
__ADS_1
Zea pun memilih diam dengan memainkan ponsel ditangannya. Tidak ingin menanggapi lagi suaminya tersebut. Sementara Darren sendiri benar-benar diam dan hanya fokus ke depan dengan kemudinya. Hingga ketika hampir dekat kampus, Zea menghentikan laju kendaraan.
"Stop!!!"
Ckitttt
Mobil pun berhenti tepat didepan sebuah mini market. Hal yang tentu membuat Darren keheranan. "Kenapa?" tanyanya.
"Aku turun disini aja," balas Zea.
"Sejauh ini?" tanya Darren memastikan dan diangguki yakin oleh Zea.
Belum juga Darren bertanya kembali, suara Zea menyelaknya lebih dulu. "Biar aku turun disini. Kamu sendiri 'kan yang bilang, gak mau siapapun tau tentang hubungan kita?"
"Kamu bisa turun di halte dekat kampus," saran Darren. Zea menautkan alisnya, ia hendak berkomentar. Namun, suara Darren segera menyelaknya.
"Demi baby!" sambung Darren.
Zea tersenyum sinis dan memutar bola matanya malas. Entah kenapa ucapan Darren membuat ia kesal. Ia membuka sabuk pengaman hendak keluar. Namun, Darren mencegatnya.
"Lepasin!" tepis Zea menarik tangannya, namun tidak diindahkan pria itu.
__ADS_1
Darren hanya menatap Zea dengan tatapan peringatan. Namun, hal itu tidak membuat Zea sendiri gentar. "Lepas!" tepisnya.
Darren belum juga mau mengalah dan masih bersikukuh mempertahankan cekalannya. Zea menghembuskan napas kasar dan balik mentap pria itu.
"Ini kemauan, baby!"
Seketika Darren melepaskan cekalannya. Dan hal itu tidak di sia-siakan si ibu hamil. Segera Zea keluar dari mobil dan berjalan menyusuri trotoar. Sementara Darren dalam mobil ikut merasa kesal, dengan sikap gadis itu.
"Baiklah, aku pun gak akan peduli," final Darren, ia pun kembali melajukan mobil meningglkan Zea yang berjalan sendiri.
"Cih! Dasar cowok gak punya perasaan, gak peka!" umpat Zea kesal saat mobil melesat melewatinya.
Padahal ia sendiri yang memaksa keluar meski dicegat. Namun, ia sendiri yang kesal karena ditinggal. Seperti itulah wanita, makhluk paling membingungkan untuk mereka yang tidak mau memahami. Dengan terpaksa Zea pun berjalan dengan jarak yang masih beberapa meter.
"Gak apa-apa ya, Baby. Kita olahraga pagi ini!" ucap Zea memyemangati seraya mengelus perut ratanya. Ia pun berjalan dengan sedikit merasa tenang. Ternyata, berkomunikasi dengan buah hatinya dalam perut membuat kedamaian tersendiri.
**
Zea keluar dari kelasnya untuk makan siang di kantin, terlihat dua gadis yang mencari perhatian pada suaminya. Namun, seperti biasa, Darren tidak pernah mau memperhatikan sekitarnya. Ia hanya sibuk dengan makanan yang tengah ia santap dan ponsel ditangannya.
Si ibu hamil itu hanya berdecih melihat pemandangan dihadapannya. Tidak ingin menanggapi ia pun memilih cuek dan melewatinya begitu saja. Darren yang ikut melirik pun memilih untuk ikut cuek, hingga sepasang manusia itu terlihat seperti orang asing yang tidak saling mengenal.
__ADS_1
'Entah bagaimana kita bisa bersatu? Sementara ego begitu kokoh membenteng hati kita. Biarkanlah waktu yang menjawab ....'
\*\*\*\*\*\*