
"Huwek! Huwek!"
Suara bising dari kamar mandi, sukses membangunkan Darren dari tidurnya. Ia yang masih mengantuk, enggan membuka mata dan memilih kembali terlelap dengan menutup seluruh tubuh menggunakan selimut. Namun, hal itu sia-sia. Suara itu begitu menggelitik, hingga dengan terpaksa ia bangkit untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya.
Atensinya berkeliling untuk mencari sumber suara tersebut, yang ternyata berasal dari kamar mandi. Lelaki itu akhirnya tersadar, jika pagi ini adalah pagi pertama ia menjadi seorang suami.
"Ada apa dengannya? Kenapa berisik sekali?" gumamnya bermonolog sendiri.
Darren pun bangkit untuk melihat sang istri didalam ruangan basah itu. Ia mencoba mengetuk pintu, dan memanggil istrinya.
"Ze! Kamu kenapa?" tanyanya dengan wajah bantal yang masih terlihat malas. "Buka pintunya!" titahnya kesal.
Tidak ada jawaban dari ruangan itu, selain suara muntah yang tak jua berhenti. Darren terdiam sebentar, hingga ia sadar sesuatu. "Apa dia muntah-muntah karena perbawa baby?" tanyanya kembali bermonolog sendiri.
Pria itu mencoba membuka pintu, yang ternyata tidak dikunci. Hingga ia melihat Zea yang masih setia mengeluarkan cairan dari dalam perutnya ke dalam washtaple. Tiba-tiba ada rasa tak tega melihat gadis itu nampak tak berdaya. Segera Darren mendekat dan merangkul tubuh Zea yang hampir ambruk.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Darren khawatir.
Zea nampak pucat dengan mata terpejam. "Air-air," cicitnya.
Tanpa bertanya lagi, Darren segera menggendong tubuh gadis itu kembali ke kamar. Membaringkan tubuh ramping Zea yang lemah tak berdaya ke atas ranjang. Mendengar gadis itu terus menggumamkan kata air, ia pun sadar jika sang gadis menginginkan air minum. Segera ia menuangkan air dari teko di atas nakas, lalu membantu Zea untuk meminumnya.
"Nih, minum dulu!" titah Darren membantu Zea duduk dengan menopang tubuhnya. Zea menurut dan segera menegak air tersebut hingga tandas.
Dirasa cukup, Darren kembali membantu gadis itu untuk berbaring. Untuk pertama kali, ia melihat kondisi seorang ibu hamil, yang ternyata begitu berat. Tanpa sadar, ia mengusap keringat dikening Zea dengan perasaan iba yang tiba-tiba terbesit dihatinya.
Grep!
Sontak Darren kaget, saat tiba-tiba saja tangan Zea mencekalnya. Mata gadis itu terbuka, hingga keduanya saling bersitatap. Darren berdehem dan menjauhkan tangannnya, hingga terlepas dari cekalan Zea.
"Maaf!" sesal Darren. Zea tidak menanggapi, ia memijit pelipisnya yang masih tersisa denyut. Melihat itu, membuat Darren ingin sekali bertanya.
"Apa setiap pagi, kamu kayak gini?" tanyanya. Zea hanya mengangguk menanggapi.
"Sejak kapan?" tanya Darren penasaran.
__ADS_1
"Sejak tes waktu itu," balas Zea dan diangguki mengerti oleh Darren.
"Apa kepalamu sakit? Perlu aku pijitin?" tanyanya.
"Gak usah, ini-" Suara Zea menghilang, saat tiba-tiba saja tangan Darren mulai memijitnya.
"Aku memang bukan tukang pijit. Tapi, setidaknya ini mungkin bisa membantu," jelas Darren.
Zea hanya terdiam merasakan pijatan Darren dikepalanya. Meski pria itu berbicara dengan nada formal dan juga datar. Namun, ada hal lain yang membuat Naya tersadar. Gerakan tangan pria itu begitu nyaman ia rasakan. Pijatan itu mampu menghilangkan rasa berdenyut di kepalanya.
"Aku rasa kamu punya ke ahlian khusus, pijitanmu ini ternyata lumayan," celetuk Zea memejamkan mata, menikmati gerakan tangan Darren yang menari di kedua pelipisnya.
"Cih!" Darren berdecih. Entah itu sebuah pujian atau ledekan. Hingga ia pun menghentikan pergerakan tangannya.
Sontak hal itu membuat Zea membuka matanya dengan menautkan alis heran. "Kenapa berhenti?" tanyanya.
"Apa ada minuman atau obat yang bisa membantu memulihkanmu kembali?" Bukan menjawab, Darren justru balik bertanya.
"Emm, Mami suka siapin teh jahe tiap pagi. Dan itu lumayan membantu," balas Zea.
"Tunggu!" cegatnya. Darren berbalik dengan menaikan sebelah alisnya seolah bertanya apa?
"Emang kamu bisa?" tanya Zea tak percaya. Tentu ia takut, pria itu bukan membuat teh jahe dan justru membuat teh lengkuas atau semacamnya.
"Cih! Kamu pikir aku bodoh?" tanya balik Darren tak terima, saat gadis itu terdengar meremehkannya.
"Ya, 'kan aku cuma tanya? Siapa tau kamu gak mengenali macam-macam bumbu dapur," sindir Zea.
Darren hanya kembali berdecih dan gegas berlalu dengan perasaan dongkol. Tentu ia tak terima dianggap demikian. Sang oma yang seorang koki, membuat ia mengenal seisi dapur meski tidak menggunakannya.
"Cuma teh Jahe doang." gumamnya enteng seraya berlalu menuju dapur.
Sementara Zea di dalam kamar merasa waswas akan apa yang akan dibuat pria cuek itu. Namun, mengingat hal itu ia jadi berpikir sejenak. "Tunggu dulu! Dia kenapa mau buatin aku teh jahe segala?" tanya heran.
Beberapa menit kemudian, Darren pun kembali ke kamar membawa cangkir berisi air teh berwarna sedikit kuning. Lalu, segera menyerahkan cangkir itu pada Zea yang sudah bersandar dikepala ranjang.
__ADS_1
"Minumlah, mumpung masih hangat!" titah Darren.
Zea menerima gagang cangkir tersebut seraya melihat isi di dalamnya. "Kamu yakin 'kan ini jahe? Bukan kunyit atau lengkuas?" tanyanya memastikan.
"Ck! Coba aja kalo gak percaya!" kesal Darren yang merasa terus diremehkan.
Zea mencebikan bibir, namun tak ayal ia mencicipi teh tersebut karena merasa penasaran. Ia membolakan mata, saat sadar rasanya lebih enak dari buatan sang Mami.
"Gimana udah yakin?" sindir Darren, saat Zea sudah menyicip untuk kedua kalinya.
"Ya, benar ini jahe," ucapnya kembali menyeruput teh tersebut.
"Rasanya?" tanya Darren menaik sebelah alis.
Tidak ingin membuat pria itu besar kepala, ia pun menanggapi. "Lumayan!" balasnya singkat. Padahal dalam hati ia begitu memuji rasa teh tersebut. Terbukti dari air itu yang sudah hilang setengah dari cangkir.
Darren hanya menghembuskan napas berat. Padahal ia sampai meminta resep dari sang oma, untuk membuat minuman tersebut. Namun, dengan enteng gadis itu hanya menanggapinya lumayan.
"Oh ya? Kenapa kamu mau lakuin ini?" tanya Zea yang sesekali terus menyeruput minuman tersebut. Darren kembali menaikan sebelah alis, kurang memahami pertanyaan Zea.
"Maksudku, kenapa kamu mau membantuku? Memijit kepalaku sampai membuatkan minuman ini?" tanya Zea penasaran.
Darren terkekeh. "Jangan dulu terlalu percaya diri! Aku melakukan itu, hanya untuk calon bayiku yang ada diperutmu," jelasnya.
Sontak hal itu membuat Zea yang sudah berpikir demikian, terdiam seketika. Penjelasan Darren mematahkan rasa percaya Zea, jika hubungan itu mungkin saja sedikit ada harapan. Hingga ia benar-benar harus mengubur keyakinan tersebut.
"Kamu ingin sarapan apa? Biar aku pesankan!" tanya Darren.
"Terserah ...." balas Zea kembali merebahkan diri, menutupi seluruh dirinya dengan selimut. Sungguh ia masih merasa kesal dengan ucapan pria itu.
Darren hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Zea. Pria itu sungguh tidak peka dengan apa yang barusan ia katakan. Tanpa memedulikan gadis itu, ia pun segera memesan sarapan untuk mereka berdua dari aplikasi di ponselnya.
Sementara Zea terus merutuki sikap pria itu dalam hati.
'Lihat aja! Suatu saat, kau sendiri yang akan menarik kata-katamu itu kembali. Apa katanya, cuma karena bayi?'
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*