
"Cih, apa dia serius?"
Zea terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengenai Darren yang berkata mau memulai hubungan mereka. Namun, apa itu bisa dipercaya? Setelah sebelumnya, ia menolak.
"Nggak, aku gak boleh dulu percaya. Bisa aja itu karena pernyataan Rafka kemarin. Mungkin dia hanya takut aku membawa bayi ini pergi bersama Rafka," lanjutnya berspekulasi.
"Baiklah, aku akan melihat seserius mana dia, tanpa harus mempercayainya!"
**
Jam makan siang pun tiba. Sesuai kesepakatan, Zea hendak menunggu Darren di parkiran. Namun, perkiraannya salah. Pria itu ternyata sudah menunggu terlebih dahulu di depan mobil mereka. Tumben?
"Kamu ...???" sapa Zea sedikut heran.
"Kelasku berakhir lebih awal," balas Darren yang mengerti maksud dari sapaan istrinya itu. "Berangkat sekarang?" tanyanya dan diangguki oleh Zea.
Keduanya pun gegas memasuki mobil, dan berlalu menuju tempat yang dituju. Jarak yang cukup dekat, membuat mereka dengan cepat sampai ditempat tujuan.
Terlihat Rafka sudah duduk menunggu disebuah kursi bersama sang Kakak, Alzein. Zea menghembuskan napas pelan, apa semua akan baik-baik saja? Apa tidak akan terjadi apapun pada suami dan sahabatnya itu? Pikir Zea bertanya-tanya. Namun, ia yakin kedua pria itu sudah cukup dewasa untuk mengahadapi hal ke kanak-kanakan seperti kemarin.
Grep!
Zea tersentak kaget, saat tiba-tiba Darren menggandeng tangan dan menggiringnya mendekat menghampiri kedua pria itu. Terlihat wajah Rafka tak bersahabat melihat gandengan itu. Zea tidak sempat memberitahu, jika ia akan membawa serta suaminya ikut. Hingga membuat Rafka sedikit syok.
"Maaf, apa kalian menunggu lama?" sesal Zea hendak duduk.
Namun, Darren lebih dulu menarik kursi untuknya sebelum akhirnya pria itu mendudukkan diri. Zea tersenyum kaku mendapat perhatian dadakan dari pria itu yang terasa aneh.
"Gak juga," balas Alzein tersenyum.
Rafka terdiam, bingung harus memulai obrolan dari mana, begitupun Zea. Terasa canggung untuk wanita itu berbicara dengan Rafka, setelah kejadian kemarin. Keadaan mendadak hening di antara empat orang tersebut. Hingga Rafka memulai obrolan mereka.
"Maaf! Kemarin sudah berlaku kurang sopan," sesal Rafka. Darren diam tak menimpali, begitupun Zea, ia tidak tau harus membalas apa.
"Jujur aku sedikit kecewa mendengar fakta yang ada. Semua sungguh diluar dugaanku. Aku hanya tidak ingin orang yang aku sayangi terluka," jelas Rafka.
__ADS_1
"Apa menurutmu, aku akan membuat istriku sendiri teluka?" selak Darren.
"Bukannya itu yang kau lakukan selama ini?" Bukan menjawab Rafka kembali bertanya dengan nada sinis. Hingga mata keduanya bertemu dan saling mengunci dengan tatapan permusuhan.
Tentu hal itu membuat Alzein dan Zea bertukar pandang dengan perasaan sama-sama khawatir. Lalu, Zea memberikan tatapan kesal pada Alzein dengan gerutuan dalam hati saat mengingat dari mana keadaan itu bermula. 'Semua gara-gara, Kakak. Kenapa Kakak bocor banget sampai Rafka tau?'
'Maafin Kakak, Ze. Kakak gak bisa bohong sama Rafka!' batin Alzein seolah menjawab dengan tatapan menyesal.
'Kakak 'kan udah janji buat jaga rahasia antara kita bertiga aja. Apa jangan-jangan Kakak bocor juga sama yang lain?' selidik Zea dalam hati.
Seolah tengah berbicara melalui mata batin. Alzein menggelengkan kepala, menyangkal pertanyaan Zea. 'Nggak, nggak! Kakak gak ngomong sama yang lain kok, beneran. Cuma Rafka aja yang tau. Suer!'
Zea menghembuskan napas kasar. Bagaimana cara ia mengatasi itu semua? Ia berdehem keras untuk mengalihkan perhatian mereka. "Ehem! Sebaiknya kita makan dulu. Aku lapar!" ucapnya.
Darren memutuskan tatapannya dan segera memanggil waiters untuk meminta pesanan. Menghentikan Rafka juga yang hendak memesan.
"Aku gak bisa makan sebanyak itu, Der!" protes Zea, saat Darren memesan makanan begitu banyak untuknya.
"Kamu gak makan sendiri. Ada baby yang membutuhkan semua nutrisi itu," balas Darren.
"Jika perlu aku yang akan membantumu menghabiskannya!" final Darren tidak dapat dibantah.
Zea hanya menghembuskan napas pasrah. Sementara Alzein terlihat takjub akan Darren yang semakin perhatian pada adiknya itu. Berbeda dengan Rafka yang nampak kesal melihat ke posessifan Darren pada wanita pujaannya. Meski, ia tau Zea tidak akan pernah memilihnya. Namun, tetap saja tidak mudah untuk mengikhlaskan Zea. Bahkan, mungkin butuh banyak waktu untuk itu.
"Emm, Ze?!" sapa Rafka ragu.
"Hem, iya?"
"Kamu belum jawab permintaan maafku. Sekali lagi aku meminta maaf sudah membuat ke kacauan di tempatmu!" sesal Rafka menunduk.
Zea melirik sekilas pada Darren yang terdiam tanpa ekspresi apapun. Sebenarnya, pada Darren lah, seharusnya Rafka meminta maaf. Namun, ia tak yakin keduanya dapat meminta ataupun memberi maaf. Hingga mungkin ia yang harus mengalah. Bagaimanapun, ia menghargai kepedulian Rafka. Dan juga ia harus bersikap dewasa diantara mereka.
"Aku udah maafin, kok!" ucap Zea.
Sontak semua atensi mengarah padanya. Darren menautkan alis seolah mengandung berbagai pertanyaan. Sementara Rafka berbinar mendapati maaf dari Zea.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Rafka memastikan dan diangguki yakin oleh Zea.
"Makasih, Ze!" ucap Rafka tersenyum lebar memegang tangan Zea.
Sontak hal itu membuat Darren kesal. Ia hendak menepis tangan Rafka. Namun, tanpa di duga Zea menjauhkan tangannya dari tangan Rafka. Hal itu tentu membuat ketiga orang disana bingung dengan berbagai alasan.
"Atas nama suamiku, aku memaafkan perbuatanmu kemarin. Begitupun sebaliknya, maafin dia juga, ya!"
Sontak Darren dan Rafka menganga mendengar pernyataan Zea. Kedua pria itu tak mengira Zea akan berkata seperti itu.
'Suami? Zea bener-bener mengakui dia suami. Dan meminta maaf pula atas namanya?' batin Rafka tak percaya.
'Apa-apaan? Kenapa dia harus meminta maaf atas namaku? Pria itu yang salah, bukan aku.' batin Darren tak percaya.
"Jadi ... Aku berharap kedepannya tidak ada lagi salah paham diantara kita," lanjut Zea.
Kedua pria itu menghembuskan napas berat. Sementara Alzein hanya melipat bibir melihat ekspresi keduanya. Mungkin ia tidak perlu untuk ikut campur diantara ketiganya sekarang. Membiarkan mereka menyelesaikannya sendiri.
Belum sempat mereka kembali berbincang, makanan pesanan sudah datang menghentikan mereka. Satu meja hampir penuh dengan makanan pesanan Darren yang dipesan untuk sang istridan calon bayinya.
"Kalo kayak gini, aku kenyang duluan," cicit Zea menelan salivanya.
"Aku gak nyuruh kamu buat habisin," balas Darren.
"Tapi-"
"Aaa!!!" Darren mengarahkan sendok hendak menyuapi.
Tanpa protes, Zea pun hanya pasrah membuka mulutnya. Darren menarik satu susut bibirnya, saat satu suapan masuk ke mulut sang istri. Tentu hal itu membuat Rafka menghembuskan napas berat. Sakit? Jangan ditanya! Sungguh ia tidak sanggup melihat adegan tersebut.
Darren tersenyum puas dalam hati melihat raut wajah Rafka. Tentu semua itu sengaja ia lakukan, untuk memberitahu pria itu. Jika Zea adalah miliknya.
'Bukankah sudah jelas? Akulah pemiliknya!'
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1