Benih Pengikat

Benih Pengikat
Sahabat?


__ADS_3

Seorang pria tampan tersenyum lebar setelah membaca satu chat dari seseorang. Dipandanginya jalanan malam yang begitu terlihat indah dan menyejukan mata, seperti hatinya saat ini.


Setelah hampir enam tahun, akhirnya ia bisa kembali menghirup udara tanah air yang begitu ia rindukan. Tidak! Bukan tempatnya, namun seseorang yang berada di tempat itu. Seseorang yang selama ini jauh dari pandangan, namun begitu dekat di hati.


Ia meraih satu buket bunga lily putih, dari jok sampingnya. Menghirup aromanya yang menenangkan, sama halnya saat ia mencium aroma rindu pada sang gadis yang memenuhi hatinya.


"Aku pulang, Ze!" ucapnya tersenyum bahagia.


Pria itu melihat layar ponsel ditangannya. Menekan tombol panggilan pada layar itu. Lalu, menempelkan benda tersebut ditelinga.


Terdengar bunyi berdering, namun tidak ada tanggapan sama sekali. Sekali lagi, ia melakukan hal sama, namun hasilnya tetap nihil.


"Apa dia udah tidur?" gumamnya melirik jam mewah di pergelangan tangannya. "Kurasa belum," tebaknya.


"Pak, lebih cepat, ya!" titahnya pada sang supir taxi dihadapannya.


"Baik, Mas!"


Mobil pun melaju semakin cepat. Pria itu tidak ingin membuat kejutannya sia-sia karena sang pujaan sudah tertidur terlebih dahulu. Begitupun rindu yang tidak dapat ia bendung, ia harus meluapkan isi hatinya malam ini juga.


**


Sementara itu disebuah kamar, Darren semakin kesal saat tau seorang pria tak mau berhenti menghubungi nomor sang istri. Tentu ia tau, siapa Rafka. Pria yang tidak lain adalah sahabat Zea dan Alzein. Anak tunggal dari pasangan Putra dan Sofi, yang tak lain masih sahabat dekat sang Papa dan Papi mertuanya.


"Ngapain dia malam-malam gini telepon? Gak tau apa gadis yang dia telepon udah bersuami," gerutu Darren.


Terlalu kesal, ia dengan berani mematikan ponsel sang istri dan melemparnya ke sembrang arah. Kembali ia berbaring dan menutup mata dengan lengannya.


Ceklek!


"Kamu udah tidur?" tanya Zea dan hanya dibalas deheman pria itu.


"Bangun, makan malam dulu. Pesananmu udah nyampe tuh!" ajak Zea menggoyangkan pelan lengan Darren yang menjulang disamping tubuh tegap itu.


Tidak ada balasan dari Darren yang membuat Zea berpikir, pria itu sudah tertidur. Zea hanya berdecak, saat tidak mendapati tanggapan. Si ibu hamil itu hendak kembali, namun tangan Darren tiba-tiba mencekalnya.


Greppp!!!


Sontak Zea kembali menoleh menatap heran pria itu. Darren bangkit tanpa melepas tangan sang istri. "Ayo makan!" ajaknya menyeret tangan Zea.


Gadis itu sempat terdiam sejenak dengan berbagai pertanyaan, namun tak ayal ia mengikuti langkah jangkung suaminya itu.


Zea bingung dengan sikap suaminya itu, baru saja Darren seolah tidak peduli. Namun, tiba-tiba ....

__ADS_1


'Apa iya, sumpahku langsung didenger?' batin Zea bertanya-tanya.


**


Ceklek!


"Assalamualaikum!"


"Waaliakum salam. MasyaAlloh, Rafka?" pekik Mami Vani syok.


Pria tampan itu tersenyum manis pada wanita paruh baya yang sudah ia anggap ibunya sendiri itu. Segera ia menyalimi takzim tangan wanita dihadapannya.


"Apa kabar Tan?" tanya Rafka.


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana, Nak? Kapan pulang?" tanya Vani antusias.


"Baik, Tan. Baru aja, aku langsung ke sini dari Bandara," balas Rafka menjelaskan.


"Ya udah, yuk masuk! Masuk!" ajaknya.


"Emm, Zea udah tidur ya, Tan?" tanya Rafka yang masih berdiri di depan pintu. Tentu saja, alasan utama ia mengunjungi rumah tersebut, untuk bertemu pujaan hatinya.


Deg!


"Zea-"


"Hai, Ka!" sapa Alzein tiba-tiba menghampiri. Ia memeluk sahabatnya itu ala pria.


Vani tersenyum melihat kedua sahabat yang tengah meluapakan kerinduan itu. Ia pun memilih untuk masuk ke dalam terlebih dahulu.


Alzein tersenyum bahagia menyambut sahabatnya itu. Hingga senyum pria itu surut, saat ia sadar, Rafka menyembunyikan sebuket bunga di belakang tubuhnya. Yang tentu saja dapat ia tebak itu buat siapa.


"Oh iya, Zea mana? Udah tidur?" tanya Rafka pada saudara kembar gadis pujaannya.


Alzein terdiam bingung harus membalas apa. Rafka yang sadar akan wajah sahabatnya, merasa heran. Namun, belum sempat ia bertanya. Alzein sudah menyeret tangan Rafka menuju gazebo samping rumah.


"Bentar dulu! Sebenarnya ada apa? Aku harus ketemu Zea," tanya Rafka bingung.


"Buat apa?" Bukan menjawab, Alzein justru bertanya balik.


Sontak Rafka menaikan alis bingung. Pertanyaan Alzein terasa aneh menurutnya. "Buat apa?" tanyanya. "Ya, aku kangen lah!"


"Sebagai sahabat?" tanya Alzein.

__ADS_1


Rafka semakin menautkan alis. Tentu Alzein sendiri tau perasaan dirinya terhadap adiknya itu. Namun, kenapa pertanyaan Alzein demikian?


"Ada apa? Apa ada yang tidak aku ketahui?" tanya Rafka menyelidik.


"Lupakan Zea!" titah Alzein


"Hah?! Maksudmu?" tanya Rafka semakin bingung, perasaannya tiba-tiba saja berdebar akan apa yang akan diucapkan sahabatnya itu.


"Zea ... Udah nikah!" jelas Alzein yang diakhiri helaan anpas dalam.


Plukk!!!


Buket yang Rafka genggam erat seketika terjatuh. Pernyataan Alzein, begitu menghantam hatinya. Sakit? Jangan ditanya! Bertahun-tahun terjebak dalam lingkaran friendzone, tentu Rafka sudah memantapkan hati untuk mengubah keadaan dan hendak menyatakan perasaannya hari ini juga. Namun, apa yang terjadi?


"Gak mungkin," cicitnya. Setetes bulir air mata jatuh begitu saja dari sudut matanya.


Bagaimana mungkin ia tidak mengetahui hal itu? Sementara Zea tidak pernah membicarakan pria atau sebuah hubungan serius dengan siapapun. Dan sekarang?


"Siapa? Siapa pria itu?" tanya Rafka dengan tatapan kosong ke depan.


"Darren!"


Deg!


Bagai tertusuk ribuan duri. Bagaiamana hancur dan sakitnya Rafka saat ini? Hingga ia ambruk di atas kursi santai yang tersedia disana. Darren? Tentu ia kenal. Saat masih sangat kecil mereka sering main bersama. Namun, mereka tidak sedekat itu seiring berjalannya waktu.


Rafka tertunduk menopang kepala dengan tangan yang tertumpu diatas paha. Rasa sakit yang ia rasakan tidak dapat lagi memendung air mata yang sudah sekuat mungkin ia tahan. "Kenapa, Ze? Kenapa ...." lirihnya.


Terlihat air mata juga jatuh dari ujung mata Alzein. Tentu ia sangat tau perasaan Rafka terhadap adiknya. Jika, ia boleh memilih. Ia lebih memilih sahabatnya itu untuk menjaga dan mencintai Zea. Namun, apa mau di kata, takdir tak dapat dihindari.


Pria itu mendudukkan diri disamping Rafka, menepuk bahu sahabatnya itu untuk mencoba memberi kekuatan. Ingin sekali is mengatakan pernikahan itu hanya sebuah kesalahan. Namun, ia tidak bisa melakukan itu, tanpa perintah sang adik.


**


"Kok, mati? Apa lowbet?" gumam Zea melihat ponselnya yang mati. Ia pun mengecharge benda pipih itu, sebelum merebahkan diri di ranjang.


Zea mentap sejenak tubuh Darren yang memunggunginya, ia menyimpulkan mungkin suaminya itu sudah tertidur. Ia pun telentang menatap langit-langit, seraya meraba perutnya.


"Kok rasanya pengen di peluk, ya?" celetuk Zea bergumam pelan. Hingga tiba-tiba ia terlonjak saat tangan besar benar-benar memeluknya.


Greeppp!!


"Pintalah apapun yang kamu inginkan. Jangan sekalipun kamu mengabaikannya!"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2