
"Ahh sial! Kenapa bukan wanita sialan itu sih yang tertabrak?" umpat seorang gadis merasa kesal memukul stir mobil dihadapannya.
Di detik berikutnya, gadis itu tersenyum setelah beberapa saat mengamuk. Mengambil sembilah pisau dari saku celananya. "Mungkin sekarang kamu lagi hoki, Ze. Aku pastiin besok hokimu itu akan berubah," ucapnya menyeringai memainkan pisau tersebut.
Kemudian, gadis yang tak lain adalah Laura itu keluar dari dalam mobilnya, dengan membiarkan mobil itu menyala. Lalu, mengambil sebuah batu besar dan menyimpannya dipedal rem. Sejurus kemudian, mobil tersebut berjalan sendiri dan ....
Brukkk!!! Dumm!!!
Mobil berwarna hitam itu terjatuh kedalam jurang dengan kedalaman berpuluh meter dan terbakar. Menghilangkan jejak, atas aksi gilanya hari ini.
Laura tersenyum, menutup kepalanya dengan hoodie. Lalu, gegas berlalu dari tempat itu. Menghampiri mobil yang terparkir tak jauh dari sana dan memasukinya.
"Jalan!" titahnya.
"Baik, Nona!"
Seorang supir melajukan kendaraan itu dengan kecepatan diatas rata-rata. Meninggalkan tempat tersebut agar tidak diketahui siapapun.
Laura meraih sesuatu dari dalam saku hoodie nya. Sebuah kartu undangan yang tak lain dari Darren dan Zea. Undangan resepsi yang ia terima tiga hari yang lalu.
Ia tersenyum sinis melihat foto prewed keduanya. "Hari itu hanya akan jadi kenangan. Aku gak akan biarin kalian bahagia!"
**
Sementara itu di Rumah sakit, operasi Rafka masih belum juga selesai. Semua orang tengah berharap-harap cemas menunggu lampu diatas pintu ruangan itu berubah. Bukan hanya Zea, Darren dan Alzein saja, namun kedua orang tua mereka dan orang tua Rafka sudah ada diruang tunggu, di depan ruang operasi.
Isak tangis tak henti keluar dari bibi Sofi. Ibu satu anak itu terlihat terpukul akan kondisi putranya kini. Didalam dekapan Vani, wanita itu terus menumpahkan tangisnya. Riska juga senantiasa menenangkan temannya itu, dengan doa semua akan baik-baik saja.
Para Bapak juga sama terpuruk. Putra hanya menunduk menyembunyikan air mata dibalik dekapan tangannya. Berulang kali Aska hanya mampu mengusap punggung untuk menenangkan sahabatnya itu. Sementara Daffa tengah menerima panggilan yang entah dari siapa, sedikit jauh dari tempat mereka.
__ADS_1
"Apa kurap akan baik-baik aja?" lirih Zea yang duduk dalam dekapan Darren.
"Rafka, pria yang kuat. Kamu harus percaya semua akan baik-baik aja!" balas Darren menenangkan.
"Tapi ... Aku takut," cicit Zea. Rasa bersalah semakin menyeruak, saat ia mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu.
"Shutt! Jangan takut! Kamu gak sendiri, ada aku! Hem?" Berulang kali usapan sayang diberikan Darren pada sang istri.
"Kamu jangan terlalu stress, inget! Ada baby kita yang akan sedih melihat Mamanya kayak gini," lanjut Darren menasehati.
Setelah dapat nasehat seperti itu, barulah Zea tersadar akan kondisi janinnya yang mungkin akan ikut stress, jika dirinya terlalu larut. Segera ia mengusap perut ratanya seraya menggumamkan kata maaf.
Lain halnya dengan Alzein, Rafka bukan hanya sekedar sahabat. Namun, sosok saudara yang tentu begitu ia sayangi. Ia masih bisa melihat jelas bagaimana, sahabatnya itu terluka cukup parah. Ia berdiri bersandar di tembok dengan mengadahkan kepala.
"Aku mohon Raf, bertahanlah!" gumam Al dalam hati.
Tepukan dibahu, membuat ia sedikit terlonjak. Ia menoleh dan melihat si pelaku. "Om!" cicitnya.
"Apa?" kaget Alzein, mendapat penjelasan dari Daffa.
"Iya. Mereka benar-benar kehilangan jejak pelaku si penabrak. Adapun jejaknya, mereka menemukan mobil itu terbakar di sebuah jurang," lanjut Daffa menjelaskan.
Alzein terdiam sejenak. Kejadian ini seperti sudah direncanakan. "Menurut Om, apa ini ada unsur kesengajaan? Maksudku, apa ini ada kaitannya dengan Zea? Karena menurut Ze, Rafka berusaha menyelamatkan dirinya. Itu berarti, yang akan tertabrak Ze, bukan Rafka?"
Daffa pun memikirkan hal yang sama. "Baiklah, kita akan meminta penyelidikan lebih lanjut. Jika benar ini ada unsur kesengajaan, sudah dipastikan ini perencanaan pembunuhan," balasnya dan diangguki Alzein.
"Jika benar seperti itu. Mungkinkah ini ada sangkut pautnya dengan resepsi yang akan digelar?" tanya Al beropini.
"Bisa, jadi," balas Daffa yang sependapat dengan Al.
__ADS_1
"Resepsi akan digelar beberapa hari lagi. Mulai sekarang, Om butuh bantuan kamu untuk mengawasi Darren dan Zea!" Daffa menepuk bahu Al yang disetujui olehnya.
**
Setelah menunggu hampir satu jam, Dokter bersama timnya keluar dari ruang operasi. Semua penghuni kursi tunggu berdiri menyambut tim Dokter untuk menanyakan keadaan Rafka pasca operasi.
"Bagaimana, Dok. Keadaan anak saya?" tanya Sofi.
"Syukurlah, operasinya berjalan lancar. Namun, membutuhkan waktu beberapa hari untuk pasien bisa sadar kembali," balas Dokter.
Semua orang akhirnya bisa bernapas lega mendengar penjelasan Dokter. Puji syukur yang diiringi tangis haru terlantun dari mereka.
"Makasih, Dok! Makasih!" ucap Aska dan diiyakan Dokter itu.
"Baiklah, kalian bisa menunggu pasien di ruang rawat inap. Tapi ... Saya sarankan untuk bergilir melihat keadaannya," pesan sang Dokter dan disetujui mereka. "Kalo begitu, saya permisi dulu!" pamitnya.
Setelah kepergian Dokter dan timnya, kini mereka masih menunggu brankar Rafka keluar dari sana.
"Tante!" cicit Zea mendekat kearah Sofi. Rasa bersalah Zea tidak bisa hilang begitu saja. Gegas ia menubrukkan diri memeluk tubuh wanita yang masih cantik diusianya itu.
"Maafin aku, Tan. Maaf!" sesal Zea diiringi isak tangis.
Sofi membalas mendekap wanita yang sudah seperti anaknya itu. "Shutt! Gak ada yang perlu disalahkan! Ini semua hanya kecelakaan, kamu gak seharunya merasa bersalah," ucapnya menenangkan.
Zea kian terisak, sungguh jika bukan karena dirinya, Rafka tidak akan berada diruangan tersebut. Semua orang mencoba menenangkan si ibu hamil itu dengan terus meyakinkan semua akan baik-baik saja.
'Aku harap begitu, Raf! Maafin aku ....'
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Maafin mak othor ya readers, baru bisa up🙏 ternyata jadi bumil pengen puasa tuh gak gampang. Banyak dramanya🤧 mohon di maklumi yaa🙏