
Pagi ini Zea sudah bangun lebih awal. Benar-benar tidak ada lagi drama muntah dan segala macam setelah ia tidur bersama suaminya. Dengan gesit si ibu hamil itu menyiapkan sarapan untuk keduanya.
Darren yang baru terbangun, sedikit terkejut saat melihat sang istri sudah berkutat di dapur. Meski ragu, ia mencoba mendekatinya. "Kamu lagi buat apa?" tanyanya mengagetkan Zea.
"Astagfirulloh!" pekiknya memegang dada. "Ishh kamu tuh, ngagetin aja!" lanjutnya.
Darren sedikit terkekeh, ia tentu tidak menyangka sang istri akan terkejut. "Kamu buat sarapan?" tanya Darren memperhatikan gerak gerik si ibu hamil itu.
"Iya, cuma sandwich sih. Apa kamu suka?" tanya Zea memastikan. Tentu ia tidak tau apa makanan favorit suaminya itu.
"Hem, apapun," balas Darren mendudukkan diri di kursi didepan bar dapur.
Zea tersenyum dan segera menyiapkan roti isi yang sudah ia buat, dengan secangkir kopi kehadapan pria itu. Lalu, satu piring disediakan Zea untuknya bersama satu gelas tinggi susu ibu hamil, tepat di depan pria itu.
Penuh semangat, Zea mulai memakan sarapannya. Sementara Darren masih terdiam memperhatikan si ibu hamil yang begitu lahap itu. Ada perasaan senang, saat melihatnya. Setidaknya, si jabang bayi dalam perut bisa ternutrisi dengan baik.
Zea yang sadar Darren mengabaikan makanannya, merasa khawatir. "Kenapa gak di makan? Gak suka?" tanyanya.
Darren tersenyum simpul. "Suka, aku akan makan," balasnya dan mulai melahap makanan.
Zea menghembuskan napas pelan. Cara bicara Darren yang masih saja formal, membuat Zea merasa bersama orang asing. Dalam hati, ia bertekad untuk membuat pria itu bicara lebih santai, dan ia juga akan mencari tau semua hal mengenai suaminya itu lebih detail.
"Bagaimana pun caranya aku akan pastikan, kamu jatuh kedalam pelukanku. Demi bayi kita!" tekad Zea dalam hati.
**
"Jalan terus!" titah Zea, saat Darren hendak menghentikan mobilnya di depan halte. Sontak Darren bingung, hingga menautkan alisnya.
"Kakiku sakit. Aku gak akan kuat sampai kampus," lanjut Zea menjawab kebingungan diwajah pria itu.
"Hem, baiklah!" Mendengar itu tentu membuat Darren khawatir. Takut terjadi sesuatu pada bayinya.
Mobil pun kembali bergerak hingga sampai di dalam parkiran kampus. Zea memantapkan hati untuk siap menjadi bahan ghibahan hari ini. Sementara Darren masih terlihat ragu, apa yang akan dibicarakan orang-orang mengenai hubungan mereka. Apa gadis itu benar-benar ingin mempublish nya?
__ADS_1
Tanpa menunggu, Zea sudah keluar terlebih dahulu. Dan benar saja! Semua tatapan orang-orang sudah mengarah padanya. Namun Zea mencoba untuk tidak memedulikan itu. Begitupun, Darren yang baru saja keluar. Ia yang memang dasarnya cuek, tidak ingin menanggapi tatapan orang-orang.
Bisik-bisik pun mulai di dengar Zea, ketika mereka berjalan beriringan. Tentu saja, mereka yang tidak pernah terlihat bersama, dan tiba-tiba bersama, membuat orang-orang menyimpulkan kedua manusia itu memiliki hubungan. Beberapa gadis yang sempat kena tolak pria itu merasa kecewa. Saat Darren lebih memilih bersama Zea. Meski terlihat biasa diwajah pria itu, namun mereka yakin keduanya memiliki hubungan spesial.
"Yakin, gak masalah?" tanya Darren berbisik, untuk memastikan.
"Nggak!" balas Zea menggeleng mantap. "Kenapa? Kamu keberatan?" tanyanya.
"Bukankah sebaliknya?" tanya balik Darren. Tentu ia masih mengingat saat Zea menolak untuk berhenti dijarak lebih dekat. Bahkan wanita itu berkata dengan tegas tidak ingin orang-orang tau tentang hubungan mereka.
Zea terdiam sejenak. Memanglah benar, ia mengatakan hal tersebut. Tapi itu sebelum ia sendiri berpikir jauh.
"Hai, Darren!" sapa seorang gadis menyapa dihadapan mereka. Sontak keduanya pun menghentikan langkah mereka.
"Kamu sama ...." Gadis itu menggantungkan ucapannya, dan hanya melirik sekilas gadis disamping Darren.
Tanpa membalas ataupun berpamitan, Darren berlalu begitu saja melewati gadis itu dengan langkah sedikit cepat. Bahkan, pria tampan itu tidak memedulikan panggilan sang gadis. Zea menarik satu sudut bibir melihat Darren mengabaikan gadis itu. Ia berdehem seraya ikut berjalan kembali.
"Menurutmu?" Bukan menjawab, Zea justru bertanya disertai senyuman.
Gadis itu menganga, masih merasa tak percaya. Pelan Zea melepaskan lengan dari cekalan gadis itu. Lalu, kembali berjalan dengan senyum puas. Mulai sekarang ia tidak akan menyangkal ataupun mengiyakan pertanyaan siapapun yang mempertanyakan hubungannya dengan Darren.
**
[Mau makan siang bareng]
Satu chat dari Zea membuat Darren bingung. Apakah istrinya itu bertanya, atau meminta?
Takut sang jabang bayi yang menginginkan, ia memilih untuk mengalah dan mengajak makan siang bersama di resto yang tidak jauh dari kampus. Ia ingin Zea memakan makanan yang bernutrisi tinggi untuk kesehatan wanita itu dan calon bayinya.
[Tunggu aku di parkiran. Aku selesai beberapa menit lagi! Kita makan di resto depan.]
Membaca chat dari Darren, dengan semangat Zea menunggu pria itu di depan parkiran. Hingga ia tak menyadari seorang pria menghampiri dan menyapanya.
__ADS_1
"Ze, kamu lagi ngapain?" tanya pria itu yang tak lain adalah sang Kakak, Alzein.
"Kakak!" sapanya balik. "Aku lagi nunggu Darren."
"Mau pulang? Apa ada sesuatu?" tanya Alzein khawatir. Tentu ia takut hal buruk terjadi pada sang adik atau calon keponakannya.
"Nggak kok, Kak! Aku sama Darren mau makan di luar. Di resto depan," balas Zea.
Alzein mengerutkan dahi heran. Hingga ia teringat sesuatu. "Kenapa di luar? Apa dia gak mau mengakuimu didepan anak-anak?" selidiknya memicing. Bukankah Kakak manapun tidak ingin sang adik diperlakukan buruk oleh suaminya sekalipun?
Zea terkekeh. Ia tidak tau dan tidak bisa menebak isi pikiran Darren. Namun, ia sendiri yang memulai dan meminta tidak ingin diakui. Dan sekarang, ia pun tidak masalah jika Darren tidak mengakuinya. Hanya saja, ia tetap ingin memperbaiki hubungan mereka.
Melihat itu, Alzein hanya bisa menghembuskan napas panjang. "Kamu boleh mengeluh, jika dia gak memperlakukanmu dengan baik!" nasehatnya.
"Nggak Kak, percaya deh. Ini tuh semua keinginan aku. Darren memperlakukanku dengan baik. Hanya saja, aku sendiri yang meminta dia untuk gak mempublish hubungan ini," jelas Zea.
"Kenapa? Kenapa kamu meminta dia kayak gitu? Bukankah lambat laun mereka akan tau?" tanya Alzein tak habis pikir. "Sebenarnya apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini?"
"Ya, ya aku cuma gak mau aja. Belum siap buat mengakui, kalo dia suamiku,"
Deg!
Seorang pria menghentikan langkah kakinya, saat mendengar ucapan seorang wanita yang harus ia akui istrinya. Darren yang tergesa, takut jika sang istri menunggu. Harus dibuat tertegun dengan kalimat wanita itu yang enggan mengakui dirinya suami.
Rahangnya mengeras, dengan kepalan tangan sempurna. Ia kembali berbalik dan mengurungkan niat untuk menghampiri kedua bersaudara itu. Lalu, berlenggang pergi menjauhi mereka.
Sementara dua saudar itu tidak menyadari kehadiran Darren. Lagi-lagi Alzein hanya mampu menghembuskan napas pasrah.
"Lagi pula, apa yang kuharapkan? Dia sendiri yang memintaku untuk gak mengharapkan apapun."
\*\*\*\*\*\*
Maaf ya baru up, kemarin mak othor libur dulu. Si utun lagi manja gaiss🤭
__ADS_1