Benih Pengikat

Benih Pengikat
Gosip?


__ADS_3

Setelah beberapa obrolan yang mereka lewati, kini Zea sudah menetralisir kecanggungan diantara dirinya dan Darren. Wanita cantik itu tidak sungkan lagi untuk bertanya hal apapun, bahkan terdengar banyak mengoceh di kursi samping kemudi. Kini keduanya tengah dalam perjalanan menuju kampus.


Darren tersenyum senang mendengar ocehan sang istri. Tentu ia tak mengira Zea bisa sebawel dan secerewet itu. Hingga tak terasa mobil pun sampai di tempat tujuan.


Tidak ada yang ingin disembunyikan lagi, keduanya turun bersama dari mobil yang sama. "Mau aku antar ke kelas?" tawar Darren.


"Gak usah! Nanti kamu telat. Aku bisa pergi sendiri, kok," tolak Zea halus.


Darren tersenyum, tanpa ragu ia mendaratkan kecupan dipucuk kepala Zea, yang sukses membuat orang-orang yang melihat keduanya syok. Begitupun, Zea sendiri.


"Baiklah, aku masuk dulu!" pamit Darren mengusek bekas kecupannya. Lalu, pria itu berlenggang melewati orang-orang yang tak berkedip menatapnya.


Berbeda fakultas, membuat mereka berbeda gedung juga. Kelas Zea yang memang tidak terlalu jauh dari parkiran, membuat Darren sedikit tenang, meski tidak mengantarnya. Berbeda dengannya yang jauh dari parkiran.


Blush!


Wajah Zea memerah mendapati perlakuan itu. Setelah Darren berlalu menjauh, ia berjalan seraya mengibaskan tangan saat dirasa wajahnya memanas. Bahkan mungkin sudah memerah. Saat melewati sekumpulan para gadis, tiba-tiba sebuah tangan mencekal lengannya. Hingga ia pun menghentikan langkah.

__ADS_1


Zea menoleh, menatap heran gadis tersebut. "Ada apa?" tanyanya.


"Cih!" Gadis itu berdecih, dengan tatapan remeh. "Udah merasa paling populer?" tanyanya penuh penekanan.


Zea menautkan alis tak mengerti. "Maksudnya?" tanyanya lagi.


"Gak usah pura-pura bodoh. Berani banget menjerat Darren, padahal hamil sama cowok lain!"


Sontak pernyataan gadis itu, membuat Zea membelakak kaget. Bukan, hanya Zea. Beberapa gadis yang mendengar ikut berbisik, menatap jijik dirinya.


"Jaga ucapanmu!" peringat Zea tak terima. "Jangan sembarangan menyebarkan gosip gak bermutu seperti itu!"


Zea terdiam mencerna ucapan gadis itu. Pria? Poli kandungan? Pikirnya. Hingga ia dibuat membelakak, saat melihat potret dirinya bersama Rafka kemarin dilayar ponsel gadis itu.


"Gimana? Masih mau menyangkal?" tanya gadis itu tersenyum sinis. Membuat orang-orang kian riuh menatap ia dengan penuh cibiran.


"Jadi ... Siapa sebenarnya Ayah bayi itu? Darren, atau pria itu? Atau ... Kamu lupa?" tanya gadis itu yang diakhiri ledekan.

__ADS_1


"Wah, wah, wah, gak nyangka, Zea ternyata perempuan seperti itu?"


"Iya, benar. Jauh banget sama Al!"


"Makanya kalo main dijaga, jangan sampai bocor!"


Gelak tawa dan berbagai cibiran membuat bola mata Zea tiba-tiba memanas. Tidak ingin terlihat rapuh didepan mereka, ia segera berlalu meninggalkan tempatnya. Menghempas kasar tangan gadis itu dan berjalan cepat menuju kamar mandi.


Buliran air mata berjatuhan dari kedua ujung matanya. Mencoba menenangkan hati dan pikiran diruangan lembab tersebut. Ia yang tidak pernah terlibat masalah dengan siapapun, tidak berani untuk mengiyakan atau menyangkal ucapan orang-orang.


"Ayolah, Ze! Kamu tinggal mengaku aja. Dan semua akan baik-baik aja. Hubunganmu juga sekarang sudah membaik," gumamnya dalam hati, menyemangati diri sendiri.


Ia pun keluar dengan memantapkan hati untuk tidak menghiraukan ucapan mereka. Ia percaya pada dirinya sendiri, bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Komentar orang-orang di forum kampus lebih tajam dan menyayat hati daripasda cibiran asli mereka.


"Ze!" Panggilan seseoarang membuat Zea yang masih berdiri didepan toilet, menoleh ke arah sumber suara. Matanya kembali berkaca-kaca, segera ia berlari dan menubrukkan diri pada seseorang itu.


"Kakak!"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2