
Semakin penasaran, Laura diam-diam mengikuti sepasang manusia yang berjalan memasuki gedung tinggi itu, tanpa mereka ketahui. Mengawasi gerak gerik mereka dari kejauhan.
"Aww, aww!" Zea menghentikan langkah, seraya memegang perutnya.
"Kamu kenapa?" tanya Darren khawatir. Memegang bahu istrinya itu.
"Ini, tiba-tiba perutku kram," desis Zea meringis.
"Ya udah kita duduk dulu sebentar!" Darren menggiring Zea untuk duduk di sebuah sofa dilobi itu. Sementara ia menekukkan kaki dilantai untuk melihat keadaan istrinya.
Lalu, ia mengusap perut Zea untuk ikut menenangkan. "Kenapa hem?" tanyanya mengajak bayi dalam kandungan sang istri berinteraksi.
Zea terkekeh mendengar celotehan Darren. "Gak apa-apa, Papa. Pengen duduk aja dulu bentar," balas Zea dengan suara dibuat kecil.
Darren ikut terkekeh. Dengan gemas ia mengusek perut itu dengan wajahnya, hingga Zea tertawa dibuatnya.
Tentu saja interkasi keduanya membuat Laura yang tengah mengintip membolakan mata. Sungguh hal itu membuat darah sang gadis mendidih. "Ini gak mungkin. Gimana bisa mereka bisa secepat itu?" gumamnya bertanya.
Banyak kejanggalan yang menurut Laura tidaklah masuk akal. Jika benar Zea mengandung anak Darren, dari sejak kapan? Sementara ia yang selalu menguntit Darren sejak lama, dan baru melihat kedekatan keduanya satu bulan terakhir ini. Lalu, sejak kapan mereka menikah? Hingga menghasilkan buah hati? Batin Laura terus berperang.
"Maaf, Pak!" panggil Darren pada seorang security.
Security itu mendekat dan bertanya. "Iya, Mas?"
"Bisa minta tolong, bawakan barang-barang ke unit kami?! Tiba-tiba saja, istri saya merasa kram diperut. Saya harus menggendongnya," pinta Darren.
"Oh, iya tentu, Mas!" Security itu dengan senang hati membantu Darren. Ia segera membawa barang mereka setelah Darren mengucapkan terima kasih.
Zea hendak protes, namun Darren dengan cepat menggendong ala bidal style tubuhnya. Hingga wanita itu memekik kaget. "Kenapa di gendong? Aku gak apa-apa, kok!" protesnya.
Meski begitu, tak ayal Zea melingkarkan tangan dileher Darren, takut-takut terjatuh. Darren tersenyum menanggapi, seraya berjalan mengikuti security.
"Kamu emang gak apa-apa. Tapi, baby kita butuh di manja," balas Darren. Zea berdecak pelan, namun tak ayal ia pun ikut tersenyum juga.
Sejoli itu benar-benar tak menyadari, jika mereka tengah dibuntuti seseorang. Laura memasuki lift sebelah setelah tau arah lantai yang keduanya tuju. Hingga tak membutuhkan waktu lama, ia pun sampai di lantai yang sama dengan pasangan suami istri tersebut. Terlihat security yang berpamitan didepan sebuah pintu, yang ia yakini tempat tinggal keduanya.
__ADS_1
"Sekali lagi, makasih ya, Pak!" ucap Zea mengulang ucapan suaminya. Kemudian, pria paruh baya itu pun berlalu dari tempat itu.
Zea meminta diturunkan saat mereka sampai di depan unit mereka. Lalu, keduanya pun berlalu memasukinya.
Laura berpura-pura mengangkat panggilan dibalik tembok, saat security melewatinya. Pria itu nampak memperhatikan sekejap gelagat dari sang gadis. Namun, merasa tak ada yang dicurigai, ia pun berlalu begitu saja.
Dirasa security itu sudah menjauh, Laura segera mengikuti ke arah sejoli itu masuk. "Jadi ... Mereka tinggal disini?" tanyanya mengingat nomor unit tersebut.
"Oke! Aku sudah tau dimana kalian tinggal. Sekarang aku akan cari tau sejak kapan kalian berhubungan," Gadis itu tersenyum menang, lalu gegas ia berlalu dari sana.
**
"Emmm, ini enak banget!" puji Zea saat mencicipi masakan buatan suaminya.
Darren tersenyum menanggapi. Ia memang memiliki bakat yang diturunkan sang oma padanya. Namun, tidak ia gunakan seperti yang dilakukan sang uncle. "Waktu kecil, aku suka sekali lihat Oma bereksperimen di dapur. Aku cuma sekedar pengen tau, tapi gak mau lakuin," jelasnya.
"Wah keren! Cuma lihat doang, bisa ngehasilin masakan seenak ini," puji Zea lagi yang dibalas kekehan oleh Darren.
"Emang ya, darah itu gak bisa dibohongin," lanjut Zea ikut terkekeh.
"Emm, hobimu apa?" tanya Darren. Ia ingin mengenal lebih dalam lagi istrinya itu.
Darren kembali terkekeh seraya menggelengkan kepala. Menurut artikel yang ia baca, kebanyakan wanita itu hobi shoping atau traveling. Membaca atau hal lainnya. Namun, sepertinya wanita dihadapanya ini berbeda.
"Shoping misalnya?" tanya Darren dan disambut tawa oleh Zea.
"Itu bukan hobi, tapi kebutuhan. Intinya, aku tuh gak suka buang-buang waktu untuk hal-hal yang kurang berguna," jelas Zea.
Darren hanya memgangguk mengiyakan. Mungkin bisa dikatakan kebiasaan sang istri, hampir sama dengan dirinya yang tidak bisa membuang-buang waktu. Hanya saja perbedaannya, ia sama sekali enggan untuk hanya sekedar berinteraksi dengan siapapun.
Keduanya pun terus mengobrol, membahas apa yang menjadi kesukaan dan ketidak sukaan masing-masing disela makan mereka.
**
Sementara itu, Laura sudah menyuruh seseorang untuk mencari informasi sedetail mungkin mengenai mereka. Ia tidak akan diam, sebelum Darren jatuh kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku akan transfer uangnya hari ini juga. Tapi, aku butuh informasinya segera!" titah Laura pada seseorang di sebrang telepon.
Lalu, ia segera mengakhiri panggilan saat seseorang datang menghampirinya. Seorang pria tersenyum senang saat gadis terpopuler di kampus temannya, meminta untuk bertemu dengannya dikafe yang kini mereka pijaki.
Pria itu adalah David, teman Darren satu-satunya. Entah apa yang menyebabkan gadis itu ingin bertemu dengannya. "Apa kau menunggu lama?" tanyanya.
"Nggak!" balas Laura tersenyum.
Setelah memesan minuman dan berkenalan terlebih dahulu, tanpa basa basi lagi Laura langsung bertanya pada maksud dan tujuan ia meminta bertemu.
"Kamu teman dekatnya Darren 'kan?" tanya Laura. Sontak David menaikan sebelah alis tanda bertanya.
"Darren?"
"Ya, apa aku boleh tanya beberapa hal tentangnya?" tanya Laura lagi.
David terkekeh. Sungguh, ia tak mengira. Gadis itu meminta bertemu hanya untuk bertanya mengenai temannya. "Menarik!"
Pria itu mendekatkan diri, mengikis jarak dengan Laura. "Apa yang akan ku dapatkan?" tanyanya menyeringai.
"Banyak!" balas Laura. "Kamu bisa sebutin aja berapa nominal yang kamu mau," tawarnya.
David tertawa mendengar jawaban Laura. Hal yang membuat gadis itu mengerutkan dahi heran.
"Apa gak ada tawaran lain?" tanya David membuat gadis itu semakin bingung. "Ya, misalnya. Kencan beberapa hari gitu?" tawarnya.
Laura menatap masam pria itu. Kencan? Yang benar saja. Jika saja itu Darren tentu akan ia sanggupi dengan senang hati. "Kayaknya percuma nanya sama kamu," Gadis itu berdiri hendak pergi. "Lupakan! Anggap kita gak pernah bertemu."
Belum juga Laura pergi, tangan David mencekalnya. "Eh tunggu dulu! Buru-buru banget sih? Ayolah, kita bisa bernegosiasi lagi, hem!" bujuknya.
"Ayo duduklah! Aku akan membantumu," bujuknya lagi.
Laura terdiam sejenak, hingga akhirnya ia pun mendudukkan diri kembali. David tersenyum saat Laura mau kembali duduk.
"Ada suatu hal yang gak diketahui semua orang antara Darren dan Zea," celetuk David dengan wajah serius. Sontak Laura berfokus untuk mendengarkan.
__ADS_1
"Apa?"
\*\*\*\*\*\*